Mau kuliah di Belanda? Jangan seperti Saya

You may also like...

22 Responses

  1. Your friendly reminder says:

    Halo kakak Adrian.
    Boleh komentar?

    Mahasiswa ideal? Dihormati?
    Gambaran mahasiswa ideal di kampus kakak itu gimana ya?
    Dihormati karena segudang prestasi? Rasanya nikmat betul. Tapi apa iya dihormati?
    Tapi kok rasanya ada yang janggal ya dengan kalimat tsb. Baru kali ini ada yang bilang dia dihormati karena prestasi. Awas kak, sindrom gila hormat.

    Menjadi panutan? Hebat ya. Teman-temannya seperti apa ya

    Merasa inferior? Mungkin karena kakak menggantungkan rasa percaya diri kakak ilusi yang hancur karena ketemu orang yang berbeda bahasa.

    Kalau nggek ngerti batik ya mau gimana lagi, banyak yang mengalami kok. Jadi santai saja.

    Ah, kakak. Masak disuruh ngejilid sendiri aja kaget.
    “There’s nothing better than fix/do it by yourself”
    Kalau dasarnya kakak punya mental seperti itu, harusnya nggak kaget. Tapi ya, semua orang menjalani hidup yang berbeda.
    Ah, tapi kalau cuma jilid ring itu mudah dan cepat kok.

    Nggak perlu kaget kalau ada orang berbuat baik, kak. Itu lumrah.

    Ah, kakak. Bilang saja pergaulannya pilih-pilih dan homogen. Padahal kan tiap kampus ada paguyuban yang harusnya bisa menyadarkan kalau kita bisa saja berada di minoritas. Gampangnya, coba berkumpul di tengah orang-orang dari suatu daerah yang bahasanya tidak kakak mengerti.
    Oh, tapi mungkin kakak nggak punya waktu untuk itu karena sibuk mengejar prestasi.

    Kalau mau dipikir lebih jauh, tulisan kakak ini cringe-worthy ya. Maaf saya ketawa-ketawa bacanya.
    Sudah S2 kok cara pikirnya kayak aktipis S1.

    Kalau saya tebak, prestasi kakak selama jadi mahasiswa S1 pasti menempel pada jurusan yang kakak ambil dan status sebagai mahasiswa.
    Di sini orang banyak lupa. Mahasiswa itu status sementara, tapi menjadi manusia seutuhnya itu harus didahulukan. Kalau kasusnya seperti kakak, jadinya ya begini. Jadi lesu powerless inferior ketika dilepas.

    Kalau ditelisik lebih jauh, ada sesuatu yang salah dengan activism di kampus kakak yang dulu ya. Mungkin activism yang cuma modal bentak-bentak dan merasa hebat kalau sudah kuat dibentak. Saya juga nggak yakin, CMIIW untuk yang ini.

    Well, not really special after all, huh?

    • Adrian Promediaz says:

      Halo friendly reminder,

      makasih udah baca ya 🙂

      Duh saya sendiri juga takut kalo si Saya mengalami sindrom gila hormat, sindrom kaget, dan sindrom2 lainya.
      Alhamdulillah kalo kamu ketawa-ketawa berarti saya bisa menghibur kamu.

      Tanpa prestasi yg saya punya, ini menurut saya ini spesial karena saya selalu mencoba menghargai semua karya, sesimpel apapun itu.

      Terima kasih

  2. Temennya yang komen di atas says:

    ^ Jadi… Curhatan kakak diaz ini juga jadi wake up call untuk kampus lamanya dalam memperbaiki kegiatan kaderisasi dan activism?

    • Adrian Promediaz says:

      Halo temmennya yang komen di atas.

      Saya aja ga kepikiran sampai ke situ untuk memperbaiki kegiatan kaderisasi dan activism. Haha

      Sukses ya!

  3. Cyborgkuro_snow says:

    Banyak orang takut untuk menulis, tetapi saudara Diaz mampu menulis, bahkan suatu aspek ketakutannya. Penyadaran diri ialah awal yg baik untuk sukses. Semangat buat saudara Diaz, semoga saya bisa cepet nyusul. 😛

  4. yuyud says:

    Selain poin2 diatas.. yang saya tangkap disini mas penulis ini orangnya ribet. terlalu dipikir banget, yang sebenarnya sepele dibuat ribet oleh dirinya sendiri, terlalu pemikir, cocok kerja di riset dan agak kurang buat dijadikan pemimpin.

    • Adrian Promediaz says:

      Halo Yuyud

      Wah makasih ya udah memberi inspirasi di mana saya kerja nanti. Mudah-mudahan saya bisa jadi seorang peniliti.

      Salam

      Terima kasih

  5. Dhila says:

    Halo teman-teman,

    Kalau yang saya tangkap, cerita yang disampaikan leawt tulisan ini does not necessarily represents the author’s experience. Pada bagian epilog dijelaskan, “Saya merupakan rekonstruksi subyek baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman pribadi dalam mengamati perilaku beberapa kawan yang patut dijadikan bahan renungan”.

    Jadi, saya rasa maksud penulis adalah memberikan insight what not to expect dan what to avoid ketika beradaptasi dengan lingkungan baru ketika melanjutkan studi. As simple as that.

    Mari budayakan berpikiran terbuka, kritik membangun, dan apresiasi positif.
    🙂

    • Adrian Promediaz says:

      Halo Dhila

      Aha! kayaknya kamu orang pertama yang berkomentar sambil menunjukkan bahwa kamu menangkap maksud tulisan saya. Memang di epilog itu baru menjelaskan tokoh utama dalam cerita tersebut.

      Selain itu memang intinya adalah “insight what not to expect dan what to avoid ketika beradaptasi dengan lingkungan baru ketika melanjutkan studi.”

      Terima kasih. Sukses selalu!

  6. alumni_holland says:

    Adrian,

    Makasih ya sdh sharing, memang tidak smua mhasiswa yang blajar di luar pasti berhasil hidup di luar negri. Kmu salah satunya ygn mengakui, yang lainnya mungkn cuma diem2 aja.

    Ini saran buat Adrian, utk membangun ajah, saat ketemu orang pasti Adrian langsung membandingkan diri kamu, apkah di atas dia atau tidak. Jngan seperti itu, anggap saja semua orang sejajar sama kamu. Bahkan saat saya baca, terkesan sombong banget saat kamu bilang mahasiswa ideal di PT ternama. kamu saat dulu di ITB ya? apakah kamu menang ganesha prize, saya tidak pernah denger mahasiswa berprestasi lantang bilang dirinya berprestasi. Be humble yah Adrian. Ini saran ajah.

    skarang, apakah Adrian mau bilang ke mama papa untuk pulang? kan sayang uang dri orang tuanya. Yang tabah aja. Tak perlu kamu bandingkan diri kamu dngan yang lain, sekolah di indonesia memang suka saingan satu sama lainnya, di belanda kan beda. lebih ke development masing2. kamu mau bolos, gak ada peduli, kamu mau nilai terjelek juga gak ada yng peduli. tergantung kamu mau ngapain untuk kamu sendiri.Ini refleksi buat kmu aja, mungkin skrg2 kmu mlai sadar kerna komen paling awal, dia bner juga sih, tp saya tak tega untuk komen seperti itu. esai ini buat lomba ppi? saya tdk setuju klo esai ini juwara. Favorit jg tdk setuju, kerna orang like karna kasihan tpi makasih ya sdh sharing.

    alumni 2000an

    • SZ says:

      Om Holland,

      Kenapa bias menebak Tokoh tersebut berasal dari ITB?
      Kenapa sih dengan alumni ITB? apakah bias di generalisir seperti itu? apakah sudah ada risetnya?

      Saya sebagai alumni ITB hanya ingin tau pandangan orang saat ini.

      Terimakasih.

      Salam,

      ITB’04

  7. Adrian Promediaz says:

    Halo alumni_holland,

    Makasih ya sudah baca. hehe, itu memang bukan representatif dari pribadi saya sendiri. Bagaimanapun juga, makasih atas masukkannya.

    Salam & sukses selalu!

  8. Tulus Imaro says:

    Mantap Diaz essay-nya, terutama jika “Saya” diganti dengan Nama Orang! Memberikan makna yang mendalam.

    • Adrian Promediaz says:

      Halo Tulus,

      Terima kasih sudah baca. Memang nama tokoh utama dalam kisah ini bernama “Saya”. Makanya saya menggunakan huruf kapital di awal kata untuk membedakan dengan kata “saya” yang digunakan sebagai kata ganti orang pertama.

      Sukses ya.

      Terima kasih

  9. Adin says:

    Halo Kak Adrian. Rasanya saya tau PT ternama itu dimana. Karena saya juga merasakannya haha. Overall, tulisannya informatif buat orang2 yg ingin melanjutkan studi di luar nih.

  10. Reni unisa says:

    Tidak semua orang berani melakukan perenungan terhadap bagaimana cara ia memandang dirinya. Lebih jauh lagi, tidak semua orang berani menuliskan itu di ranah publik untuk dibaca banyak orang, secara terbuka pula dan dengan nama jelas yang terang benderang. Untuk hal ini saya salut dengan tulisan ini. Sebuah langkah yang patut dihargai terlepas ada yg tidak setuju dengan konten di dalamnya.
    Lanjutkanlah selalu melakukan perenungan dengan semangat untuk melakukan perbaikan. Believe me, gak semua orang mampu melakukan itu. Tak banyak juga yg malah sibuk menyalahkan faktor eksternal atas setiap potensi ketidaknyamanan/kegagalan dan tak berusaha untuk lebih mengenal lagi identitas dirinya. Ini awal yg baik, teruslah melakukan refleksi. Semangat!

  11. Dyan Harya says:

    Terlepas dari cerita ini pengalaman sendiri atau bukan, penulis mungkin hanya ingin menunjukan bahwa hidup sebagai minoritas tidak lah mudah.
    Banyak pelajaran yg bisa diambil dari kisah di atas yg bisa digunakan sebagai persiapan bagi kawan2 yg akan menempuh pendidikan di negeri orang.
    Saya sendiri sepertinya cukup mengenal penulis, pernah bekerja di perusahaan yg sama sebelum beliau memutuskan untuk resign dan melanjutkan studi. Prestasi dan kinerjanya memang luar biasa.

    Diaz, sharingnya bermanfaat bro, tp masukan dari temen2 di atas juga bisa buat rujukan. Mudah2an bisa ikut nyusul ke holland.
    Sukses bro!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: