Papan QWERTY dan ‘Asal Bapak Senang’: Apa Kesamaannya?

Bramka Arga Jafino
Master student Engineering Policy Analysis TU Delft
Kajian Gerakan PPI Belanda

 

Kenapa kursi sopir mobil berada di kanan dan kita mengendarai mobil di kiri? Kenapa jam analog berputar ke arah kanan? Kenapa daerah perkantoran di wilayah Kuningan memiliki harga tanah yang sangat mahal? Kenapa kita selalu bilang ‘Aqua’ alih – alih menyebutnya air mineral? Kenapa keyboard laptop, komputer, bahkan handphone kita memiliki format QWERTY?

 

Ada banyak jenis cerita yang menjelaskan kenapa format keyboard kita adalah QWERTY: mulai dari cerita bahwa format QWERTY diciptakan oleh seorang penulis surat kabar, hingga kisah bahwa format QWERTY adalah format yang dihitung secara matematis oleh ahli matematika untuk meminimalisasi tuts mesin tik yang saling menyangkut satu sama lain saat mesin tik digunakan untuk mengetik. Ada juga yang berargumen bahwa format QWERTY sebenarnya digunakan untuk mengurangi kecepatan mengetik manusia pada masa itu, karena dengan format sebelumnya manusia dapat mengetik dengan terlalu efisien. Tentu argumen tersebut sudah tidak berlaku lagi untuk kondisi saat ini di mana permasalahan tuts keyboard yang menyangkut tidak ditemukan lagi. Lalu kenapa format QWERTY masih digunakan?

 

Fenomena QWERTY sering disebut dengan fenomena path dependence: satu kejadian di masa lalu menyebabkan hal tersebut terjadi secara terus menerus berulang kali, menjadi standar tertentu, dan dianggap lumrah oleh masyarakat. Meskipun banyak riset modern yang menciptakan format papan keyboard yang berbeda untuk meningkatkan efisiensi, format QWERTY yang tidak sengaja diciptakan di masa lalu tetap menjadi standar dan terus digunakan hingga saat ini.

 

Dalam konteks bisnis, Paul Davin berkata bahwa “brand pertama suatu produk yang berhasil masuk ke pasar memiliki peluang untuk tetap bertahan dan menguasai pasar lebih besar meskipun kualitasnya inferior terhadap brand-brand baru yang memasuki pasar tersebut”. Contoh nyata di Indonesia adalah merk Aqua yang telah mengakar di persepsi masyarakat sebagai air mineral, karena Aqua adalah merk air mineral pertama yang berhasil masuk di pasar Indonesia. Kasus lain adalah persaingan dalam pasar Videocassette Recorders (VCR) antara VHS dan Betamax di Amerika pada tahun 1970an. Meski memiliki fitur yang lebih superior dengan harga yang tidak berbeda jauh, Betamax gagal merebut pasar VCR dikarenakan VHS telah terlebih dahulu memasuki pasar beberapa tahun sebelumnya. Teknologi yang digunakan VHS meskipun inferior telah menjadi standar pada pasar VCR, menyebabkan Betamax akhirnya bangkrut.

 

Dalam konteks yang lebih luas (misal dalam konteks ekonomi dan pembangunan), fenomena path dependence membuat suatu hal semakin hal mustahil untuk diubah. Masyarakat Indonesia mengendarai kendaraan di sebelah kiri dengan kursi supirnya berada di kanan. Hal ini jelas berbeda dengan negara – negara barat yang memiliki kursi supir di kiri dan mengendarai kendaraan di sebelah kanan. Kita tidak bisa meniru negara – negara tersebut karena kita telah terjebak pada lock in, dan biaya untuk mengubah keluar dari lock in ini sangat besar. Butuh sangat banyak kesepakatan, biaya finansial, komitmen, dan konsistensi untuk dapat mengubah segala sesuatu yang telah menjadi lock in akibat path dependence.

 

Hal tersebut bukanlah mustahil. Pada awalnya Swedia mengendarai kendaraan di sebelah kiri sedangkan negara – negara Eropa lainnya mengendarai kendaraan di sebelah kanan. Namun karena seiring berjalannya waktu pasar mobil menjadi lebih kompetitif, produsen mobil semakin enggan untuk memproduksi kendaran yang berjalan di sebelah kiri. Alhasil pada pukul 5 pagi tanggal 3 September 1967, Swedia memutuskan untuk secara nasional dan serempak berpindah dari mengendara di sebelah kiri menjadi mengendara sebelah kanan. Peristiwa yang terjadi di Swedia menggambarkan bahwa suatu sistem dapat keluar dari kondisi lock in. Namun jika path dependence sudah berjalan terlanjur lama maka biaya untuk menghancurkan kondisi lock in menjadi sangat besar.

 

Dalam konteks pembangunan Indonesia, path dependence dapat terlihat dari sentralisasi kegiatan – kegiatan ekonomi. Kota Jakarta sebagai sentral perdagangan yang telah dikembangkan sejak penjajahan Hindia Belanda adalah contoh sederhananya. Kemenarikan Jakarta sebagai pusat bisnis terus meningkat, seperti yang kita lihat dengan menjamurnya gedung – gedung pencakar langit yang ada. Perusahaan – perusahaan besar pun cenderung memilih Jakarta sebagai lokasi kantor pusatnya. Tak heran bila pembangunan gedung pencakar langit ini sangat tinggi di Jakarta, namun cenderung jauh lebih rendah di kota – kota lainnya. Membangun kantor pusat di kota besar lain di Indonesia akan menjadi tidak menguntungkan karena dua hal: sumber daya intelijen Indonesia yang semakin terpusat di Jakarta dan peluang koneksi dengan perusahaan – perusahaan lain yang juga sudah terlanjur berada di Jakarta.

 

Hal lain yang sangat mudah dicermati adalah ketergantungan kita terhadap bahan bakar minyak (terutama untuk sektor transportasi). Kecanduan bahan bakar minyak yang sudah dipupuk sejak sebelum abad 21 membuat infrastruktur – infrastruktur pendukung kendaraan berbahan bakar selain minyak sulit berkembang. Ketiadaan demand untuk bahan bakar lain menjadi penyebab tidak menariknya investasi di bahan bakar tersebut.

 

Path dependence juga mungkin terjadi di dalam kehidupan keseharian kita. Misalnya dalam konteks kepegawaian Indonesia, jargon ‘asal bapak senang’ seringkali diaplikasikan secara tak sadar oleh pegawai – pegawai perusahaan. Akan sangat sulit bagi seorang yang idealis untuk menghancurkan sistem ‘asal bapak senang’ yang sudah cukup mengakar pada budaya Indonesia karena kuatnya lock in yang terjadi pada sistem tersebut.

 

Penulis berpendapat ada dua hal yang dapat membuat suatu bangsa dapat keluar dari lock in suatu sistem: komitmen dan konsistensi yang sangat kuat dari pemerintah/petinggi dan urgensi kondisi krisis nasional. Contoh sederhana adalah transformasi yang dilakukan oleh Ignasius Jonan terhadap PT KAI, yang berhasil mengeluarkan image kereta api Indonesia sebagai layanan yang kumuh. Contoh ekstrim lain adalah reformasi 1998 dan kejadian G30SPKI yang mengubah paradigma masyarakat Indonesia dalam jangka waktu yang relatif kecil. Lalu apakah Indonesia akan dapat keluar dari lock in yang lainnya? Atau haruskah kita menunggu hingga terjadi krisis lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: