Temp(e)tation PPI Wageningen 2016

1

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Kamis 10 November 2016, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wageningen (PPI Wageningen) mengadakan acara berjudul “Temp(e)tation” yang berlokasi di gedung Forum, Wageningen University and Research. Acara ini merupakan sebuah workshop yang bertujuan untuk mengenalkan sejarah, manfaat, dan kelebihan tempe. Untuk itu, tiga pembicara telah hadir yaitu Wida Winarno, penggiat Indonesian Tempe Movement, Dr. MJ Rob Nout, ahli di bidang Food Microbiology, dan Herditya Oktania, pemenang Ecotrophelia 2015. Acara ini terbuka untuk umum sehingga peserta yang datang tidak hanya dari kalangan mahasiswa Indonesia, namun juga mahasiswa Internasional dan dapat juga diakses oleh khalayak melalui video live streaming di Youtube.

Pembicara pertama, Wida Winarno, memulai presentasinya dengan mengenalkan Indonesian Tempe Movement yang merupakan pergerakan mengenalkan manfaat tempe kepada masyarakat luas. Presentasi dilanjutkan dengan cerita sejarah dari kelahiran tempe, manfaat tempe secara singkat, business aspects dari tempe, dan cara membuat tempe. Wida Winarno berkata, “setiap kali kita membuat tempe kita selalu menggunakan banyak air dan bahan bakar dan kita buang sisanya dalam jumlah yang banyak.”. Oleh karena itu, Ia memperkenalkan green-way of making tempe, yaitu cara baru membuat tempe dengan menghasilkan lebih sedikit limbah.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Dr. MJ Rob Nout yang bertujuan untuk memperdalam penjelasan singkat Wida Winarno tentang manfaat dari tempe, difokuskan kepada biofunctionality tempe. Berdasarkan penelitian yang telah ia lakukan, dapat disimpulkan bahwa tempe memang memiliki kandungan yang baik untuk tubuh seperti protein digestibility. Dr. MJ Rob Nout juga mengemukakan bahwa tempe adalah sumber makanan yang baik untuk mendapatkan vitamin folate. Namun, untuk vitamin B12 jumlahnya masih belum banyak untuk mencukupi kebutuhan tubuh. Tempe juga memiliki kandungan anti-cancer dan anti-hypocholestrolistic. Ia juga mengkonfirmasi adanya anti-diarrhea di dalam tempe berdasarkan eksperimennya terhadap babi kecil.

Herditya Oktania sebagai pembicara terakhir mempresentasikan produk tempe inovasi terbarunya yang telah memenangkan kompetisi di Ecotrophelia 2015, yaitu tempeh drink. Minuman ini memiliki manfaat yang sama seperti tempe sebagai makanan dan dikemas dengan konsep yang green. Herditya menargetkan pasar sebagian besar ke negara-negara di Asia dikarenakan besarnya persentase penduduk yang mengalami lactose intolerant, yaitu rendahnya toleransi seseorang terhadap susu sapi dan produk olahannya.

Acara ini dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab antara ketiga pembicara dengan peserta. Peserta nampak antusias menanyakan beberapa hal sehubungan dengan ketiga presentasi tersebut. Diskusi berlanjut ke pembahasan tentang perbedaan biofunctionality antara berbagai macam kacang kedelai dan paten kacang kedelai. Dalam sesi ini, Wida Winarno juga berkata, “Walaupun Jepang sudah memiliki paten terhadap tempe, namun kita masih bisa mendapatkan paten melalui pembuatan tempe dengan cara yang berbeda”. Herditya Oktania juga menjelaskan lebih dalam bahwa minuman tempenya berbeda dengan soy drink yang sudah beredar di pasar karena soy drink tidak difermentasi sehingga memiliki kandungan nutrisi yang berbeda pula. Penampilan angklung dari mahasiswa Wageningen dan foto bersama resmi menutup acara Temp(e)tation kali ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: