KOPI Delft – Pembangunan Ketahanan Air, Energi dan Pangan (AEP) Nasional Berbasis Lokal dengan Pendekatan ‘Nexus’ & Model Sistem Dinamik

Pembangunan Ketahanan Air, Energi dan Pangan (AEP) Nasional Berbasis Lokal

dengan Pendekatan ‘Nexus’ & Model Sistem Dinamik

(Studi Kasus di Kabupaten Karawang, Jawa Barat)

Oleh PPI Delft

Delft – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (PPI Delft) kembali melakukan diskusi rutin pada tanggal 9 Juni 2017 dalam kegiatannya yang bernama Kolokium Pelajar Indonesia (KOPI) Delft mengenai isu terkait Indonesia yang bertemakan pengelolaan dan pembangunan ketahanan air, energi dan pangan nasional berbasis lokal. Diskusi ini dimulai dengan sesi pemaparan oleh Aries Purwanto, seorang mahasiswa program doctoral IHE Delft Institute for Water Education. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab oleh para peserta.

Air, energi dan pangan (AEP) adalah sektor yang sangat mendasar serta tidak dapat tergantikan perannya dalam menunjang kehidupan bukan hanya manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Pengelolaan dan penanganan yang baik terhadap tiga sektor tersebut sangatlah dibutuhkan demi terciptanya ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), dan kualitas (quality) yang baik. Ketiga aspek ketahanan tersebut harus diwujudkan melalui sebuah tahapan yang terintegrasi satu sama lain dengan tetap memperhatikan keterkaitannya (interlinkages).

Bagi Indonesia yang saat ini terdiri dari 34 provinsi, 416 kabupaten, dan 98 kota dan telah menerapkan sistem desentralisasi, tentunya bukanlah hal yang mudah untuk membangun ketahanan AEP di seluruh penjuru wilayah tanah air. Menurut data, Indonesia masih menempati peringkat 14 dari 28 negara Asia Pasifik dalam hal Water Security Index (IWMI, 2015), skor 5.82 dari 10 (Low Level) dalam hal Ketahanan Energi (DEN, 2014), dan peringkat 74 dari 109 negara dalam hal Ketahanan Pangan (GFSI, 2015). Hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu banyak berbenah menuju terciptanya ketahanan AEP yang berkeadilan. Adanya mismanajemen sumber daya, kurangnya koordinasi, serta tumpang tindih kewenangan antar sektor dan tingkatan, disinyalir menjadi salah satu penyebab inefektifitas pencapaian target ketahanan AEP tersebut.

Dalam penelitian yang sedang didalaminya, Sdr. Aries Purwanto menawarkan sebuah framework sistem dinamik dengan pendekatan ‘Nexus’ yang memadukan antara manajemen dan governance. Framework tersebut diharapkan nantinya mampu menciptakan integrasi dan keterkaitan antar ketiga sector, sehingga mismanajemen dan tumpang tindih kewenangan di tingkat pusat dan daerah dapat semakin berkurang. Menurutnya, diperlukan pula adanya sebuah rencana jangka panjang berkesinambungan sehingga pergantian pemerintahan baik di tingkat daerah maupun pusat tidak serta merta merubah rencana pembangunan dan pengelolaan ketahanan AEP yang telah ditetapkan.

Hasil diskusi pada kegiatan KOPI Delft ini diharapkan dapat menjadi sebuah program dan sumbangsih yang nyata untuk pembangunan Indonesia kedepannya. Oleh karena itu, bagi yang tertarik lebih jauh mengenai program dan penelitian tersebut, silahkan menghubungi Sdr. Aries Purwanto melalui surat elektronik berikut aries.thea@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: