PPI Delft telah berhasil menyelenggarakan Indelftnesia pada 26-27 Februari 2016 yang lalu. Acara yang terbuka untuk umum ini terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu Indonesian Cultural Night dan seminar yang mengangkat isu pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Indonesian Cultural Night

Dengan mengangkat tema kebudayaan dan keanekaragaman Indonesia, kegiatan Cultural Night Indelftnesia mampu menarik banyak perhatian. Sejak acara dibuka, pengunjung yang berasal dari berbagai negara mulai memenuhi Sports and Culture Center TU Delft untuk menikmati aneka makanan khas Indonesia sambil menikmati iringan live music persembahan teman-teman dari PPI Delft. Pengunjung juga dapat berfoto menggunakan berbagai hasil kerajinan nusantara pada photo booth yang telah disediakan. Selain itu, berbagai foto keindahan objek wisata dan wajah Indonesia juga dipamerkan dalam kesempatan ini.

Pengunjung saling berinteraksi sambil menikmati  live music di Indelftnesia
Mencoba makanan Indonesia

Acara utama dimulai pada pukul 20.00 dan dibuka dengan pertunjukan tari Panji Semirang. Setelahnya, Duta Besar Indonesia di Belanda, Bapak H.E. I Gusti Agung Wesaka Puja, memberikan sambutan hangat dan mengajak pengunjung untuk menikmati berbagai penampilan kebudayaan Indonesia di malam tersebut. Acara dilanjutkan dengan berbagai tarian yang telah dipersiapkan oleh kawan-kawan PPI Delft, di antaranya tari Kicir-Kicir dari Jakarta dan tari Badindin khas Minangkabau. Selain penampilan oleh tuan rumah, Angklung Eindhoven juga ikut memeriahkan acara. Tidak hanya pertunjukan tari dan angklung, lagu Bengawan Solo dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama juga ditampilkan dengan iringan piano, biola, dan cello oleh Nusantara Strings Ensemble (NSE). NSE juga mengiringi pertunjukan tari Janger dari Bali yang menjadi penutup acara Cultural Night Indelftnesia 2016 kali ini.

kicir

angklung

Seminar

Masih dalam rangkaian acara Indelftnesia, PPI Delft juga menyelenggarakan seminar yang mengangkat tema “Addressing the Challenges of Water Resources Development in Indonesia through the Innovation of Technology”  pada 27 Februari 2016. Berkaitan dengan tema tersebut, terdapat pula Podjok Delft, sebuah pameran poster oleh berbagai peneliti/mahasiswa di Belanda. Topik-topik poster yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari bidang maritim, pengendalian banjir, hingga proses filtrasi air.

Pameran poster
Pameran poster

Acara seminar dibagi menjadi tiga sesi. Pada sesi pertama, Vicky Ariyanti menyampaikan pentingnya pendekatan transdisiplin yang melibatkan ahli dari berbagai bidang untuk bersama-sama membangun bendungan di Indonesia sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Topik kedua disampaikan oleh Gerard Pichel yang membahas tentang inovasi dalam konstruksi bendungan (dam) yang nantinya diharapkan dapat menjadi bagian yang terintegrasi dengan lingkungan. Di akhir sesi pertama, Julius Sumihar menyampaikan risetnya bersama tim Deltares mengenai pemodelan storm surge untuk memprediksi datangnya badai.

Sesi kedua dimulai dengan presentasi dari Prof. Dr. Ronald E. Waterman mengenai pembangunan area pesisir yang bersifat sustainable dan mampu mengintegrasikan fungsi-fungsi dari berbagai disiplin. Profesor Waterman juga menjelaskan konsep “Aquapuncture” sebagai upaya revitalisasi jalur air/sungai di Jakarta. Berkaitan dengan pengelolaan water resource di Jakarta, Gijs van den Boomen memaparkan sebuah rencana pembangunan skala besar di area pesisir utara Jakarta, yang disebut the Great Garuda. The Great Garuda merupakan pembangunan barrier untuk melindungi Jakarta dari banjir yang berasal dari laut. Di sini Gijs menekankan bahwa proyek yang sangat besar ini membutuhkan persiapan dan tahap pembangunan yang panjang. Oleh karenanya, penting bagi generasi muda untuk turut terlibat dan melanjutkan upaya penanganan banjir dan pengelolaan tata kota di Jakarta. Sementara itu, dari perspektif yang berbeda, pembicara terakhir dari sesi kedua, Edwin Sutanudjaja, memaparkan pandangannya mengenai pengembangan infrastruktur skala raksasa yang kerap kali tidak efektif dalam memecahkan permasalahan seperti yang dihadapi oleh Jakarta, terutama karena besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan nantinya. Menurut Edwin, sebuah pembangunan tidak hanya berbicara tentang pengadaan infrastruktur secara fisik, tetapi  juga membutuhkan partisipasi komunitas dalam menemukan solusi atas permasalahan (banjir) yang dihadapi oleh masyarakat itu sendiri.

garuda

Masih bercerita tentang Jakarta, pada sesi ketiga Wiwi Tjiook dari Indonesian Diaspora Network Belanda mempresentasikan sebuah proposal pengembangan desa nelayan Muara Angke. Program ini bertujuan untuk mengatur tata ruang Muara Angke sehingga diperoleh area tempat tinggal yang layak, terlindungi dari banjir, serta memiliki ruang publik dan akses jalan yang lebih baik. Pembicara kedua, Andie Arif Wicaksono memaparkan studinya di Desa Ratmakan, Yogyakarta yang padat penduduk dan sangat rentan terhadap banjir yang berasal dari Sungai Code. Beberapa parameter seperti kondisi fisik lingkungan, hubungan sosial masyarakat, institusi dan tindakan masyarakat, serta kegiatan ekonomi di area tersebut dievaluasi untuk menentukan tingkat kerentanan masyarakat terhadap banjir. Dari situ, rekomendasi seperti upaya flood-proofing di dalam rumah serta rancangan jalur evakuasi juga diberikan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi banjir. Kemudian, pada akhir sesi ketiga Fiona Zakaria memberikan pengetahuan tambahan kepada peserta seminar akan pentingnya sanitasi, tidak terkecuali pada lokasi penangangan kondisi darurat, seperti tempat pengungsian, agar terhindar dari penyakit diare. Indonesia sendiri merupakan wilayah yang rentan terhadap berbagai bencana yang sering kali  membutuhkan evakuasi penduduk. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Fiona dan tim adalah dengan mengembangkan prototype emergency Sanitation Operation System (eSOS) Smart Toilet yang menggunakan sinar ultraviolet (UV) sebagai disinfektan pada toilet tersebut.

Rangkaian acara Indelftnesia ditutup oleh Atase Pendidikan dan Kebudyaan KBRI Belanda, Bapak Bambang Hari Wibisono. Beliau menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan Indelftnesia yang telah mampu menyuguhkan kebudayaan Indonesia pada acara Cultural Night dan mengangkat isu pengendalian sumber daya air yang sangat krusial bagi Indonesia melalui kegiatan seminarnya. Harapannya, studi dan penelitian yang telah dipaparkan dalam seminar ini dapat memberikan dampak nyata bagi Indonesia dengan adanya keterlibatan dan dukungan dari pihak pemerintah.

Photo Source: Tim Dokumentasi Indelftnesia 2016

Related posts

Leave a Comment