Foto depan KBRI

Simposium PPI se-Amerika dan Eropa yang berlangsung selama tiga hari, (24 – 26 April), di Rijswijk, Belanda menghasilkan empat butir rekomendasi bertajuk “Rekomendasi Rijswijk” sebagai prioritas bagi pemerintah dalam rangka menghadapi Komunitas ASEAN yang sudah dimulai sejak awal tahun 2016 ini.

PPI Amerika Eropa baru saja selesai menyelenggarakan simposium dengan tema “Memaknai Kembali Identitas Bangsa dalam Rangka Menghadapi Komunitas ASEAN” yang dihadiri oleh 27 orang perwakilan PPI di wilayah Amerika dan Eropa. Mereka berasal dari PPI Belgia, PPI Jerman, PPI Italia, PPI Polandia, PPI Rusia, PPI Estonia, PPI Perancis, PPI United Kingdom, PPI Ceko, PPI Hungaria, PPI Turki, PPI Belanda, PPI Portugal dan PPI Swedia.  Simposium PPI Amerika Eropa merupakan kegiatan simposium tahunan yang diselenggarakan sebagai bagian dari agenda PPI Dunia. Tahun ini, PPI Belanda ditunjuk sebagai tuan rumah kegiatan.

Koordinator PPI Amerika Eropa, Puput Cibro, mengatakan empat poin rekomendasi Rijswijk yang harus dijadikan prioritas oleh pemerintah tersebut antara lain agar Indonesia berperan aktif sebagai penengah dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan, memanfaatkan keberagaman potensi daerah dalam pembangunan ekonomi Indonesia, mendorong peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya sertifikasi tenaga kerja, dan segera mewujudkan ketahanan energi nasional.

Puput Cibro lebih lanjut mengatakan bahwa Indonesia harus meneguhkan identitas nasionalnya dalam menghadapi persoalan yang ada di dalam dan di luar negeri. Salah satu identitas nasional dalam politik luar negeri adalah politik “bebas dan aktif” dalam artian turut berperan aktif dalam mengupayakan perdamaian dunia,” ujarnya. Peran ini, lanjut Puput, sangat penting dimainkan oleh pemerintah Indonesia selaku salah satu negara terbesar di kawasan Asia Tenggara. “Indonesia harus bisa menunjukan dirinya sebagai pemimpin di kawasan ASEAN. Salah satunya adalah mengambil peran sebagai penengah di konflik Laut Tiongkok Selatanini,” ujarnya.

Selain itu, dalam rangka menghadapi pasar bebas ASEAN, PPI Amerika Eropa juga menekankan agar pembangunan ekonomiIndonesia harus bersumber dari daya saing dan keunikan lokal-regional. Salah satu identitas nasional yang melekat pada Indonesia adalah sektor pertanian, agribisnis, dan pariwisata. Pembangunan yang bersumber pada keunikan lokal-regional dan potensi internal ini diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara lainnya.

Hal penting lain yang harus dijadikan prioritas utama adalah mengejar target rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2019. “Akses listrik merupakan hak dasar yang harus bisa diperoleh oleh seluruh rumah tangga di Indonesia. Saat ini rasio elektrifikasi kita baru 87 persen merupakan salah satu yang terendah di ASEAN jauh tertinggal dari Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand bahkan dengan Vietnam dan Filipina,” ujar Puput.

Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Ali Abdillah, mengatakan, bahwa dalam satu bulan ke depan PPI Amerika Eropa akan merampungkan kajian komprehensif yang kemudian akan dibawa kepada pemerintah. “Sebagai tuan rumah dan inisiator simposium tahun ini PPI Belanda akan memastikan keberlanjutan dari simposium ini. Jangan sampai berhenti dideklarasi saja,” ungkap Ali.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja yang sebelumnya juga merupakan mantan Dirjen Kerja sama ASEAN Kementrian Luar Negeri memberikan key note speech sebagai pengantar Simposium PPI Amerika Eropa 2016 ini. Dalam sambutannya, Puja menekankan agar Perhimpunan Pelajar Indonesia turut mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia Baru, salah satunya dengan berperan aktif memberikan masukan kepada pemerintah saat ini. “Jangan Cuma kritik, tapi berikan juga solusi,” pungkas Puja.

Leave a comment

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: