Lingkar Inspirasi #2 – Transformasi Bojonegoro: Mengubah Wajah Kemiskinan Melalui Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan

Pada hari Kamis, 30 November 2017, PPI Belanda bersama dengan PPI Rotterdam kembali menyelenggarakan acara Lingkar Inspirasi yang bertempat di Theil Building, Erasmus University Rotterdam (EUR) Campus Woudestein, Belanda Lingkar Inspirasi kali ini menghadirkan seorang tokoh spesial yaitu Bupati Bojonegoro, Bapak Suyoto. Beliau adalah Bupati Bojonegoro untuk dua periode kepemimpinan yaitu tahun 2008-2013 dan 2013-2018. Sebelum menjadi bupati, beliau adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik di Jawa Timur.

Acara lingkar Inspirasi kali ini dimoderatori oleh M. Luqmanul Hakim, dari PPI Rotterdam. Acara dibuka dengan diskusi antara peserta mengenai potensi migas di Bojonegoro yang dibahas dari sisi ekonomi, regulasi, dan masyarakatnya. Setelah itu, acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Sekretaris Jenderal PPI Belanda, Yance Arizona. Dalam sambutannya, Yance memaparkan beberapa prestasi Bapak Yoto yang salah satunya adalah dinobatkan sebagai 10 kepala daerah teladan versi Tempo. Yance juga mengulas beberapa potensi Bojonegoro baik dalam bidang migas maupun bidang lainnya seperti pertanian, serta bagaimana Bojonegoro mampu menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Di akhir sambutannya, Yance mengungkapkan harapannya agar acara lingkar inspirasi ini dapat menebarkan ilmu dan semangat kepada mahasiswa Indonesia, dan tentunya semakin meningkatkan kerjasama antara PPI Belanda dengan PPI kota. Dalam kepengurusan PPI Belanda di bawah kepemimpinannya saat ini, Yance menegaskan bahwa ia ingin membentuk kelompok keilmuan yang dapat menghubungkan mahasiswa Indonesia dari berbagai kota di Belanda.

Diskusi Mahasiswa Tentang Potensi Migas di Bojonegoro

Sambutan dari Sekjend PPI Belanda, Yance Arizona

Kemudian, acara dilanjutkan dengan acara inti, yaitu materi dari Bapak Yoto. Sebagai pembuka, beliau menceritakan pengalamannya dalam memimpin Bojonegoro yang penuh dengan tantangan. Beliau berpesan bahwa semakin sulit masalah yang kita hadapi, maka semakin baik untuk diambil sebagai bahan pembelajaran. Beliau juga memberikan sebuah quote yang cukup menarik, yaitu “There are no poor regions, but there are only mismanaged regions”. Dalam hal ini, beliau meyakini bahwa semua daerah miskin sebenarnya memiliki potensi untuk maju jika dikelola dengan lebih baik.

Dalam penjelasannya, beliau tidak hanya menyajikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan, namun juga memberikan beberapa pandanganya terkait hal tersebut. Dengan melimpahnya sumber daya alam (SDA) di Indonesia, banyak pihak yang menilai bahwa Indonesia adalah negara kaya. Namun menurut Bapak Yoto, hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, karena dengan karunia SDA tersebut, masyarakat justru menjadi konsumtif dan kurang produktif. Mindset yang salah mengenai SDA ini diperparah dengan beberapa masalah lain yang hingga kini masih dihadapi bangsa kita, seperti partisipasi masyarakat dalam membayar pajak masih terbilang rendah dan buruknya infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia.

Tak dapat dipungkiri, saat ini pembangunan wilayah di Indonesia masih terpusat untuk daerah perkotaan, sementara pembangunan berbagai daerah pedesaan masih baru gencar di mulai. Oleh karena itu, tak mengherankan bahwa banyak masyarakat yang memilih tinggal di daerah perkotaan dengan alasan infrastruktur yang lebih baik. Di bawah kepemimpinannya, Bapak Yoto berusaha untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota, serta mengubah Bojonegoro yang dahulu merupakan salah satu daerah termiskin di Jawa menjadi salah satu daerah yang berhasil keluar dari belenggu kemiskinan dan sedang terus melakukan transformasi.

Bapak Yoto Saat Membagikan Pengalamannya

Suasana Saat Acara Berlangsung

Bapak Yoto memaparkan lima program utama yang dijalankan selama kepemimpinannya, yaitu perbaikan jalan, infrastruktur pertanian, kesehatan, pendidikan, serta menerapkan demokrasi sebagai bagian dari proses birokrasi. Dengan anggaran yang terbatas, beliau berusaha untuk terus menjalankan kelima fokus program tersebut dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memaksimalkan potensi alam yang dimiliki Bojonegoro. Potensi-potensi tersebut, antara lain di bidang kehutanan (khususnya komoditas jati), sumber daya air (waduk), 78 ribu hektar lahan pertanian, dan cadangan migas.

Meskipun demikian, Bapak Yoto mengingatkan bahwa semua potensi alam tersebut dapat berubah menjadi bumerang bagi masyarakatnya. Beliau menyebut paradoks SDA, dimana eksploitasi SDA selalu memberikan dampak negatif, yaitu kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan daya tahan yang rendah terhadap kohesi sosial dan pemerintahan. Selain itu, keberadaan SDA tersebut memicu korupsi dan mental lemah masyarakat. Masyarakat akan menjadi kurang produktif dan enggan bekerja keras karena merasa sudah memiliki sumberdaya alam yang melimpah.

Tidak ingin hal tersebut terjadi, Bapak Yoto telah merancang beberapa skenario dalam program kerjanya. Beliau menitikberatkan fokus pembangunan pada SDM, infrastruktur, dan pengembangan dana abadi. Pendidikan menjadi pilar terdepan, dimana beliau ingin lebih banyak generasi muda Bojonegoro yang mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Terlebih lagi, beliau ingin masyarakat Bojonegoro lebih produktif dengan cara memanfaatkan potensi alam yang ada dengan cara lebih bijaksana. Dalam pembangunan infrastruktur, beliau mencoba untuk meratakan pembangunan di desa dan di kota. Salah satu hal yang unik dari Bojonegoro dan belum pernah ada di wilayah lain di Jawa Timur adalah bahwa kabupaten ini memiliki konsep “desa rasa kota, kota rasa desa”. Terkait sumberdaya migas di daerahnya, Bapak Yoto menyebutkan bahwa ada tiga kebijakan strategis untuk mengelolanya, yaitu SDM dan modal sosial, infrastruktur yang relevan, dan keberlanjutan fiskal.

Usaha Bapak Yoto menerapkan program-program kerjanya kini membuahkan hasil. Angka kemiskinan dan pengangguran di Bojonegoro menurun sejak 2013 hingga saat ini. Terlebih lagi, Bojonegoro pernah dinobatkan menjadi salah satu dari 10 kabupaten di Indonesia yang bertransformasi secara cepat dari daerah miskin menjadi daerah maju. Sebagai kesimpulan, beliau memberikan dua pesan yang dapat dipelajari dari Bojonegoro, yaitu bahwa sangat penting untuk meyakinkan masyarakat agar mereka menjadi percaya diri dengan kemampuannya dan menekankan pentingnya masyarakat sebagai sumber kekuatan pemerintah yang sebenarnya. Menurut Bapak Yoto, masyarakat yang terdidik dan produktif merupakan penentu kemajuan sebuah daerah. Oleh karenanya, dalam kepemimpinannya, Bapak Yoto membangun sistem komunikasi dengan masyarakat berbasis teknologi informasi untuk memudahkan proses monitoring terkait pelayanan publik, e-governance, dan komunikasi dengan masyarakat lokal Bojonegoro.

Suasana Saat Acara Berlangsung (2)

Pemberian Kenang-kenangan oleh Sekjend PPI Belanda

Sebagai penutup, beliau menyebutkan The Spirit of Bojonegoro, yang berbunyi: “Unstable land, floods, droughts, poor resources, and limitations are Bojonegoro destiny. But, God gives us much greater strength, potentials, mind, intentions, aspirations, and spirit. We can surely overcome the challenges of living and progressing into healthy, productive, and happy human beings. Do not ever dwell that life is hard, never complaint when others do not care about us (Jer Karta Raharja Mawa Karya)”.

Setelah itu, acara ini diisi dengan sesi pertanyaan dan diskusi dengan para peserta yang hadir. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembagian kenang-kenangan oleh Yance Arizona kepada Bapak Yoto dan sesi foto bersama seluruh panitia dan peserta.

Di penghujung acara, moderator menyampaikan puisi yang menyentuh sebagai penutup. Berikut ini merupakan syair puisinya.

Indonesia memang gudang masalah

Karena itulah saat ini kita singgah

Di sebuah negeri antah berantah

Yang dulu disebut-sebut sebagai penjajah

Bukan berarti ibu pertiwi tidak merindukan kita

Setiap waktu selalu diterpa gejolak dan dilema

Apakah kita tega?

Kembalilah pulang, bantu menyelesaikan masalah negara kita, Indonesia!

Sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia

Narasi: Rivandi Pranandita Putra

Editor: Nofalia Nurfitriani

Foto: Tim Dokumentasi PPI Rotterdam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: