Pelajar Indonesia di Belanda: Reklamasi Pulau di Teluk Jakarta Itu Ide Kuno

Mahasiswa Indonesia di Belanda menyebutkan bahwa rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk melakukan reklamasi pulau dan membentuk Giant Sea Wall sebagai bentuk pertahanan pesisir sebagai ide yang ketinggalan zaman dan sudah ditinggalkan oleh negara-negara maju, seperti Belanda.

Hal ini merupakan salah satu kesimpulan diskusi “Reklamasi Teluk Jakarta” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda bekerja sama dengan PPI Kota Den Haag dan Forum Diskusi Teluk Jakarta di Kampus International Institute of Social Studies, Den Haag, pada Sabtu (18/6) lalu. Diskusi ini digelar usai para pelajar dari berbagai latar belakang keilmuan ini menggelar acara nonton bareng film dokumentar tentang reklamasi teluk jakarta yang bertajuk “Rayuan Pulau Palsu”.

Mahasiswa program Doktoral dari University of Twente, Hero Marhaento memaparkan sebuah ironi proyek Reklamasi Teluk Jakarta dan Giant Sea Wall yang dibantu oleh perusahaan dan konsultan asal Belanda. Pasalnya, di Belanda sendiri, jelas kandidat doktoral di bidang Water Engineering ini, pendekatan hard infrastructure seperti reklamasi pulau dan pembuatan tanggul besar semacam itu sudah lama ditinggalkan.

“Yang membuat saya heran mengapa di saat pembangunan di Belanda sendiri mulai meninggalkan konsep-konsep konvensional berupa hard-infrastructure seperti pembuatan tanggul raksasa atau reklamasi pulau, para pakar dan konsultan Belanda malah menyarankan pembuatan Giant Sea Wall bagi masalah banjir Jakarta,” jelasnya.

pulau

Hero mengungkapkan bahwa saat ini pertahanan pesisir di Belanda dilakukan dengan cara “sand nourishment” yaitu pembuatan jebakan-jebakan pasir di wilayah yang rawan abarasi, bukan dengan membuat tanggul raksasa di tengah laut. Selain itu, upaya mitigasi banjir di Belanda justru dilakukan dengan merobohkan tanggul-tangggul sungai yang sudah ada dan menggantinya dengan konsep “Room for the River“.  Dua metode tersebut terbukti jauh lebih murah, lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan dengan upaya hard-infrastructure seperti reklamasi pulau dan pembuatan tanggul raksasa.

Lebih lanjut, Hero menjelaskan bahwa negara-negara maju sudah mulai sadar bahwa pertahanan pesisir itu tak bisa dibebankan kepada tangan-tangan manusia dengan pembentukan hard infrastructure. Ia mengatakan bahwa upaya pertahanan pesisir dengan membangun tembok raksasa dan reklamasi pulau justru akan memunculkan masalah baru di masa mendatang. “Bila proyek reklamasi pulau ini dilaksanakan maka hutan bakau di sekitar perarian Teluk Jakarta akan terdegradasi dan hilang. Padahal hutan bakau merupakan pertahanan pesisir alami yang dapat mencegah terjadinya abrasi,” ujarnya.

Selain itu dalam laporan yang ditulis oleh Dinas Kelautan DKI Jakarta tahun 2013, diakui bahwa Teluk Jakarta memiliki produktivitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi. “Jadi tidak benar jika dikatakan teluk jakarta semula tidak ada ikannya,” tambah Hero. Namun, semenjak reklamasi pulau G dilakukan, nelayan di Muara Angke dan sekitarnya mulai kesulitan untuk mencari ikan di Teluk Jakarta.

Hero menambahkan bahwa Pemprov DKI Jakarta perlu menjelaskan secara jujur apa tujuan dan semangat utama dari proyek reklamasi pulau di teluk Jakarta dan pembangunan Giant Sea Wall ini. “Apakah itu bertujuan untuk penanggulangan banjir rob atau untuk ekspansi properti? Bila ingin menanggulangi banjir rob, solusinya bukan pembuatan tanggul raksasa dan reklamasi pulau” ujarnya

Edwin Sutanudjaja, seorang post-doktoral di bidang Hidrologi dari Utrecht University, juga berpendapat senada. Edwin membantah argumentasi bahwa proyek reklamasi dan pembuatan Giant Sea Wall ini dapat menjawab persoalan banjir dan penurunan permukaan tanah di Jakarta. Ia mengungkapkan  bahwa penurunan muka tanah Jakarta justru disebabkan oleh pembangunan di Jakarta yang tidak terkendali. “Pembangunan mall dan properti dilakukan dimana-mana, jadi solusinya bukan reklamasi melainkan pengendalian pembangunan,” ujar Edwin.

“Akar masalahnya adalah sentralisasi Jakarta dan urbanisasi. Semua orang berlomba-lomba ingin ke Jakarta, inilah yang membuat pembangunan Jakarta tidak terkendali,” tambahnya.

Selain itu, dalam paparannya Edwin juga mengkhawatirkan jika nantinya Teluk Jakarta justru akan menjadi septic tank raksasa. Membuat tanggul raksasa artinya membendung air dari 13 anak sungai di Jakarta yang bermuara ke perairan mati. “Jika kualitas air tidak bisa dijaga justru nantinya perairan Teluk Jakarta akan menjadi pembuangan  akhir yang sangat kotor,” lanjut Edwin.

Senada dengan Edwin, Hero menutup diskusi dengan mengatakan bahwa reklamasi bukanlah solusi bagi Jakarta. “Untuk memperbaiki lingkungan hidup di Jakarta, kita perlu rehabilitasi, bukan reklamasi,” pungkasnya.

Nobar Rayuan Pulau Palsu

Sebelum diskusi, para pelajar Indonesia tersebut menyaksikan pemutaran film Rayuan Pulau Palsu yang diproduksi oleh WatchDoc. Film yang disutradarai oleh Randi Hernando tersebut mengisahkan tentang nelayan-nelayan di Muara Angke yang harus berhadapan dengan kekuatan para pemodal yang melakukan ekspansi properti lewat reklamasi di Teluk Jakarta.

“Berdasarkan informasi dari WatchDoc, ini adalah kali ketiga pemutaran film Rayuan Pulau Palsu di luar negeri setelah sebelumnya dilakukan di Melbourne dan London,” ungkap Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Ali Abdillah dalam sambutannya. Ali mengungkapkan bahwa pemutaran film ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada para pelajar Indonesia di Belanda bahwa ada yang salah dengan pembangunan di Jakarta. “Bukan kita menolak pembangunan, bukan kita tidak mau Jakarta dan Indonesia yang lebih baik, tapi kita ingin pembangunan yang memperhatikan aspek kemanusiaan dan berpihak kepada masyarakat kecil,” papar Ali.

43 comments

  1. Saran buat Hero Marhaento,

    Kalau nyari sensasi begini nggak bakalan lebih baik jakarta dimasa depan, Ide konyol anda bukan solusi, tapi hanya ide kecil yang tidak punya nyali mengeluarkan dana besar untuk kepentingan orang banyak.

    Kritik buat Edwin Sutanudjaja,

    Anda pikir satu saran anda bisa mengalahkan team ahli dalam penanggulangan banjir di Jakarta. ini bukan kerjaan satu orang tapi team yang dikomandoi oleh Gubernur Jakarta untuk masa depan Ibukota Negara.

    Introspeksi diri kalau mau membuat opini sesat seperti ini, Dewasalah dalam bernegara.

    • indobangedangw

      Ini kan negara demokrasi, semua orang bisa berpendapat….
      Kayak orba aja, beda dikit langsung dianggap salah

    • Situ kali kurang dewasa!!!! emang ini ‘negara jakarta’ aja ?

    • Mk dr itu, br sekolah di Belanda aja dah pandai memberikan komentar dan kesimpulan lagi. Dah lulus belum sih lu ? Itupun hanya berdasarkan nobar film. Hadeuh hadeuh hadeuh… Makanlah bangku sekolah lbh bnyk lg, sabar2 buka mata, buka telinga pertimbangkan banyak aspek.

    • Arirang Prime Ep191 Saemangeum, a Futuristic City of Dreams. 미래의 꿈을 담은 도시, 새만금편 – YouTube

    • Tanggapannya ga ada substansinya mas, malah nyerang orang dan mengandalkan pada nama besar orang lain.

      Logical fallacy dalam statement di atas:
      Argumentum ad hominem – the evasion of the actual topic by directing an attack at your opponent.
      argumentum ad verecundiam, also called an appeal to authority, is a logical fallacy that argues that a position is true or more likely to be true because an authority or authorities agree with it.
      argumentum ad passiones – a logical fallacy characterized by the manipulation of the recipient’s emotions in order to win an argument, especially in the absence of factual evidence

    • Setuju….ayo agendakan dgn pemprov DKI siapa tau ada sumbangsih ide n bs mendapat hsl lbh baik…

  2. loh, kok sensasi…
    tahu darimana kalau ide itu konyol? anda sudah sejauh apa dan berapa lama belajar tentang tata ruang dan hidrologi hingga menentang pendapat para ahli hidorologi dari belanda?
    saran untuk anda indobanged, lebih dewasa lah dalam menanggapi suatu artikel. Jika anda belum punya data dan fakta sebaiknya jangan sembarangan menentang. merekalah yang justru peduli dengan jakarta yang seharusnya pemprov berpihak pada rakyat kecil, bukannya justru membela pengusaha properti.
    saya kira itu
    Terima kasih

    • Bung, Jakarta itu dah sering banjir bahkan dari jaman belanda dulu sampe sekarng.

      Anda koar2 soal pendapat para ahli dari belanda, ahli yg mana yg anda maksud, yg katanya mahasiswa Indonesia di belanda itu yg anda maksud ahli??

      Saya bilang mereka itu memang ahli bung, bahkan sangat ahli malahan, tapi ahli bacot mereka itu, sama dengan anda bung ahli bacot.
      Bisanya koar2 tp action nothing.

      Tahun2 sebelumnya Jakarta dilanda banjir sampai sekarang, bahkan jauh sebelum proyek reklamasi direncanain, kemana mereka??, yg katanya para ahli, yg dalihnya punya solusi untuk lingkungan hidup dan rakyat kecil..

      Kemana mereka bung??, knp baru muncul skrng koar2 dngn segala teori ini dan itu, kalau emang peduli, turun ke sana, bilang sama pemprov dki segala macam teori kalian dan pertanggung jawabkan, jngn cuma pandai membuat statement, Jakarta tidak butuh statement kalian, Jakarta butuh action yg real…

      Begitu saja barangkali..
      Salam

  3. Nice Quote: “Power tends to Corrupt, Absolute Power corrupts Absolutely, this research has been tested in laboratory settings”

    Maybe, l’m also like that if I has a Power 🙂

    My advice: nowadays, don’t giving your opinion and not to interfere. If we’re trying to make a deal with governance, the successors side would create a diversion for defense personal arguments. Thank you 😀

  4. Sakti Hutabarat

    Masalah reklamasi, sawit, dan (mungkin swasembada pangan?) kelihatannya dari diskusi PPI Belanda Pemerintah Indonesia kurang informasi…. Pertanyaan saya adalah apakah di lembaga kementerian dan pemerintah daerah di Indonesia tidak ada orang-orang pintar yaa? Apakah kedatangan berbagai tim dari berbagai kementerian hingga pemda ke Belanda selama setahun terakhir ini (beberapa meeting saya ikuti) hanya disuguhi informasi kuno? Gimana sih yang sebenarnya……. kasih tau yaa…?!#’***.!~…

  5. Sakti Hutabarat

    Banyak teknologi yang mungkin ditawarkan, namun tidak semua teknologi yang canggih itu cocok untuk diaplikasikan di lokasi tertentu. Kriteria paling sederhana adalah techinically available, environmentally friendly, socially acceptable, and economically feasible…… Gimana sih yang sebenarnya……. kasih tau yaa…?!#’***.!~…

  6. Sakti Hutabarat

    Teluk Jakarta kayaknya biodiversitynya masih ada cuma mungkin sudah rusak…… Ikan tentunya masih ada, cuma sudah mutan karena mengkonsumsi berbagai limbah kimia…… Bukan rahasia lagi kalo nelayan sejak lama terpaksa melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan… Anehnya ada disebut “dalam laporan yang ditulis oleh Dinas Kelautan DKI Jakarta tahun 2013, diakui bahwa Teluk Jakarta memiliki produktivitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi”…. bingung euiiii….. Gimana sih yang sebenarnya…. kasih tau yaa…?!#’***.!~…

  7. Sakti Hutabarat

    “Ali mengungkapkan bahwa pemutaran film ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada para pelajar Indonesia di Belanda bahwa ada yang salah dengan pembangunan di Jakarta.” Kayaknya tim ahli Kementerrian dan Pemda DKI perlu cari informasi tentang kesalahan itu ke PPI Belanda…….. termasuk konsultan Belanda yang ikut ngusulin dan bekerja pada proyek tsb….. Saya sarankan PPI Belanda berbaik hati membuat semacam report yang bisa memperbaiki kesalahan pembangunan di Jakarta berdasarkan referensi yang ilmiah. Sepertinya tidak baik membiarkan orang atau sahabat tetap melakukan kesalahan…. Ditunggu…. demi kebaikan pembangunan DKI Jakarta (meskipun saya tidak tinggal di Jakarta….), terima kasih.

  8. Sakti Hutabarat

    Tanya satu lagi boleh?
    “penurunan muka tanah Jakarta justru disebabkan oleh pembangunan di Jakarta yang tidak terkendali.”

    Bagaimana teorinya hubungan antara penurunan muka tanah dengan pembangunan yang tidak terkendali?

    Selama ini yang saya tahu, Jakarta memiliki karakter tanah yang mirip peat soil, pengambilan air bawah tanah akan menyebabkan water table menurun dan tanah menjadi kering, menyusut, dan menurun hingga di bawah permukaan laut. Hampir seluruh kawasan bergambut di Indonesia diperkirakan akan berada di bawah permukaan laut dalam 20-50 tahun mendatang.
    Mohon pencerahannya…..

    • semakin banyak orang ke jakarta semakin banyak air bawah tanah jakarta yang disedot. berhubungan bukan?
      lebih baik kembangkan daerah lain jangan semua bertumpuk di jakarta.

  9. Setidaknya beri solusi , percuma ngomong gini salah gitu salah tapi gak tau cara yang bener gimana

  10. artikel “Yang membuat saya heran mengapa di saat pembangunan di Belanda sendiri mulai meninggalkan konsep-konsep konvensional berupa hard-infrastructure seperti pembuatan tanggul raksasa atau reklamasi pulau, para pakar dan konsultan Belanda malah menyarankan pembuatan Giant Sea Wall bagi masalah banjir Jakarta,” jelasnya.

    saya ” ada udang dibalik batu, namanya jg belanda mas mas, kakek saya jg tahu siapa yang jadi juaranya”

  11. Kalau dirasa ini ide bagus, langsung aja menyurat dan ajak diskusi pemprov Jakarta. Cari solusi terbaik utk Jakarta n Indonesia.
    Tp klo tujuannya sensasi debat opini terbuka… memang bagusnya di sosmed sieh…
    Campur dikit ama bendera partai boleh lah…
    Trus nanti ada yg bilang… ilmu haram krn nenek moyang penjajah…bla bla
    Pokoknya asal rame ajah…

  12. Julissar An-Naf

    Itu kan Belanda sekarang … Bagaimana Belanda dulu ? … Nah Indonesia itu masih ”Belanda Dulu” … Apa jadinya Belanda sekarang tanpa reklamasi & giant sea wall ?

  13. Julissar An-Naf

    Coba jawab apa jadinya Belanda sekarang tanpa reklamasi & giant sea wall ? … Dan apa saran kongkrit yang lebih baik dari saran tim ahli sekarang ?

    • Itulah namanya perkembangan ilmu. Belanda dulu membangun sea wall karena iptek baru sampai segitu, skrg berkembang ilmu baru. Klo Indonesia meniru, berarti kita tidak belajar dari kesalahan orang. Saran sudah diberikan, tinggal mau dijalankan atau tidak

  14. Kasitau aja idenya ke pemprov. Ahok itu terbuka loh orgnya. Dia mau dengar. Kita harus saling membantu memperbaiki ibukota negara kita. Semangat…

  15. Ahmad Sumardi, ST (hanya gelar sarjana s1 lokal, bukan doktor)

    komen untuk Dr Edwin :

    1. untuk mall mall, sudah sejak jokowi jadi gubernur, ijin mall2 baru tidak dikeluarkan.

    2. arus urbanisasi ke jakarta saya setuju

    kemudian solusinya apa? mall2 yg sudah Ada dihancurin? penduduk luar Jakarta sama sekali tidak boleh masuk Jakarta? penduduk Jakarta diusir2in sampai separuh atau seperempat saja? gedung2 perkantoran lama dibongkar dan kantor2nya disuruh pindah paksa keluar Dari Jakarta?

    mohon pencerahan. Karena tidak semua pembaca termasuk saya tidak bergelar doktor dan awamnsosl INI. jadi takut Ada mispersepsi dan kesalahpahaman

    untuk Dr Hero
    saya akan pelajari opini anda dulu. apakah benar di belanda benar2 reklamasi sudah ditinggalkan, atau sekedar perbedaan pendapat para ahli saja.

    jika sudah lama ditinggalkan, kenapa Singapore, Dubai, Korea DLL masih melakukan reklamasi?

  16. Sakti Hutabarat

    Saran saya, hindari membuat statement “Pelajar Indonesia di Belanda: Reklamasi Pulau di Teluk Jakarta Itu Ide Kuno”. Di universitas saya ada statement: “Today’s knowledge, Tomorrow’s business. Jadi teknologi di lembaga penelitian saat ini mungkin baru bisa dipake 10-20 tahun ke depan. Kalo kita mau berdebat secara akademis tidak apa-apa ya bebas bebas aja. Pemda DKI tidak lagi membahas teori, tapi teknologi apa yang benar-benar memungkinkan untuk diterapkan dengan sumberdaya yang adanya terbatas. Angkatan Udara RI pingin punya F16 dan Sukhoi 30 yang banyak, tapi dananya terbatas terpaksa pake pesawat kuno, Saran saya tampilkan saja berbagai teknologi yang beredar saat ini, terus informasikan dan tawarkan ke kementerian atau pemda, biar mereka yang mengambil keputusan. In reality, banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi dan melibatkan banyak disiplin ilmu. Kadang manfaat dari teknologi tertentu tidak dapat digunakan secara maksimal karena akan mengurangi manfaat dari sector atau bagian lain… Jadi bukan berarti “salah”. Saya pelajar Indonesia di Belanda, saya tidak berani membuat statement “Salah”….. Sebagai akademisi saya hanya menawarkan sesuatu teknologi yang sudah diuji secara teori…. tapi pengujian untuk aplikasi di dunia nyata masuh perlu dilakukan oleh ahli-ahli lainnya…. beda tempat, beda kondisi, beda pula cara aplikasinya……

  17. @Sakti Hutabarat

    Belanda sudah lakukan reklamasi puluhan mungkin ratusan tahun lalu. buat Indonesia ini barang baru – setahu says reklamasi ada di manado.

    menurut hemat saya selaku awam, bisa jadi yg dituturkan Dr Hendro krn reklamasi di brlanda sudah mentok, maka mereka gunakan teknologi baru. Karena menurut pandangan saya tnpa reklamasi duly, belanda skrg sdh jadi laut…

    analoginya mirip TV… mungkin 100- 200 tahun lagi cucu kita ngatain kita “goblog am at sih orang dulu pakai teknologi TV… gak kaya jaman kita gelombang TV lamgsung masuk otak dan gambar langsung tampil di Mata Dan kuping kuta tsnpa perlu layar Dan speaker…

    Dan untuk urusan reklamasi, negara kita ketinggalan 100 tahun Dari belanda…

  18. segini banyak komen ga da yg mikirin kehidupan manusia di sana

  19. Sakti Hutabarat

    What are the consequences of beach or sand nourishment?

    The sudden input of massive amounts of sand can kill all the animals living on the beach.

    During nourishment, the beach becomes a major construction zone. The heavy machinery used to truck in and distribute new sand also kills beach animals and disturbs wildlife.

    The new sand may not be the same grain size or chemical makeup of the natural sand, changing the habitat that beach animals rely upon.

    The resulting catastrophic loss of intertidal prey resources for wildlife such as shorebirds means these birds have to travel to another beach to find food.

    The time needed for a beach ecosystem to recover from a single beach filling episode is not known, even when fill sand is the right size and type. Repeated or frequent episodes of nourishment can impede recovery of the beach community and ecosystem.

    Some types of animals, such as sand crabs, start their lives as free-floating larvae that drift through the ocean with the currents, so they can float in from elsewhere and recolonize the beach in a year. However, if the nourishment episode coincides with this event, then the population will not have a chance to begin repopulating the beach until the following year.

    Long-lived species that do not reproduce often, such as Pismo clams, may take decades to recover.

    Beach animals that carry their young in pouches (rather than producing free-floating young), such as amphipods and isopods, depend entirely on resident populations for recovery. These animals may require human help to return to a beach impacted by nourishment.

    As the ocean starts eroding the introduced sand, the water offshore can become muddy, potentially smothering marine life and changing coastal water quality. Critters that rely on relatively clean, clear water, like clams, can die off in large numbers. The eroding sand can also cover kelp forests, rocky intertidal reefs and seagrass beds, and it can end up clogging the mouths of estuaries, altering vital tidal exchange.

    The grain size of the introduced sand can influence how fast it erodes, leading to changes in beach shape.

    The added sand is often mined from places underwater or in riverbeds. Mining can alter those environments and make that limited resource unavailable for future projects.

    (Caseagrant.ucsd.edu, 2016)

  20. Well since you guys are academics, I assume this is not just another publicity talk. I would like to see at least a model that backs up your statement. Can you guys provide me with reference to the used model; or can I just come and visit you? Edwin is at UU, right?

  21. Serius itu argumen dari mahasiswa doctoral dan post doc di Belanda?..basis argumennya hanya berdasarkan “informasi” bahwa metode ini sudah ditinggalkan di Belanda?..bisa gk lulus saya bawa argumen begini ke dosen pembimbing. Lebih smart dalam menganalisa dan jangan terlalu terlihat tendesius yah. Selamat belajar!

    • @Ex student, jangan langsung mengambil kesimpulan seperti itu. Silakan berkorespondensi dengan penulisnya. Saya yakin, mereka punya referensinya.

  22. justru karena mereka peduli dengan bangsa, sehingga diskusi ini diadakan. dengarkan dulu pendapatnya, cermati, resapi. wacana giant sea wall ini sudah ada dari dulu. Ini persoalan bangsa, jangan karena pro pihak-pihak tertentu, jadi semua masalah lalu dihubungkan, lalu ini dianggap menentang sehingga diserang. Di PPI inilah Indonesia mini, ada kawan kawan dari berbagai latar belakang, ada yang pro ahok, pro a, pro b, juga pro lainnya. tapi buktinya mereka bisa duduk bareng, di belanda, membahas persoalan bangsa. berpikirlah dewasa

  23. Kalo baca komen2 gini jadi keliatan pendukung2 yg cerdas dan oon….
    Dan pendukung2 oon ini ternyata adalah orang2 tak bisa meliat kebenaran, buta mata dan telinga yg penting ngasih dukungan membabi buta….
    Bahkan tak segan2 menyerang komen2 pendukung yg cerdas keluar dari substansi materi pembahasan.

  24. Julia van Tiel

    Lah kok tanggul laut ide kuno? Kok Belanda ternyata masih membuat dimana-mana?
    Lagipula kok Belanda dikatakan membongkari tanggul tanggulnya? Mati dong semua orang Belanda.
    Ini judul siaran pers menyesatkan dan berkesan cari sensasi dg cara mengatakan yang tidak benar.

    Jika mengajukan ide, jangan mengatasnamakan negara lain tetapi tidak benar mas-mase PPI. PPI lho ya…

    • yang bilang bongkarin tanggul-tanggulnya siapa ya? meninggalkan, bukan dibongkar. Ibu dibaca lagi dong artikelnya, jangan baca sambil emosi duluan. tenang aja bu, PPI juga pro ahok kok.

      • “Selain itu, upaya mitigasi banjir di Belanda justru dilakukan dengan merobohkan tanggul-tangggul sungai yang sudah ada dan menggantinya dengan konsep “Room for the River“.”

  25. Salam, saya seorang Mahasiswa Teknik Sipil (Soil Mechanics and Environmental Engineering)
    Tidak ada yang salah dengan reklamasi, namun yang menjadi permasahan adalah tentang alasan utama, tujuan, dan transparansi terhadap langkah-langkah yang ditempuh. Selain itu saya juga sangat mengapresiasi PPI Belanda yang sangat peduli dengan permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini (terkhusus Jakarta).

    Mungkin bisa dilihat statement saya disini. sekedar menjernihkan alur pemikiran tentang permasalahan ini

    https://www.facebook.com/malhona.matasiri/posts/887434744717921

  26. Ini yang bikin heboh kayaknya antara konten lengkap diskusi sama potongan diskusi yang masuk artikel implikasinya beda deh.

    Plus ini judul postnya kenapa kayak bait murahan gini.

    anyway, bonus supaya ga nyampah:

    executive summary NCICD: https://drive.google.com/file/d/0B68-jE4tNhq2U3UyQ2V2cGpoR0U/view?usp=sharing

    di executive summary dibahas kok posisi si 11 pulau reklamasi terhadap NCICD/Giant Sea Wall ada di mana, dll.

    Also, link video diskusinya: https://www.youtube.com/watch?v=ufcpbnt4AhU

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: