How to Survive in The Netherlands: The Do’s and Don’ts

Ditulis oleh: Dea Putri Utami

Saya tidak akan pernah lupa masa-masa itu. Masa-masa ketika saya sudah berhenti bekerja dari industri pangan, mencoba berbagai aplikasi beasiswa ke luar negeri, kemudian gagal berkali-kali. Waktu itu, ketika orang-orang sebel ditanya “Kapan nikah?”, sesungguhnya saya lebih sensitif saat ditanya “Katanya mau S2, kapan?”. Mungkin tidak ada maksud ofensif, mungkin penanya cuma ingin tahu kabar atau basa-basi. Mungkin. Tapi, apapun alasannya, sebagaimana jomblo suka tersinggung kalau ditanya kapan nikah, pengangguran juga bisa tersinggung ketika ditanya apa kegiatannya kalau memang masih mencari-cari begitu. Ada proses panjang yang harus saya lalui, yang seringnya rumit dan menyakitkan, tapi yang orang-orang tanyakan biasanya hanyalah hasilnya. Implikasinya, saya jadi malas datang ke acara-acara keluarga besar, padahal hari lebaran sudah mulai dekat…

Gagal berkali-kali sempat membuat saya lelah dan marah, tapi lelah dan marah bukan berarti menyerah. Demi mimpi saya. Demi kehidupan yang lebih baik. Demi lebaran yang lebih menenangkan. Sementara hati saya masih cenat-cenut setiap pertanyaan kepo itu muncul lagi, sementara saya merasa kecil di antara banyaknya orang yang berhasil mendapatkan beasiswa dalam satu kali percobaan, saya tetap berusaha keras mencari dan mendaftar beasiswa sampai akhirnya saya berhenti mencari di percobaan kelima. Ya, masa-masa itu akhirnya berakhir sudah. Tepat ketika saya dinyatakan berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda yang bernama beasiswa StuNed, pencarian saya selesai. Belanda, here I come! Lebaran, here I come!

Melanjutkan pendidikan master di luar negeri tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidup saya sampai saya bekerja. Baru saat saya bekerja, saya merasa ilmu saya kurang sekali dan saya ingin belajar lebih dalam. Belanda kemudian menjadi tujuan utama karena Belanda punya Wageningen University, salah satu universitas terbaik dunia di bidang yang saya minati, yaitu Teknologi Pangan. Ketika saya akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa di kampus impian tersebut, tentu aja saya senang. Tapi, nggak bisa dipungkiri, ada juga kekhawatiran yang muncul: setelah berhasil survive dari kegagalan bertubi-tubi itu, apakah selanjutnya saya juga bisa survive selama mengenyam pendidikan master di negeri kincir angin?

1

 

Ternyata, jawabannya: bisa! Sekarang, sudah hampir satu tahun saya hidup di Belanda, saya masih hidup, sehat, dan baik-baik saja. Bagaimana caranya?

Berikut daftar Do’s dan Don’ts untuk survive sebagai mahasiswa di Belanda versi saya.

Do’s:

  1. Be effective and efficient

Dari pengalaman kerja kelompok dengan orang Belanda, kesan yang saya tangkap adalah setidaknya mereka punya prinsip dasar yang sama: work hard, play hard. Waktu kerja ya dipakai kerja, waktu istirahat ya istirahat, waktu party ya party… Bukan berarti ketika kerja mereka jadi nggak asik karena nggak bisa diajak becanda, asik kok, hanya saja porsinya tepat kapan harus serius dan kapan santai. Nggak ada tuh acara jadi curhat berkepanjangan. Karena kerjanya efektif dan efisien, kehidupan kerja dan pribadi jadinya seimbang. Salut!

Tapi, bagaimanapun juga, tak ada gading yang tak retak. Keseimbangan hidup orang-orang Belanda merupakan asal muasal dari singkatnya waktu operasi sebagian besar toko di Belanda. Umumnya jam 6 sore udah pada tutup karena malam hari dianggap waktu untuk keluarga atau kehidupan pribadi lainnya. Bahkan, hari minggu banyak toko yang tutup seharian.

Jadi, untuk bisa survive di tengah budaya tersebut, membaurlah dengan menjadi efektif dan efisien juga, baik di perkuliahan atau di kehidupan sehari-hari, contoh sederhananya adalah belanja. Bukan cuma mesti pinter-pinter ngatur waktu buat belanja karena tokonya jam 6 udah tutup atau bahkan hari minggu nggak buka, tapi juga di sini nggak ada yang bantuin masuk-masukin belanjaan ke tas belanja kayak di Indonesia. Jadi, efektiflah dalam berbelanja (jangan kalap segala pengen dibeli) supaya nggak ribet sendiri dan efisienlah dalam masuk-masukin belanjaan ke tas belanjaan kalau nggak mau ditontonin sama yang ngantri di belakang kita.

  1. Be kind

Katanya, orang Indonesia itu ramah. Kata saya, orang Belanda nggak kalah ramah. Bahkan setelah jalan-jalan ke berbagai kota di Eropa, saya masih merasa orang Belanda yang paling ramah. Saya pikir orang-orang Belanda bakal dingin dan mengerikan, ternyata nggak. Terlepas dari tinggi badan mereka yang memang mengerikan karena saya serasa bakal terinjak, mereka umumnya ramah sampai kadang saya malu sendiri sebagai orang Indonesia yang (katanya) ramah. Ketika naik bus, supir bus biasanya menyapa sambil tersenyum. Terus ketika turun, (sebagian) orang Belanda akan menyahut bilang terima kasih lalu melambai ke supirnya. Sebagai yang sering dijutekin supir angkot, saya merasa pemandangan itu menyejukkan hati. Nyesss.

Di gedung tempat tinggal yang penghuninya banyak orang Belanda, orang-orang akan saling sapa ketika ketemu di lift. Walaupun nggak kenal. Kebetulan saya tinggal di gedung yang sebagian besar penghuninya mahasiswa internasional, dan seperti sudah bisa ditebak, kebiasaan sapa-menyapa nggak berlaku di sini.

Dosen? Wah ini nggak perlu diragukan lagi. Baiknya sampai bikin terharu. Nanya apa aja dijawab dan nggak merendahkan… OK, ini antara baik dan profesional sih sebenarnya. Tapi, apapun itu, yang jelas sikap dosen di sini nggak bikin segan untuk bertanya.

Kesimpulannya, orang Belanda yang tinggi-tinggi aja nggak merendahkan. Kita yang nggak tinggi-tinggi masa mau tinggi hati? Just be kind as well.

  1. Be prepared

Meskipun manusia cuma bisa berencana dan Tuhan yang menentukan, tetap aja perencanaan itu penting supaya kita siap, terutama dalam konteks menghadapi cuaca, penggunaan transportasi umum, dan memahami bahasa yang ribet di Belanda.

Pertama, menghadapi cuaca. Menghadapi cuaca di Belanda sama dengan menghadapi ketidakpastian. Bagi cewek yang selalu butuh kepastian, ini mungkin sulit. Bukan cuma cowok yang bisa memberi harapan palsu, cuaca di Belanda juga. Menit ini cerah, beberapa menit ke depan bisa aja turun salju (ketika musim dingin tentunya), atau hujan, kemudian cerah lagi. Ngecek ramalan cuaca setiap pagi menjadi ritual yang penting buat menentukan pakai baju apa dan bawa jaket yang setebal apa hari itu, walaupun ramalan cuaca juga kadang nggak bisa dipercaya sih. Lihat suhu sepertinya cukup hangat, tapi begitu keluar ruangan angin berhembus super kencang. Belum lagi, langit sering terlihat gloomy, kadang berkabut parah sampai berasa lagi di film horor. Langit biru cerah menjadi suatu keistimewaan tersendiri di sini. Jadi, be prepared: sekompleks apapun trust issue kita terhadap ramalan cuaca, nggak rugi untuk tetap cek ramalan cuaca setiap hari terutama kalau mau pergi. Setidaknya ada langkah antisipasi.

2

 

Kedua, penggunaan transportasi umum. Transportasi umum di Belanda terintregasi dengan baik. Ini salah satu yang saya yakin bakal saya rindukan ketika saya balik ke Indonesia nanti. Satu kartu bernama OV-chipkaart bisa dipakai untuk bayar semua moda transportasi, jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bawa uang kecil, asal OV-chipkaart-nya ada isinya ya. Selain itu, jadwal keberangkatannya juga secara umum tepat waktu, kalau telat biasanya ada hal-hal insidentil, kayak perbaikan rel kereta dan semacamnya, dan itu bisa dicek di aplikasi yang bisa dengan mudah di-install di handphone kita. Jadi, be prepared: pastikan OV-chipkaart cukup saldonya kalau mau pergi, lalu cek jadwal di aplikasi supaya nggak telat dan tahu apakah ada perbaikan atau nggak.

3

Ketiga, memahami bahasa Belanda. Memang, kuliah program master dilakukan dalam bahasa Inggris. Orang-orang Belanda di luar kampus juga hampir semua bisa berbahasa Inggris. Tapi, adakalanya pengetahuan dasar bahasa Belanda itu penting juga. Di supermarket, saya sering berdiri lama di suatu spot, bukan karena labil milih, tapi karena nggak ngerti. Saya harus menggunakan google translate dulu untuk memahami penjelasan produk-produk yang bakal saya beli karena seringnya nggak ada bahasa Inggrisnya. Di stasiun, pengumuman di layar dan pengeras suara juga dalam bahasa Belanda. Bisa aja mendadak keretanya ada gangguan atau ganti platform, tapi karena saking mendadaknya informasi tersebut belum ter-update di aplikasi. Jadi, be prepared: akan lebih baik kalau kita mengerti sedikit bahasa Belanda supaya nggak salah beli produk dan demi menerima informasi dengan lancar di stasiun.

  1. Be independent

Nggak diragukan lagi, bisa hidup mandiri menjadi salah satu syarat utama untuk survive di sini. Hidup mandiri ini bukan sekedar sanggup jauh dari keluarga, tapi juga mandiri tanpa warung nasi padang, tukang gorengan, tukang bakso yang lewat, abang-abang fotokopian… Pingin bala-bala? Bikin sendiri! Pingin sambel yang beneran pedes (bukan sambel ala Belanda yang asem dan nggak menantang)? Bikin sendiri!

4

Restoran Indonesia di sini banyak, menunya bahkan kadang dalam Bahasa Indonesia, ya karena sejarah panjang Indonesia dan Belanda di masa lalu tentunya. Tapi, kalau terus-terusan beli, bisa-bisa total biayanya cukup buat Euro trip… Berhubung toko yang jual bahan-bahan masakan Indonesia juga banyak, masak sendiri aja. Walaupun rasanya belum tentu sesuai ekspektasi, setidaknya masih ada cita rasa rempah-rempah ala Indonesia, cita rasa yang nggak ditemukan di menu standar orang Belanda: roti lagi, roti lagi…

  1. Be open-minded

Bagi saya, melihat kebiasaan-kebiasan di sini yang justru sebenarnya bertentangan dengan budaya di Indonesia merupakan hal yang menarik. Misalnya, sementara minuman beralkohol itu tabu di Indonesia, di sini dosen malah mengadakan acara penutupan kuliah dengan menyediakan bir gratis buat mahasiswa-mahasiswanya. Nggak, saya nggak ikut minum bir. Ketika orang-orang minum bir, saya sih setia dengan minuman bersoda aja… Tapi menarik aja berada dalam situasi itu. Orang yang konservatif mungkin nggak terima, menghindar, atau paling-paling ujungnya jadi mencurahkan kegelisahannya di media sosial. Saya sih malah senang punya pengalaman baru. Selama nggak mengganggu satu sama lain, nggak memaksakan kebiasaan masing-masing terhadap yang lain, semua oke-oke aja.

Terus, di sini nggak perlu aneh juga lihat mahasiswa kuliah pakai celana super pendek dan tank top doang. Gaya berpakaian adalah hak pribadi yang dihargai. Nggak ada yang larang, nggak ada juga yang godain, apalagi yang suit-suitin. Nggak, saya nggak pakai baju begitu juga. Tapi, sekali lagi, ini menarik. Somehow dunia jadi lebih indah dan damai tanpa suit-suitan laki-laki nggak jelas di pinggir jalan.

Open-minded di sini juga berlaku di perkuliahan. Segala ide dihargai asal ada dasarnya. Kadang saya berpikiran terlalu rumit, termasuk saat kerja kelompok. Takut idenya nggak masuk akal, takut nggak bisa diaplikasikan di industri, dan lain-lain… Karena waktu kuliah di Indonesia, rasa-rasanya sering ditanya atau didebat sampai sejauh itu. Tapi, kemudian temen kelompok yang orang Belanda bilang, “It’s going to be okay as long as it’s underpinned.” Dan benar. Saya punya perhitungan teknisnya, asumsi-asumsinya jelas, referensinya jelas… and it was okay in the end.

  1. Be happy

Yes, be happy! Bagi saya, jalan-jalan itu menyenangkan. Jadi, bagi yang suka jalan-jalan juga, jalan-jalanlah! Jelajahi Eropa selagi bisa. Biarin aja kalau ada yang nyinyir bilang jalan-jalan terus. Selama kuliahnya bener, banyak jalan-jalan apa salahnya? Nggak ada yang salah dengan memberi reward untuk diri sendiri. Ingat lagi dari poin 1, Dutch way: work hard, play hard.

5

Mereka yang nyinyir karena kita sering mengunggah foto jalan-jalan ke media sosial hanya nggak sadar bahwa foto-foto itu cuma bagian kecil dari kehidupan kuliah dan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya. Selain beberapa selfie dengan teman bule di kampus dan jepretan tumpukan buku berlatar perpustakaan kampus sebagai pencitraan biar nggak dibilang jalan-jalan terus, kegiatan harian lain tentu aja nggak akan semuanya sempat terabadikan kamera… Dan nggak perlu juga kan… Kalau foto-foto terus, nggak belajar-belajar nanti.

Don’t:

Satu “don’t” aja dari saya: jangan sia-siakan waktumu ketika tinggal di Belanda! Saya masih satu tahun lagi tinggal di sini, tapi saya sudah bisa membayangkan akan sekangen apa saya dengan Belanda ketika nanti saya harus kembali ke Indonesia. Kangen dengan keteraturannya, dengan ritme hidup yang bervariasi, dengan pengalaman-pengalaman barunya… Bukan berarti senang melulu sih. Masa-masa stres pasti ada, homesick juga ada, tapi pada akhirnya semua berlalu juga. Badai pasti berlalu. Sebagaimana masa-masa tinggal di Belanda juga akan berlalu dan belum tentu terulang lagi. Tapi, terulang atau nggak, fasa hidup di Belanda akan menjadi salah satu momen paling penting yang terjadi dalam hidup saya. So, let’s make the most of it!

3 comments

  1. “abang-abang fotokopian” *ngakak.
    A well-written post! Seneng bacanya, menarik dibaca sampai selesai padahal diriku biasanya skip-skip kalo baca blog orang) 🙂

  2. Guna banget buat gw nanti hidup disana, jado lebih tau persiapannya apa aja termasuk bawa sambel siap saji darisini mungkin ;D

  3. Kisahnya nyenegin banget buat disimak, banyak motivasi yang pastinya dari ceritanya bikin mupeng. Makin pengen dan besar keinginan buat datang kesana. Semoga cita-cita bisa kesampaian kaya mba- mba ini, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: