Pemimpin Indonesia Emas 20145 dalam Sudut Pandang Sumber Daya Manusia

Pada tahun 2045, Republik Indonesia telah mencapai usia 100 tahun atau 1 abad sejak kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Dwitunggal Pemimpin Indonesia, yakni Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945 yang lalu. Tugas berat menanti paska kemerdekaan, bahkan tidak lebih mudah daripada merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Hal ini yang menjadi tanggung jawab setiap individu rakyat Indonesia untuk mewarnai kemerdekaan Indonesia dengan berkontribusi nyata untuk pembangunan dari Sabang hingga Merauke.

Tidak berlebihan jika visi Indonesia pada tahun 2045 adalah Indonesia Emas. Indonesia Emas dapat diinterpretasikan sebagai masa kejayaan bangsa Indonesia yang dinikmati juga oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2045, Indonesia juga harus sudah bergerak keluar dari zona Middle Income Trap yang dapat tercapai jika dilakukan reformasi kebijakan yang menitikberatkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan penguatan kapasitas SDM. Selain itu, Indonesia juga harus termasuk ke dalam developed countries yang salah satunya ditandai dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 12.616 atau lebih (World Bank, 2013).

Untuk menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan perencanaan yang komprehensif di segala sektor pembangunan, termasuk SDM Indonesia sebagai subjek dan objek dari pembangunan. Meskipun pekerjaan menuju Indonesia Emas 2045 bukan hasil keringat dari satu orang saja, tetapi membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menggerakkan segenap rakyat Indonesia untuk bekerja bersama mencapai visi Indonesia Emas 2045. Karakter pemimpin yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  1. Visioner. Seorang pemimpin Indonesia Emas 2045 harus mempunyai cita-cita atau mimpi mengenai kondisi ideal bangsa yang akan dipimpinnya. Pemimpin yang visioner harus memiliki visi yang jelas tentang Indonesia Emas 2045, yang kemudian diterjemahkan menjadi langkah-langkah strategis dan konkrit.
  2. Bersih dan jujur. Banyak orang pintar, tetapi sedikit orang yang jujur. Sifat pemimpin yang bersih dan jujur adalah hal yang paling dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Amanat yang telah dipercayakan kepada seorang pemimpin harus dipegang teguh dan tetap menjaga integritasnya sebagai pemimpin Indonesia Emas.
  3. Mampu menggerakkan masyarakat. Tindakan kolektif yang dilakukan akan lebih baik daripada tindakan individual yang tidak terintegrasi. Pemimpin Indonesia Emas 2045 harus mampu memobilisasi masyarakat dan sumber daya lainnya untuk bersama-sama mencapai visi yang telah disepakati bersama.
  4. Think globally, act locally. Tahun 2045 dapat dibayangkan sebagai tahun dimana arus globalisasi dan teknologi informasi semakin maju. Untuk memimpin Indonesia Emas tahun 2045, dibutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan global, tetapi juga mampu untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh Indonesia.

Generasi Emas tahun 2045 akan menghadapi tantangan pembangunan yang semakin berat. Tantangan ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni tantangan dari internal dan eksternal. Tantangan yang bersifat internal bagi pemimpin Indonesia Emas 2045 adalah isu pemerataan pembangunan. 80% perputaran uang berada di Pulau Jawa dan Sumatera dan banyak program pembangunan infrastruktur strategis dipusatkan di Pulau Jawa dan Sumatera. Jika isu ini tidak ditangani dengan serius, hal ini dapat menjurus kepada terjadinya segregasi dan disintegrasi NKRI. Dari perspektif eksternal, tantangan yang dihadapi adalah keterbukaan masyarakat global karena perkembangan teknologi yang semakin canggih dan sangat pesat. Kelak, seorang pemimpin Indonesia Emas 2045 harus mampu merangkul kepentingan semua pihak.

Mewujudkan Generasi Emas 2045 bukanlah pekerjaan yang semudah membalikkan telapak tangan. Visi dan misi yang ingin dicapai harus dijabarkan secara konkret dan terukur ke dalam dokumen rencana pembangunan, seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Salah satu pendekatan perencanaan pembangunan yang dapat digunakan adalah People Centered Development dimana manusia diletakkan sebagai subjek dan objek dari pembangunan dan fokus untuk mendorong inisiatif manusia untuk pembangunan. Kinerja pembangunan yang berbasis kepada manusia dinilai berdasarkan kontrbusinya terhadap pencapaian kesejahteraan manusia, baik itu secara sosial, fisik, maupun ekonomi (Korten, 1984).

Terjadi pergeseran paradigma perencanaan pembangunan belakangan ini. Pendekatan perencanaan yang bersifat top-down dirasa kurang efektif dalam menjawab persoalan pembangunan. Untuk mengatasi hal tersebut, digunakan metode pendekatan perencanaan yang bersifat bottom-up. Pendekatan bottom-up menggunakan basis masyarakat sebagai bagian dari rencana pembangunan. Aspirasi-aspirasi masyarakat dikumpulkan dan dijadikan masukan sebagai penyusunan rencana pembangunan. Dengan begitu, masyarakat atau komunitas menjadi suatu bagian yang penting dalam perencanaan pembangunan. Hal tersebut merupakan salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh untuk akselerasi pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Proses transformasi sosial dan peningkatan kapasitas SDM menjadi fondasi dalam konsep pembangunan berbasis manusia.

Struktur penduduk Indonesia mulai mengalami pergeseran, dimana pada masa sekarang lebih didominasi oleh penduduk usia produktif, yang ditunjukkan oleh penurunan dependency ratio penduduk Indonesia yang pada tahun 2009 mencapai 54 kemudian berkurang menjadi 52 pada tahun 2012 (World Bank, 2013). Ditambah lagi dengan peluang adanya bonus demografi Indonesia yang akan berakhir pada tahun 2025 (BKKBN, 2013). Data tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia punya modal sumber daya yang kuat pada penduduk usia produktif, terutama bagi generasi muda, sebagai engine of growth. Mulai dari sekarang, peran generasi muda dapat diinisiasi dengan terlibat langsung dalam proses perencanaan pembangunan. Sesuai dengan amanat UU 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dokumen RPJPN dan RPJMN dijadikan sebagai rujukan perencanaan pembangunan di tingkat pusat dan daerah. Dengan memaksimalkan dokumen tersebut serta mengawal implementasinya, generasi muda Indonesia berpeluang untuk membangun fondasi yang kokoh bagi tercapainya Indonesia Emas 2045.

Pertanyaannya kemudian, apakah yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045? Jawabannya sama untuk setiap generasi muda Indonesia, terlibat dalam setiap tahapan dari perencanaan pembangunan. Bentuk keterlibatannya dapat berbagai macam dan disesuaikan dengan kapasitas kita masing-masing. Sesuai dengan bidang keilmuan saya, saya memilih untuk berperan sebagai advisor dalam perencanaan kebijakan. Salah satu misi saya adalah bahwa pada tahun 2045, Indonesia harus bebas dari kemiskinan. Saya ingin berkontribusi untuk membantu merancang kebijakan penanggulangan kemiskinan di Indonesia, baik dalam skala makro maupun mikro. Saya juga akan mengawal pelaksanaan kebijakan tersebut dan memastikan outcome kebijakan tersebut akan tercapai. Mengutip perkataan dari Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung saat ini, “Kota yang sakit adalah ketika pemerintahnya koruptif, pengusahanya oportunis, dan kaum intelektualnya apatis”. Dengan demikian, ketika saya bersama dengan generasi muda lainnya mampu menjadi kaum intelektual yang tidak apatis maka saya yakin bahwa visi Indonesia Emas 2045 bukan hal yang sulit untuk dicapai.

 

Referensi

  1. The World Bank. 2013. How We Classify Countries?. http://data.worldbank.org/about/country-classifications
  2. Korten, David. C. 1984. Strategic Organization for People-Centered Development. Wiley-Blackwell: United States of America.
  3. Situs Resmi BKKBN. 2013. Bonus Demografi. http://www.bkkbn.go.id/ViewSekapurSirih.aspx?SekapurSirihID=23
  4. The World Bank. 2013. Age Dependency Ratio (% of Working-Age Population). http://data.worldbank.org/indicator
  5. /SP.POP.DPND?order=wbapi_data_value_2009+wbapi_data_value+wbapi_data_value-first&sort=asc

 

Nurulitha Andini Susetyo

Translate »
%d bloggers like this: