Semarak Made in Indonesia

made-in-indonesia

Eindhoven – Terdapat nuansa yang berbeda di Dynamo Eindhoven Centrum pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Gedung yang biasanya digunakan untuk pagelaran konser band, kali ini dipenuhi oleh pecinta makanan dan budaya Indonesia. Usut punya usut, ternyata sedang diadakan festival kuliner bertajuk “Made in Indonesia 2016”. Acara ini diselenggarakan oleh PPI Eindhoven dengan mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag dan Eindhoven Studentenstad.

Festival kuliner ini menyajikan berbagai makanan dan minuman tradisional dari berbagai daerah di Indonesia seperti otak-otak, bakso, dan sate padang. Festival ini dihadiri oleh sekitar 400 pengunjung dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat Indonesia yang ingin melepas kerinduan dengan kuliner tanah air maupun masyarakat internasional yang penasaran untuk mencicipi hidangan khas Indonesia.

Wakil Kepala Perwakilan, H.A. Ibnu Wiwoho Wahyutomo, turut hadir dalam festival ini sebagai perwakilan dari KBRI. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan tentang pentingnya mempromosikan budaya Indonesia, terutama melalui festival budaya seperti Made in Indonesia. Pak Ibnu menambahkan bahwa terdapat sekitar 10% populasi masyarakat Belanda yang merupakan agen-agen diaspora Indonesia dalam promosi budaya dan parawisata Indonesia di Belanda. Turut hadir pula dalam festival, Joep Huiskamp, perwakilan Studentenstad TU Eindhoven. Joep menyampaikan bahwa Studentenstad dan Pemerintah Kota Eindhoven secara lembaga sangat mendukung kegiatan-kegiatan positif yang diselenggarakan mahasiswa di Eindhoven.

Tak hanya penyajian makanan, terdapat pula beberapa penampilan budaya Indonesia yang ditampilkan, mulai dari tarian dan penampilan kelompok Angklung Neunen. Menariknya, kelompok Angklung Neunen ini sebagian besar berkewarganegaraan Belanda dan telah berusia senja. Namun, rupanya usia tidak menyurutkan semangat mereka untuk tampil di Made in Indonesia 2016. Mereka menampilkan beberapa lagu yang cukup akrab didengar oleh telinga masyarakat Indonesia, seperti Halo-Halo Bandung dan Ajoen-Ajoen. Penampilan mereka berhasil membuat hadirin terpukau serta meramaikan suasana festival.

Suasana semakin ramai ketika panitia mengadakan perlombaan khas tujuh-belasan di Indonesia, yaitu lomba makan kerupuk. Kali ini, perlombaan dimodifikasi dengan mewajibkan para peserta untuk menyantap makanan ikonik mahasiswa Indonesia, Indomie, setelah memakan kerupuk. Pengunjung terutama masyarakat internasional sangat antusias mengikuti perlombaan ini hingga panitia harus menambah round untuk mengakomodasi antusiasme pengunjung. Dynamo Eindhoven Centrum semakin bergemuruh ketika seorang peserta menjatuhkan kerupuknya ke lantai dan tetap memakannya di lantai agar tidak didiskualifikasi.

Festival yang dilaksanakan hingga sekitar pukul 17.00 CET ini ditutup dengan pidato oleh Wahyu Utomo (MSc Embedded Systems) selaku ketua pelaksana. Panitia merasa puas dengan antusiasme pengunjung, baik masyarakat Indonesia maupun internasional. Harapan ke depan, kegiatan Made in Indonesia dapat terus diselenggarakan agar dapat memberikan impresi yang baik mengenai Indonesia di negeri Belanda. [AJ & AIF]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: