Kekuatan Sebuah Mimpi

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia” adalah sepenggal kalimat dalam lirik lagu Laskar Pelangi yang selalu memberi saya semangat untuk menggapai mimpi saya. Ya mimpi dari Bogie (bukan nama sebenarnya), seorang anak bungsu dari 3 bersaudara laki-laki yang berasal dari keluarga kelas menengah yang sejak dulu bercita-cita untuk melanjutkan studi S2 di salah satu negara di Eropa.

Kilas balik masa SMA
Di tahun 2003, tahun terakhir saya di SMA, keadaan keluarga besar saya tidak baik karena ayah dan dua kakak lelaki yang bekerja di perusahaan yang sama kehilangan pekerjaan karena perusahaannya bangkrut. Akhirnya kami menggantungkan keuangan keluarga ke ibu kami yang dari dulu memang sama-sama sebagai orang tua pekerja. Bersamaan dengan itu ayah dan kedua kakak saya mulai mencari pekerjaan baru, walaupun cukup sulit untuk ayah saya mendapat pekerjaan baru karena faktor usia yang tidak muda lagi.
Puji Tuhan, walaupun keadaan ekonomi keluarga tidak baik tetapi sekolah saya tidak terganggu dan saya lulus SMA tahun 2004 dengan hasil yang baik. Di tahun yang sama, saya mendapatkan pekerjaan pertama di Bogor, sebut saja PT 123, salah satu perusahaan besar dan terkenal di Indonesia. SMA saya di Bogor yang berfokus di bidang analis kimia memang berorientasi untuk menciptakan lulusan siap kerja.

Fase kerja pertama dan kuliah S1
Berdasarkan kejadian yang menimpa keluarga saya, saya berencana untuk melanjutkan studi saya ke jenjang S1 dan berencana untuk kuliah minimal sampai S2. Dengan harapan saya akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dan dapat memperbaiki ekonomi keluarga saya. Puji Tuhan, selepas SMA dan bekerja saya tidak pernah meminta uang ke orang tua saya, tetapi sebaliknya saya memberi ibu saya uang bulanan yang mungkin tidak seberapa dibandingkan perjuangan beliau merawat dan membesarkan saya.
Sambil bekerja saya ikut kelas Bahasa Inggris 2 kali seminggu setiap malam karena saya berpikir akan bermanfaat untuk saya kuliah di luar negeri atau untuk pekerjaan saya. Sembari itu, saya tetap menyisihkan uang bulanan saya untuk kuliah S1. Dan setelah mengumpulkan uang selama 2 tahun, saya melanjutkan S1 saya tahun 2006 untuk kelas karyawan Sabtu dan Minggu di sebuah PTS di Bogor.
Setelah mengikuti kursus Bahasa Inggris selama lebih kurang 3 tahun, saya dinyatakan lulus untuk level terakhir dan tahun 2010 saya berhasil menyelesaikan S1 saya dengan IPK yang cukup tinggi. Saat itu saya sangat bangga dengan diri saya karena mampu mencapai mimpi saya dengan perjuangan saya sendiri diiringi doa dari keluarga tercinta. Ya saya sangat sadar, saya tidak mungkin meminta bantuan kepada keluarga saya terkait masalah dana.

Fase pasca lulus S1 dan melamar beasiswa episode 1
Saya masih ingat di malam pasca wisuda, ayah saya bertanya kepada saya, “Rencana kamu habis ini apa, Gie?” Saya jawab, “Saya mau coba cari beasiswa untuk S2 di Eropa atau mungkin cari pekerjaan baru yang lebih baik.” Akhirnya untuk mendukung rencana saya, saya ikut kursus persiapan TOEFL di sebuah PTN di Depok. Kembali sebuah perjuangan saya lakoni, setiap Sabtu selama 3 bulan saya pergi-pulang Bogor-Depok untuk mencapai mimpi saya.
Suatu hari di tahun 2011, saya melihat iklan di PTN tersebut untuk beasiswa PRESTASI di Amerika. Terus terang saya memang tidak pernah berniat kuliah S2 di Amerika, dari dulu saya hanya bercita-cita kuliah di Eropa dengan alasan saya bisa kuliah sambil jalan-jalan keliling negara Eropa. Karena persyaratan beasiswa PRESTASI lumayan mudah salah satunya hanya mensyaratkan nilai TOEFL ITP (bukan TOEFL IBT) akhirnya saya melamar beasiswa tersebut. Mungkin Tuhan menjawab keinginan saya akhirnya di saat pengumuman beasiswa PRESTASI, nama saya tidak tercantum.

Melamar beasiswa episode 2
Suatu hari di tahun 2012, sahabat karib saya di PT 123 sebut saja mbak Momon, mengajak saya untuk menemui mantan atasannya di perusahaan dia sebelumnya sebut saja PT XYZ di sebuah hotel di Jakarta. Atasannya adalah seorang WNA Belanda, dan PT XYZ memiliki kantor cabang di Indonesia tetapi berkantor pusat di kota Drenthe, Belanda. Mba Momon pernah dikirim oleh perusahaannya untuk mengikuti short course di kampus saya sekarang belajar, UNESCO-IHE Delft.
Di pertemuan tersebut, mbak Momon memperkenalkan saya dengan mantan atasannya dan bercerita bahwa saya sedang berencana meneruskan S2 di Belanda dan dia sudah pernah menceritakan tentang UNESCO-IHE ke saya. Mantan atasannya berkata silahkan melamar ke UNESCO-IHE dan cantumkan nama saya di referensi sambil beliau memberikan kartu nama ke saya.
Pasca pertemuan tersebut, saya semakin bersemangat untuk melamar kuliah di Belanda. Akhirnya akhir tahun 2011 saya mengambil test TOEFL IBT sambil mulai ikut kursus Bahasa Belanda di Kedubes Belanda di Jakarta. Pasca mendapatkan sertifikat TOEFL IBT, awal 2012 saya melamar ke empat universitas di Eropa, dua di Belanda (UNESCO-IHE dan Radboud University Nijmegen), 1 di Belgia (KU Leuven), dan 1 di Jerman (saya lupa nama universitasnya). Tidak sedikit biaya yang saya keluarkan mulai dari kelas persiapan TOEFL, test TOEFL dan melamar ke empat universitas karena ada beberapa universitas yang meminta biaya pendaftaran €75 dan tidak dapat dikembalikan dan ada yang meminta lamaran dikirim via pos.
Akhirnya pengumuman dari empat kampus tiba, saya diterima oleh dua kampus (UNESCO-IHE dan KU Leuven) untuk tahun ajaran 2013-2015 dan dua kampus menolak saya dengan alasan bidang S1 saya tidak sejalan dengan S2 yang saya lamar.

Galau di antara dua pilihan
Di akhir tahun 2012, muncul tawaran pekerjaan dari PT ABC, sebuah rekanan dari PT 123. Sambil saya fokus untuk menindaklanjuti proses kuliah saya di Belanda, dan mengirim aplikasi beasiswa ke tiga yayasan (STUNED, NFP dan WORLD BANK) awal 2013. PT ABC meminta saya bergabung dan menawarkan fasilitas yang lebih baik. Terus terang saya sangat galau saat itu, di satu sisi saya sedang menunggu pengumuman beasiswa dari tiga yayasan di sisi lain ada tawaran pekerjaan yang sangat baik. Terlebih saya kuatir jika saya bergabung dengan PT ABC dan akhirnya saya mendapat beasiswa, berarti saya hanya bekerja selama 6 bulan dan saya kuatir ada kesan sebagai batu loncatan.
Saya bertukar pikiran dengan keluarga dan sahabat-sahabat karib saya soal lamaran ini. Mereka menyarankan untuk mengambil kesempatan baik di PT ABC dan jika akhirnya saya mendapat beasiswa dan mengundurkan diri, alasan saya sangat bisa diterima karena saya tidak mengundurkan diri untuk bergabung di perusahaan lain.

Jalan Tuhan tidak sesuai harapan
Akhirnya awal 2013 saya bergabung dengan PT ABC sambil saya menunggu pengumuman dari tiga yayasan. Kecewa, itulah rasanya ketika saya mendapat email dari yayasan pertama bahwa saya tidak lolos beasiswa. Semakin kecewa ketika yayasan kedua menyatakan saya tidak lolos.
Akhirnya sambil menunggu pengumuman dari yayasan ketiga, saya mengirim email ke UNESCO-IHE dan memberi tahu saya tidak lolos 2 dari 3 beasiswa dan saya masih menunggu info dari yayasan ketiga.
Saya bertanya ke UNESCO-IHE apakah ada program “loan” dari UNESCO-IHE sehingga pasca lulus saya bekerja di UNESCO-IHE dan membayar hutang saya. Mereka menjawab bisa memberikan beasiswa 50% dan sisa 50%nya (sekitar €20,000an) saya harus menyediakan dalam waktu 2 minggu pasca email mereka. Saya jawab jumlah tersebut jumlah yang tidak mungkin saya punya dalam 2 minggu bahkan dalam 1 tahun penuh saya bekerja.
Akhirnya UNESCO-IHE menyemangati saya untuk mencoba melamar beasiswa lagi tahun depan dan mengingatkan bahwa surat penerimaan (Letter of Acceptance) mereka berlaku dari tahun 2013-2015 sehingga saya tidak melamar ulang ke UNESCO-IHE.
Email dari yayasan ketiga saya terima dan saya dinyatakan tidak lolos. Perasaan saya benar-benar kecewa, saya marah kepada Tuhan karena Dia seperti tidak menjawab doa saya, Dia tidak melihat perjuangan saya dari nol dan berapa banyak uang yang sudah saya habiskan.

Tetap fokus
Sahabat karib dan keluarga menyemangati saya untuk jangan menyerah dan tetap semangat. Mereka tahu bahwa saya orang yang “keukeuh” dan percaya dengan kemampuan saya. Mereka yakin mungkin belum waktunya untuk saya kuliah di Belanda.
Untuk melupakan kekecewaan saya, saya fokus bekerja dan belajar hal baru di PT ABC. Desember 2013, saya dikirim ke Prancis oleh PT ABC untuk mengikuti pelatihan selama 2 minggu. Cuaca di Prancis saat itu -10°C dan menjadi pengalaman pertama saya terbang ke Eropa.
Bekerja di PT ABC di Jakarta membuat saya memutuskan untuk kos di Jakarta dan menjadi pengalaman pertama saya tinggal mandiri – berpisah dari orang tua yang tinggal di Bogor. Selain itu pekerjaan saya di PT ABC membuat saya lebih banyak pergi ke luar kota, porsi saya 60% bekerja di luar kantor dan 40% di dalam kantor. Hal ini membuat saya jarang bertemu keluarga saya karena ada kalanya saya di luar kota pada saat akhir pekan.

Rencana Tuhan indah pada waktunya
Awal 2014, saya kembali mencoba peruntungan melamar beasiswa ke tiga yayasan yang sama dan suatu hari pertengahan 2014 saya mendapat email dari STUNED bahwa saya mendapatkan beasiswa untuk tahun ajaran 2014-2016. Semua rasa menjadi satu pada saat membaca email tersebut, senang, kaget, terharu, gemetar, tidak percaya, dsb. Tidak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Tuhan untuk rezeki ini.
Akhir pekan saya pulang ke rumah orang tua di Bogor dan menceritakan kabar gembira ini. Orang tua saya senang bercampur sedih karena akan berpisah dengan anak bungsunya untuk waktu yang cukup lama 1.5 tahun. Saya bilang kita masih bisa berkomunikasi via handphone.
Setelah saya kilas balik ke belakang, saya tahu bahwa rencana Tuhan memang indah walaupun kadang pada awalnya tidak sesuai harapan kita. Dengan bekerja di PT ABC, saya mendapatkan pendapatan yang lebih baik sehingga saya bisa menabung lebih banyak, saya mendapat pengalaman ke Eropa dan mengalami betapa dinginnya musim dingin, dan perlahan-lahan keluarga saya terbiasa hidup jauh dari saya (slow therapy).
Ya saya yakin jika kita mempunyai mimpi baik diiringi niat, doa dan usaha yang tak henti, 90% akan terkabul dan 10% sisanya Tuhan yang menentukan. Saya selalu mengingatkan teman-teman saya untuk tetap semangat dan fokus dan dengarkan lagu-lagu yang menginspirasi mimpi mereka seperti Laskar Pelangi dari Nidji, The Power of Dreams dari Celine Dion dan Jangan Menyerah dari d’Masiv.
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
(Laskar Pelangil – Nidji)

Ditulis berdasarkan kisah nyata Stefanus Tri Mardiansyah
Mahasiswa Master untuk program Water Supply Engineering di UNESCO-IHE
Delft, 28 Oktober 2015
Bogie adalah nama panggilan Stefanus di tempat kerja PT 123 dan PT ABC.

One comment

  1. Kisah inspiratif, semoga bisa membakar semangat teman-teman yang sedang berusaha mendapatkan beasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: