Bertempat di Aula Stichting Generasi Baru, Utrecht, pada 29 Desember 2012, masyarakat dan pelajar di Belanda berkumpul untuk memberikan pandangan dan masukan pelajar terkait dengan rencana pemerintah memperbaiki kurikulum SD pada tahun 2013. Acara yang diorganisir oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Utrecht – Belanda ini menghasilkan masukan konkrit untuk pemerintah.

Pelajar dan masyarakat Belanda (selanjutnya disebut dengan forum) mengapresiasi langkah pemerintah yang membuka peluang kepada publik untuk berpartisipasi pada pengambilan kebijakan kurikulum 2013. Masukan forum terkait dengan penambahan atau pengurangan jam pelajaran tertentu, serta terkait dengan konsep pembelajaran. Agar fokus, maka mata pelajaran yang disinggung hanya empat item saja, yaitu pelajaran PPKn, matematika, IPA dan Bahasa Inggris. Berikut dibawah ini adalah summary diskusi tersebut.

# Pelajaran kewarganegaraan
Forum memandang bahwa pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk anak SD dapat dilebur/dihilangkan. Hal ini bukan berarti forum tidak mendukung program pendidikan karakter. Forum justru merekomendasikan agar pelajaran ini tidak bersifat doktrinal, melainkan lebih implementatif dan menggunakan pendekatan heart touching.

Sebagaimana diketahui, mata pelajaran PPKn, selama ini hanya bersifat menghapal apa arti tolong menolong atau mengapa harus gotong royong, namun tidak menekankan implementasinya. Maka dari itu, forum merekomendasikan agar Pemerintah mencermati good practices pendidikan yang dikembangkan di sistem pendidikan di Belanda.

Siswa SD di Belanda tidak diminta menghapal apa arti/definisi kebaikan seperti tolong menolong atau membantu orang yang susah, siswa diminta untuk melakukan langkah yang konkrit. Siswa misalnya diminta berorespondensi dengan para veteran perang atau pihak-pihak yang kehilangan keluarganya akibat korban perang dunia. Siswa diminta merasakan bagaimana perasaan veteran kehilangan anggota tubuhnya, atau bagaimana perasaan masyarakat kehilangan keluarga akibat perang. 

Dengan berkomunikasi, maka para siswa belajar berempati secara langsung. Sikap ini kemudian ditindaklanjuti dengan bimbingan guru yang mengarahkan penggalangan dana untuk anak-anak yang orang tuanya korban perang tersebut. Siswa kemudian diarahkan untuk membuat kue atau pekerjaan keterampilan untuk dijual kepada masyarakat. Uang yang didapatkan oleh siswa disumbangkan untuk para legiun veteran dan keluarga korban perang tersebut. Forum berpendapat, ini adalah contoh yang baik yang dapat dirujuk sebagai ruh pelajaran kewarganegaraan, sekalipun tanpa melembagakannya dengan mata pelajaran PPKn.

# Pelajaran matematika
Forum berpendapat bahwa siswa SD kerap mendapatkan repetisi pelajaran. Penyebab hal ini adalah kurikulum yang terampau berat telah diterima untuk siswa seusia mereka, misalnya materi tentang matematika-statistika. Efek buruk dari hal ini adalah mata pelajaran tersebut tidak dapat diberikan secara tuntas. Akibatnya, materi yang sama akan diulang dan diberikan kembali (terjadi repetisi) di jenjang pendidikan selanjutnya.

Forum berpendapat, bahwa repetisi ini akan time consumingSehingga, forum menyarankan agar konten kurikulum dievaluasi, dan materi yang dipandang dapat bersifat berulang, dapat dihilangkan.Meskipun contoh yang digunakan adalah di mata pelajaran matematika, namun konsep serupa dapat pula diterapkan untuk aneka pelajaran yang lain.

# Pelajaran IPA
Selanjutnya, forum juga berpandangan agar pemerintah tidak menghapus mata pelajaran IPA pada kurikulum anak SD. Namun demikian, forum juga menganjurkan agar materi IPA menggunakan pendekatan aspek eksperimental (dengan bermain dengan alam atau alat peraga). Forum meyakini, hal ini akan bermanfaat bagi siswa karena akan merangsang inquisitive minds (IM) –jiwa yang selalu terusik untuk belajar dan mencari tahu ilmu/kebenaran-. IM, bermanfaat untuk menanamkan minat belajar siswa terhadap sains.

# Pelajaran bahasa Inggris
Forum berpandangan agar mata pelajaran bahasa inggris tetap dipertahankan sebagai kurikulum SD. Pemerintah Indonesia hendaknya mencermati good practices dari negara India dan Pakistan yang mendesain bahasa inggris sebagai pelajaran yang sudah diterima sejak SD tingkat awal.

Format serupa, sesungguhnya, juga dilakukan oleh Malaysia. Berdasarkan informasi yang diperoleh PPI Utrecht dari pelajar Malaysia di Belanda, diketahui bahwa kurikulum pendidikan Malaysia disusun pada zaman Mahathir Mohammad. Mahatir amat menekankan pendidikan bahasa Inggris. Sehingga terbitlah adagium, siswa Malaysia boleh gagal di pelajaran di semua pelajaran, namun tidak boleh gagal di pelajaran bahasa inggris. 

Melihat keseriusan negara lain menanamkan pelajaran bahasa inggris pada siswanya, serta mengingat pentingnya bahasa inggris, pemerintah perlu memastikan pelajaran ini sudah didapatkan oleh siswa sejak awal SD. Namun demikian, hendaknya materi yng diajarkan bukan tekstual, melainkan yang practical (siswa dibiasakan berbahasa inggris, dan bukan sekedar diajari menghapal rumus-rumus bahasa semata)

# Lain lain   
Forum menyarankan kepada Pemerintah bahwa kesuksesan implementasi kurikulum yang baru tidak hanya bertumpu pada substansi kurikulum yang ada, namun lebih bertumpu kepada kualitas implementator di lapangan (guru). Oleh karena itu, kualitas guru perlu diperhatikan, dan guru juga tidak boleh menjadi pribadi yang malas dan berhenti belajar.

Oleh karena itu, sistem pendidikan perlu harus mencegah terjadinya kemalasan guru akibat yang bersangkutan telah mendapatkan sertifikasi. Maka dari itu, baik kiranya jika produk dari sertifikasi guru dibuat tidak berlaku seumur hidup; melainkan didesain seperti surat izin mengemudi (SIM), yang memerlukan evaluasi setiap lima tahun.  Sehingga, guru selalu terpacuuntuk meningkatkan kualitasnya secara berkala.
Selain hal diatas, forum juga mengapresiasi langkah pemerintah yang ingin kembali membuat buku BABON dengan peruntukan bagi siswa dan juga untukpedomanpengajaran bagiguru. Buku ini hendaknya juga berisi link/informasi tentang pengetahuan-pengetahuan yang bisa di dapatkan oleh guru dan siswa dari internet, sebagai tambahan materi informasi, baik yang sifatnya hiburan informatif maupun yang benar benar khusus sebagai materi.

Demikian pandangan dan masukan pelajar dan masyarakat Belanda terhadap kebijakan kurikulum 2013 khususnya untuk level sekolah dasar, semoga dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan policy maker pada khususnya.

8345373941_2b29fa24ae_c 8345375917_8200662fac_c 8345371911_77483d4b97_c

Utrecht, 03/01/2013

Salam hormat,
PPI – Utrecht – Belanda

Translate »
%d bloggers like this: