Menemukan Inspirasi Perjuangan dari Para Pahlawan Indonesia di Belanda

Oleh : Indra Tumbelaka

Presiden pertama Indonesia, Soekarno mengatakan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri”. Sejarah mencatat beberapa pahlawan Indonesia dan orang-orang yang berjasa bagi tanah air pernah sekolah, belajar, dan hidup di negeri Belanda. Sebagai pelajar Indonesia yang saat ini belajar dan hidup di Belanda, saya memiliki kebanggan tersendiri bisa belajar di negeri yang sama dengan mereka. Didalam lubuk hati, saya diam-diam berharap dan berdoa, apabila para pahlawan tersebut menemukan pengetahuan, ilmu  dan yang terutama insiprasi untuk membangun Indonesia di negeri Belanda, saya juga akan mendapatkannya untuk tanah air tercinta.

Terdapat banyak tantangan yang dihadapi oleh pelajar Indonesia di luar negeri. Tantangan-tantangan tersebut dapat berupa perbedaan budaya, kondisi alam, atau sistem pendidikan. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi oleh pelajar Indonesia dimasa lalu, kemajuan teknologi telah membuat kondisi saat ini terasa lebih mudah.

Apabila kita jet lag setelah belasan jam berada di pesawat dari Indonesia ke Schipol Amsterdam, bayangkan perjalanan berminggu-minggu seorang pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu ke Belanda pada tahun 1921. Pada masa itu, kapal laut merupakan pilihan transportasi utama, sehingga para cendekia Indonesia memerlukan waktu lebih dari satu bulan di lautan, terombang-ambing di tengah samudera demi menuntut ilmu di Belanda.

Kendala utama lainnya adalah komunikasi. Diawal abad ke dua puluh, belum banyak orang Belanda yang fasih berbahasa Inggris dan tentu saja belum ada google translate untuk membuat hidup lebih mudah. Bagi yang telah belajar atau minimal mencoba, pasti mengetahui bahwa belajar bahasa Inggris lebih mudah dibandingkan dengan belajar bahasa Belanda. Apalagi alat komunikasi dimasa itu adalah surat bukan bukan email, apalagi messanger atau videocall.

Ditengah kondisi hidup yang penuh tantangan, para pelajar Indonesia pada masa lalu bisa survive dan menyelesaikan perjalanan hidupnya di negeri Belanda. Dari mereka kemudian lahir beberapa tokoh yang berperan penting dalam sejarah kemerdekaan, perjuangan, dan pembangunan Indonesia.

Berikut beberapa tokoh istimewa yang pernah belajar atau hidup di negeri Belanda dan kemudian membaktikan hidupnya demi negeri terkasih Indonesia:

Mohammad Hatta

Bung Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia, menempuh pendidikan di Handelshogeschool (sekolah tinggi bisnis) Rotterdam yang saat ini telah menjadi Erasmus University Rotterdam (EUR). Saat ini di kampus EUR berdiri gedung yang diberi nama gedung Hatta. Nama beliau disejajarkan dengan beberapa nama terkenal yang juga menjadi nama gedung di kampus EUR, seperti gedung Erasmus, diambil dari nama filsuf eropa abad pertengahan dan gedung Tinbergen dari nama peraih nobel ekonomi pertama.

1

sumber: http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/651600/big/bung-hatta-muda.jpg

Bung Hatta menjadi ketua Perhimpunan Indonesia dan aktif menulis selama berada di Belanda. Pada tahun 1928 bung Hatta menulis salah satu pidato yang termasyur Indonesie Vrij atau Indonesia merdeka.  Beliau hidup di Belanda lebih dari 10 tahun sebelum pulang ke Indonesia pada tahun 1932 dengan gelar doctorandus (Drs).

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Sebelum tiba di Belanda, wakil presiden kedua Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX telah memahami budaya eropa karena pernah hidup bersama keluarga Belanda di Indonesia. Sri Sultan hidup di Belanda dari tahun 1931 sampai dengan 1939 dan berkuliah di universitas Leiden. Di universitas yang bergengsi ini, Sri Sultan bertemu dengan berbagai pelajar yang diantaranya merupakan bangsawan baik dari asia maupun eropa.

Meskipun telah hidup di lingkungan budaya eropa dan mendapatkan berbagai tawaran dari Belanda, Sri Sultan membuktikan dirinya sangat mencintai tanah air. Dalam salah satu pidatonya, beliau mengatakan “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, pertama-tama saya adalah dan tetap orang jawa” yang kemudian dilanjutkan “semoga saya dapat memenuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya”. Sri Sultan kemudian membuktikan kata-katanya tersebut dengan berbagai sumbangsihnya dimasa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Selanjutnya Sri Sultan membaktikan dirinya melalui berbagai jabatan strategis yang diembannya dimasa pemerintahan presiden Indonesia pertama dan kedua.

 Lambertus Nicodemus Palar (LN Palar)

LN Palar adalah salah satu pahlawan yang memulai perjuangannya di luar Indonesia. Beliau berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara dan sejak tahun 1928 hidup di negeri Belanda. LN Palar aktif dalam kegiatan partai politik di Negara Belanda, termasuk mendukung hak kemerdekaan Indonesia atau Hindia Belanda pada saat itu.

2

Sumber: http://manado.tribunnews.com/2013/11/07/lambertus-palar-jadi-pahlawan-nasional

Pada masa perang dunia kedua, LN Palar berada di Amsterdam dan turut merasakan penderitaan akibat perang yang berkecamuk Eropa. Pada tahun 1947, LN Palar secara resmi mewakili Indonesia di PBB dan memperjuangkan pengakuan negara-negara dunia terhadap Indonesia sebagai suatu negara yang merdeka. Di masa jabatannya tersebut, Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dan Indonesia secara resmi menjadi anggota PBB. Atas perjuangannya pada tahun 2013 atau lebih dari tiga puluh tahun setelah kematiannya LN Palar menerima gelar pahlawan nasional.

Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie)

Tokoh ini banyak dikagumi pelajar Indonesia saat ini. BJ Habibie telah menjadi salah satu tokoh idola favorit generasi muda, bukan hanya karena baktinya untuk negeri, atau kepintarannya di dunia dirgantara yang mendunia, tetapi juga karena teladan cinta kepada istrinya, Hasri Ainun Besari Habibie. Namun demikian, mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa presiden ketiga Indonesia ini pernah sekolah di Belanda, tepatnya di Delft University of Technology.

Sebelum menyelesaikan pendidikan dan memulai karirnya di Jerman, presiden ketiga Indonesia ini memulai pendidikannya di bidang aeronautika di kota Delft. Dapat dikatakan bahwa perjalanan dan prestasi internasional BJ Habibie dimulai di Belanda dan kemudian semakin bertumbuh di Jerman. Seluruh kesuksesan BJ Habibie di luar negeri tidak kemudian membuatnya melupakan tanah air. Beliau pulang ke Indonesia dan membawa semua kompetensi, pengalaman dan pengetahuannya untuk membangun negeri tercinta.

Tentu masih banyak para pahlawan Indonesia yang pernah belajar serta hidup di Belanda yang belum dapat dibagikan kisah patriotiknya dalam tulisan ini. Pengabdian hidup mereka untuk tanah air masih sangat relevan untuk dicontohi serta menjadi teladan bagi generasi muda dan pelajar Indonesia saat ini.

Belajar dan mengikuti teladan dari generasi sebelumnya merupakan salah satu metode belajar paling efektif. Dengan demikian generasi selanjutnya dapat sama atau bahkan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Dimasa depan akan sangat mungkin lahir Hatta, Hamengkubuwono IX, LN Palar atau BJ Habibie baru dari pelajar-pelajar Indonesia di Belanda saat ini.

Jangan menyerah dan tetaplah berdoa, belajar dan berjuanglah, inspirasi nasionalisme yang didapatkan oleh para pahlawan Indonesia di Belanda, mungkin akan kita dapatkan saat berada taman Keukenhof, atau dibawah kincir angin di Kinderdijk, atau didalam ruangan kelas universitas-universitas diseluruh penjuru Belanda. Jadilah margana nusantara, anak panah Indonesia yang dapat terbang keseluruh dunia dan kembali bermanfaat bagi tanah air tercinta.

Indra Tumbelaka

Pelayan masyarakat, penerima beasiswa LPDP (PK23), mahasiwa master EUR.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: