Spirit Bung Hatta: Bung, Ayo Bung!

“Spirit Bung Hatta: Bung, Ayo Bung!”

Penulis : Nurulita Andini & Murwendah Soedarno

 

PPI Belanda bekerja sama dengan PPI Leiden mengadakan acara diskusi dengan tema “Spirit Bung Hatta” pada Sabtu, 8 November 2014 bertempat di Viersthof, Leiden University. Diskusi ini dihadiri oleh tim pembuat film Bung Hatta, yaitu Erwin Fajar sebagai produser dan sutradara, serta Salman Aristo sebagai penulis skenario. Wildan Sena Utama, mahasiswa jurusan Sejarah dari Leiden University bertindak sebagai moderator dalam diskusi ini. Kehadiran tim tersebut di Belanda bertujuan untuk menggali informasi dan melakukan riset mendalam mengenai pergerakan Bung Hatta selama menjadi mahasiswa di Belanda. Lebih dari 50 peserta baik pelajar maupun pengamat sejarah turut hadir dalam diskusi ini.

 

Latar Belakang dan Tujuan Pembuatan Film Bung Hatta

Pembuatan film ini dilatarbelakangi oleh tenggelamnya sosok salah satu founding father Indonesia, yakni Bung Hatta. Banyak sekali pemikiran dan buku-buku Hatta yang menginspirasi, terutama logikanya yang masih relevan dengan kondisi saat ini. Selain itu, ada pula kesamaan kampung halaman antara Bung Hatta dan produser serta penulis skenario. Hal tersebut memberikan kesan tersendiri bagi produser dan penulis dalam pembuatan film ini.

Film ini direncanakan akan dirilis pada tahun 2015 dan proses shooting akan dimulai pada Februari 2015. Film ini bukan merupakan film dokumenter, tetapi lebih kepada feature film (Biopic) yang tetap menggunakan tingkat akurasi data yang tinggi. Proses riset sudah dilakukan selama 1 tahun belakang dengan beberapa narasumber di Indonesia, tetapi hal tersebut belum cukup. Oleh karena itu, riset dan kunjungan ke Belanda perlu dilakukan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kehidupan Hatta di Belanda.

 

Gambaran Umum Film Bung Hatta

Film tentang Bung Hatta akan memotret perjalanan hidup beliau pada tahun 1927-1949. Periode ini dipilih karena kehidupan sosok Bung Hatta dinilai mengalami dinamika yang menarik pada masa itu, proses perubahan beliau sebagai man of principle menjadi man of context.

Pola merekonstruksi sejarah melalui film memang menarik dilakukan karena akan ada kesempatan untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Interaksi antartokoh juga penting untuk dieksplor dari sudut konten interaksinya. Dalam film Bung Hatta, akan digambarkan pula bagaimana interaksi dan perbedaan ideologi antara Bung Hatta dan beberapa pahlawan nasional lainnya seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Amir Syarifudin.

Interaksi Bung Hatta dan Soekarno akan sangat terlihat, terutama dalam menyikapi perbedaan ideologi dan karakter yang mereka miliki. Kekuatan Hatta adalah diplomasi dan Soekarno adalah agitasi. Perbedaan karakter ini akan sangat terlihat dalam berbagai kesempatan. Soekarno mewakili perajut solidaritas karena memiliki kemampuan untuk menarik massa dan Hatta diklasifikasikan kepada administrasi karena kemampuannya untuk mengorganisasi pembangunan negara. Akan tetapi, dalam banyak hal Bung Hatta juga berperan sebagai solidarity maker, terutama saat Bung Hatta berdomisili di Belanda. Bung Hatta juga berperan dalam perkumpulan pelajar di Belanda dan berkontribusi dalam berbagai artikel dan propaganda di media Belanda. 1926 Hatta menjadi pemimpin di Perhimpunan Indonesia, dan pada saat itu pergerakan Hatta semakin berani bahkan mendapat perlawanan dari Pemerintah Hindia Belanda.

Dalam pembuatan film ini, akurasi konten sejarah sangat diperhatikan, setelah itu akan dipertimbangkan aspek bisnis lainnya. Perbedaan ideologi antara tokoh-tokoh dan pahlawan nasional adalah hal yang menarik dan dalam sejarah film Indonesia, perbedaan ini belum terlalu dieksplor dalam bentuk audiovisual.

Tahun 1927-1949 merupakan periode dimana Hatta tumbuh dan mulai percaya terhadap konsep kedaulatan dan menjadi latar belakang munculnya perbedaan ideologi dan sebagainya. Argumentasi cerita yang digunakan adalah dengan berani tumbuh maka kita dapat berdaulat. Fokus cerita yang diangkat adalah bagaimana dinamika prinsip yang dialami oleh Bung Hatta karena adanya perbedaan ideologi dan melalui proses itulah Bung Hatta tumbuh.

Tokoh pahlawan nasional seperti Bung Hatta juga tak pernah lepas dari dilema yang dihadapi, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Terkait hal tersebut, masih dipertimbangkan sisi mana yang akan ditampilkan dalam fim dan akan dipilih mana yang tepat dan sesuai dengan story argument film ini. Pada dasarnya, dilema Bung Hatta akan ditampilkan karena sikap pahlawan dibangun dari apa yang beliau korbankan. Keputusan yang diambil oleh seorang pahlawan juga yang menampilkan dilema itu sendiri.

 

Pesan Moral Film Bung Hatta

Pada dasarnya, sikap Bung Hatta lebih fokus kepada kedaulatan daripada kemerdekaan. Kemerdekaan itu berakhir pada 17 Agustus 1945, tetapi pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sudah berdaulat? Apa yang dibutuhkan untuk dapat berdaulat? Film ini akan menggunakan sudut pandang Bung Hatta dari aspek kedaulatan dan agar berbeda dengan film Soekarno.

Hatta memang berasal dari keluarga bangsawan, tetapi lebih memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak kehilangan integritas dan nasionalismenya. Ketika kuliah di Belanda, beliau memilih berkontribusi di pergerakan Perhimpunan Indonesia di Belanda yang merupakan sekumpulan mahasiswa Belanda yang notabene berasal dari kalangan menengah ke atas dan jauh dari rumah tetapi mereka memilih untuk menjadi radikal dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Slogan “Bung, Ayo Bung” ini mencerminkan dinamika pergerakan Hatta. Ada semangat keberanian, flamboyanisme, dan juga ada keinginan untuk tumbuh. Hatta Movement adalah suatu pergerakan yang dinamis dan inspratif bagi kaum muda.

Film ini diharapkan dapat merevitalisasi spirit Hatta. Nilai apa yang diajarkan oleh Hatta sangat relevan dengan kondisi saat ini. Dalam film ini, isu koperasi tidak tidak diangkat dalam tetapi film ini diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai untuk meneladani konsep koperasi yang dicetuskan oleh Bung Hatta

Menurut Gunawan Muhammad, Hatta bukan penyendiri, tetapi ideologinya adalah ideologi orang banyak, meskipun ideologinya berbeda dengan dimilikinya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya konsep federalisme meskipun Hatta tidak pernah memaksakan hal tersebut. Bung Hatta meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang dinamis, sehingga dibutuhkan semangat untuk tumbuh, untuk berjalan seiringan dengan dinamika tersebut.

Semoga sikap dan perjalanan hidup Bung Hatta dapat menyentuh pemikiran dan hati kita semua, apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa Indonesia? Seorang pahlawan bukan hidup karena ia dikenal tentang siapa pahlawan itu, tetapi karena apa yang ia berikan untuk bangsa dan negaranya, Hal tersebut diharapkan dapat terefleksikan dengan baik dalam film Bung Hatta. Semoga.

Translate »
%d bloggers like this: