Niat dan keinginan besar

oleh Ferdi Widiputera
Mahasiswa Ph.D
University of Maastricht
Penerima Beasiswa Unggulan dari Biro PKLN, Kemdikbud.
freddy
Niat “Nawaitu” dari mulai diterima sebagai CPNS

Dimulai dari niat, keinginan yang besar dan kuat, berusaha dengan maksimal kemudian tentunya senantiasa berdoa kepada Allah SWT sehingga akhirnya mendapatkan beasiswa untuk mengambil program PhD di Maastricht University untuk tahun 2013. Cerita ini bermula dari ketika saya diterima sebagai CPNS di unit utama di Balitbang, Kemdikbud pada tahun 2010. Pada waktu yang bersamaan pula saya juga diterima sebagai CPNS di lingkungan Kemkominfo.

Ada suatu kenginan yang begitu kuatnya dalam diri saya untuk melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi, yaitu program Doktor di luar negeri dan juga dapat membawa serta  istri dan tiga anak saya. Kesempatan untuk mendapatkan beasiswa bagi pegawai unit utama yang ingin melanjutkan studi lebih banyak ditawarkan di Kemdikbud selain daripada Kemkominfo. Walhasil saya mengambil keputusan dengan berdiskusi sebelumnya dengan istri saya tercinta dan akhirnya memilih Kemdikbud sebagai pelabuhan karir saya. Seperti diketahui pada saat di terima di Kemdikbud umur saya sudah memasuki angka 32 tahun dan dengan menggunakan ijazah Magister Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia saya masih dapat mendaftar sebagai CPNS di Kementerian pada waktu itu.

Waktu berjalan terus, dimana saya terus bekerja dan kemudian akhirnya menjadi PNS satu tahun kemudian. Keinginan kuat dan menggelora saya tidak terbendung manakala mendengar salah satu teman sejawat lulus menerima beasiswa unggulan dari Biro PKLN, Kemdikbud untuk mengambil program Doktor di Australia. Terbesit dalam hati saya bahwa saya dapat dan mampu untuk mendapatkan beasiswa unggulan ini.

Hunting” Universitas dan Professor

Selanjutnya sejak tahun 2011 saya mulai mencari dan mengirimkan proposal penelitian saya yang pada saat itu bertopik “sistem pembiayaan di pendidikan tinggi”. Proposal penelitian saya dikirimkan hampir keseluruh profesor-profesor yang ada disetiap negara, seperti Jepang, Belanda, Jerman, China, Korea dan Amerika dimana mereka memiliki “research interest” yang sama dengan saya, yakni “Economics of Education”. Beberapa professor ada yang membalas dengan cepat, ada pula yang sama sekali tidak membalas walaupun sudah diberikan “kind reminder message”. Beberapa professor yang membalas email proposal penelitian saya juga ada yang tertarik dan ada juga yang tidak tertarik. Proses mencari  professor yang memiliki “research interest” yang sama dan tertarik dengan proposal penelitian saya memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 6 – 8 bulan pada tahun 2011.

Dua “LOA”, dua universitas, dua negara

Selanjutnya pada awal tahun 2012 tepatnya bulan Mei, akhirnya saya mendapatkan “letter of acceptance’’ dari salah satu professor dari University of Maastricht dengan beberapa bulan sebelumnya, kami sudah saling berkomunikasi via email mengenai arah dan tujuan dari penelitian saya serta teknis untuk program PhD di University of Maastricht. Perlu sekitar 8 bulan saya untuk meng”convince” dua professor tersebut untuk dapat menerima saya sebagai mahasiswa PhD mereka. Ketika “letter of acceptance” sudah diterima, selanjutnya saya mengajukan beasiswa unggulan ke Biro PKLN, Kemdikbud. Beberapa tes yang menjadi syarat mutlak dari Biro PKLN saya ikuti selama beberapa bulan. Hasil tes yang menentukan lulus atau tidaknya dari Biro PKLN secara tertulis belum saya terima selama hampir 4 – 6 bulan. Pada saat bersamaan sambil menunggu keputusan lulus tidaknya sebagai penerima beasiswa unggulan, saya mengajukan beasiswa dari pemerintah China yang bernama “China Scholarship Council”, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa untuk program Doktor dari pemerintah China.

Bulan demi bulan dilalui segala persyaratan demi persyaratan dipenuhi, walhasil sekitar bulan Maret 2013 saya mendapat pengumuman kelulusan sebagai penerima beasiswa unggulan dari Biro PKLN, Kemdikbud kemudian pada bulan berikutnya saya juga diterima mendapatkan beasiswa dari pemerintah China. Rasa syukur yang tidak terkira kepada Allah Swt. Namun keraguan timbul dalam diri saya, setelah berkonsultasi dengan keluarga, atasan dan beberapa teman sejawat kemudian berdoa memohon petunjuk dari Allah Swt, akhirnya saya memilih untuk mengambil beasiswa unggulan dari Biro PKLN, Kemdikbud. Dengan saya memilih mengambil beasiswa unggulan daripada mengambil beasiswa pemerintah China, ada semacam kekecewaan dari pihak universitas di China yang sudah menerima saya. Namun dengan segala pertimbangan dan penjelasan akhirnya mereka dapat menerimanya.

Visa, keberangkatan dan tiba di Maastricht

Setelah pengumuman kelulusan untuk mendapatkan beasiswa unggulan selanjutnya adalah proses kelengkapan dokumen , dsbnya. Berhubung saya sudah berniat membawa serta keluarga ke negeri Belanda, saya berusaha keras untuk melengkapi segala persyaratan dari universitas maupun imigrasi Belanda perihal studi maupun yang berhubungan dengan persyaratan membawa keluarga dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah pengajuan izin tugas belajar dari instansi yang berwenang. Seluruh dokumen dari mulai akta lahir, akta nikah, dsbnya harus ditranslate dan dilegalisasi baik dari Kemenlu, Kemenhukam, Depag dan terakhir oleh Kedubes Belanda di Indonesia.  Setelah seluruh dokumen telah siap maka selanjutnya proses pengajuan visa. Perlu waktu hampir sekitar 3 bulan untuk mendapat visa dari imigrasi Belanda, dikarenakan ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi. Dengan izin dari Allah Swt segala proses tersebut dapat dillalui dan diberikan kelancaran. Bulan Oktober 2013, kami sekeluarga dengan sukacita berangkat ke negeri Belanda, perjalanan yang memakan waktu sekitar 17 jam kami nikmati dengan penuh rasa syukur yang mendalam. Ketika tiba di kota Maastricht, hanya satu yang terlintas dibenak saya ”…kota yang indah…ini semua dapat terjadi ketika diawal proses ini saya sudah memiliki niat, keinginan kuat dan yakin pasti berhasil, Insya Allah akan diberikan jalan yang mudah,…”. Jalan yang terbentang di hadapan kita masih panjang, selanjutnya adalah terus semangat dan maju terus pantang mundur

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: