Kehidupan Baru di Belanda: Seru dan Menantang!

Ditulis oleh: Tulus Imaro

Ibu Menteri Retno Marsudi, Ibu Siti Nurbaya, dan Bapak Kwik Kian Gie memiliki sebuah kesamaan dalam kehidupan mereka.  Kesamaan itu juga dimiliki oleh Bapak Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pada tempo beberapa dekade lalu. Apakah kesamaan tersebut?

Mereka semua menempuh pendidikan di Belanda.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengisi kehidupan baru saya di Belanda. Meninggalkan sejenak keramaian pasar ikan di kota Cirebon untuk hidup di Eropa daratan yang tenang. Terlintas dalam angan-angan untuk mengunjungi museum-museum elok dengan desain Renaissancenya, atau sekedar bersandar di taman kota dalam hembusan angin musim panas dan ketika terbangun dikejutkan oleh hamparan bunga berkilometer luasnya.   Petualangan demi petualangan mulai direncanakan, tersusun rapih dalam sebuah dokumen digital yang tersimpan dalam sebuah laptop abu-abu bermerk Dell. Semua keinginan tersebut menanti untuk dilaksanakan dan hanya ada satu cara untuk melakukannya: membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Mendapatkan beasiswa dari pemerintah memiliki arti yang sangat sederhana, yaitu belajar demi negara. Sebuah kata belajar memiliki makna yang beragam. Berdiam diri membaca materi kuliah di dalam perpustakaan, berbicara sendiri menjelaskan materi presentasi sembari mengayuh pedal sepeda, atau membantu teman sekelas dalam persiapan ujian numerikal tatap muka juga termasuk dalam definisi belajar. Lalu, apakah semua definisi belajar harus berhubungan dengan kegiatan akademik? Tidak hanya itu, karena pendidikan yang diberikan dimaksudkan untuk memanusiakan pemuda-pemudi Indonesia. Bukti akademik, sudut pandang logika, dan pemahaman akan ilmu dan aplikasi teknik adalah beberapa parameter kualitas yang diinginkan oleh negara. Selain itu, pribadi yang tangguh dan mampu melebur dalam lingkungan internasional juga menjadi nilai tambah. Aktif dalam kegiatan luar kampus, berolahraga, atau bahkan menenangkan diri dalam kegiatan keagamaan juga adalah proses pembelajaran diri. Sebuah proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tiba-tiba teringat ketika saya menjadi perwakilan siswa dalam mengucapkan janji siswa SMA Taruna Nusantara di dalam Balairung Pancasila. Saat itu saya berumur 15 tahun, berdiri di barisan pasukan khusus, dan melangkah masuk ke tengah-tengah balairung setelah pasukan bendera pusaka telah siap dalam formasi barisan mereka. Bersama dengan satu orang perwakilan siswi putri, dengan lugas kami ucapkan salah satu janji siswa “… memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia!”. Sungguh beruntung pikir saya, dalam usia dini sudah diberikan pemahaman akan mental kejuangan dan nasionalisme yang terbuka dengan dunia luar. Janji itu selalu terpatri dalam diri saya untuk dapat melakukan yang terbaik selama masih diberi kehidupan. Dan saya selalu berdoa semoga Tuhan memberkati sumpah dan janji saya sebagai alumni.

Hampir satu tahun kehidupan di Belanda berlalu, tidak semua daftar keinginan yang saya tulis di awal tercapai. Kegiatan akademik yang bertubi-tubi mengambil sebagian besar waktu kehidupan di sini. Jadwal kelas paling terakhir selesai jam 5 sore kemudian dilanjutkan makan malam dengan kolega dan aktifitas belajar mandiri (atau kelompok) setelahnya. Fasilitas untuk belajar sangat disediakan oleh kampus, baik dalam gedung masing-masing jurusan atau perpustakaan. Perpustakaan yang bersih dan besar di kampus Delft tutup jam 12 malam dan dua minggu menjelang ujian tutup jam 2 pagi (buka jam 6 pagi). Dan yang lebih spesial adalah, perpustakaan juga buka pada akhir minggu.

Matlab adalah kawan baru saya yang butuh perhatian lebih.

Petroleum Engineering and Geosciences di TU Delft lebih berbasis tugas Matlab dan kerja kelompok, walaupun ada beberapa mata kuliah yang mengambil murni nilai dari ujian. Dengan sistem kuarter, dalam durasi dua bulan materi 5-7 mata kuliah diberikan di kelas kemudian dilanjutkan minggu tenang dan minggu ujian. Oleh karena itu, mahasiswa jurusan perminyakan mampu menyelesaikan sekitar 60 ECTS (jumlah kredit mata kuliah di Belanda) setelah tahun akademik pertama. Di awal tahun kedua, mahasiswa dihadapkan pada proyek khusus selama 6 minggu yang berbasis data perusahaan kemudian dilanjutkan dengan tugas akhir (thesis) atau mengambil mata kuliah tambahan. Menjelang kelulusan, harga minyak dunia memiliki peran penting dalam menentukan ketersediaan lapangan pekerjaan. Semoga saja ketika lulus nanti ada lapangan pekerjaan di perusahaan minyak dan gas bumi di Indonesia. Ini adalah salah satu konsekuensi memilih jurusan perminyakan, harus siap.

Daftar keseruan yang ingin saya lakukan di Belanda belum semuanya tercapai. Mungkin baru bulan ini akan bungee jumping di pantai Scheveningen.

Kalau suka dengan konser musik dan festival rakyat, Eropa daratan memang tempatnya. Akses ke berbagai negara di daratan sangat mudah dengan biaya terjangkau. Jika festival yang diinginkan tidak ada di Belanda, tinggal pesan tiket kereta atau pesawat online ke negara tetangga.

Keseruan lainnya tidak harus menggunakan uang, beberapa hal sederhana yang gratis pun bisa menjadi seru. Menghirup udara segar sambil ber-barbeque-an di pinggir danau tidak dikenakan biaya. Berkeliling kota atau bepergian ke kota tetangga bisa dengan menggunakan sepeda. Parkir sepeda dimana saja gratis, bahkan di stasiun kereta pun gratis sehingga kita tidak perlu bingung harus ditaruh dimana sepeda kita selama bepergian. Sebuah kewajiban juga untuk masuk ke toko keju karena mereka selalu menyediakan sampel keju gratis. Seru kan!

Di sisi lain, ada berbagai tantangan yang harus diselesaikan dengan bijak. Kehidupan disini adalah proses adaptasi, bukan hanya sekedar berkunjung sebagai turis, karena kita menciptakan rumah baru di negara baru. Secara perlahan, aktifitas rutin terbentuk. Kita akan tahu tempat belanja mana yang memiliki harga termurah. Membandingkan harga dengan tempat belanja lain dari brosur yang tersedia menjadi hal yang biasa. Evaluasi keuangan menjadi hal baru yang rutin dilakukan dan kebiasaan lama mengkonversi harga ke dalam rupiah pun menghilang.

Secara tidak sadar, bahasa Inggris menjadi lebih mudah dibandingkan bahasa Belanda. Orang Belanda tidak segan  untuk menggunakan bahasa Inggris kepada orang asing karena mereka sudah menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar semenjak bangku SMP. Mereka sangat dinamis dan terbuka. Reputasi tersebut juga nampak dari pengesahan kegiatan di red light district hingga desain grafik bangunan yang totalitas modern. Sifat mereka yang to the point dalam memberikan komentar dikategorikan sebagai hal yang negatif bagi beberapa orang internasional yang tinggal di Belanda. Secara pribadi saya lebih suka dengan cara seperti itu, tanpa harus mendengar opini yang berbeda di belakang kita. Bagi mereka pun, orang Indonesia adalah salah satu suku di Belanda. Sehingga mudah bagi orang Indonesia untuk berbaur dengan mereka. Namun ada satu hal yang menarik ketika saya bertanya kepada salah satu teman baik saya ketika perjalanan pulang ke Delft dengan menggunakan mobil, mengapa sebagian besar orang Belanda di kelas hanya suka berkumpul dengan sesama mereka. Teman baik saya, dengan rupa yang mirip Chris Evans dan saya panggil dengan sebutan captain, pun menjawab bahwa mereka merasa terasing di kampus sendiri. Terlebih ketika awal masuk, semua mahasiswa internasional nampak sudah kenal satu sama lain setelah kegiatan wajib Summer Program. Masuk akal. Itu hanyalah opini dari satu orang, opini lain bisa juga ada.

Keamanan adalah hak bagi setiap warga yang tinggal di Belanda. Barang hilang yang dibeli di Belanda akan diganti oleh pihak asuransi, asalkan nota pembelian tersimpan baik. Asuransi yang ditawarkan kepada publik juga mencakup kesehatan. Kesehatan kita sebagai warga negara sementara dijamin, bahkan setiap 6 bulan sekali wajib melakukan tes X-ray sebagai bentuk evaluasi. Suatu hari saya sakit flu akibat perubahan cuaca, lendir di hidung selalu ada dan saya keluarkan dengan hembusan keras. Keadaan itu berlangsung beberapa hari, hingga akhirnya terjadi pendarahan di hidung. Dokter yang saya kunjungi pun memeriksa, dengan mudah dia temukan lubang di hidung akibat tekanan yang saya lakukan. Tidak ada satupun obat yang diberikan, bahkan resep obat untuk demam atau flu pun tidak. Dia hanya menyarankan untuk membeli krim lip balm dan mengoleskan di bagian dalam hidung saya. Dan dia percaya bahwa saya akan membaik dalam 2-3 hari sehingga tidak perlu diberikan obat khusus dan hanya disarankan untuk minum paracetamol. Hal itu benar adanya. Pertama kali dalam hidup saya datang ke dokter tanpa diberikan ramuan khusus dan menjadi sehat 2-3 hari kemudian.

Banyak pelajaran hidup yang telah saya dapatkan 11 bulan terakhir. Bersepeda salah satunya.

Bersepeda selain mampu melatih otot kaki juga memberikan makna hidup. Mengayuhlah untuk melawan angin sehingga kita bisa maju ke depan. Ketika ada tanjakan, akan terasa berat di awal. Teruslah mengayuh, perbedaan kecepatan yang kecil pun tetap mampu membawa kita maju. Keadaan frustasi dan marah mungkin akan muncul ketika hujan lebat datang, maka berteduhlah dan ubah strategi untuk mencapai tempat tujuan. Pahami perkiraan cuaca, sehingga kita tahu apakah kita membutuhkan peralatan pelengkap saat bersepeda. Ketika angin dingin berhembus, kenakan sarung tangan dan jaket tebal. Lakukan pengecekan. Pompa ban sepeda secara rutin, sehingga kita tidak terlena akan kelambatan bersepeda karena kekurangan angin. Pastikan bahwa suara bel sepeda kita nyaring, sehingga kita bisa menyalip pengendara sepeda di depan kita. Dan pastikan pula bahwa rem berfungsi dengan benar sehingga kita tidak kebablasan. Setelah semua berjalan baik, pada akhirnya kita dapat menelepon orang tua kita dalam keadaan sehat dan memberitahukan bahwa kita baik-baik saja.

Dari semua yang terjadi di masa lalu dan semua harapan di masa depan, saya hanya bisa berdoa, semoga segala sesuatu dilancarkan dalam fase kehidupan baru ini di Belanda. Karena ini seru, juga menantang.

Tulus Imaro

3 comments

  1. Halo Tulus,

    Senang sekali membaca tulisanmu. Inspiratif, ringan, dan segar. Saya jadi terkenang pengalaman ketika sekolah di sana untuk setahun bachelor degree.

    Semuanya menarik, dan akan menjadi kenangan indah suatu saat nanti. Untuk pengalamanmu dengan dokter, memang begitulah adanya, dokter di sana tidak mudah memberikan obat keras apalagi antibiotik. Ketika saya kena flu (dan harus diakui sakit flu di negara dingin itu jauh lebih parah daripada di negara tropis akibat beda suhu tubuh dengan suhu udara sekitar), dokter baru memberikan saya antibiotik setelah melihat kondisi saya yang memang harus bekerja di akhir-akhir internship dan mempersiapkan thesis defence. Bandingkan dengan di Indonesia bahwa antibiotik seperti semacam pedoman umum diberikan untuk flu.

    Pengalaman survival memang menguatkan kita, karena dengan menantang diri sendiri, keluar dari zona nyaman, mencoba bergaul dengan banyak orang asing (bandingkan ketika di kantor lama kita dulu, banyak alumni sesama kampus, kan, ngobrol pun dengan bahasa Indonesia), networking, dan kemampuan presentasi kita makin diperkaya. Rajin ke museum, mengunjungi tempat baru, pun aktivitas yang seru karena persepsi kita diperkaya. Saya jujur saja jadi jauh lebih toleran setelah tinggal di sana setahun, dan setelahnya pun mulai bekerja di kantor kita yang dulu jadi pengalaman diversity tidak mengejutkan lagi.

    Akhirnya, semoga Tulus dapat menikmati sisa masa belajar di sana, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan tentu saja lulus dengan memuaskan. Untuk pekerjaan, jangan dipusingkan. Pada akhirnya, saya pun menyadari dalam pergumulan beberapa bulan terakhir ini. Untuk mengutip sebuah film, “People of accomplishments rarely sat back and let things happen to them. They happen to things”.

  2. terimaksih info tentang : Kehidupan Baru di Belanda: Seru dan Menantang! sangat bermanfaat.
    semoga website ini terus menyajikan info, berita, dan artikel yang menarik dan bermanfaat.

  3. ide paragrafnya lompat2 lus.. but anyway overall is ok

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: