Suka-Duka Wawancara

Oleh Mahening Citra Vidya
Penerima Beasiswa Unggulan Dikti 2012
Master in Mechanical Engineering, University of Twente

Halo!
Saya Citra, 22 tahun. Sekarang berdomisili di Enschede karena sedang menuntut ilmu di Universiteit Twente. Rasanya tidak perlu saya ceritakan secara panjang-lebar dari awal sampai akhir bagaimana dramatisnya perjalanan saya untuk bisa bersekolah di Twente karena –sama seperti yang lain—tentu saja melibatkan keringat dan kerja keras (empat gagal, dua tak ada kabar, satu sukses). Alhamdulillah bisa sampai di sini, dibayarin pula.

Saya mendapat beasiswa dari Dikti. Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan membuat saya bersyukur habis-habisan mungkin adalah saat saya diwawancara oleh pihak pemberi beasiswa, sekitar bulan Mei 2012. Ketika itu, saya mendapat panggilan wawancara setelah lolos tahap seleksi dokumen.  Dalam surat undangan wawancara, tertulis bahwa acara yang akan dilakukan adalah “verifikasi dokumen”, yang tentu saja membuat saya bersiap-siap menyediakan setumpuk dokumen yang mungkin akan ditanya: hasil tes TOEFL asli, transkrip, ijazah, research proposal, fotokopi paspor, dan sebagainya. Tak lupa saya menyiapkan daftar pertanyaan apa saja yang mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara, lengkap beserta jawaban yang telah didiskusikan terlebih dahulu dengan kakak saya. Walaupun ini merupakan wawancara yang kesekian kalinya dalam perjalanan saya mencari beasiswa, saya kembali bertanya kepada dosen, saudara, teman yang sedang kuliah di luar negeri, berlatih monolog dalam bahasa Inggris, dan tentu saja melakukan simulasi wawancara via skype dengan kakak saya dan istrinya. Mereka berdua berperan sebagai “the harshest interviewer ever” dan membantai habis pada setiap jawaban yang saya berikan. You should try this, people. Nothing’s better than having a totally low self-esteem before your interview! Pelajaran moral pertama: separah apapun wawancara besok, tak ada yang bisa mengalahkan research proposal yang dibantai habis oleh kakak sendiri. Pertanyaan-pertanyaannya yang cepat dan tak disangka-sangka seperti ini sangat membantu saya berlatih. Tentu saja saran dan evaluasi dari keduanya juga membuat saya merasa lebih siap keesokan harinya. Salah satu saran yang menurut saya bagus sekali adalah: lebih baik bicara lambat dan lancar daripada cepat namun terpatah-patah di tengah kalimat.Pada hari-H wawancara, ternyata beberapa pertanyaan yang telah saya antisipasi benar-benar muncul. Dengan senang hati saya jawab semuanya dengan penuh percaya diri. Kebetulan pewawancara saya adalah seorang ibu separuh baya dengan bahasa Inggris yang bagus dan lancar, otak tajam, dan sering menyela di tengah-tengah kalimat untuk menggali jalan pikiran saya lebih dalam lagi. Beruntung saya telah dilatih oleh “those two harshest interviewers ever”, ternyata pertanyaan yang bertubi-tubi seperti ini cukup membuat saya berkeringat dingin. Contohnya: “Why do you choose Netherlands?” “Are you sure you can live there?” “Can you speak Dutch? No??”, “Then how can you be sure that you can finish your master programme there?”, “And now you choose a specialization that is not related at all with your previous bachelor project??”, “Let’s see your research proposal.. From all of these references, is there any publication written by a Dutch man?”, “Then why do you choose Netherlands?”, “But why do you choose University of Twente?”, “Oh, I do know a better university for mechanical engineering, in Germany.”, “This university is not the best one in Europe. Why don’t you aim higher?” “Living in Europe is expensive, isn’t it?” (thank God I made a financial plan last night), etcetera, etcetera, sampai pada akhirnya beliau meminta saya menunjukkan dokumen-dokumen asli yang diminta. Masalah muncul ketika beliau bertanya, “Do you have a proof of advisorship?”

Saya bengong, tentu saja. Tak ada kata-kata “proof of advisorship” di daftar dokumen yang diminta oleh Dikti sebelumnya. Di perguruan tinggi tujuan saya, tahun pertama diisi dengan kuliah sehingga tesis baru dimulai pada tahun kedua. Tidak seperti mahasiswa program doktor, mahasiswa master tidak perlu memiliki dosen pembimbing pada tahun pertama karena tesis dan spesialisasi yang akan diambil baru ditentukan pada tahun kedua. Walaupun saya telah mengontak dosen-dosen Twente, saya belum mempunyai pembimbing tesis resmi, dan itu artinya ada kemungkinan nama saya akan dicoret dari daftar penerima beasiswa karena dokumen “proof of advisorship” saya tidak lengkap.

“Uh, no, I do not have it. What do you mean by ‘proof of advisorship’?”Keringat dingin menetes.
Beliau mulai menjelaskan secara singkat-padat-jelas mengenai dokumen yang dimaksud, yaitu bukti berupa print out email atau korespondensi apapun yang menunjukkan bahwa ada seorang profesor di Twente yang bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Makin meneteslah keringat dingin saya.
“I have contacted a professor in Twente by email, is it sufficient? But I do not bring it right now, so may I print it…”
“Sure. Bring it here before 12 o’clock. I’ll be here.”

Kemudian sang pewawancara dengan cueknya menunduk dan menulis sesuatu di hadapan saya, bahasa tubuh yang cukup jelas mengisyaratkan bahwa sesi wawancara telah selesai. Dengan mata nanar, saya berjalan ke arah pintu keluar sambil melihat pelamar-pelamar lain yang masih diwawancara. Meja sebelah saya sepertinya ceria sekali, pewawancaranya seorang bapak  berambut semburat putih dan pelamar beasiswanya seorang gadis cantik yang sedang tertawa riang.. (maaf, nggak penting). Anyway, jam menunjukkan pukul 09.30, jadi saya masih mempunyai waktu sekitar dua setengah jam untuk mencetak email-email saya dan mendapatkan “proof of advisorship” itu, entah bagaimanapun caranya. Plan A sampai Z disusun, dengan kemungkinan terburuk adalah kembali ke tempat wawancara dengan tangan hampa.

Hal pertama yang saya lakukan yaitu segera kembali ke tempat kos untuk mendapatkan akses internet, laptop, printer, dan semuanya. Tempat wawancara cukup jauh dari peradaban, tidak ada printer maupun tempat nge-print di sekitarnya. Hanya ada masjid. Mungkin kalau saya menyerah, saya sudah tidur-tiduran dan pasrah berdoa di masjid alih-alih buru-buru kembali ke rumah kos. Dalam perjalanan pulang ke tempat kos, saya menelepon kakak kelas saya di Twente dengan harapan mendapat penjelasan mengenai cara untuk mendapatkan dosen pembimbing dalam waktu kurang dari dua jam,birokrasi, dan sistem yang berlaku di Twente. Berhubung saya menelepon jam 10 WIB, di Belanda saat itu masih pukul  5 dini hari dan kakak kelas saya tak jelas bicara apa. Menelepon Pak Profesor pun tak mungkin. Akhirnya saya mengirim email kepada beliau dan seorang dosen lain yang saya harap dapat membantu saya mendapatkan surat “proof of advisorship”tersebut. Saya sudah pasrah begitu mengetahui bahwa tak mungkin email saya akan dibalas dalam waktu dua jam. Saya pun kembali ke tempat wawancara dengan membawa lembaran-lembaran hasil cetakan email percakapan saya dengan Pak Profesor.

Tepat pukul 12.00 WIB, saya sampai kembali di tempat wawancara dan Ibu Pewawancara masih menunduk menulis sesuatu di mejanya. Saya serahkan email korespondensi saya, namun beliau berkata bahwa yang benar-benar dibutuhkan adalah selembar kertas dengan pernyataan tegas dari seorang profesor yang bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya apakah dokumen tersebut bisa disusulkan dan alhamdulillah, beliau menyetujui!
Pelajaran moral nomor dua: mungkin saja hal-hal semacam ini terjadi pada saat wawancara, hanya untuk melihat tingkat keseriusan pelamar dalam memenuhi tenggat waktu.

Pelajaran moral nomor tiga: siapkan Letter of Advisorship. Walaupun pihak universitas menolak untuk memberikan surat tersebut karena mahasiswa S2  masih belum menyelesaikan kuliah tahun pertama, sebaiknya langsung minta saja ke calon profesor pembimbing.

Singkat cerita, saya mendapatkan selembar-kertas-berisi-pernyataan-tegas-Pak-Profesor-lengkap-dengan-tanda-tangannya. Luar biasa, betapa responsif dosen-dosen Twente dalam membantu saya mendapatkan surat tersebut tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Saya kumpulkan keesokan harinya, dan alhamdulillah here I am now!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>