KOPI DELFT – Menggali penggunaan teknologi informasi dalam rangka meningkatkan competitive index Indonesia di sektor pendidikan

whatsapp-image-2017-01-18-at-10-13-47-1024x768

Gali Penggunaan Teknologi Informasi untuk Peningkatan Competitive Index Indonesia di Sektor Pendidikan

Oleh PPI Delft

Delft – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (PPI Delft) kembali mengajak anggotanya untuk berdiskusi pada tanggal 13 Januari 2017 tentang isu terkait Indonesia. Tema yang diangkat kali ini adalah kesiapan Indonesia untuk memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam segi pendidikan. Diskusi ini dibuka dengan sesi pemaparan tentang MEA dan kondisi Indonesia di era MEA yang dibawakan oleh Agung Wahyudi, mahasiswa program doktoral pada fakultas Technology Policy Management, Technische Universiteit Delft (TU Delft). Presentasi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi oleh para peserta untuk merekomendasikan solusi yang bisa ditawarkan untuk Indonesia.

Untuk mengukur kesiapan Indonesia dalam mengahadapi MEA, Indeks Kompetitif Umum (GCI) yang bersumber dari World Economic Forum digunakan sebagai acuan. GCI terdiri dari 12 kompetitif pilar yang digunakan untuk membandingkan kesiapan Indonesia dengan negara lain. Indonesia memiliki GCI yang sedikit di atas rata-rata negara ASEAN, namun masih tertinggal dari beberapa negara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand di sebagian besar pilar kompetitif.

Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM), yang tercermin dari pilar Kesehatan dan Pendidikan Dasar serta pilar Pendidikan Tinggi, Indonesia masih tertinggal dari Thailand, Malaysia, dan Singapura. Hal serupa juga terjadi di Human Development Index (HDI) Indonesia dibandingkan negara ASEAN lain. Namun, HDI Indonesia telah meningkat secara signifikan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir seiring dengan pertambahan jumlah anggaran pendidikan. Sayangnya, dari segi keterampilan SDM (PIACC), Indonesia masih masih memiliki skor literacy dan numeracy yang rendah.

Melihat lebih dalam lagi, dijabarkan juga kondisi di dalam negeri Indonesia yang mengakibatkan munculnya peringkat Indonesia yang sebelumnya didiskusikan. Tidak meratanya HDI per Kabupaten/Kota di Indonesia, banyak prasanara yang tidak menunjang, tidak efisiennya rasio siswa dan guru, serta masih banyak nilai Ujian Nasional (UN) yang di bawah rata-rata adalah hal-hal yang harus dibenahi untuk menaikkan tingkat kompetitif Indonesia. Terutama dilakukannya pemerataan di seluruh wilayah Indonesia agar tingkat kompetitif tidak terpusat pada suatu wilayah saja.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh saudara Agung adalah penggunaan Information and Communication Technology (ICT) sebagai enabler perubahan. Teknologi pita lebar harus digelar ke seluruh Indonesia sehingga memudahkan akses informasi. Dengan mudahnya akses informasi, teknologi berupa Massive Open Online Course (MOOC) dapat dikembangkan sehingga mempermudah akademisi untuk saling berbagi ilmu ke khalayak ramai. Selain itu, peranan aktif masyarakat dalam membangun database, baik berbentuk bank soal ataupun kumpulan bahasa daerah, dapat menjadi katalis penerimaan informasi yang baik di daerah-daerah.

Tentu saja penggunaan ICT sebagai enabler tidak semerta merta dapat terjadi. Hal itu diakibatkan masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya, ketimpangan perkembangan infrastruktur antar daerah dan juga pelatihan penggunaan teknologi ICT agar tidak keluar dari tujuan awal. Maka dari itu, ada beberapa masukan dari beberapa peserta disksui. Untuk menjembatani perbedaan kualitas guru, skema pertukaran guru dapat diberlakukan agar para pendidik dapat mendapatkan dan berbagi pengalaman baru, sehingga ICT dapat diterapkan pada sekolah-sekolah di daerah terpencil sekalipun. Selain itu, yang paling penting, pendidikan dapat dibangun dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga. Peranan orang tua penting dalam memupuk generasi selanjutnya yang lebih kompetitif, sehingga diharapkan Pemerintah dapat memberikan informasi yang berguna kepada orang tua. Juga, peranan mahasiswa di bidangnya masing-masing dapat dimaksimalkan dengan memberlakukan solusi Kuliah Kerja Nyata (KKN) terarah ke daerah-daerah tujuan sesuai bidang tersebut.

Hasil dari diskusi ilmiah ini diharapkan menjadi program yang nyata.
Untuk itu, bagi yang tertarik untuk terlibat dalam program ini, silakan menghubungi Sdr. Agung Wahyudi melalui email berikut agung.wahyudi@gmail.com. Keberjalanan diskusi pun dapat disimak melalui tautan Youtube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=BF3d-NYp7ng

2 comments

  1. Salam.

    Admin, saya beberapa waktu yang lalu membaca mengenai artikel “KOPI DELFT – Menggali penggunaan teknologi informasi dalam rangka meningkatkan competitive index Indonesia di sektor pendidikan”. Bagus sekali. Saya juga menonton video Youtube melalui tautan https://www.youtube.com/watch?v=BF3d-NYp7ng saran untuk videonya, 20 menit pertama tampaknya perlu disunting dulu (baru di menit ke-20 acara diskusinya bisa saya mengerti, maafkan).

    Terima kasih. Sukses selalu untuk pejuang Indonesia di Belanda!

  2. Предлагаю услуги слесаря-сантехника в СПб, выполняю работы по замене или ремонту смесителей, сифонов, фановых труб, монтажу-демонтажу унитазов, ванн, болеров и многое другое. Выезд на объект, только в районе Санкт-Петербурга. Ценовая политика очень гибкая, т.к. работаю без посредников. Если работы немного, и за час управлюсь – то попрошу 500 рублей… если заказ объемный, то договариваемся с заказчиком. Также, выполняю разводку труб горячего и холодного водоснабжения по квартире (металлопластик или полипропилен, на выбор заказчика). Звоните, не стесняйтесь, стоимость моих услуг не велика! Тел: 89516732992

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: