Tanya Jurusan: Kedokteran dan Biomedik (1)

Narasumber:

rizky

Rizky Sarakhsi Ersaid, Neuroscience di Vrije University, Belanda.
Nada Ristya Rahmani, Biomedical Science di Vrije University Amsterdam, Specialization: Immunology dan International Public Health.

ngomong2 soal mata kuliah apa saja yang menarik untuk mas rizky sama mba nada?

Nada:

Saya S2nya dua subjurusan. Nah untuk yang tahun pertama ttg immunology, pelajaran awalanya seperti advance immunology, clinical immunology, infection and microbiology, dimulai dari 2-3 mata kuliah wajib, dan 2 mata kuliah optional. Dalam setiap mata kuliah ada selalu ada group assignment sehingga akhir course selalu ditutup dengan presentasi, serta ada journal reading setiap minggu dimana ketika melakukan critical appraisal artikel2 ilmiah dan juga diskusi mengenai metode penelitian yang digunakan. Untuk subjurusan kedua, international public health mata kuliahnya banting setir ke sosial. Di awal di bahas dulu macam2 qualitative dan quantitative research serta bagaimana menulis research proposal dalam public health, ada juga course policy and management yang di dalamnya termasuk simulasi model united nations, course lainnya seperti human rights and health, disability and mental health, dll. Tapi ini course optional, jadi tergantung kita tertarik ikut yang mana. konsepnya sama, diawali dengan 2-3 kuliah wajib lalu 2 mata kuliah optional, setiap course ada group assignment, sehingga di akhir course pasti menghasilkan laporan dan juga presentasi. Yang utamanya adalah kita terbiasa nulis laporan ya, karena scientific writing in english itu sesuatu banged. hahaha, susah2 gimana gitu, dengan setiap course kita selalu nulis sebagai group, pas akhirnya bagian nulis thesis sendiri ga stress2 amat, bisa lebih ngalir dan terbiasa.

Rizky:

Jurusan yang saya ambil adalah Neuroscience .Untuk sistem perkuliahan dijurusan saya adalah Research Master, artinya dalam kurun dua tahun, saya punya kesempatan 2x 6 bulan untuk internship.  Untuk timeline di tahun pertama, 6 bulan pertama (September-Januari) diisi dengan mata kuliah wajib: Brain and Mind, Clinical Neuroscience, Behavioural Neuroscience, dan Neurogenomics. Di periode 6 bulan kedua (Februari-Juni/Juli), diisi dengan Internship. Di tahun kedua diisi dengan kuliah elective, dalam artian boleh memilih mata kuliah berdasarkan spesialisasi (30 ECTS). Sedangkan 6 bulan terakhir akan diisi dengan Graduation Assignment (GA) / internship. Setiap habis internship harus membuat Research report atau semacam thesis dan presentasi. Untuk GA, ada Defense sebagai gantinya dari presentasi biasa. kalo ditanya mata kuliah yang menarik, saya lebih ke Neurogenomics :))

Nada:

secara garis besar, jurusan yang saya juga sama dengan rizky ada semester kedua diisi dengan research internship dimana laporan internship ini adalah tesis kita. nah tapi karena ada dua subjurusan, artinya ada dua internship kalau untuk saya, yang juga berarti dua tesis hehehe

Kalau soal sistem perkuliahan nya sendiri itu gimana mas??

Rizky:

disini pake ECTS. setiap matkul beban ECTS nya beda beda. Menurut saya, Jurusan saya menganut sistem yang tiap bulan ujian dan ganti course. Seperti kata mbak nada diatas, tiap course, misalnya, harus buat presentasi, dan atau paper review. sebagai informasi aja, Setiap tahun kita dituntut untuk memiliki 60 ECTS. jika tidak sanggup 30 ECTS, maka kita akan di DO

Nada:

yup, dan kalau belum memenuhi jumlah ECTS yang diminta, kita ga bisa melanjutkan fase berikutnya yaitu research internship.

Berarti sama seperti jumlah SKS tertentu untuk tiap semster di indonesia ya mba nada, mas rizky?

Nada:

iya. secara garis besar ada mata kuliah wajib, mata kuliah elective, research internship, dan laporan (tesis atau literature review). nah masing2 harus terpenuhi jumlah ECTSnya. makanya programnya 2 tahun itu full time, satu course atau mata kuliah durasinya kurang lebih 4 minggu diakhiri dengan ujian.

Kalau ingin mendaftar dijurusan mba nada sama mas rizky itu cara gimana dan apakah ada persyaratan yang dipenuhi??

Rizky:

kalau untuk biomedical science VU. Kalau mau lihat ada di VU Neuroscience admission: http://www.vu.nl/nl/opleidingen/masteropleidingen/opleidingenoverzicht/m-o/neurosciences/admission-and-application/index.aspx.

Singkatnya ya IELTS minimal 6.5, Rata rata minimal 7.5 atau IPK 3.4 dan Bachelor thesis nilai 8 atau IPK 4.0. Menyiapkan CV, Motivation Letter, Copy ID, Transkrip Nilai, Deskripsi mata kuliah S1, List of Literature, 2 recommendation letter, thesis. tapi, menurut saya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Jangan terlalu khawatir dengan persyaratannya

Nada:

Kalau untuk biomedical science VU amsterdam link lengkapnya http://www.vu.nl/en/programmes/international-masters/programmes/a-b/biomedical-sciences-msc/admission-and-application/index.aspx
secara umumnya mirip, IELTS 6.5 atau IBT 90. Rata-rata nilai 7, CV, motivation letter, daftar textbook kita selama S1, surat rekomendasi juga. tapi ga perlu ngasi file skripsi (kan pake bahasa indonesia) yang terpentingnya mereka liat transkrip nilai kita. disana ada daftar mata kuliah yang pernah diambil dan jumlah SKS, lalu mereka mempertimbangkan apa latar belakang keilmuan kita cukup untuk bisa “survive” menjalani program S2 mereka. Misal nih untuk biomedical science at least kita pernah belajar Cell biology, Biochemistry, Genetics, Immunology, Microbiology, Statistic patofisiology, histology optional. Nah ini biasanya konfirmasi lewat email2an atau skype dengan profesor dari sana, karena mereka perlu tau lulusan universitas dari indonesia seperti apa, dan apa jurusan S2 ini cocok buat kita atau ngga tapi pada dasarnya daftar S2 itu tidak terlalu sulit, apalagi karena kita foreign student spp kita gede banged artinya kampus juga butuh kita, hehehe bargaining positionnya tinggi yang penting adalah mereka memastikan saat kita masuk ke univ mereka kita bisa lulus. Masuk gampang, yang susah lulusnya hahaha

Gimana sama jurusan S1 nya mba nada sama mas rizky? Apakah relevan sama jurusan S2 yang diambil? dan apa saja study yang relevan dengan Study S2 mas rizky dan mba nada.??

Rizky:

S1 saya Life Science. Jadi bisa dibilang sangat relevan. Tapi, banyak temen sekelas yang dari Psikologi, kedokteran umum, dan biomedis juga. Temen saya ada yang dari jurusan computer science juga kok. Katanya, As long as memberikan motivasi yang mumpuni pas interview, nanti bisa dikonsiderasi sama professor nya.

Nada:

hmm jurusannya relevan dengan S1 karena S1 saya kedokteran. Sebenarnya selama ada pejaran biology, cell dasar dll bisa masuk kok. Justru kalau di jurusan saya ga banyak dokter, yang banyak lulusan life science, health science atau biomedical science untuk s1 nya tapi akan susah kalau temen2 S1nya jurusan non-eksak. kebalikkannya kalau temen2 S1nya teknik atau science tapi mau S2 sosial, itu lebih mudah terus S2nya ini,, ini susah di lobbynya.

tidak ada silang jurusan ya mba,, seperti yang kebanyakan sekarang?

Rizky:

kalo di bidang saya, sepertinya malah diharapkan banyak silang jurusan 🙂
sepertinya Neuroscience ini ilmu baru, jadi harus dilihat dari berbagai perspective. jadi mungkin dasarnya harus bervariasi supaya masalah di Neuroscience ini terselesaikan.

Apa saja pilihan topik penelitian / proyek di program studi yang di ambil mas rizky dan mba nada? Apa kira-kira rencana penelitian / projek mas sama mba (jika memang sudah ada)?

Nada:

Untuk topik penelitian ini bener-bener bebas tidak ada batasan selama masih dalam ranah jurusan kita. nah karena penelitiannya dilakukan selama research internship, Kita bisa gabung dalam proyek peneltian research group manapun di seluruh dunia, di perusahaan (research and developmentnya) maupun di universitas, atau lembaga seperti LIPI dll. Syaratnya adalah supervisor penelitian kita di tempat tersebut seorang doktor dan supervisor hariannya seorang pHD candidate.
contoh untuk immunology saya ikut gabung di Erasmus Medical Center di lab diagnostik immnuology,
penelilitiannya saat itu tentang peran makrofag dan thrombin dalam patofisiology penyakti mata (poliverative vitreoretinopathy) jadi untuk topik penelitian ini ikut research group yang udah ada, kita milih research group sesuai minat, kebetulan minat saya pada inflmasi dan autoimmun tapi yang waktu itu ada lowongan untuk research internship cuman yang inflamasi jadi saya topik penelitiannya itu, kalau untuk public health saya penelitiannya di Pusat Studi TB-HIV Unpad Bandung karena international public health banyak mengurus masalah kesehatan di negara berkembang jadi teman2 kampus saya milihnya ke afrika, vietnam, india, dan lain2 kalau saya ya ke indonesia. Untuk topik penelitian ini kemungkinannya sangat tidak terbatas, selama masih dalam topik.

Rizky:

Iya, jawaban saya kurang lebih sama seperti mbak Nada.. Banyak pilihan yang bisa diambil, seperti Pathology, Genetics, Neurodevelopment, Neurophysiology, Animal behavior, etc. Untuk proyek internship, Bahkan bisa internship diluar VU /diluar negeri contoh oxford, stanford, UCLA dkk.
Menurut saya, professor di VU ini sangat helpful. jadi bisa minta koneksi dan dukungan motivasi untuk penempatan internship ini

Kalo proyek / internship yang saya ambil ada kaitannya dengan Schizophrenia, Attention, medial Prefrontal Cortex, dan Animal model. Hehehe

Pilihan beasiswa apa saja yang ditawarkan? Apakah mba nada sama mas rizky menggunakan beasiswa? Jika ya, beasiswa apa yang diambil dan bagaimana cara apply-nya?

Rizky:

wah kalo soal yang ini saya kurang bisa membantu. karena saya self-funded. Tapi sepengetahuan saya, VU menyediakan banyak beasiswa kok e.g. orange tulip. Atau mungkin bisa coba LPDP? mungkin mbak Nada bisa bantu?

Nada:

untuk beasiswa di belanda daftar lengkapnya bisa dilihat di halaman PPI belanda http://ppibelanda.org/info-beasiswa/
Saya sendiri beasiswanya LPDP, nah ini untuk lengkap bagaimana caranya bisa langsung dibuka di webnya http://www.lpdp.depkeu.go.id/
kalau beasiswa dari universitas, yang teman2 perlu ketahui hampir semua univ itu bentuk beasiswanya parsial artinya berupa potongan spp atau full spp tapi living allowance sekian bulan aja. semua univ kurang lebih sama, itu kalau beasiswa sumber dari universitas, kalau mau fully funded memang harus aktif mencari informasi lembaga2 khusus beasiswa untuk belanda semua info ada di halaman PPI nya 🙂
Dari kampus kita di VU ada yang namanya VU Fellowship program, beasiswanya terdiri dari 15.000 euro dimana 12.000 udah habis dengan SPP kita, sisanya cuman 3.000 yang mungkin cukup hidup 4-5 bulan. ini gambaran bentuk beasiswa kampus seperti apa. dan beasiswa kampus itu kompetitif, saingan kita mahasiswa lokal maupun asing

Kalau seperti yang dibilang mas rizky sendiri self-funded itu gimana mas?? mungkin bisa share bayar biaya disana.. tempat tinggal atau mungkin yang lain nya mas.?

Rizky:

Iya, self-funded semuanya. hehe
kalau tempat tinggal di amsterdam itu relatif mahal. tapi alhamdulillahnya ada DUWO (Semacam Housing Agency untuk Student), nah mereka sangat helpful dan murah, Saya sendiri untuk housing bayar 260 perbulan. untuk makan dkk mungkin 100 euro. jadi total total 400 euro mungkin perbulan? iyaaa, untuk transportasi kan ada sepeda. jadi bisa hemat 🙂
iya mbak. yang penting kontak DUWO untuk rumah ini. Kalau minta International office biasanya bisa diatas 350 eur. FYI, harga rumah pasaran di Ams itu 350 keatas ya.

Apakah ada jurusan yang sama dengan mas rizky dan mba nada di universitas lain di Belanda? Bagaimana komparasinya?

Rizky:

Okeee.. Ini list lengkap jurusan Neuroscience di Belanda: https://neurofederatie.nl/dutch_ns.php

Semua jurusan basisnya course nya bisa jadi sama, hanya beda di SDM dan fasilitas (karena ada standar dari menteri edukasi belanda). Menurut saya, setiap Univ di belanda punya keahlian masing masing. Jadi tergantung research interestnya mau kemana. hehehe.
contoh: utrecht dengan stem cellnya, rotterdam dengan immunology nya, groningen dengan gut microbialnya. kalau untuk kekuatan riset setiap univ saya kurang tau, jadi menarik sekali penjelasan rizky tapi kalau khusus untuk jenis program S2 Biomedical Science VU, menurut saya  berbeda dengan kampus lain karena adanya kesempatan memilih 2 spesialisasi yang bisa jadi sangat tidak berhubungan, seperti saya (immunology dan public health). Kampus lain biasanya udah punya paket khusus misalnya infection and immunity master, dll. Sebenarnya VU juga punya jurusan khusus seperti cardiology dan oncology. Tahun sebelumnya dua jurusan ini di bawah naungan “Biomedical Research Master” tapi sekarang udah dilepas jadi jurusan mandiri. Saya kebetulan cocok dengan VU karena saya pribadi masih bingung memilih antara terjun eksak/lab dengan terjun sosial (public health). Dengan program VU, saya bisa dapat kesempatan mencoba keduanya. Buat teman2 yang sudah jelas mau ambil arah S2nya apa memang baiknya langsung ambil master yang mandiri, seperti Neuroscience atau yang lainnya. nah jurusan2 biomedical science atau health science master itu biasanya untuk mahasiswa2 yang memang tertarik nyusun sendiri kurikulumnya, mereka yang lebih cenderung interdiscplinary, dengan ambil master besar kaya biomedical science atau health science,  mata kuliah elective yang disediakan lebih beragam.

Bagaimana prospek kerja yang relevan sama jurusan nya mba sama mas dan apa rencana mba sama mas setelah lulus?

Nada:

untuk prospek kerjanya karena saya dasarnya kedokteran bisa antara 3: kembali ke klinis, ikut pusat studi di universitas/LIPI/ atau gabung research developmentnya perusahaan, atau masuk ke area kesehatan masyarakat sama ikutan gabung di penelitian2 rumah sakit pendidikan jadi harus adaptasi lagi. saya sekarang ini lagi aktif membantu penyuluhan2 kesehatan yang sifatnya promotif ke masyarakat sembari memnegmbalikan kembali ingatan akan praktek klinis (2 tahun S2, ga praktek di rumah sakit). begitu mba malika, enaknya dengan kita belajar international public health, kesempatan saya gabung ke NGO international juga besar karena sudah pernah belajar dengan global health, insyallah kalau soal prospek kontribusi kita ke depannya sangat banyak. Kalo menurut saya, Prospek kedepan dari semua research master adalah PhD. Tapi bukan berati harus jadi PhD student, bisa juga nyebrang ke Company atau business sector. Berhubung PhD di Belanda ini digaji selayaknya employee, jadi ya rencana saya setelah lulus yaitu PhD.

Rizky:

untuk kontribusi nyata ke indonesia sendiri saya kurang terlalu paham. tapi, menurut saya, ilmu yang didapat akan bermanfaat untuk seluruh manusia gak hanya di Indonesia. Karena untuk kemajuan ilmu pengetahuan itu  sendiri.

Nada:

setuju sama rizky, insyallah peran akan ada-ada aja ga perlu khawatir, nanti kesempatan datang dengan sendirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: