Semarak Indonesia Film Festival 2016

diskusi-nsaputra-rriza-spriscilla

Utrecht – Indonesia Film Festival (IFF) 2016 merupakan sebuah rangkaian acara mengenai perfilman Indonesia yang telah selesai diselenggarakan pada tanggal 17-20 November 2016 di Wolff Catharijne Bioscoop, Kota Utrecht, Belanda. IFF 2016 diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag dan didukung oleh Miles Films. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kultur perfilman Indonesia kepada masyarakat luas, termasuk di dalamnya meliputi sejarah, perkembangan, dan tantangan yang dihadapi perfilman Indonesia.

Sesuai dengan tema acara, yakni Contemporary Indonesia – Cinema of Riri Riza, film-film yang diputar merupakan karya dari sutradara Riri Riza yang mencerminkan sisi masyarakat kontemporer Indonesia. Film-film tersebut juga diharapkan mampu menunjukkan keindahan kultur dan alam Indonesia itu sendiri. Terdapat lima film yang ditampilkan, yakni “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC 2), “Atambua 39°C”, “Drupadi”, “Sokola Rimba”, dan “Athirah (Emma’)”. Selain dilakukan pemutaran film, terdapat pula diskusi tentang film yang ditampilkan secara khusus dan perkembangan industri perfilman di Indonesia secara umum. Riri Riza beserta para aktor dan aktris yang turut hadir dalam diskusi adalah Nicholas Saputra, Sissy Priscillia, dan Christoffer Nelwan.

Salah satu pemutaran film yang cukup antusias diikuti oleh peserta adalah film AADC 2 yang ditayangkan pada hari Kamis dan Sabtu, 17 dan 19 November 2016. Khusus pada tanggal 19 November 2016, pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara penonton dengan sutradara Riri Riza dan pemain AADC 2, Nicholas Saputra dan Sissy Priscillia. Dalam diskusi tersebut, Sissy Priscillia mengatakan bahwa film AADC 1 telah mengubah hidupnya dan keputusan untuk bermain kembali dalam film AADC 2 adalah sesuatu yang sangat berkesan karena ia dapat bertemu “keluarga lama” sekaligus teman-teman baru.

“Ketika kita bekerja sama, dengan script, semuanya datang dengan sangat natural.”, imbuh Nicholas Saputra. Ia pun merasa sangat beruntung dapat bekerja dengan tim AADC 2.

Riri menambahkan, “Membuat AADC 2 adalah a very special calling. AADC 1 never actually release us, it is always coming to us”. Menurutnya, sangat menarik untuk melihat tim AADC 1 berkembang, bermain, dan membuat film baru selama beberapa tahun terakhir dan melihat mereka kembali bermain di film AADC 2. Riri juga menceritakan beberapa tantangan dalam membuat film AADC 2 serta keistimewaan Jogjakarta hingga ia memilihnya sebagai lokasi syuting.

Riri mengungkapkan rasa senang atas terselenggaranya IFF 2016. Menurutnya, acara seperti ini dapat mengenalkan perfilman Indonesia secara keseluruhan kepada khalayak agar masyarakat luas dapat lebih mengerti tentang perfilman Indonesia dan Indonesia itu sendiri. Riri sangat mengapresiasi antusiasme penonton yang tidak hanya terdiri atas masyarakat Indonesia, namun juga masyarakat Belanda. Ia merasa kehadiran mereka seperti reuni. Riri memiliki harapan agar KBRI di negara-negara lain dapat menyelenggarakan acara serupa. Mungkin tidak hanya untuk mengenalkan seni rupa, namun juga musik Indonesia kepada masyarakat umum. [JK & SE]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: