Syndicate

Diplomasi Pelajar Indonesia di Belanda PDF Cetak E-mail

Oleh Yohanes Widodo (Sekjen PPI Belanda) dan Rahmadi Trimananda (Wakil Sekjen PPI Belanda) 

 

Era ini ditandai adanya perubahan paradigma: peran masyarakat menguat, sementara peran negara berkurang. Perubahan itu juga terjadi di ranah diplomasi. Globalisasi membuka ruang keterlibatan publik dalam diplomasi. Diplomasi bukan lagi melulu urusan pemerintah. Hubungan internasional tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hubungan antarnegara, tapi juga meliputi hubungan antar masyarakat internasional (Susetyo, 2008).   

Diplomasi tradisional (first track diplomacy) ala pemerintah kini berkembang menjadi diplomasi publik atau bisa juga disebut diplomasi informal (second track diplomacy). Isu diplomasi publik ini mengemuka karena pemerintah—jika berjalan sendirian—tidak lagi mampu secara efektif menyampaikan pesan-pesan diplomasi dalam situasi dan isu-isu yang semakin kompleks.  

Diplomasi Publik 

Diplomasi didefinisikan sebagai seni dan praktek bernegosiasi di antara perwakilan-perwakilan dari kelompok-kelompok atau negara (Pudjomartono, 2008). Pamela H. Smith (2008) mendefinisikan diplomasi publik sebagai upaya mencapai kepentingan nasional suatu negara untuk memahami, menginformasikan, dan memengaruhi masyarakat luar negeri dalam rangka mempromosikan kepentingan nasional dan memerluas dialog dengan relasi di luar negeri.  

Jika proses diplomasi tradisional dikembangkan melalui mekanisme hubungan pemerintah ke pemerintah, maka diplomasi publik lebih ditekankan pada hubungan pemerintah ke masyarakat atau bahkan hubungan masyarakat ke masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat internasional mempunyai persepsi baik tentang negara, sebagai landasan sosial bagi hubungan dan pencapaian kepentingan yang lebih luas (Susetyo, 2008). 

Diplomasi publik adalah suatu upaya memerjuangkan kepentingan nasional melalui penyebaran informasi atau memengaruhi pendapat umum yang dilakukan dengan memanfaatkan sarana budaya dan komunikasi: menjelaskan dan mengadvokasi kebijakan Indonesia, memberikan informasi tentang Indonesia, dan masyarakatnya, nilai-nilainya, lembaganya; dan membangun hubungan yang saling memahami melalui pertukaran informasi dan wacana. 

 

Diplomasi publik menjadi upaya alternatif agar diplomasi berjalan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih luas dan besar pada masyarakat internasional. Keterlibatan publik ini dapat membuka jalan bagi negosiasi yang dilakukan wakil-wakil pemerintah, sekaligus dapat memberikan masukan dan cara pandang yang berbeda dalam memandang suatu masalah. Diplomasi publik menjadi penting dalam menciptakan citra bangsa Indonesia, berperan aktif menciptakan perdamaian dunia, dan merajut persaudaraan antarbangsa.  

Diplomasi publik menekankan pada cara-cara berkomunikasi dengan publik negara lain. Pelakunya, selain diplomat profesional, bisa juga individu-individu atau lembaga swasta. Tujuan diplomasi publik adalah untuk ”menjual” pada masyarakat negara lain hal-hal yang menarik dari negara dan bangsa pelaku. Sarananya antara lain, kegiatan kebudayaan, pertukaran mahasiswa, pemutaran film, pertunjukan teater dan sebagainya. Diplomasi publik bisa dikatakan mirip tugas hubungan masyarakat (Pudjomartono, 2008). 

Seperti halnya fungsi hubungan masyarakat, diplomasi publik adalah proses komunikasi yang bertujuan membangun citra positif terhadap gambaran mengenai kehidupan dan dinamika politik Indonesia. Gambaran positif ini sangat penting bagi dunia untuk meningkatkan kerja sama antarnegara, sehingga tercipta sebuah kepercayaan bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan kerja sama semua aspek politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Misi ini pada gilirannya akan membawa efek kesejahteran bagi masyarakat. 
Pelajar Indonesia dan Diplomasi Publik  

Eksistensi pelajar Indonesia di luar negeri—salah satunya tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)—sangat strategis untuk memainkan peran diplomasi publik dan menjadi duta bangsa orang ke orang (person-to-person ambassador) dalam membangun opini positif guna meningkatkan manfaat hubungan Indonesia dan dunia internasional. Dengan kemampuan, keterampilan, dan pergaulannya dengan masyarakat di mana ia belajar, PPI bisa membangun semangat kerja sama abtarbangsa dengan dasar ikatan saling menghargai, menghormati, dan memiliki. 

Dengan memanfaatkan jalur kampus serta langkah-langkah akademis, peran PPI sangat menguntungkan dalam menciptakan wacana yang kondusif serta mengklarifikasi pernyataan-pernyataan media yang seringkali berat sebelah. Seminar-seminar kampus serta tulisan-tulisan para pelajar yang bernilai akademis mengenai Indonesia akan sangat membantu memberikan acuan dalam kancah adu pendapat dan opini publik. PPI bisa mengadakan kegiatan-kegiatan seminar yang melibatkan institusi pemerintah dari dua negara serta merancang kegiatan-kegiatan yang menarik bagi media, untuk menyuarakan kepentingan dan pembangunan citra Indonesia. 

Peran PPI tidak hanya berdiplomasi ke luar tetapi juga ke dalam. Dengan kapasitas dan kritisismenya, PPI bisa memberikan masukan dan umpan balik kepada pemerintah dan masyarkat, sehingga pembangunan dan stabilitas nasional yang dinamis bisa berjalan. PPI juga bisa menjadi aktor diplomasi kebudayaan. Kebudayaan ini menjadi sangat penting karena memainkan peranan yang penting sebagai identitas kita dalam hubungan dengan pihak lain. 

Peran Diplomasi Pelajar Indonesia di Belanda

 
Belanda memiliki arti yang penting dalam hubungan diplomatik Indonesia karena beberapa hal. Pertama, dari segi sejarah dan sosial budaya, Belanda punya tempat yang khusus karena memiliki hubungan yang khas dengan Indonesia. Hubungan Indonesia Belanda juga khas karena sejak tahun 1900-an, ada puluhan ribu pelajar Indonesia yang belajar dan menimba ilmu di Belanda.  
Kedua, dari sisi ekonomi, Belanda merupakan pintu gerbang Eropa. Pelabuhan Rotterdam menjadi pelabuhan tempat masuknya barang dagangan Indonesia ke Belanda dan Eropa.  
Ketiga, secara politik saat ini hubungan Indonesia dan Belanda sedang dalam kondisi yang sangat harmonis. Untuk pertama kalinya Perdana Menteri Belanda Jan Balmemende hadir dalam perayaan hari kemerdekaan Indonesia 2008. Setelah itu disusul kunjungan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla ke Belanda. 
PPI Belanda sebagai organisasi pelajar Indonesia di Belanda telah berperan aktif dalam diplomasi publik dan mengkomunikasikan Indonesia ke masyarakat Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda. PPI Belanda membangun hubungan yang baik dengan mereka lewat transfer informasi dan kebudayaan. 
 
Peran diplomatik PPI Belanda telah mengalami perjalanan yang panjang dan mengalami mengalami pasang surut. Karena sejarahnya yang panjang, peran PPI Belanda juga memiliki kekhasan dan dinamikanya sendiri. Peran itu sudah dimulai sejak berdirinya Perhimpunan Indonesia (Indische Vereniging) tahun 1908, yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda.  
 
Di era perjungan kemerdekaan, peran diplomasi PPI Belanda menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya konfrontasi melawan Belanda. Bung Hatta dan kawan-kawan menjalankan aksi dan diplomasi untuk mewujudkan Indonesia merdeka. 
 
Paska kemerdekaan, peran diplomatik PPI Belanda juga tetap penting. Misalnya, ketika terjadi konfrontasi Irian Barat tahun 1960-an, mahasiswa Indonesia, salah satunya diwakili oleh Kwik Kian Gie, secara langsung maupun tidak langsung mendapat imbas dari perubahan politik itu. Kwik, sebagai salah satu aktivis PPI Belanda, bahkan melibatkan diri untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia.  
 
Kini, dalam situasi hubungan diplomatik Indonesia-Belanda yang sedang dalam tahap “kemesraan”, PPI Belanda turut ambil bagian dalam diplomasi publik. PPI Belanda berupaya membangun citra dan kesan yang baik tentang Indonesia. Di sisi lain PPI Belanda tetap menjunjung sikap kritis terhadap dinamika pembangunan dan pemerintahan Indonesia. 

Ada beberapa peran diplomatik yang secara aktual dimainkan oleh PPI Belanda. Pertama, PPI Belanda berperan aktif memainkan fungsinya dalam diplomasi budaya. Keragaman budaya, tradisi, kesenian dan barang kerajinan merupakan daya tarik yang dapat menunjang promosi wisata Indonesia, sebagai bagian dari diplomasi budaya di luar negeri. PPI Belanda menjadi ikon Indonesia yang memperkenalkan Indonesia lewat kegiatan-kegiatan kebudayaan, seperti Malam Indonesia (Indonesian Night) dan keterlibatan PPI dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat lintas negara dan lintas budaya.  
 
Kedua, dalam bidang sosial politik, PPI Belanda juga turut ambil bagian. Ketika kasus film Fitna yang diproduksi oleh Geert Wilders, PPI Belanda membuat pernyataan yang mengedepankan bahwa muslim Indonesia adalah pro perdamaian dan anti kekerasan, tidak seperti yang digambarkan oleh Geert Wilders lewat filmnya.  

Ketiga, PPI Belanda turut menginisiasi terbentuknya Jaringan Kerja Diaspora Indonesia (JKI) sebagai rumah bersama dan ruang dialog antara pelajar Indonesia di Belanda, pemuda Indonesia yang lahir dan besar di Belanda, serta orang-orang Indonesia yang hidup dan menetap di Belanda. Salah satu kepedulian JKI adalah menjalin kontak, memberi bantuan hukum, dan melindungi para pekerja tak tercatat (undocumented workers) asal Indonesia yang tinggal di Belanda. Hal ini ditujukan agar mereka mendapatkan hak-haknya.  
 
Keempat, PPI Belanda mewakili para pelajar dan pemuda Indonesia untuk berhubungan dengan komunitas-komunitas di Belanda dan juga komunitas Internasional di Belanda. Posisi PPI Belanda sangat strategis dalam proses diplomasi ini, mengingat komposisi masyarakat di Belanda yang sangat beragam (multinasional dan multikultural).  
Didukung oleh hubungan sejarah yang panjang antara Indonesia dan Belanda, PPI bisa belajar dari para pendahulu yang mengawali pergerakan pemuda Indonesia di Belanda, sebagai cikal bakal pergerakan pemuda Indonesia melalui PPI di seluruh dunia. Proses pembelajaran tersebut akan sangat bermanfaat bagi kemajuan PPI dan peranan pemuda Indonesia di luar negeri untuk masa yang akan datang. 
 
Tantangan ke Depan  

Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Deplu Andri Hadi menjelaskan, kebijakan diplomasi publik luar negeri Indonesia memiliki dua sasaran. Pertama, menampilkan wajah Indonesia baru yang moderat, demokratis dan progresif. Kedua, membangun konstituen diplomasi dengan bekerjasama dan merangkul semua kalangan seperti ulama, cendekiawan dan masyarakat umum (Antaranews, 6 September 2008).  
Dua sasaran ini sekaligus menjadi tantangan bagi peran diplomasi publik PPI di luar negeri sebagai upaya konkret peran diplomasi PPI ke depan. Pertama, penerapan teknologi komunikasi modern untuk diplomasi publik. Penyebaran informasi di era digital ini begitu cepat, demikian pula dengan proses terbangunnya opini publik bisa tercipta dalam hitungan detik.  

Diplomasi lewat Internet merupakan alternatif yang mudah dan murah. PPI bisa memainkan peran penting dalam revolusi informasi ini. Melalui internet, para pelajar bisa membangun jaringan dan menampilkan substansi yang kreatif dan inovatif sehingga bisa menjadi sumber informasi bagi publik di luar negeri serta melakukan kampanye diplomasi publik secara efektif. 

Kedua, aktif mempromosikan karya-karya dan prestasi anak negeri. Kemajuan yang diraih Indonsia dan keberhasilan putera-puteri Indonesia dalam berbagai ajang lomba internasional perlu diapresiasi dan dipublikasikan, misalnya lewat situs Internet tersebut. Karya-karya musik sejumlah grup musik Indonesia ternyata mempunyai penggemar di banyak negara.  

Ketiga, kontribusi positif bagi upaya pemulihan citra Indonesia. Misalnya, lewat diskusi atau dialog tentang kehidupan demokrasi dan kehidupan beragama di Indonesia. Sebagai negara demokrasi yang sebagian besar penduduknya beragama Muslim kehidupan beragama di Indonesia penuh dengan toleransi dan kebersamaan perlu disosialisasikan kepada masyarakat Internasional. 
Keempat, kerjasama aktif dengan pemerintah. Mengingat begitu luas jangkauan jenis budaya yang ingin kita ‘jual’, kita harus mempunyai strategi yang menjangkau jauh ke depan. Pemerintah harus menjaga kerjasama dan hubungan baik dengan para pelajar Indonesia dan harus lebih aktif mempromosikan dan memerkenalkan Indonesia kepada masyarakat dan komunitas di luar negeri.  

Penutup 
Diplomasi publik dan diplomasi praktis diperlukan untuk menjaga hubungan antara Indonesia dan luar negeri ke arah yang semakin positif. Jika diplomasi praktis dilaksanakan secara menyeluruh oleh setiap elemen masyarakat Indonesia di luar ngeri, ini akan membantu meringankan dan mendukung tugas para diplomat berkerah putih. Pemikiran seperti ini perlu disadari dan ditekankan kepada pelajar Indonesia yang ada di luar negeri. *** 

Referensi: 
Susetyo, Benny. Peranan Diplomasi Publik, Suara Pembaruan, 8 Desember 2008 

Majid, Agus Abdul. Papua, Diplomasi Total, dan PPI Australia, Suara Pembaruan, Kamis, 27 April 2006 

Pudjomartono, Susanto. Masa Depan Diplomasi Kebudayaan, Makalah yang disiapkan untuk Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 di Bogor, Jawa 
Barat, 9-12 Desember 2008 

Smith, Pamela H. Public Diplomacy, International Conference on Modern  
Diplomacy, Malta, February 15-18, 1998

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Radio PPI Dunia

Kegiatan Terbaru

Tidak ada kegiatan
© 2010 PPI Belanda
Powered by Joomla Open Source CMS.