Mimpi yang (Sempat) Tertunda

Oleh Simson Situmeang
Penerima Huygens Scholarship Program Nuffic (2011 extension)
Double Degree ICT and Software Engineering Fontys University of Applied Sciences, Eindhoven

Pada tahun 2009, saya mendengar presentasi tentang program double-degree yang diadakan oleh kampus saya, ITS, dengan Fontys University of Applied Sciences. Saya tertarik untuk mengikutinya. Saya berangan-angan bagaimana rasanya menjalani kehidupan di luar negeri. Maklum, pada waktu itu saya belum pernah beranjak dari Indonesia. Kesempatan yang ada ini, tidak saya sia-siakan. Belum tentu kesempatan yang seperti ini datang lagi kepada saya di masa yang akan datang.
 
Syarat-syarat untuk mengikuti program double-degree inipun tidak terlalu rumit, standar, sama seperti syarat-syarat untuk kuliah di luar negeri pada umumnya, yaitu: IP di atas 3.00 (skala 4), TOEFL >= 550 / IELTS >= 6.5, dan sudah lulus (kalau tidak salah) 120 SKS. Saya yakin, banyak sekali mahasiswa yang mampu memenuhi syarat tersebut. Waktu itu TOEFL saya belum sampai 550, namun saya mau berusaha lagi supaya memenuhi syarat tersebut. Saya pun berusaha dengan mengikuti les bahasa inggris demi mendongkrak kemampuan bahasa inggris saya yang masih kurang.
Yang menjadi hambatan saya waktu itu itu adalah biaya. Masalah biaya ini dapat diatasi dengan cara meminta soft loan atau mendapatkan beasiswa. Saya tidak mau mengambil cara soft loan dan belum tentu juga saya waktu itu saya bisa mendapatkannya. Oke, berarti satu-satunya jalan yang tersisa adalah mendapatkan beasiswa. Dari mana? Bagaimana? Pertanyaan ini saya jawab dengan bertanya-tanya ke perwakilan Fontys, dosen, teman, dan dengan googling. Pada waktu itu, salah satu beasiswa yang dapat membantu saya untuk mengikuti double-degree adalah beasiswa Huygens Scholarship Programme (HSP).
Saya dan teman-teman lain mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk seleksi beasiswa HSP. Dokumen-dokumen tersebut antara lain:
1. CV
2. Motivation letter
3. Dua reference letter : Pada waktu itu saya meminta dua dosen saya menuliskan surat rekomendasi untuk saya.
4. Nomination letter : Surat ini diberikan oleh pihak universitas Fontys
5. Fotokopi paspor atau terjememahan KTP
6. Sertifikat TOEFL
7. Transkrip nilai kuliah
8. Sertifkat lomba dan lain-lain
Dengan susah payah, semua dokumen pun terkumpul sebelum deadline. Untuk menghemat ongkos kirim dokumen ke Belanda, saya dan teman-teman menggabungkan amplop-amplop kami ke satu amplop besar. Dengan demikian, ongkos kirim dokumen bisa patungan dan lebih hemat! Harap dimaklumi ya. Hahha! Dokumen pun sudah dikirim. Saya dan teman-teman yang lain hanya bisa berdoa agar dapat diterima.
Bagi saya, dalam meraih suatu hal, termasuk beasiswa, kita butuh tiga hal, yaitu peluang, usaha, dan keberuntungan. Peluang beasiswa sudah ada berkat adanya HSP ini. Usaha pun sudah saya lakukan untuk mencapainya. Keberuntungan adalah faktor x. Hal ini berada di tangan Tuhan. Untuk itu kita juga perlu dukungan doa. Ora et labora. Apakah saya beruntung kali ini?
Setelah ditunggu, kabar mengenai penerimaan HSP-pun tiba. Dan kali ini bukan kabar yang baik (menurutku). Ya, saya tidak masuk dalam daftar penerima HSP. Saya hanya masuk di daftar penerima cadangan nomor dua puluhan (saya lupa tepatnya berapa). Setelah itu saya tidak berharap banyak karena saya termasuk di nomor cadangan yang kemungkinannya kecil untuk menerima beasiswa. Apalagi ini adalah gelombang terakhir dari beasiswa HSP. Setelah itu program beasiswa ini ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Saat itu pun saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendaftaran double-degree dan tetap menjalani kuliah semester 6-7 di ITS. Beberapa hari kemudian saya pergi ke Bali untuk magang di suatu perusahaan selama dua bulan. Sesudah itu saya memulai semester 7 dan mulai mengerjakan tugas akhir.
Pada 10 Oktober 2011 malam hari, saya menerima kabar tak terduga di email saya. Di email tersebut tertulis bahwa karena ada yang mengundurkan diri dari program beasiswa HSP, saya mendapatkan kesempatan untuk mengambil double-degree dengan dibiayai HSP dan dengan syarat harus berangkat pada Februari 2012. Wow! Rasa senang dan bingung bercampur jadi satu. Bagaimana dengan tugas akhirku yang sedang aku garap? Apakah mampu diselesaikan sebelum Februari? Bagaimana dengan yudisium di ITS yang diurus pada bulan Februari?
Tentu saja saya mengambil kesempatan yang langka ini. Saya menyelesaikan administrasi untuk pendaftaran double-degree ini. Beberapa hal yang perlu diurus antara lain visa, housing buat di Eindhoven, TOEFL, surat keterangan dari ITS, dan menyelesaikan pendaftaran untuk Fontys. Saya tetap menggarap tugas akhir saya hingga selesai disidang dan revisinya pada Januari 2012. Untuk yudisium saya sudah mohon izin kepada ketua jurusan di kampus agar bisa diwakilkan. Puji Tuhan saya punya teman-teman yang baik yang mau bantu saya.
Tanggal 1 Februari 2012 saya tiba dengan selamat di Belanda. Dan seminggu berikutnya memulai kuliah di Fontys University. Suasana kulaih di sini berbeda. Awalnya saya masih tidak terbiasa berkumpul dan berdiskusi dengan mahasiswa dari negara lain. Saya menjadi terbiasa seiring berjalannya waktu. Interaksi dosen dengan mahasiswa di sini bisa dibilang lebih santai. Suasana kelas dan kampus sangat kondusif untuk belajar.
Setahun sudah berlalu. Saya sudah menyelesaikan studi double-degree di Fontys. Banyak pengalaman yang menarik yang saya dapat di sini. Untuk itu saya menganjurkan pada teman-teman sekalian untuk studi di luar negeri karena Anda dapat merasakan bagaimana keadaan di masyarakat internasional. Dan banyak lagi keuntungan lainnya. Saya bersyukur mendapat keberuntungan ini. Berkat peluang, usaha, dan dukungan doa dari keluarga dan teman-teman juga saya bisa menikmati semua ini. Saat ini saya sudah bekerja menjadi programmer di Belanda. Semoga secepatnya saya bisa membagikan apa yang saya dapat di sini kepada masyarakat di Indonesia.
Dream with your eyes open!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: