One Unforgettable Journey of My Life

Oleh Widya Putra
Master in Food Quality Management, Wageningen University, The Netherlands 

 

Cerita bermula ketika saya masih studi di ITB tahun ketiga dan tercetus dalam benak saya pada saat itu untuk melanjutkan studi master ke luar negeri untuk lebih mendalami ilmu di bidang makanan (food). Keinginan itu tetap tersimpan hingga saya menyelesaikan studi sarjana saya di bidang Mikrobiologi.

Karena mengetahui kemampuan bahasa inggris yang masih kurang pada saat lulus kuliah S1, saya langsung mengikuti kursus IELTS untuk pemantapan diri selama kurang lebih dua bulan (Agustus-September 2012) dan di bulan Oktober 2012, saya mengikuti ujian IELTS di Bandung. Puji syukur, saya lulus dengan nilai batas minimum yang dapat digunakan untuk mendaftar ke Universitas Eropa pada umumnya. Dengan berbekal nilai tersebut, saya mulai mencoba peruntungan dengan mendaftar ke beberapa beasiswa Eropa seperti Agrismundus dan VLIR-OUS.Seperti cerita-cerita Laskar Beasiswa sebelumnya, untuk mendapatkan satu beasiswa tidak semudah membalikkan telapak tangan dan mungkin bisa diumpamakan seperti “Perjalanan Mencari Kitab Suci ke Barat” menghadapi berbagai rintangan dan aral yang datang menghadang (kebanyakan nonton film itu waktu masa kecil). Begitu pula dengan pengalaman yang saya alami, saya tidak mendapatkan kedua beasiswa tersebut.

Akan tetapi, hal itu tidak membuat saya putus asa. Saya terus mencari peluang dan informasi beasiswa yang ada baik melalui milis “Scholarship beasiswa,” grup facebook “Pejuang Beasiswa Dalam dan Luar Negeri,” Twitter, mendatangi pameran pendidikan luar negeri, menghubungi dosen di universitas yang ingin saya tuju, hingga mendatangi kantor Nuffic Neso di Jakarta khusus untuk mencari tahu beasiswa yang tersedia (kebetulan pada saat itu saya masih berdomisili di Bandung). Berbagai cara halal saya gunakan. Saya juga mencoba mendaftar beasiswa dalam negeri seperti Beasiswa Unggulan Dikti dan LPDP (http://www.lpdp.depkeu.go.id/). Nama beasiswa terakhir yang satu ini mungkin belum familiar bagi teman-teman, karena memang baru tahun 2013 ini di-launching dan dengan beasiswa itu pulalah yang mengantarkan saya mengecap pendidikan di Negara Tulip.

Karena ini beasiswa baru, saya ingin sharing dengan teman-teman tentang pengalaman yang saya lalui mulai dari pendaftaran hingga saya dapat memperoleh beasiswa LPDP ini.

April 2013
Beberapa hari setelah saya mendaftar Beasiswa Unggulan Dikti secara online, salah seorang teman saya, Vani Virdyawan (TM 06) memberitahukan informasi bahwa tahun ini ada beasiswa baru dari Kementrian Keuangan RI yang bernama LPDP. Saya melihat ini sebagai peluang emas yang sayang jika disia-siakan. Seperti kata pepatah “Kesempatan tidak datang dua kali.” Segera setelah mengetahui informasi itu, saya langsung melihat websitenya dan mulai melengkapi persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Dalam waktu dua minggu, saya melengkapi semua persyaratannya dan tanggal 19 April 2013, saya mengirimkan aplikasi saya secara online di website LPDP tersebut.

Mei 2013
Di awal bulan, saya memperoleh email yang menyatakan bahwa saya tidak memperoleh beasiswa VLIR-OUS. Namun, beberapa hari setelahnya, saya memperoleh email perihal “Undangan Tes Seleksi Wawancara Beasiswa Magister dan Doktor” dari LPDP tepatnya tanggal 3 Mei 2013. Dengan berbekal persiapan yang cukup singkat, kurang dari 1 minggu, akhirnya saya menjalani seleksi tersebut. Berbeda dengan wawancara yang pernah saya ikuti sebelumnya, dalam wawancara ini saya ditanya langsung oleh tiga pewawancara dalam waktu 20 menit. Ketiganya terdiri dari dua dosen yang berasal dari universitas yang berbeda dengan pelamar beasiswa dan satu orang psikolog.

Selang dua minggu setelah wawancara, saya mendapatkan email kembali dari LPDP yang menyatakan bahwa saya “LULUS” seleksi wawancara dan diwajibkan untuk mengikuti program pengayaan yang diselenggarakan oleh LPDP. Sontak, email ini membuat saya merasa sangat senang karena hal ini berarti tinggal satu tahapan lagi, saya akan berhak menjadi penerima beasiswa LPDP.

Juni 2013
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa salah satu syarat untuk menjadi penerima beasiswa LPDP harus mengikuti program pengayaan terlebih dahulu. Program pengayaan ini berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 2-11 Juni 2013 dan ini merupakan Program pengayaan I yang diadakan LPDP. Antusiasme dan kebingungan muncul dalam diri ketika mengetahui rangkaian acara yang akan saya lalui bersama teman-teman calon penerima beasiswa. Kami tidak hanya akan menerima materi-materi penting dan berkualitas yang akan disampaikan oleh beberapa orang hebat seperti Bapak Anies Baswedan dan Bapak Abraham Samad, tetapi juga dikombinasikan dengan acara bermalam di gunung dan kapal Angkatan Laut Republik Indonesia. Terbesit dalam pikiran saya, apakah acara pengayaan ini sama dengan OSPEK universitas yang pernah saya ikuti sebelumnya???
Ternyata tidak demikian.

Hari terakhir pengayaan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua calon penerima beasiswa termasuk saya tentunya karena lulus tidaknya calon penerima beasiswa diumumkan pada hari tersebut. Puji syukur, saya dan teman-teman yang mengikuti program pengayaan itu dinyatakan “LULUS 100%” (seperti pengumuman UN aja yak..) dan berhak menjadi penerima LPDP Batch 1. Bagi saya, pengalaman selama pengayaan tersebut sungguh berkesan dan bermanfaat karena saya dapat membangun networking dengan sesama penerima beasiswa dalam satu komunitas
yang solid.

Agustus 2013
Jika Biksu Tong Sam Cong menempuh perjalanan dari China ke India untuk mencari kitab suci, maka saya menempuh perjalanan dari Indonesia ke Belanda untuk menuntut ilmu. Kesamaannya adalah sama-sama menuju ke Barat (mungkin agak sedikit maksa). Hahaha..

Akhirnya, perjuangan saya berbuah manis. Tepat tanggal 15 Agustus 2013, saya tiba di Belanda, negara asal tim sepakbola Oranje.

I realized that One Unforgettable Journey Of My Life Will Start From Now…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: