Menuju Indonesia Emas 2045, Apa Peran Pemuda?

lingkar

Refleksi Sumpah Pemuda Bersama Salim Said:

Menjaga Konsep Indonesia

Moderator : M. Syarif Hidayatullah

Menyambut hari sumpah pemuda, PPI Belanda mengadakan acara “Lingkar Inspirasi” dengan tema “Sumpah Pemuda Menuju Indonesia emas 2045 dan Apa Peran Pemuda”. Tema ini sangat menarik untuk dicermati dan dikaji. Sumpah pemuda adalah peristiwa yang terjadi lebih dari 80 tahun yang lalu, sedangkan Indonesia emas 2045 adalah masa depan yang baru akan terjadi 31 tahun mendatang. Ada gap waktu yang sedemikian besar, antara sebuah peristiwa sejarah dan komitmen pemuda saat ini dalam membangun bangsa di masa depan. Gap waktu ini dijembatani oleh narasumber diskusi, Pak Salim Saidi yang mengatakan “Jika anda tidak memahami masa lalu, maka anda tidak akan mengerti masa sekarang, dan anda akan kesulitan membayangkan masa depan”.   Pembicara diskusi kali ini begitu istimewa, Pak Salim Saidi namanya.

Beliau tidak hanya seorang sejarawan, akan tetapi pelaku sejarah itu sendiri. Pengalamannya sebagai jurnalis mengantarkan beliau menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Beliau juga seorang pemikir politik yang handal dan seorang diplomat yang ulung. Satu hal yang sangat patut dicontoh adalah, ketika awal diskusi beliau menceritakan perihal kedatangannya ke negeri Belanda, “Saya ke Belanda sebenarnya hanya singgah untuk nostalgia, tujuan saya sebenernya adalah mesir, karena saya ingin meneliti terkait gerakan arab spring disana”. Saya selaku moderator terkejut, karena disebelah saya duduk seorang tokoh yang luarbiasa senior, berusia lebih dari 70 tahun, akan tetapi masih memiliki passion yang begitu tinggi dalam bidang penelitian dan keilmuan. Sebuah semangat yang harus dapat dicontoh oleh kita semua.

Refleksi sumpah pemuda ini dibuka oleh pak Salim dengan memberikan pertanyaan sederhana “Sejak kapan konsep Indonesia mulai ada?”. Jawaban dari hadirin amatlah beragam, dari sumpah pemuda hingga kebangkitan bangsa. Setelah itu pak Salim menceritakan bahwa perang paderi dan perang diponegoro merupakan langkah awal konsep sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia itu mulai ada. Lebih lanjut, beliau menjelaskan mengapa bukan perang- perang lain yang pernah dilakukan berbagai raja dari segala penjuru nusantara. Dengan tegas beliau mengatakan “perang-perang lain adalah perang seorang raja yang mencoba melindungi wilayah kerajaannya dari Belanda. Sedangkan perang paderi dan perang diponegoro adalah perang yang lahir dari kesamaan gagasan, yaitu rakyat berjuang bersama melawan penindasan”.

Gagasan rakyat melawan penindasan ini pada dasarnya adalah kerangka dasar terbentuknya konsep Indonesia.   Cerita pak Salim mengalir kearah penjelasan bagaimana konsep Indonesia ini semakin dimatangkan. Dari berdirinya Syarikat Islam, berdirinya perkumpulan Indonesia di Belanda, hingga sumpah pemuda. Konsep ini akhirnya terealisasi menjadi sebuah negara pasca proklamasi kemerdekaan. Pak Salim menceritakan bahwa bung Karno pun terkejut betapa konsep Indonesia ini begitu disambut dan diterima paska Proklamasi kemerdekaan.

Dengan nada sedih, pak Salim menceritakan hikayat seorang Prajurit Indonesia, yang tertembak ketika masa agresi militer. Sang prajurit yang bersimbah darah itu dengan tenang mengatakan kepada temannya “tidak apa-apa, demi negara”. Pak Salim mengatakan, “bagaimana seorang prjaurit biasa, yang mungkin tidak terpelajar, begitu menghayati konsep baru bernama Indonesia, dan rela mati demi negara yang masih sangat baru dan bahkan kesulitan keuangan”.   Pak Salim menegaskan bahwa konsep bernama bangsa Indonesia ini dapat dirawat dengan semangat pluralisme yang kuat. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai agama, suku, yang sepakat membaurkan diri menjadi satu bangsa dan membentuk negara bernama Indonesia. Pluralisme dan semangat menerima perbedaan dapat merawat keutuhan konsep Indonesia ini.   Pak Salim membagi spirit semangat revolusi Prancis, dimana setelah adanya revolusi Prancis, gagasan rakyat menolak penindasan (baik oleh raja dan sebagainya) tumbuh dengan pesat. Gagasan menolak penindasan ini berujung pada lahirnya kedaulatan rakyat. Dimana rakyat memiliki kesadaran untuk tidak ditindas sehingga perlu untuk berdaulat. Kedaulatan rakyat inilah yang menjadi semangat dalam membangun demokrasi. Adanya kedaulatan rakyat yang melahirkan demokrasi, dapat berujung pada terciptanya kemakmuran sosial. Problematika kemiskinan haruslah terus perangi, dan hal tersebut sangatlah esensial menurut pak Salim. Karena, kemiskinan merupakan cerminan dari peradaban rendah. Jadi apabila ingin membangun peradaban yang maju, problematika kemiskinan haruslah diatasi.   Satu hal yang dapat disimpulkan dari diskusi ini adalah betapa besarnya konsep bernama bangsa Indonesia. Terbentuk melalui pemikiran dan perjuangan ribuan bahkan jutaan orang, dari dulu hingga sekarang. Sebagai pemuda yang akan menjadi ujung tombak masa depan bangsa, sudah sepatutnya kita menyadari bahwa konsep bangsa Indonesia ini memiliki akar historis yang kuat dan menjadi tugas kitalah untuk menjaga konsep ini hingga nantinya. Pak Salim mengingatkan, tugas generasi mudalah untuk terus merawat demokrasi dan menjaga pluralisme bangsa Indonesia. Dengan adanya dua hal tersebut, Indonesia emas 2045 tentu dapat diwujudkan.

Translate »
%d bloggers like this: