International Conference of Indonesian Development (ICID)

PPI Belanda sukses menyelenggarakan International Conference on Indonesian  Development (ICID) 2013. Konferensi yang dihadiri oleh 300 peserta ini menjadi wahana diskusi yang menarik bagi pelajar dan pakar untuk berdebat mengenai strategi apa yang tepat untuk membangun Indonesia. Beberapa ide yang berkembang adalah pentingnya konektifitas antara titik produksi Indonesia, untuk itu pemerintah perlu memiliki kebijakan yang jelas dalam mengatur mata rantai logistik dan memotong biaya transaksi yang sangat besar.

Forum juga mengangkat pentingnya menaruh perhatian pada aspek pertanian dan maritime, terkait pertanian diskusi mengarah pada perlu kebijakan yang jelas untuk mengangkat petani kecil Indonesia, karena petani kecil yang berdaya dan mandiri lebih mampu memberikan dampak pada ekonomi mikro dan makro Indonesia. Indonesia perlu memiliki posisi yang tegas dalam mendukung petani lokal dan pembatasan impor produk pertanian. Gagasan ini diangkat oleh Prof Ben White (ISS) yang menilai pertanian skala besar kurang cocok untuk Indonesia yang masih membutuhkan pendekatan padat karya. Ide ini pun juga berlaku untuk para nelayan, mereka perlu di dukung dengan perbaikan sistem mata rantai produksi perikanan serta teknologi dalam penangkapan dan pengolahan ikan.
ICID 2013 di mulai dengan rangkaian keynote speech dari Lilianne Ploumen (Menteri Perdagangan  Internasional dan Kerjasama Pembangunan, Kerajaan Belanda) dan Lukita Dinarsyah Tuwo (Wakil Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Republik Indonesia). Kedua pembicara ini menekankan tentang berbagai potensi Indonesia untuk bisa menjadi negara berdaya saing ekonomi tinggi. Statistik makro memang mengindikasikan Indonesia sebagai negara dengan posisi yang menjanjikan, keanggotaan G-20 menjadi salah satu buktinya. Namun, Indonesia tidak boleh berpuas diri, tetap perlu adanya strategi pembangunan yang detil dan menyentuh aspek mikro hingga ke tingkat individu rakyat Indonesia.
Sesi pleno pertama menghadirkan Faisal Basri (UI), Howard Nicholas (ISS), dan Greg Barton (Monash).  Faisal Basri menegaskan tentang tantangan logistik yang dihadapi Indonesia, biaya kirim barang dari Jakarta ke Papua 3 kali lebih besar daripada ke Singapura. Beliau kemudian mempertanyakan kebijakan pemerintah yang menjadikan MP3EI sebagai jawaban. Howard Nicholas dalam paparannya mengatakan bahwa ekonomi dunia itu berputar, dan bisa jadi negara ekonomi maju seperti Tiongkok akan meledak suatu hari, pertanyaannya adalah siapakah negara yang akan menggantikan Tiongkok? Kemudian Greg Barton menekankan pentingnya stabilitas politik dan demokrasi untuk mendukung ekonomi Indonesia.
Pada hari kedua ICID 2013, Ibu Felia Salim, Wakil Presiden Direktur BNI, menyampaikan gagasannya mengenai peran sektor perbankan dan keuangan dalam memajukan ekonomi Indonesia. Dia juga mengutarakan perlunya strategi pembangunan nyata untuk mendongkrak sektor maritime Indonesia.
Sesi pleno kedua di isi oleh diskusi teoritik terkait inovasi, menghadirkan Roel Rutten (Tilburg) dan Paul Benneworth (Twente). Mereka memberikan gambaran bagaiamana proses inovasi banyak terbentuk dari proses interaksi manusia. Dan fakta bahwa inovasi banyak terjadi dari kalangan bisnis dan masyarakat. Pemerintah dalam hal ini memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk inovasi berkembang,
Sesi pleno ketiga menampilkan dua contoh kasus inovasi. Warsito Taruno dengan inovasi sensor 4D yang mampu mendeteksi dan mengobati kanker otak dan kanker payudara. Warsito banyak menceritakan pengalamannya dalam membangun technopreneurshipnya dalam beberapa tahun terakhir dan telah berbuah banyak kemajuan yang bermanfaat. Jan Fransen, beliau melihat bagaimana kemampuan pengrajin di Jogjakarta dalam menangkap potensi inovasi serta meningkatkan daya jual dari produk yang dihasilkan
ICID 2013 memberikan kesempatan kepada 53 pemakalah untuk mempresentasikan penelitiannya di sesi presentasi paralel. Penelitian berkisar tentang apsek sosial dalam ekonomi berbasis inovasi, ekonomi regional dan ASEAN, aspek kebijakan dan politik dalam meningkatkan daya saing, Tantangan dan kesempatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri dan kluster dalam mendorong ekonomi berkelanjutan, serta studi komparasi dalam membangun ekonomi berbasi inovasi di Indonesia.
Selain itu terdapat juga sesi dialog khsus antara pemuda Indonesia dan Belanda yang membahas mengenai kerjasama pemuda untuk pembangunan kedua negara. Sesi ini menghasilkan beberapa kesimpulan seperti pentingnya people-to-people contact dan investasi terhadap pemuda dari pemerintah kedua negara. Pada hari kedua ICID 2013 terdapat juga sesi presentasi lomba essai dengan tema ‘for better Indonesia’.
Secara keseluruhan ICID 2013 merupakan sebuah sukes besar, dan bisa dikatakan sebagai konferensi ilmiah terbesar yang diadakan oleh pelajar Indonesia di luar negeri. Hasil dari diskusi dan debat di ICID 2013 akan diteruskan dalam bentuk pernyataan rekomendasi kepada pemangku kepentingan terkait dan juga ke jurnal ilmiah internasional.
ICID 2013 diadakan atas dukungan dari Bank Negara Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda, dan berbagai pihak lain yang turut menyukseskannya.
icid1 icid2 icid3
Translate »
%d bloggers like this: