Mau kuliah di Belanda? Jangan seperti Saya

Ditulis oleh: Adrian Promediaz

Hari yang telah dinanti pun tiba. Saya, layaknya mahasiswa yang hendak merantau jauh, diantar oleh keluarga menuju bandara Soekarno-Hatta. Tak lama kemudian, Saya pun berpisah dengan keluarga karena pesawat yang akan Saya tumpangi hendak lepas landas dalam waktu yang singkat.

Menit demi menit dilalui dengan rasa gelisah. Gelisah karena … entah… Saya pun tak mampu menguraikan segala hal yang berputar-putar dalam benak Saya. Segala fasilitas yang disediakan oleh maskapai tersebut telah Saya coba. Hanya untuk sekedar menghibur diri. Namun, kegelisahan Saya tak mudah untuk dilenyapkan.

Singkat kata, pesawat pun mendarat di negeri kincir angin. Bukan hal yang lazim bagi Saya untuk berinteraksi dengan orang asing. Inferioritas muncul dalam benak Saya yang membuat Saya terlihat canggung untuk berinteraksi dengan orang asing ataupun mengikuti prosedur sebelum keluar dari bandara.

1

Hari demi hari, minggu demi minggu telah dilalui. Banyak hal menarik yang Saya alami dan Saya renungkan.

Saya yang dulu dan Saya yang sekarang

Selama duduk di bangku kuliah program sarjana, Saya merupakan seorang yang, bisa dibilang, dihormati. Dihormati karena segudang prestasi akademik, pengalaman berorganisasi, serta lingkaran pertemanan yang cukup luas. Saat itu, Saya merupakan gambaran nyata dari profil mahasiswa ideal dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Tak heran jika Saya mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi ternama pula di Belanda. Dalam menjalankan aktivitas akademik, Saya tetap berusaha untuk menunjukkan bahwa Saya adalah mahasiswa yang terbaik. Tak hanya terbaik, melainkan layak untuk dihormati.

Hari demi hari pun berlalu. Tugas demi tugas dapat Saya selesaikan. Namun, mimpi untuk menjadi yang terbaik dan layak dihormati tampak hanya sekedar khayalan. Kenapa?

Saya pun dihadapkan dengan tugas kelompok. Sudah bertahun-tahun Saya selalu menjadi panutan dalam setiap pekerjaan yang diberikan. Ketika ada kesempatan, Saya selalu mencari aman dengan hanya mau bekerja dengan rekan satu negara. Tentu saja Saya akan sangat senang. Dan kembali merasa terhormat. Teman-teman Saya akan menganggap bahwa Sayalah yang paling dapat diandalkan. Saya seorang yang superior. Saya pun merasa aman, karena Saya tak perlu bersusah payah menggunakan bahasa asing, yang memang asing bagi Saya, untuk berkomunikasi dengan rekan kerja.

Namun, ketika sebuah pilihan tak lagi terbuka, Saya pun harus bekerja sama dengan rekan asing, yang memang asing bagi Saya. Tak ada lagi superioritas yang nampak pada diri Saya. Ketidakmampuan Saya untuk menghadapi kenyataan bahwa Saya sedang berada di lingkungan asing membuat Saya tampak inferior. Ketidakmauan Saya untuk beradaptasi atau keluar dari zona nyaman membuat Saya selalu merasa asing, inferior, dan kehilangan kebahagiaan menjadi seorang mahasiswa internasional. Saya pun mengakui bahwa Saya belum berhasil hadir dalam kekinian.

Asing pada budaya yang tak seharusnya asing

Sampai pada akhirnya Saya berkesempatan untuk menunjukkan warisan atau budaya yang harusnya dapat dibanggakan. Saat itu hari batik nasional. Tentu saja banyak notifikasi dari media sosial yang mengajak seluruh mahasiswa Indonesia di Belanda mengenakan baju batik lalu berfoto bersama. Entah apa tujuan dari ajakan tersebut. Apakah hanya program kerja semata. Ataukah ada tendensi untuk mengingatkan para mahasiswa Indonesia makna dari karya seni tersebut. Saya pun beraktivitas di kampus menggunakan kemeja batik.

Ketika Saya menggunakan kemeja Batik di Indonesia, orang-orang tak peduli dengan apa yang Saya kenakan. Batik bukanlah hal yang asing lagi apabila dikenakan di Indonesia. Dari sejak taman kanak-kanak, batik telah diperkenalkan. Baik pejabat, karyawan, ataupun tunakarya sekalipun tak asing dengan batik. Namun, ketika batik dikenakan ketika sedang berada di luar negeri, sudah menjadi kewajiban bagi seorang yang mengenakan untuk mampu menceritakan, paling tidak, sejarahnya atau arti di balik motif tersebut. Sayangnya, Saya tak mampu memuaskan rasa penasaran dari kawan internasional yang ingin mengetahui lebih dalam tentang arti corak yang terlukiskan pada kemeja yang sedang Saya kenakan. Saya memang, bisa dikatakan, mengecewakan karena masih asing dengan budaya yang seharusnya tak asing.

Pribadi yang seharusnya berdikari

Layaknya mahasiswa pada umumnya, tugas merupakan salah satu bahan evaluasi apakah mahasiswa sudah menguasai materi yang seharusnya mereka kuasai. Tiba saatnya hari pengumpulan. Saya diminta untuk mengumpulkan dokumen cetak. Untuk mempercantik dokumen tersebut, Saya berinisiatif untuk menjilid dokumen tersebut. Mengacu pada apa yang sering Saya lakukan di negara Saya, tentu saja Saya berharap agar petugas fotokopi yang menjilidkan tugas Saya dan Saya tinggal membayar sesuai tarif. “Penjilidan hanyalah sebuah pekerjaan remeh dibandingkan melakukan penelitian dengan menggunakan teori-teori serta simulasi dengan perangkat lunak yang canggih,” pikir Saya.

Namun, Saya pun terperanjat karena Saya hanya diberikan ring, kertas karton, serta kertas transparan untuk kover tugas Saya. Petugas fotokopi hanya memberi arahan singkat bagaimana mengoperasikan alat jilid. Ya betul! Saya harus mengerjakannya sendiri. Tak ada lagi pahlawan yang sebetulnya berkontribusi dalam kehidupan akademik Saya. Lalu, mampukah Saya mengerjakan pekerjaan remeh tersebut?

Individu yang ternyata tak selalu individualis

Beberapa doktrin atau informasi banyak yang mengatakan bahwa orang-orang Belanda adalah orang yang memiliki sifat egois. Hanya mementingkan diri sendiri. Mungkin benar. Mungkin salah. Mungkin Saya salah tafsir. Pertanyaannya adalah sejauh mana mereka bersikap individualis.

Suatu saat, Saya, yang selama ini lebih sering belajar di apartement, harus belajar di dalam perpustakaan. Minggu ujian merupakan minggu yang sakral sehingga Saya cukup sulit untuk mendapatkan kursi kosong. Setelah mencari-cari tempat yang nyaman untuk belajar di dalam perpustakaan, akhirnya Saya menemukan satu kursi kosong tetapi harus berbagi  meja dengan  orang lain. Orang lain itu tidaklah terlalu asing bagi Saya. Dia kawan Saya satu jurusan, namun berbeda kewarganegaraan. Dia orang Belanda. Ya Belanda. Yang terkenal dengan individualismenya. “Ya sudahlah,” pikir Saya. Akhirnya Saya memutuskan untuk belajar di tempat itu.

Menit demi menit berlalu tanpa suara karena Saya dan kawan Saya fokus dengan materi kuliah yang akan diujikan. Hingga tiba pada akhirnya Saya dan kawan Saya memulai percakapan ringan. Pertanda rehat sejenak akibat jenuhnya belajar. Tak Saya duga, kawan Saya menawarkan Saya secangkir kopi. Paling tidak, Saya tak harus beranjak dari tempat duduk karena kawan Saya yang akan mengambilkan secangkir kopi buat Saya. Apakah dia cukup individualis untuk menjadi seorang Belanda? Apakah dia terlalu Belanda untuk tidak menjadi individualis? Ataukah Saya yang belum mengerti paham individualis?

Tunggu. Kenapa Saya harus bingung? Selama Saya bisa berbagi, kenapa Saya terhambat dengan kekakuan Saya?

Salahkah Saya jika Saya minoritas?

Ketika Saya masih berada di negara Saya, Saya selalu berinteraksi dengan orang yang segolongan, sehingga Saya tak pernah merasa kesulitan. Bahkan Saya selalu dengan mudahnya menjalankan kebiasaan yang lazim dilakukan oleh Saya dan keluarga Saya. Pada intinya, Saya sering mendapat kemudahan karena Saya merupakan bagian dari mayoritas.

Namun, tidak semua kemudahan itu didapatkan ketika Saya hidup sebagai minoritas. Di Belanda, semua berbeda. Tidak semua seperti Saya. Tidak semua  seperti yang Saya harapkan. Kawan-kawan asing, terutama tuan rumah, akan berbicara dengan bahasa ibunya dengan kawan senegaranya ketika dalam satu kelompok kerja jumlah mereka mendominasi. Sempat terbersit dalam benak Saya, “Mengapa mereka tidak menghormati Saya?” Padahal  mereka mayoritas dan Saya minoritas. Lalu siapakah yang salah?

Epilog

Lalu siapakah Saya? Entahlah.. saya pun tidak mampu menguraikan. Yang dapat saya tegaskan adalah bahwa Saya merupakan rekonstruksi subyek baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman pribadi dalam mengamati perilaku beberapa kawan yang patut dijadikan bahan renungan.

Beberapa intisari dari goresan tinta di atas adalah

  1. Ketika seseorang hendak menuntut ilmu apalagi di luar negeri, hendaknya ia mampu mengosongkan dirinya. Ia akan berada di lingkungan yang berisi orang-orang yang setara atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Di sinilah saatnya ia untuk mengembangkan diri dengan belajar dari orang lain.
  2. Saat seseorang akan pergi merantau, ia akan menjadi simbol dari golongannya. Maka dari itu, sudah sepatutnya ia mengerti budaya  yang secara tidak langsung akan ia perkenalkan di lingkungan barunya.
  3. Ketika seseorang hendak tinggal jauh dari orang tua, sebaiknya ia sadar bahwa ia tidak dapat bergantung terus menerus dengan orang tuanya. Seharusnya ia mampu hidup mandiri. Mandiri dalam mengerjakan berbagai hal, baik hal sederhana maupun hal rumit.
  4. Mandiri di sini tidak berarti sama dengan egois. Saat seseorang hendak hidup di lingkungan yang baru, hendaknya ia sadar bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang baru. Ia sudah selayaknya untuk saling berbagi dan saling  menolong karena tak ada yang tau kapan ia berada di atas dan kapan ia berada di bawah.
  5. Ketika sesorang akan pergi meninggalkan kampung halamannya, hendaknya ia untuk belajar berbaur dengan lingkungan barunya. Ia sebaiknya sadar bahwa ia akan berada dalam kebudayaan yang berbeda. Alangkah indahnya apabila ia mampu menghargai siapapun serta budaya dimana ia tinggal. Ia selayaknya larut namun janganlah ia hanyut.

Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung, tersindir, ataupun tersakiti. Namun, saya juga berterima kasih kepada seluruh kawan yang menjadi inspirasi penulisan esai ini.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2008, February 4). Kemdikbud. Retrieved from Kemdikbud Web Site: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (3rd ed.). Jakarta: Pusat Bahasa Department Penidikan Nasional. Retrieved from http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

 

 

22 comments

  1. Your friendly reminder

    Halo kakak Adrian.
    Boleh komentar?

    Mahasiswa ideal? Dihormati?
    Gambaran mahasiswa ideal di kampus kakak itu gimana ya?
    Dihormati karena segudang prestasi? Rasanya nikmat betul. Tapi apa iya dihormati?
    Tapi kok rasanya ada yang janggal ya dengan kalimat tsb. Baru kali ini ada yang bilang dia dihormati karena prestasi. Awas kak, sindrom gila hormat.

    Menjadi panutan? Hebat ya. Teman-temannya seperti apa ya

    Merasa inferior? Mungkin karena kakak menggantungkan rasa percaya diri kakak ilusi yang hancur karena ketemu orang yang berbeda bahasa.

    Kalau nggek ngerti batik ya mau gimana lagi, banyak yang mengalami kok. Jadi santai saja.

    Ah, kakak. Masak disuruh ngejilid sendiri aja kaget.
    “There’s nothing better than fix/do it by yourself”
    Kalau dasarnya kakak punya mental seperti itu, harusnya nggak kaget. Tapi ya, semua orang menjalani hidup yang berbeda.
    Ah, tapi kalau cuma jilid ring itu mudah dan cepat kok.

    Nggak perlu kaget kalau ada orang berbuat baik, kak. Itu lumrah.

    Ah, kakak. Bilang saja pergaulannya pilih-pilih dan homogen. Padahal kan tiap kampus ada paguyuban yang harusnya bisa menyadarkan kalau kita bisa saja berada di minoritas. Gampangnya, coba berkumpul di tengah orang-orang dari suatu daerah yang bahasanya tidak kakak mengerti.
    Oh, tapi mungkin kakak nggak punya waktu untuk itu karena sibuk mengejar prestasi.

    Kalau mau dipikir lebih jauh, tulisan kakak ini cringe-worthy ya. Maaf saya ketawa-ketawa bacanya.
    Sudah S2 kok cara pikirnya kayak aktipis S1.

    Kalau saya tebak, prestasi kakak selama jadi mahasiswa S1 pasti menempel pada jurusan yang kakak ambil dan status sebagai mahasiswa.
    Di sini orang banyak lupa. Mahasiswa itu status sementara, tapi menjadi manusia seutuhnya itu harus didahulukan. Kalau kasusnya seperti kakak, jadinya ya begini. Jadi lesu powerless inferior ketika dilepas.

    Kalau ditelisik lebih jauh, ada sesuatu yang salah dengan activism di kampus kakak yang dulu ya. Mungkin activism yang cuma modal bentak-bentak dan merasa hebat kalau sudah kuat dibentak. Saya juga nggak yakin, CMIIW untuk yang ini.

    Well, not really special after all, huh?

    • Adrian Promediaz

      Halo friendly reminder,

      makasih udah baca ya 🙂

      Duh saya sendiri juga takut kalo si Saya mengalami sindrom gila hormat, sindrom kaget, dan sindrom2 lainya.
      Alhamdulillah kalo kamu ketawa-ketawa berarti saya bisa menghibur kamu.

      Tanpa prestasi yg saya punya, ini menurut saya ini spesial karena saya selalu mencoba menghargai semua karya, sesimpel apapun itu.

      Terima kasih

  2. Temennya yang komen di atas

    ^ Jadi… Curhatan kakak diaz ini juga jadi wake up call untuk kampus lamanya dalam memperbaiki kegiatan kaderisasi dan activism?

    • Adrian Promediaz

      Halo temmennya yang komen di atas.

      Saya aja ga kepikiran sampai ke situ untuk memperbaiki kegiatan kaderisasi dan activism. Haha

      Sukses ya!

  3. Cyborgkuro_snow

    Banyak orang takut untuk menulis, tetapi saudara Diaz mampu menulis, bahkan suatu aspek ketakutannya. Penyadaran diri ialah awal yg baik untuk sukses. Semangat buat saudara Diaz, semoga saya bisa cepet nyusul. 😛

  4. Selain poin2 diatas.. yang saya tangkap disini mas penulis ini orangnya ribet. terlalu dipikir banget, yang sebenarnya sepele dibuat ribet oleh dirinya sendiri, terlalu pemikir, cocok kerja di riset dan agak kurang buat dijadikan pemimpin.

    • Adrian Promediaz

      Halo Yuyud

      Wah makasih ya udah memberi inspirasi di mana saya kerja nanti. Mudah-mudahan saya bisa jadi seorang peniliti.

      Salam

      Terima kasih

  5. Halo teman-teman,

    Kalau yang saya tangkap, cerita yang disampaikan leawt tulisan ini does not necessarily represents the author’s experience. Pada bagian epilog dijelaskan, “Saya merupakan rekonstruksi subyek baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman pribadi dalam mengamati perilaku beberapa kawan yang patut dijadikan bahan renungan”.

    Jadi, saya rasa maksud penulis adalah memberikan insight what not to expect dan what to avoid ketika beradaptasi dengan lingkungan baru ketika melanjutkan studi. As simple as that.

    Mari budayakan berpikiran terbuka, kritik membangun, dan apresiasi positif.
    🙂

    • Adrian Promediaz

      Halo Dhila

      Aha! kayaknya kamu orang pertama yang berkomentar sambil menunjukkan bahwa kamu menangkap maksud tulisan saya. Memang di epilog itu baru menjelaskan tokoh utama dalam cerita tersebut.

      Selain itu memang intinya adalah “insight what not to expect dan what to avoid ketika beradaptasi dengan lingkungan baru ketika melanjutkan studi.”

      Terima kasih. Sukses selalu!

  6. alumni_holland

    Adrian,

    Makasih ya sdh sharing, memang tidak smua mhasiswa yang blajar di luar pasti berhasil hidup di luar negri. Kmu salah satunya ygn mengakui, yang lainnya mungkn cuma diem2 aja.

    Ini saran buat Adrian, utk membangun ajah, saat ketemu orang pasti Adrian langsung membandingkan diri kamu, apkah di atas dia atau tidak. Jngan seperti itu, anggap saja semua orang sejajar sama kamu. Bahkan saat saya baca, terkesan sombong banget saat kamu bilang mahasiswa ideal di PT ternama. kamu saat dulu di ITB ya? apakah kamu menang ganesha prize, saya tidak pernah denger mahasiswa berprestasi lantang bilang dirinya berprestasi. Be humble yah Adrian. Ini saran ajah.

    skarang, apakah Adrian mau bilang ke mama papa untuk pulang? kan sayang uang dri orang tuanya. Yang tabah aja. Tak perlu kamu bandingkan diri kamu dngan yang lain, sekolah di indonesia memang suka saingan satu sama lainnya, di belanda kan beda. lebih ke development masing2. kamu mau bolos, gak ada peduli, kamu mau nilai terjelek juga gak ada yng peduli. tergantung kamu mau ngapain untuk kamu sendiri.Ini refleksi buat kmu aja, mungkin skrg2 kmu mlai sadar kerna komen paling awal, dia bner juga sih, tp saya tak tega untuk komen seperti itu. esai ini buat lomba ppi? saya tdk setuju klo esai ini juwara. Favorit jg tdk setuju, kerna orang like karna kasihan tpi makasih ya sdh sharing.

    alumni 2000an

    • Om Holland,

      Kenapa bias menebak Tokoh tersebut berasal dari ITB?
      Kenapa sih dengan alumni ITB? apakah bias di generalisir seperti itu? apakah sudah ada risetnya?

      Saya sebagai alumni ITB hanya ingin tau pandangan orang saat ini.

      Terimakasih.

      Salam,

      ITB’04

  7. Adrian Promediaz

    Halo alumni_holland,

    Makasih ya sudah baca. hehe, itu memang bukan representatif dari pribadi saya sendiri. Bagaimanapun juga, makasih atas masukkannya.

    Salam & sukses selalu!

  8. Mantap Diaz essay-nya, terutama jika “Saya” diganti dengan Nama Orang! Memberikan makna yang mendalam.

    • Adrian Promediaz

      Halo Tulus,

      Terima kasih sudah baca. Memang nama tokoh utama dalam kisah ini bernama “Saya”. Makanya saya menggunakan huruf kapital di awal kata untuk membedakan dengan kata “saya” yang digunakan sebagai kata ganti orang pertama.

      Sukses ya.

      Terima kasih

  9. Halo Kak Adrian. Rasanya saya tau PT ternama itu dimana. Karena saya juga merasakannya haha. Overall, tulisannya informatif buat orang2 yg ingin melanjutkan studi di luar nih.

  10. Tidak semua orang berani melakukan perenungan terhadap bagaimana cara ia memandang dirinya. Lebih jauh lagi, tidak semua orang berani menuliskan itu di ranah publik untuk dibaca banyak orang, secara terbuka pula dan dengan nama jelas yang terang benderang. Untuk hal ini saya salut dengan tulisan ini. Sebuah langkah yang patut dihargai terlepas ada yg tidak setuju dengan konten di dalamnya.
    Lanjutkanlah selalu melakukan perenungan dengan semangat untuk melakukan perbaikan. Believe me, gak semua orang mampu melakukan itu. Tak banyak juga yg malah sibuk menyalahkan faktor eksternal atas setiap potensi ketidaknyamanan/kegagalan dan tak berusaha untuk lebih mengenal lagi identitas dirinya. Ini awal yg baik, teruslah melakukan refleksi. Semangat!

  11. Terlepas dari cerita ini pengalaman sendiri atau bukan, penulis mungkin hanya ingin menunjukan bahwa hidup sebagai minoritas tidak lah mudah.
    Banyak pelajaran yg bisa diambil dari kisah di atas yg bisa digunakan sebagai persiapan bagi kawan2 yg akan menempuh pendidikan di negeri orang.
    Saya sendiri sepertinya cukup mengenal penulis, pernah bekerja di perusahaan yg sama sebelum beliau memutuskan untuk resign dan melanjutkan studi. Prestasi dan kinerjanya memang luar biasa.

    Diaz, sharingnya bermanfaat bro, tp masukan dari temen2 di atas juga bisa buat rujukan. Mudah2an bisa ikut nyusul ke holland.
    Sukses bro!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: