Kutunaikan Janji ini padamu, Ibu..

Oleh Maulin Hidayah

IMG_8836

mahasiswa Master of Environmental and Energy Management, University of Twente, The Netherlands, penerima beasiswa LPDP RI

“Bu, nanti boleh nggak aku kuliah di luar negeri?” ujarku pada ibu yang pada saat itu sedang mengantarkan kakak sulungku ke sebuah Universitas di bilangan Depok, Jawa Barat 15 tahun yang lalu.

“Boleh donk nak, malah harus.. harus dapet beasiswa biar ayah dan ibu tidak pusing memikirkan biayanya..” Jawab ibu penuh senyum.

Aku yang saat itu masih duduk di bangku SD hanya menganggap percakapan itu sebagai percakapan antara ibu yang merespon cita-cita anaknya dengan penuh kasih sayang.

Lulus SMA dengan perasaan gamang, lembar SPMB pun aku isi seadanya, pilihan pertama dan kedua masing-masing di Depok dan Bandung. Maksud hati ingin sekali keterima di pilihan pertama namun apa daya Tuhan menggariskan aku untuk terperosok di pilihan kedua. Tanpa bermaksud untuk menjadi anak durhaka, aku ingin sekali mengambil kesempatan itu, namun rasanya hati ini belum sanggup meninggalkan ayah sendirian. Dengan berat hati, kukubur impianku untuk kuliah di kampus negeri dan berjibaku dengan beragam pilihan kampus-kampus swasta di Jakarta.

Bukan berarti aku tidak bangga dengan pilihan kampusku, walaupun aku agak kaget dengan gaya hidup yang hedonis dan borjuis, banyak pengalaman berharga lain yang bisa aku pelajari. Mulai dari senioritas yang agak “keras” di Fakultas Teknik, hingga dosen yang sangat ajaib. Hanya saja, aku berusaha fokus dengan apa yang ingin aku capai tanpa terganggu hal-hal yang menurutku tak penting.

Salah satu hal yang menurutku penting adalah jejaring, baik itu rekanan sebaya, senior maupun alumni.  Berbagai macam penculikan pernah aku alami, sampai kepada sebuah “penculikan” oleh salah seorang senior yang juga mantan ketua PPI Deventer, Belanda memperkenalkanku kepada sebuah beasiswa asli dari negeri sendiri, yaitu beasiswa LPDP. Beasiswa asuhan tiga kementerian ini sanggup mewujudkan mimpi setiap putra-putri terbaik bangsa. Dengan tekad dan kesungguhan yang bulat, aku mulai berburu tips dan trik mendapatkan beasiswa, waktu senggang di kantor aku gunakan untuk terus mencari informasi tentang beasiswa. Sembari mempersiapkan segala dokumen untuk LPDP, aku juga mendaftar ke berbagai jenis beasiswa dan kampus, mulai dari Orange Tulip Scholarsip, Erasmus Mundus Scholarship, Unimelb Scholarship, University of Twente, hingga Cranfield University Scholarship. Sebelumnya, aku tidak pernah senekat ini menebar aplikasi dimana-mana, sampai seseorang berkata

lebih baik pusing karena kebanyakan diterima aplikasinya  daripada pusing aplikasi beasiswanya gak ada yang diterima..”

Oke, sebuah tamparan untukku yang kala itu mulai kelabakan dengan tumpukan dokumen yang mana harus dikirim ke siapa, belum lagi atasanku tahu bahwa aku “mencuri” waktu senggang dengan memanfaatkan fasilitas kantor untuk ngeprint, komunikasi via skype dan lain sebagainya. Sudah dari awal aku sampaikan kepada beliau bahwa memang aku ingin melanjutkan studi di luar negeri, jadi akan ada kemungkinan aku tidak bisa menetap lama di perusahaan tersebut. Bak gayung bersambut, beliau malah merekomendasikan aku pada sebuah program International Master Executive-Eau pour Tous. Namun setelah semua aplikasi aku kirim, ternyata aku gagal lolos seleksi, entah mengapa, bisa jadi karena program tersebut mensyaratkan jabatan tertentu atau usiaku yg masih terlalu muda pada saat itu.

Kegiatan rutin kantor masih tetap aku jalani, inspeksi dan survey lapangan, membuat laporan, mengolah data serta menghadiri rapat mingguan. Awal April 2013, email dari seseorang dengan judul “Undangan Peserta Interview Beasiswa LPDP” muncul dalam Inbox ku. Aku terdiam beberapa detik kemudian memberanikan diri membukanya. Sebuah lampiran dan informasi yang tertulis di badan email membuatku mengerutkan dahi sembari berkata

Ini seriusan?”

Melihat isi email dan lampirannya, memang sangat meyakinkan, kop surat Kementerian Keuangan lengkap dengan tanda tangan direktur utamanya. Sontak aku langsung berkoordinasi dengan rekan-rekan yang namanya tertera disitu dan menanyakan mengenai hal ini. Tidak berapa lama, nomor tak dikenal masuk ke hpku, ternyata dari kementerian keuangan yang ingin mengundang “kembali” jikalau undangan via email tidak sampai atau belum terbaca. Setelah percakapan via telepon selesai, aku buru-buru mengecek nomer yang baru saja menelepon dan syukurlah itu bukan penipuan, nomor tersebut memang nomor telepon resmi Kantor Kementerian Keuangan.

Hari wawancara pun tiba, kujejaki Gedung AA Maramis yang kala itu masih bau cat dan lem parket yang masih basah. Aku tiba 30 menit sebelum wawancara dimulai,persis seperti apa yang disarankan di dalam surat undangan tersebut. Tidak berapa lama kemudian rekan-rekan lain mulai berdatangan, ada yang berangkat subuh dari Bandung bahkan ada yang naik pesawat langsung dari Solo. Proses wawancara Alhamdulillah kulalui dengan lancar walaupun salah satu direktur mengira bahwa aku menangis pada saat diwawancara, padahal sinusitisku kambuh karena ruangan wawancara yang sangat dingin, hehehe..

Selang sebulan sejak proses wawancara, pengumuman penerimaan beasiswa pun keluar, kembali aku mendapatkan email dari orang yang sama yang mewajibkan aku mengikuti program pengayaan dan kepemimpinan sebelum sah dinyatakan menjadi penerima beasiswa. Buru-buru aku lari ke ruang locker kantor dan melakukan sujud syukur setelahnya. Surat pengunduran diri langsung kubuat dan tak lupa berbicara secara informal terlebih dahulu kepada atasanku. Tepat akhir mei 2013 aku mengundurkan diri dan awal Juni aku mengikuti program pengayaan selama 10 hari.

Program pengayaan tersebut betul-betul membekas dihati dan pikiranku, bagaimana tidak, sepuluh hari bersama rekan-rekan dahsyat yang memiliki semangat belajar tanpa henti, serta pemateri yang sangat hebat kontribusinya untuk bangsa ini. Aku merasa beruntung dan bahagia bahwa Indonesia masih punya banyak putra-putri daerah yang tidak perlu ditanya lagi kecintaannya akan Negara. Terlebih lagi, beasiswa ini murni dari Indonesia, jadi ada rasa bangga dan haru bahwa bangsa ini berani menginvestasikan pendapatan negaranya kepada anak-anak yang memiliki kemampuan untuk menuntut ilmu dan mengharumkan nama Indonesia di Luar Negeri.

Siapa sangka aku akan dibawa makan malam besar bersama salah satu direktur Bank ternama di Indonesia, kemudian melangkah pergi ke kaki gunung Salak dan lalu menetap di sebuah kapal perang? Itulah kegiatan yang aku lakukan dalam program pengayaan LPDP angkatan 1, walaupun kami cenderung lebih sedikit dari angkatan-angkatan berikutnya, semoga semangat dan kontribusi nyata kami senantiasa diterima oleh Negara. Ada banyak sekali pelajaran yang diperoleh para pengenyam program pengayaan di setiap kegiatan tersebut, bukan hanya kita mampu bersikap bagaimana jika suatu saat kita akan menjadi “orang besar” dengan segala ke-eksklusifitasan-nya, namun pengayaan tersebut membuka mata kita bahwa Indonesia lebih luas dari sekedar makan malam di hotel berbintang dan lebih indah dari sekedar naik bus dan dikawal voreijder.

Perjalanan ke gunung salak naik tronton, menginap di tenda yang kebocoran bersama 8 orang, terpeleset dan jatuh berdarah ketika mendaki, hidup tanpa akses sanitasi yang bersih dan layak, kerelaan berbagi makanan dan minuman, serta perjalanan laut yang membuat kita merasakan hidup ditengah laut dengan akomodasi serba berkecukupan, bertukar cerita dengan para awak kapal, tentang bagaimana mereka membunuh rasa bosan dan kangen, semua momen itu sangat berharga, tidak semua orang bisa mendapatkannya. LPDP hadir memberi warna baru dalam memberikan pelajaran tentang kehidupan, bahwa sejatinya pemimpin harus bisa bertahan dalam kondisi apapun, tidak diperkenankan untuk sombong ketika sudah berhasil dan tidak boleh putus asa jika memang harus berusaha lebih lagi. Sungguh, makna hidup akan bisa diambil ketika kita tidak banyak menuntut dan bersyukur sambil terus mengusahakan yang terbaik.

Sekarang, aku di sini, di ujung utara Belanda, Ibukota provinsi Fryslan, sedang menempuh studi Master, menunaikan janji suci untuk ibuku, semoga beliau bahagia disana bahwa sekarang percakapan biasa saja itu telah menjadi sebuah kenyataan.

 

Leeuwarden, 19 Maret 2014

Penulis adalah mahasiswa Master of Environmental and Energy Management, University of Twente, The Netherlands, penerima beasiswa LPDP RI.

Translate »
%d bloggers like this: