Look at the Bright Side, Positively

Ditulis oleh: Caecilia Pradnya Pradipta

24 Agustus 2015, adalah awal saya pergi ke Belanda, tepatnya Groningen, untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, yaitu master di jurusan Social Psychology and Its Applications di Rijksuniversiteit Groningen. Meskipun sudah punya pengalaman pergi jauh dari orang tua di Semarang untuk kuliah di Universitas Indonesia, Depok, selama 4 tahun, saya tetap merasa takut ketika akan pergi ke negeri kincir angin ini. Banyak pikiran-pikiran buruk yang berkecamuk di otak saya. Seperti misalnya, bagaimana kalau nanti saya tidak lancar berbicara bahasa Inggris dan orang-orang tidak mengerti maksud saya, bagaimana kalau saya tidak bisa mengerti pelajarannya, bagaimana kalau saya tidak betah, bagaimana kalau saya tidak punya teman selama di sini, bagaimana kalau saya merasa rindu rumah dan tidak bisa pulang dalam waktu dekat, dan bagaimana-bagaimana lainnya. Bahkan setelah sampai di Groningen, disambut angin kencang perubahan dari musim panas ke musim gugur, saya masih merasa khawatir. Satu atau dua minggu pertama saya masih bertanya pada diri sendiri, untuk apa saya melanjutkan kuliah lagi? Padahal saya punya pekerjaan yang masih harus diselesaikan saat itu (walaupun hanya magang), dan teman-teman saya lebih banyak ada di Indonesia. Namun di penghujung masa studi saya di sini sekarang ini, saya baru merasa bahwa ini mungkin yang dimaksud dengan rencana Tuhan agar saya dapat memiliki banyak pengalaman berharga selama setahun ini.

Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang dapat dibagikan kepada orang lain, yang mungkin tidak cukup dituliskan dalam satu esai yang hanya dapat memuat maksimal dua ribu lima ratus kata. Di sini saya akan membagikan pengalaman saya yang mungkin tidak begitu menyenangkan dan mungkin hampir semua orang yang sedang merantau mengalaminya. Ya, homesick. Kalau Anda sudah pergi selama hampir setahun seperti saya dan belum merasakan homesick, Anda hebat! Saya sendiri mengalaminya pada sekitar bulan November 2015 sampai kira-kira bulan Januari 2016. Hanya tiga bulan setelah berangkat dan saya sudah rindu dengan orang-orang terdekat yang ada di Indonesia.

Ketika pada awalnya saya merasakan homesickness, perasaan sedih karena tidak bisa bertemu dengan keluarga dalam waktu dekat terobati karena Ibu datang berkunjung. Kami menghabiskan sekitar satu minggu bersama-sama. Setelah Ibu pulang, perasaan homesick juga sedikit berkurang lagi karena kemudian saya menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Tante saya di Munich, Jerman. Puncak rindu rumah terasa pada bulan Januari, saat musim dingin mencapai titik terdinginnya.

Homesick semakin parah karena keadaan cuaca yang sangat ekstrim di Groningen pada saat itu. Musim dingin tahun kemarin cukup membuat jalanan di Groningen membeku, sehingga anak-anak bisa mengeluarkan sepatu ice skating-nya dan bermain ice skating di sepanjang jalan. Cukup dingin untuk bisa membuat pemerintah setempat mengeluarkan kode merah, warga tidak diperbolehkan untuk berkegiatan di luar rumah karena jalanan yang sangat licin. Bagaimana tidak, meskipun saat itu suhu berada di sekitar minus 7 derajat Celcius, suhu sebenarnya yang dirasakan adalah minus tujuh belas derajat Celcius. Seperti hidup di dalam kulkas. (Kalau kata anak-anak Instagram zaman sekarang mungkin #kulkaslyfe).

1

 

Saat itu adalah ttik terendah saya selama kuliah di Belanda. Motivasi kuliah hilang entah ke mana, semangat untuk belajar juga pergi secepat matahari terbenam pada musim dingin itu. Saya sering menelepon orang tua saya di rumah, bercerita bahwa sudah tidak betah di Belanda dan ingin segera pulang. Tapi saat itu Ibu terus menguatkan saya bahwa sebentar lagi kuliah saya akan selesai sehingga saya bisa pulang ke Indonesia. Beliau berkata, mungkin saya hanya terkena winter blues syndrome, yaitu perubahan mood yang terjadi karena adanya perubahan suhu yang signifikan ketika musim dingin dan jumlah sinar matahari yang jauh lebih sedikit dari musim-musim yang lain. Saya menuruti nasihat Ibu saya, hingga akhirnya terbukti sampai saat ini saya masih bisa bertahan di tengah cuaca tak menentu negara Belanda.

Perlahan-lahan motivasi dan semangat belajar saya pun bangkit seiring dengan lebih lamanya matahari menampakkan diri di siang hari. Di awal blok kedua (atau semester dua), perasaan homesick sudah jauh lebih berkurang. Mungkin karena pada saat itu saya bertemu dengan teman-teman sekelompok yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Saya merasa bersyukur karena pada akhirnya saya dihadapkan pada satu situasi yang mengharuskan saya untuk berhadapan dengan orang-orang dari berbagai macam negara. Jujur, pada semester pertama saya lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman yang sama-sama berasal dari Indonesia. Hanya di kelas saja saya berinteraksi dengan teman-teman yang berasal dari Belanda, Jerman, dan Perancis. Sisanya lebih banyak bertemu dengan teman-teman sesama pelajar Indonesia. Bahkan saya sempat sering menyendiri di kamar sambil membaca novel dan mendengarkan musik.

Kebetulan, atau mungkin dipengaruhi pikiran bawah sadar, saya memilih topik tesis mengenai homesickness. Saya mulai membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan homesickness, kemudian menemukan beberapa tips untuk pencegahan dan penanganan homesickness yang sesuai dengan keadaan saya saat itu.

Berikut tips pencegahan dan penanganan homesickness yang saya rangkum dari literatur yang saya baca (Thurber & Walton, 2002):

  1. Bangun hubungan baik dengan siswa internasional yang berasal dari negara lain, selain dengan teman-teman yang berasal dari Indonesia. Pertemanan ini akan memberikan dukungan sosial untuk kita menjalani kehidupan perkuliahan di luar negeri. Saya sendiri mempunyai beberapa teman dari Belanda dan Jerman. Tidak sebanyak teman-teman dari Indonesia, namun mereka cukup membantu saya menghadapi tantangan-tantangan di perkuliahan. Yang membuat saya senang berteman dengan orang-orang dari negara lain adalah mereka suka sekali dengan makanan Indonesia, khususnya Indomie dan tempe goreng. Selain mudah membuatnya, makanan tersebut juga lumayan mengobati kerinduan akan makanan khas Indonesia2
  2. Tetap menjalin hubungan jarak jauh dengan orang-orang terdekat yang berada di Indonesia. Teknologi masa kini memungkinkan kita untuk berkomunikasi secara langsung dengan keluarga di benua yang berbeda. Skype, LINE video call, atau sekedar WhatsApp sudah sangat membantu kita mengetahui kabar keluarga di rumah.
  3. Menerapkan gaya hidup sehat. Selain makan makanan yang bergizi dan sehat (kalau sedang beruntung kadang banyak buah yang dijual dengan harga murah di pasar), menyempatkan diri untuk berolahraga juga dapat memberikan pengaruh yang positif untuk pikiran.
  4. Melakukan kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan, seperti ikut serta dalam organisasi siswa internasional atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di kota masing-masing. Bergabung dengan organisasi-organisasi seperti itu membuat kita mempunyai banyak koneksi dan juga mendapat banyak informasi mengenai kegiatan yang dapat mengurangi perasaan homesick. Seperti misalnya mengikuti festival kuliner dari berbagai negara. Mencicipi berbagai macam jenis masakan dari negara lain cukup ampuh untuk mengobati kerinduan akan rendang, nasi uduk, bakwan jagung, pempek… (walaupun tetap lebih enak masakan Indonesia…)3
  5. Yang terpenting adalah bagaimana kita membatasi pikiran kita untuk tidak terus-menerus memikirkan tentang rumah dan keluarga yang berada jauh di Indonesia. Dan mulai untuk membuat sebuah makna “keluarga” yang tidak jauh berbeda dari keluarga sesungguhnya. Setelah sekitar enam bulan merantau di Belanda, baru saya bisa menemukan makna “home-away-from-home” saat berkumpul dengan sahabat-sahabat yang sama-sama menjalani kehidupan perkuliahan di Groningen. Mempunyai kesamaan nasib harus menghabiskan banyak waktu di perpustakaan demi bisa menyelesaikan kuliah dengan baik membuat kami sering menghabiskan waktu bersama. Kami juga sering berkumpul untuk masak dan makan bersama hanya karena kami rindu dengan makanan Indonesia. Tak jarang pula kami bertemu di salah satu rumah teman hanya untuk sekedar mengobrol dan nonton film bersama. Menciptakan “keluarga” baru yang nyaman untuk berbagi suka dan duka selama merantau.

4

Yang saya pelajari selama menyelesaikan tesis saya, dan berdasarkan pengalaman pribadi, sebenarnya yang terpenting untuk menghadapi perasaan homesick adalah pikiran yang datang dari dalam diri sendiri. Selama kita bisa mengontrol diri dari pikiran-pikiran negatif yang setiap saat bisa hinggap di kepala, niscaya perasaan akan rindu rumah juga akan berkurang. Kita juga akan lebih bahagia menghadapi kehidupan yang terlihat jauh lebih susah selama merantau. Mengutip Stroebe, Schut, dan Nauta (2015) “Look at the bright side, positively”. Karena banyak sekali pengalaman berharga yang dapat diambil kalau kita melihat segala sesuatu dengan lebih positif.

“ Some people grumble that roses have thorns; I am grateful that thorns have roses.” – Alphonse Karr

Referensi:

Stroebe, M., Schut, H., & Nauta, M. H. (2015). Is Homesickness a Mini-Grief? Development of a Dual Process Model. Clinical Psychological Science, 4(2),  344-358.

Thurber, C. A., & Walton, E. A. (2012). Homesickness and 415-419adjustment in university students. Journal of American college health, 60(5),.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: