Pelajar Indonesia di Belanda Beri Masukan kepada Menristekdikti Terkait Masa Depan Riset di Indonesia

 

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda (PPI Belanda) menggelar acara Lingkar Inspirasi yang menghadirkan Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Muhammad Nasir, pada hari Kamis 29 September 2016 lalu di KBRI Den Haag. Diskusi tersebut diadakan oleh pelajar Indonesia di Belanda bersamaan dengan kunjungan rombongan Kemenristekdikti ke Eropa dalam rangka menjalin kerja sama di bidang pendidikan tinggi di Austria, Jerman, dan Belanda khususnya di bidang pendidikan vokasi. Turut hadir pula dalam rombongan tersebut Sekretaris Jenderal, Dirjen Kelembagaan, dan Dirjen Sumber Daya Kemenristekdikti.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh sekitar dua ratus orang pelajar Indonesia tersebut, dihadirkan Sunu Widianto, kandidat doktoral dari Universitas Twente sebagai narasumber mewakili pelajar Indonesia. Sementara itu, Ketua PPI Groningen, Amak Yaqoub, dipercaya sebagai moderator diskusi. Diskusi berjalan cukup dinamis. Beberapa orang pelajar memberikan tanggapan maupun masukan kepada Menristekdikti sepanjang berlangsungnya diskusi. Pada akhirnya, terangkum lima poin masukan untuk perbaikan riset dan tata kelola pendidikan tinggi Indonesia dari para pelajar Indonesia.

Yang pertama adalah terkait tantangan terbesar Kemenristekdikti dalam rangka memperkuat kolaborasi antara industri dan universitas. Dalam pembukaan diskusi tersebut, Amak menekankan pentingnya Indonesia untuk belajar dari pendidikan tinggi di Belanda. “Laporan Global Competitiveness Index 2016 yang dirilis 28 September lalu menempatkan Belanda pada peringkat ke-4 di dunia. Baiknya daya saing Belanda tersebut utamanya disebabkan oleh kekuatan institusi-institusi pendidikan tinggi dan matangnya kolaborasi antara universitas dengan industri,” ujar Amak. Upaya untuk melakukan benchmark tersebut bisa juga dilakukan dengan menggandeng PPI Belanda.  “Dengan ratusan jumlah mahasiswa doktor di berbagai disiplin ilmu yang saat ini belajar di Belanda, saya yakin kajian tersebut bisa terlaksana dengan baik,” lanjutnya.

Terkait kolaborasi universitas–industri ini, Sunu Widianto menambahkan pentingnya BUMN untuk menjadi partner strategis riset dalam rangka membangun industri strategis dan membawa BUMN menjadi market leader dan go Internasional. “BUMN, Universitas dan Pemerintah dapat berkolaborasi dalam menjalankan riset. Dengan skema ini, dapat dihasilkan peneliti-peneliti baru di Indonesia yang memiliki kualitas internasional. Di samping itu, pihak industri akan diuntungkan karena riset tersebut dapat mendukung inovasi mereka,” tambah Sunu.

Langkah penguatan riset sebenarnya telah mendapatkan angin segar dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.106/PMK.2/2016.  Diharapkan, dengan mulai diberlakukannya peraturan tersebut pada tahun depan, para peneliti di Indonesia tidak lagi terdistorsi oleh urusan-urusan adminstratif keuangan, dan lebih fokus kepada hasil penelitian. Ke depan, Amak menyarankan agar pemerintah membuat sebuah mekanisme kontrak yang bisa mencegah terjadinya penyelewengan penggunaan anggaran, baik secara disengaja ataupun tidak. “Mekanisme yang disusun tersebut sebisa mungkin tidak memiliki nuansa kecurigaan, tetapi lebih mencerminkan proteksi kementerian terhadap para peneliti,” ujar Amak.

Kedua, terkait tata kelola sumber daya manusia. Hal ini disampaikan oleh Sunu Widianto dalam pemaparannya. Sunu, yang juga merupakan dosen di Universitas Padjajaran ini, menggaris bawahi perlunya peningkatan mobilitas peneliti antar universitas. “Mobilitas dosen untuk berkarir pindah  antar universitas harus didorong sehingga universitas akan berlomba-lomba untuk mendapatkan peneliti terbaik di Indonesia sesuai dengan kebutuhan SDM pada masing-masing institusi”. Misal suatu universitas perlu peneliti di bidang manajemen sdm, universitas tersebut bisa membuka kesempatan seluruh dosen di Indonesia untuk menjadi peneliti/dosen di institusinya dengan jabatan tertentu misal associate professor/lektor kepala atau bahakan professor dengan paket kompensasi yang menjanjikan sehingga peneliti yang berasal dari universitas yang telah banyak ahli manajemen sdm di universitasnya dapat berkarir ke universitas yang membutuhkan sehingga optimalisasi sumber daya (peneliti) akan jauh lebih bermanfaat kehadirannya di universitas yang baru yang membuka lowongan tersebut.

Poin rekomendasi yang ketiga adalah dukungan pemerintah terkait infrastruktur penelitian. Laboratorium yang handal misalnya, bisa disediakan dengan kolaborasi antara universitas, lembaga penelitian, BUMN, dan pemerintah. “Masih banyak doktor lulusan luar negeri maupun dalam negeri yang ketika kembali ke institusi masing-masing sulit mengembangakn dan melanjutkan risetnya karena tidak adanya alat yang mendukung,” ujar Sunu. Selain itu, ketersediaan akses kepada jurnal  bagi peneliti masih minim. “Konsorsium antar universitas, lembaga penelitian dan pemerintah menjadi salah satu cara mengatasi masalah akses jurnal ini mengingat cukup mahalnya biaya berlangganan jurnal jika hanya mengandalkan dr satu universitas saja,” tambahnya.

Rekomendasi terakhir adalah terkait para peneliti di luar negeri. Inisiatif pemerintah untuk memanggil peneliti di luar negeri patut di apresiasi. “Kecenderungan para mahasiswa untuk pulang ke Indonesia cukup tinggi. Artinya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk membangun sistem yang kondusif yang tidak tersandera aturan-aturan birokrasi yang rigid. Misalnya seorang associate professor di luar negeri ketika memutuskan kembali ke Indonesia harus memulai karirnya dari nol lagi. Rekam jejak publikasi kembali tdak diperhitungkan sehingga menghambat peneliti yang sebenarnya rela kembali ke Indonesia,” pungkas Sunu.

One comment

  1. Selamat untuk Sunu. Semoga membawa perubahan iklim lebih baik dunia peneliti.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: