Kegagalan Bukanlah Sebuah Kekalahan

Niat menempuh pendidikan lanjut setelah S1 merupakan target saya semasa kuliah tingkat akhir. Namun, saya memilih selingan bekerja terlebih dahulu agar memiliki gambaran mengenai praktikal di luar dunia akademis.
Pada bulan Januari 2013, kurang lebih dua bulan setelah wisuda S1, saya pun memulai kehidupan baru sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Sembari bekerja, saya turut mempersiapkan diri untuk keperluan S2, yakni mencari informasi universitas, mengurus berkas-berkas, kursus IELTS, dsb.
Kisah road to magister saya dimulai pada bulan November 2013. Proses ini diawali dengan mendaftar program yang saya minati, tak lain tak bukan adalah program yang saya ikuti saat ini: MSc Water Technology. Pada bulan Januari 2014, saya mendapat konfirmasi berupa LOA Unconditional untuk intake 2014/2015. Senang bukan kepalang! Pintu menuju S2 pun telah terbuka.
Kuliah di luar negeri tentunya membutuhkan biaya yang amat besar sehingga saya harus mencari beasiswa. Berbekal informasi dari teman-teman, saya memutuskan untuk mendaftar beasiswa LPDP. Jenis beasiswa ini dapat dikatakan sangat fresh kala itu karena launching pertama baru dimulai pada tengah tahun 2013.
*
Persiapan Seleksi
Proses mendaftar beasiswa LPDP tergolong mudah karena semua berkas diunggah secara online melalui situs LPDP. Keterangan lebih detail mengenai persyaratan beasiswa LPDP dapat dilihat dalam tautan berikut: http://www.beasiswa.lpdp.depkeu.go.id/
Hal terpenting adalah perhatikan baik-baik DEADLINE PENDAFTARAN. LPDP bagi saya memiliki reputasi yang cukup baik, maka jangan pernah beranggapan bahwa ngaret unggah dokumen beberapa jam setelah deadline pendaftaran ditutup masih bisa ditolerir.
Berikut dokumen yang diperlukan untuk mendaftar program magister/ octoral luar negeri beasiswa LPDP (terupdate):
1. Ijazah
2. Transkrip akademik yang menunjukkan IPK min. 3,00
3. TOEFL ITP min. 550/TOEFL iBT 79/IELTS min. 6,5/TOEIC 750
4. LOA Unconditional (lebih baik)
5. Surat Izin Atasan (bagi yang sedang bekerja)
6. Surat Rekomendasi Tokoh
7. Surat Kelakuan Baik/Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
8. Surat Keterangan Sehat dan Bebas Narkoba
9. Dua buah esai bertema Kontribusi bagi Indonesia dan Sukses Terbesar dalam Hidupku
10. Satu buah artikel deskriptif bertema Rencana Studi (khusus magister)
11. Satu buah proposal penelitian (khusus octoral)
Singkat kata, saya selesai mengunggah berkas-berkas yang diperlukan tepat beberapa jam sebelum deadline pendaftaran (jangan ditiru ya :p). Pada hari pengumuman, saya dinyatakan lolos seleksi berkas dan mendapat undangan untuk mengikuti sesi wawancara dan LGD (update terbaru bahwa saat ini ada tambahan 1 proses seleksi yaitu Essay Writing on the Spot).
Dalam menghadapi wawancara dan LGD tentu bukan tanpa persiapan. Mengingat undangan seleksi dari LPDP yang umumnya satu/dua minggu lebih awal, menurut saya alangkah lebih baik mempersiapkan materi lebih awal. Selain itu, persiapan materi otomatis akan meningkatkan kepercayaan diri dan mental saat hari H nanti.
*
Think Out of the Box
Beasiswa LPDP adalah salah satu jenis beasiswa yang akhir-akhir ini pamornya mulai melejit sehingga sudah banyak artikel yang diposting dalam blog/forum yang memberikan informasi mengenai seleksi terutama dari segi berkas-berkas, alur seleksi, serta tips and trick seleksi substantif. Oleh karena itu, saya hanya akan membahas satu sisi saja berdasarkan pengalaman pribadi, yakni seleksi wawancara.
Pada saat mempersiapkan wawancara, saya fokus terhadap esai yang telah saya buat dan materi-materi lain yang sekiranya bisa meyakinkan pewawancara bahwasanya saya layak untuk memperoleh beasiswa LPDP. Namun, ternyata ada satu poin penting yang telah saya lewatkan.
Program yang saya minati adalah MSc Water Technology dalam bentuk joint degree dari tiga universitas, yakni Wageningen University, University of Groningen, dan University of Twente. Istilah joint degree ini sebenarnya muncul hanya satu kali dalam salah satu esai yang saya buat, namun hal kecil inilah yang justru menarik minat interviewer.
Saya mendapat beberapa pertanyaan terkait administrasi, bentuk program, dan tetek bengek lainnya yang sama sekali tidak berkaitan dengan materi persiapan yang sudah saya lakukan. Pertanyaan utama yang diajukan adalah siapa lembaga yang bertanggung jawab penuh atas administrasi program ini. Pertanyaan lain di antaranya mengenai skema belajar tahunan, lokasi studi per semester, kesamaan background tiga universitas, dll.
Berhubung saya tidak begitu banyak mencari detail informasi dari segi administratif, walhasil, saya rasa saya tidak bisa menjawab dengan memuaskan. Salah satu interviewer pun menutup wawancara dengan mengatakan, “Sebaiknya kamu consider untuk ganti program saja karena program yang kamu pilih tidak masuk kriteria pembiayaan LPDP.”
Usai wawancara hati saya pun langsung mencelos. Sesuai dugaan, tidak ada nama saya dalam pengumuman lolos seleksi. Namun, karena sedari awal sudah diwanti-wanti oleh interviewer, saya sudah mempersiapkan diri untuk hasil apapun. Dalam suasana penuh kekecewaan, saya pun mengajukan penundaan kuliah selama setahun kepada Kepala Program MSc Water Technology.
Dari sini saya belajar untuk berpikir out of the box mengenai materi apa saja yang sekiranya akan diajukan dalam wawancara perlu dilakukan sebagai salah satu bentuk persiapan.
*
Belajar dari Kegagalan
Tekad untuk melanjutkan studi masih terpelihara dalam benak. Oleh karena itu, pada akhir tahun 2014 saya mendaftar kembali beasiswa LPDP hingga dinyatakan lolos seleksi berkas dan mendapat undangan wawancara serta LGD untuk kedua kalinya. Bermodalkan kegagalan di pengalaman wawancara pertama, kali ini saya berusaha mencari tahu lebih dalam mengenai program yang saya minati.
Tepat sesuai dugaan! Pada wawancara kedua, istilah joint degree kembali menarik perhatian interviewer dan beberapa pertanyaan yang sama pun diajukan kembali. Berbekal informasi yang sudah digali-gali lebih dalam sebelum hari H, saya akhirnya bisa menjawab dengan benar (setidaknya menurut saya ☺).
*
Pelajari Ketentuan Pemberi Beasiswa dengan Cermat
Dalam proses seleksi, meyakinkan diri untuk menjadi calon penerima beasiswa tentunya adalah hal yang penting. Namun, tidak bisa hanya terpaku pada sudut pandang pribadi. Di sisi lain, kita perlu melihat dari sudut pandang pemberi beasiswa. Mereka ingin memastikan bahwa administrasi dan skema pembayaran universitas para penerima beasiswa applicable untuk mereka lakukan dan tentunya tidak memberatkan pihak pemberi beasiswa itu sendiri. Maka dari itu, penting bagi calon penerima beasiswa manapun untuk menggali informasi lebih dalam mengenai syarat dan ketentuan beasiswa yang ingin diambil.
Informasi dasar yang perlu diketahui bahwa beasiswa LPDP sesungguhnya tidak menolak program-program magister/doktoral yang bekerja sama dengan beberapa instansi asalkan urusan administrasi dan finansial selama program berlangsung, dilakukan melalui satu pintu. Dalam kasus saya, dikelola oleh Wageningen University. So, jangan ragu untuk apply beasiswa LPDP kalau program kamu punya embel-embel joint degree seperti program yang saya ambil.
*
Benar kata pepatah. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kegagalan juga bukanlah sebuah kekalahan. Ia justru memberi waktu bagi kita untuk berpikir ulang dalam menentukan langkah yang tepat.
Bagi yang pernah mengalami kegagalan, peliharalah terus mimpimu. Karena ia yang akan menarikmu untuk bangkit setelah jatuh. Kala kamu mendapat kegagalan, berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap diri sendiri bukanlah solusi, melainkan hanya sebuah fase yang harus dilewati untuk menguji seberapa kuat kamu memelihara mimpi.
Cheers and good luck!

Sausan Atika Maesara
Msc. Water Technology 2015
Wageningen University

4 comments

  1. halim setiawan

    bagus mbak, boleh minta emailnya saya juga tertarik dengn beasiswa lpdp, rencana mau mendaftar juga, mungkin bisa memberikan masukan masukan yang mendukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: