PPI Kota Den Haag mengadakan Diskusi Santai terkait Makna dan Peran Mahasiswa

Oleh Dyah Ayu Kartika

“Sikap setengah hati tidak akan menghasilkan apa-apa. Setengah baik berarti tidak baik, setengah benar berarti tidak benar” – Multatuli.

Hari jumat, 29 April 2016, PPI Kota Den Haag mengadakan diskusi bertajuk: ‘Mempertanyakan Makna dan Peran Mahasiswa: Menilik Sejarah Pergerakan Mahasiswa’ dengan pembicara Bonnie Triyana, sejarawan sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Historia, serta Ubaidilah Muchtar yang akrab disapa Mas Ubay, pendiri komunitas baca Multatuli di Lebak, Banten. Kedatangan kedua pembicara ke Belanda ini dilatarbelakangi oleh inisiasi pendirian museum Multatuli di Lebak, Banten. Museum ini akan menjadi museum pertama yang membahas tentang kolonialisme di dunia.

3

Acara dibuka oleh moderator, Afif Muhammad, yang menjabarkan berbagai tuntutan peran mahasiswa yang sering didengungkan terutama di masa orientasi universitas negeri; social control, agent of change, dan iron stock. Namun belakangan, perhatian mahasiswa dalam isu-isu sosial nampak menurun, bahkan untuk menyampaikan aspirasinya sebagai mahasiswa pun perlu usaha yang ekstra. Hal in itercermin dalam kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo kemarin. Momen strategis dan bersejarah itu kita lewatkan begitu saja, cukup memuaskan nafsu selfie dan wefie, tanpa adanya dialog maupun penyampaian aspirasi dari mahasiswa. Berangkat dari keresahan ini, PPI Kota Den Haag mencoba mempertanyakan kembali apa makna dan peran mahasiswa. Haruskah kita terus kritis terhadap realitas sosial baik yang di Indonesia maupun yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? Atau sebaiknya kita memposisikan diri di luar carut-marut sosial-politik dan fokus belajar sebelum akhirnya terjun ke masyarakat?

Menurut Mas Bonnie, mahasiswa memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa dan di zaman ini, ruang-ruang tersebut terbuka semakin besar. Zaman pergerakan mahasiswa tahun 98 memiliki satu musuh yang sama, yaitu pemerintahan Suharto. Namun setelah Suharto turun, personifikasi musuh seakan runtuh padahal praktik-praktik Orde Baru masih sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bukti konkret adalah di simposium nasional 65 kemarin yang masih dikawal ketat oleh polisi. Kuatnya praktik Orde Baru ini juga berdampak pada mudahnya masyarakat kita dipicu oleh isu rasisme dan agama. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak dibiasakan untuk berpikir kritis dan telah dimanipulasi sedemikian rupa semasa Orde Baru. Sistem demokrasi Indonesia yang berupa demokrasi elektoral seringkali menghasilkan pemerintah yang korup dan masyarakat yang apatis karena tidak percaya lagi dengan pemerintah. Ironisnya, kebanyakan masyarakat apatis ini adalah kelas menengah yang terdidik, berada, dan bisa membuat perubahan-perubahan di masyarakat.

1

Tantangan-tantangan tersebut menjadi ‘musuh’ mahasiswa di masa kini. Mahasiswa bisa menghadapinya dimana saja, baik dalam sistem maupun luar sistem. Meskipun demikian, kita juga perlu mengkritisi gerakan mahasiswa yang  sering disebut organisasi moral padahal sudah diinfiltrasi oleh partai politik dengan kepentingan tertentu. Sosial media dapat menjadi salah satu medium untuk menyampaikan ide dan melawan ‘musuh’ ini. Menjadikan sosial media sebagai medium bukan berarti cukup untuk melakukan perjuangan, kita juga perlu melakukan aksi-aksi konkret di lapangan. Tidak perlu muluk-muluk seperti melakukan aksi turun ke jalan, kontribusi kecil yang berkelanjutan juga dapat menjadi bagian dari perjuangan seperti yang dilakukan oleh Kang Ubay.

Kang Ubay sudah 7 tahun menjalani Komunitas Baca Multatuli. Ia adalah guru SMP di desa Ciseel, Lebak, Banten. Sebelum bertugas di sana, ia berkuliah di IKIP Bandung dan bergabung dengan organisasi mahasiswa FMN Bandung. Saat ini, ia sedang melanjutkan studi S-2 di UPI. Kang Ubay mengakui bahwa pergerakan mahasiswa saat ini berbeda dengan yang dulu. Dahulu, ia dididik untuk terjun langsung ke masyarakat dan hidup di tengah mereka. Hal ini dilakukan agar mahasiswa paham bagaimana kondisi kehidupan masyarakat terutama kelas bawah dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Seiring berjalannya waktu, banyak teman-temannya yang mulai memutuskan untuk berprofesi sebagai pegawai swasta maupun pegawai negeri. Tapi tidak jarang dari mereka yang memilih untuk tinggal di masyarakat,  membentuk inovasi-inovasi untuk membangun pola pikir dan karakter masyarakat sejak dini, seperti membentuk kelompok baca novel yang sarat nilai-nilai kemanusiaan.

Max Havelaar karya Multatuli menjadi buku yang dipilih oleh Kang Ubay untuk diperkenalkan ke anak-anak mulai dari balita hingga remaja. Buku ini seringkali dijadikan referensi oleh pemimpin dan pemikir dunia ketika membicarakan kemanusiaan. “Pramoedya Ananta Toer pernah bilang: Max Havelaar adalah buku pertama yang membunuh kolonialisme” katanya. Melalui buku ini, anak-anak diajarkan untuk tidak jahat dengan orang lain dan tidak mengambil apa yang bukan hak mereka. Berbagai metode digunakan, dimulai dari membaca Max Havelaar bersama-sama, bermain peran, menonton bersama, menelusuri berbagai tempat di Lebak, daerah pemerintahan Multatuli dulu. Hingga saat ini, anak-anak di desa Ciseel telah menamatkan Max Havelaar selama tiga kali, masing-masing dalam kurun waktu 11 bulan, 2 tahun lebih, dan 3 tahun.

2

Perlu diingat, bahwa proses ini perlu konsistensi dan berkelanjutan. Perubahan tidak akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun saja apalagi satu bulan. Sayangnya, sedikit orang yang mau menetap dan mengembangkan masyarakat di desa terpencil untuk menjalani proses yang tidak sebentar ini. Hal ini juga menjadi tantangan dan refleksi bagi kita sebagai mahasiswa juga sebagai bagian dari masyarakat, bagaimana kita bisa melakukan kontribusi dan perubahan dengan konsisten bagi masyarakat terutama di lingkungan sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: