Enschede, 18 Oktober 2012. Harmonisasi gerakan antar sebelas orang tersebut terlihat begitu indah. Gerakan cepat antara tubuh dan tangan yang dibalut kostum berwarna oranye dengan dipandu nyanyian dari tanah Aceh, membius puluhan penonton yang memadati venue acara. Penampilan Tari Saman tersebut berhasil memberikan sebuah suguhan menarik sebagai pembukaan acara Indonesian Evening.

Indonesian Evening merupakan acara tahunan dari PPI Enschede, menggabungkan mahasiswa dari tiga institusi pendidikan di Enschede yaitu University of Twente, ITC dan Saxion Hogeschool. Bertempat di Atrium Bastille, University of Twente, acara yang dimulai sejak pukul 6 sore, Kamis, 18 Oktober 2012 ini, membawakan tema “Discovering Sumatra”. Melalui pertunjukan seni, tarian, musik dan festival makanan, Indonesian Evening bertujuan memperkenalkan uniknya keberagaman budaya dan eksotisme destinasi pariwisata dari pulau Sumatra. Antusiasme penonton dalam acara ini juga terlihat saat MC mengajak untuk mencoba gerakan-gerakan dasar Tari Saman, beberapa penonton baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri bergabung ke panggung dan mengikuti gerakan tim penari.
Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia Indonesian Evening yaitu Handika Prasetya, mahasiswa program master Chemical Engineering di University of Twente dan Bapak Ramon Mohandas yang merupakan Atase Pendidikan KBRI Belanda di Den Haag. Flow acara yang sempat turun kembali meningkat saat Tari Perang Nias dengan tempo yang sangat intens dibawakan oleh tim penari yang merupakan para mahasiswa ITC. Sekedar informasi, ITC yang merupakan institut ilmu kebumian di Enschede, sebelumnya merupakan institusi terpisah dari University of Twente namun sejak tahun 2010 menjadi fakultas ke-6 dari University of Twente. Tarian lainnya yaitu Tari Piring dan Tari Selendang dari tanah Minang dibawakan oleh Ibu Siti, seorang penari yang telah tinggal selama 8 tahun di Groningen.
Tidak hanya tarian, penampilan musik juga memeriahkan suasana dengan lagu-lagu high beat, seperti lagu Mobil Balap dari Naif yang dibawakan oleh BandIDS dan Play That Funky Music dari Wild Cherry yang dibawakan oleh Smashing Mojo. Lagu Butet yang merupakan lagu khas Sumatra Utara pun ditampilkan dengan format akustik. Para pengunjung terlihat bergoyang selagi menyantap beragam makanan dari beberapa daerah di Sumatra, antara lain Aceh, Medan, Padang dan Palembang. Indonesian Evening terlihat  semakin meriah dengan penampilan warna warni pakaian khas dari daerah Aceh, Sumatra Utara dan Batak pada gelaran Fashion Show.
Mendekati penghujung acara, pengunjung diajak bermain dalam Game Tebak Bumbu, dimana pengunjung diharuskan menebak bumbu apa yang berada di dalam gelas tertutup dengan hanya mencium baunya. Game ini ternyata dimenangkan oleh Bapak Ramon Mohandas, mengalahkan ibu-ibu yang hadir. Keluwesan Pak Ramon dalam menebak bumbu-bumbu mungkin dipicu oleh seringnya beliau menemani sang istri memasak di dapur.
Indonesian Evening ditutup dengan penampilan apik dari BandIDS yang membawakan lagu “Rumah Kita” dari Godbless. Lagu ini seolah-olah menyampaikan pesan bahwa dimanapun kita berada, rumah kita tetaplah negeri Indonesia tercinta. Seberapa buruk pun keadaan negeri kita saat ini harus tetap kita syukuri dan harus kita perbaiki sepulangnya kita dari Belanda ke tanah air.
Mohammad Anggasta Paramartha
University of Twente