Kuliah di TU Eindhoven: Kuartil Pertama

Ditulis oleh: Aries Thio Gunawan

Sudah cukup lama saya tidak meng-update blog saya ini. Dan tidak terasa sudah hampir 4 bulan saya tinggal di negara kincir angin, The Netherland. Masih segar memori di otak ini saat pertama kali mendarat di kota Amsterdam pada tanggal 6 Agustus 2015 pagi harinya. Sendirian terbang dari Jakarta menempuh perjalanan sejauh 11.354 km selama 18.9 jam. Ada perasaan takut, cemas, dan sekaligus excited. Dengan tetap berpikiran positif dan juga ‘masa bodoh’, akhirnya semua itu terlewati dan ternyata saya masih survive.

O ya, tujuan saya ke Belanda adalah untuk melanjutkan studi S2 saya di Universiteit Technische Eindhoven di bidang Embedded System. Di post kali ini, saya sebenarnya ingin ‘curhat’ sih tentang rasanya kuliah di institut teknologi top di Belanda ini. Mana tau, pengalaman saya ini bakal berguna bagi yang sedang mencari informasi universitas untuk studi S2 atau bagi yang akan melanjutkan studinya di sini.

 

1

 

Bahasa Inggris kok tapi…. Semua kegiatan perkuliahan menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan bahasa inggris dosen-dosennya dan staf-staf sangat bagus dan mudah dimengerti. Jadi tenang saja kalau tidak punya latar belakang bahasa belanda, masih bisa survive kok di kampus. Walaupun kegiatan formal menggunakan bahasa inggris, kamu gak bakal dapat info yang banyak kalau tidak belajar bahasa belanda. Biasanya pengumuman-pengumuman kegiatan kemahasiswaan dalam bahasa belanda. Sayang kan kalau ketinggalan momen-momen bagus hanya karena tidak ngerti bahasa mereka. Jadi, saran saya walaupun orang-orang ini jago bicara bahasa inggris, tetap belajar bahasa belanda. Lebih bagus kalau belajar bahasa belandanya sebelum tiba ke Belanda.

Sistem kuliah per kuartil. Yang paling berbeda sih adalah perkuliahannya dilakukan per kuartil. Semua mata kuliah dengan bobotnya yang 5 ECTS itu harus selesai dalam waktu 1 kuartil (sekitar 3 bulan). Bayangin coba kamu dituntut untuk langsung ‘benar-benar belajar’ pada minggu pertama kelasmu. Tugas-tugas dan projek akhir langsung diumumin dan langsung buat kelompok kerja. Orang belanda tuh hidup pake planning banget. Makanya jadwal-jadwal deadline langsung diumumin juga. Di saat yang sama juga, kamu harus memperhitungkan kapan ujiannya dan kapan harus mengumpulin tugas. Salah persiapan dan salah planning, bakal amburadullah perkuliahanmu dan mungkin hidupmu selama 2 tahun ke depan. ?

Adapaun sistem perkuliahan di Indonesia menggunakan sistem semesteran. Hidup mahasiswa di Indonesia lebih santai, biasanya sibuk saat beberapa bulan menjelang ujian. Bulan-bulan pertama santai banget. Alhasil, saya kerepotan banget menjalani kuartil pertama kuliah saya di Tu/e. Selain harus belajar dan ngerjain tugas, di saat yang sama juga harus memikirkan tentang masak, cuci pakaian, bersihin kamar, dan lain sebagainya. Planning saja tidak cukup, kita dituntut untuk kasih komitmen penuh melaksanakannya. Gaya belajar dan bekerja yang dipakai di Indonesia ga bisa lagi diterapkan di sini. Gak bakal bisa survive (sebenarnya tergantung orangnya juga sih..).

Standar yang tinggi. Kalau dulu waktu kuliah S1, tugas biasanya dinilai berdasarkan hasil akhir dan kesimpulan. Bermodalkan mindset ‘yang penting selesai’ saja mungkin kita sudah bisa mendapatkan nilai bagus. Pola pikir yang sama kalau diterapkan di sini, kayaknya susah deh untuk dapat nilai bagus, apalagi kalau untuk mengerjakan tugas essay. Untuk tugas essay, konten dari tulisan kita sangat diperhatikan, bahkan sampai level terekstrim yaitu kata per kata. Kesalahan kecil bakal dapat ditemukan. Analisis dan argumen kita bakal diperhatikan dan apakah masuk akal atau tidak. Jadi, kalau harus nulis-nulis gak jelas dan tidak ada argumen, alhasil susah dapat nilai bagus. Tulisan bisa panjang, tapi kalau kontennya dan inti dari tulisan itu tidak jelas, ya gak dapat poin.

Dosennya baik. Bukan baik kasih nilai ya. Kalau sama nilai sih, dosen bakal objektif banget. Yang saya maksud baik itu adalah dosen bakal selalu meluangkan waktu untuk murid-muridnya kalau mereka ada masalah atau pertanyaan tentang materi kuliah. Walaupun sudah dijelaskan saat di kelas, mereka dengan senang hati menjelaskan lagi kok. Itu enaknya kalau dosen-dosen di sini, gampang dapat feedback.

Ujiannya closed-book dan teori kebanyakn. Untuk semua mata kuliah yang saya ambil di kuartil ini, ujiannya semuanya closed-book dan soal ujiannya berhubungan dengan fakta dan konsep. Sistem ujian ini berbeda sekali dengan yang saya jalanin waktu kuliah S1 di ITB. Ujian di ITB lebih banyak berhubungan dengan pemecahan suatu masalah daripada definisi-definisi, analisis perbedaan dan persamaan. Kalaupun tentang teori-teori, biasanya sihopen-book. Sepertinya, sks (sistem kebut semalam) tidak dapat dipakai di sini. Soalnya dituntut untuk hafal dan paham juga.

Mahasiswa belandanya pintar-pintar dan kritis.  Ada satu mata kuliah di kuartil pertama ini yang berhubungan dengan formal method, artinya mendeskripsikan suatu sistem dengan matematika dan memverifikasi model tersebut secara matematika juga. Waktu saya ikutin kelas, kebanyakan saya tidak mengerti apa sih yang diajarkan dosen. Banyak simbol-simbol aneh, teorema, lemma, pembuktian, dan hal-hal lain yang tidak familiar. Yang bikin kecil hati adalah mahasiswa belandanya bisa mengerti apa yang diajarkan dan bisa memberi pertanyaan yang berbobot. Cuma ada tiga kemungkinan, yaitu antara saya yang bodoh atau mereka yang pintar atau dua-duanya. Mungkin saya terlalu men-generalisir tapi anggap sajalah ini sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik.

Mau dapat nilai 10? Nilai maksimum di Belanda adalah 10. Mungkin tidak mendapatkan nilai 10? Jawabannya mungkin saja tapi kalau dikonversi ke sistem IP dengan skala 4, nilai A itu cuma setara dengan 8. Jadi nilai 10 itu setara dengan A++ (uitsteken). Jarang yang bisa mendapatkan nilai 10. Hanya yang benar-benar brilian yang bisa mendapatkan ini.

Perpustakaannya ramai. Beda jauh lah sama yang ada di ITB. Walaupun orang belanda terkenal jago menikmati hidup, kalau urusan belajar mereka tetap rajin buat ke perpustakaan kok. Bukan untuk main-main atau hangout ama teman-teman, tapi buat kerjain tugas dan belajar. Ini sebenarnya juga terlalu mengenalisir. Masih ada kok sebenarnya yang di perpus main Dota atau CS. Tapi yang saya salut adalah banyak dari mereka yang kalau kerja ya kerja, kalau main ya main.

Disclaimer buat yang membaca post ini. Poin-poin ini adalah beberapa hal yang saya rasakan selama kuartil pertama kuliah saya. Mungkin ini cuma berlaku di jurusan saya, Embedded System. Dengar-dengar cerita dari beberapa teman dan senior sih, memang kuliah di jurusan ini berat. Jurusan lain mungkin tidak memberikan tekanan setinggi jurusan saya. Bahkan student advisor nya sendiri mengatakan kurikulum Embedded system tidak didesain untuk dapat selesai selama 2 tahun. Aneh tapi ini fakta, karena tidak ada batasan harus lulus dalam waktu 2 tahun untuk mendapatkan gelar s2. Makanya mahasiswa belandanya bisa belajar serius dan tetap have fun. Tidak ada tekanan untuk lulus tepat waktu sih.

Semoga informasi ini bermanfaat. Ingat, jangan terlalu percaya dan lebih baik merasakan sendiri. Pengalaman-pengalaman inilah yang bisa mengubah cara kerjamu menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: