Penyakit Ginjal di Indonesia, Sampai di Mana?

Penulis : Yayan T. Sundara, Mahasiswa Master of Medical Science Research di Leiden University Medical Centrum dan Penerima Beasiswa LPDP

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia masih menghadapi berbagai permasalahan kesehatan yang cukup pelik.  Selain masih menghadapi berbagai permasalahan yang lazim terjadi di negara-negara berkembang (seperti: kurang gizi, penyakit menular/penyakit tropis dan infeksi, dll.), Indonesia juga mulai menghadapi berbagai permasalahan kesehatan yang lazim terjadi di negara-negara maju, yaitu penyakit-penyakit kronis akibat proses degeneratif dan perubahan gaya hidup (seperti: hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, stroke, dll.). Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya angka usia harapan hidup penduduk Indonesia karena pertumbuhan ekonomi yang cukup baik pada beberapa tahun terakhir. Berdasarkan perkiraan WHO pada tahun 2012, angka harapan hidup penduduk Indonesia mencapai 71 tahun, dan pada tahun yang sama WHO memperkirakan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kronis di Indonesia mencapai 54% dari seluruh penyebab kematian, melebihi angka kematian yang disebabkan karena penyakit menular dan kecelakaan. Salah satu penyakit kronis yang angka kejadiannya diperkirakan meningkat setiap tahunnya adalah penyakit gagal ginjal kronis.

Ginjal merupakan salah satu organ penting di dalam tubuh kita, dengan fungsi utama untuk menyaring (filtrasi) dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme (racun) dari darah menjadi urin. Selain hal tersebut, ginjal juga berperan dalam mengatur keasaman darah dan keseimbangan ion yang sangat penting agar berbagai fungsi penting dalam tubuh kita dapat berjalan secara normal. Pada keadaan gagal ginjal kronis (chronic kidney disease) terjadi penurunan fungsi ginjal secara gradual dan permanen (biasanya dalam jangka waktu bulan sampai tahun) sehingga ginjal mengalami gangguan dalam mengeliminasi zat-zat sisa hasil metabolisme. Terdapat lima stadium gagal ginjal kronis berdasarkan fungsi filtrasi unit ginjal (glomerular filtration rate/GFR), dimana pada stadium ke-lima (gagal ginjal terminal) fungsi ginjal yang tersisa berada di bawah 15%. Hal ini menyebabkan akumulasi zat-zat sisa metabolisme dan racun yang sangat berbahaya sehingga dapat mengancam jiwa. Pasien gagal ginjal dalam stadium ini membutuhkan hemodialisa (“cuci darah”) secara rutin atau transplantasi ginjal untuk menyelamatkan jiwanya.

Walaupun lebih dikenal sebagai penyakit kronis yang banyak ditemukan pada usia tua, namun sebenarnya gagal ginjal kronis dapat menyerang berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Berdasarkan data tahunan dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2011, dari sekitar 12.500 pasien penderita gagal ginjal terminal yang membutuhkan hemodialisa rutin, lebih dari 53%-nya berusia dibawah 54 tahun. Penyebab utama yang paling sering dari penyakit ini adalah hipertensi dan diabetes mellitus. Data-data tersebut didapatkan dari kurang lebih 200 fasilitas hemodialisa di Indonesia yang sayangnya tidak dapat diakses oleh seluruh penderita gagal ginjal kronis dengan berbagai alasan. Hal ini berarti bahwa angka kejadian gagal ginjal kronis di masyarakat yang sebenarnya jauh lebih besar.

Bagaimana peran kita agar dapat mencegah dan mengurangi kejadian gagal ginjal kronis? Apa yang harus dilakukan agar penderita gagal ginjal kronis dapat mengakses fasilitas kesehatan yang layak? Bagaimana peran pemerintah, rumah sakit, tenaga kesehatan dan masyarakat dalam mengatasi penyakit ini?

Sebagai pelajar Indonesia, alangkah baiknya kita dapat mengetahui lebih banyak mengenai berbagai masalah kesehatan yang dihadapi Indonesia, dalam hal ini penyakit gagal ginjal kronis.  Karena ilmu dan pengetahuan adalah kekuatan “Scientia Potentia Est”.

 

Translate »
%d bloggers like this: