Heeft het Gesmaakt ? Cerita dari sang Raja

Ditulis oleh: Daniel Adrian

“Dit is rendang, een licht pittig rundvlees, en dit is semur, een zoet rundvlees”

(Yang ini rendang, daging sapi agak pedas, dan yang ini semur, daging sapi dengan bumbu manis… )

Sepenggal kalimat berbahasa Belanda di atas sebenarnya sudah menjadi hafalan wajib setiap kali saya menyuguhkan salah satu menu makanan di meja pelanggan restoran. Ya, kalimat yang diuraikan bilamana pelanggan memesan menu utama restoran kami yang paling lengkap, Rijstaffel Redjeki. Pasalnya, menu-menu utama restoran Indonesia di Belanda pada umumnya disuguhkan dalam bentuk rijstaffel, yang notabene disusun oleh beragam jenis sayuran dan lauk-pauk .

Dikisahkan dulunya bahwa cara penyajian menu rijstaffel ini merupakan cara makan mewah kaum bangsawan dari penguasa saat jaman kolonial, ketika menjamu tamu luar Nusantara yang sedang datang. Menunya sendiri menggambarkan keberagaman kuliner dari seluruh wilayah Nusantara.  Citra yang diusung melalui menu ini jadinya menjadi super ekskusif. Lebih-lebih lagi, semisal pelanggan mau pesan menu ini untuk disantap, bujet yang dikeluarkan cukup besar : € 25 per orang. Walhasil, ada tanggung jawab tambahan bagi kami para penyaji untuk menerangkan apa yang dihidangkan di atas meja.

Omong-omong, ada satu hal yang pasti di luar fakta bahwa pelanggan kita bangsawan atau bukan. Pelanggan adalah Raja. Tul ?

“ Inilah Rijstaffel Redjeki. Coba tunjuk yang mana semur dan yang mana rendang?”

“ Inilah Rijstaffel Redjeki. Coba tunjuk yang mana semur dan yang mana rendang?”

***

Sedari minggu pertama bulan Mei, jadwal akhir pecan saya sudah mulai digiatkan untuk bekerja paruh waktu di salah satu restoran Indonesia di Delft menjadi ober, atau penyaji. Restoran ini beroperasi di pusat kota (Centrum) Delft, di mana setiap Kamis dan Sabtu kisaran kawasan ini disulap menjadi area pasar rakyat. Aneka ragam makanan dan pernak-pernik seperti barang kuno, souvenir, atau pakaian bekas dijual dengan harga murah. Jadinya, pusat kota selalu saja diramaikan dengan orang-orang berjalan hilir mudik.

Meskipun luasnya relatif kecil, kota Delft sangat sarat dengan sejarah. Kalau belum kenal Delft, kota ini selalu diasosiasikan  kuat dengan Willem van Orange, pendiri cikal bakal kerajaan Belanda yang  ditembak mati oleh utusan raja Spanyol karena dinyatakan sebagai pemberontak (saat itu sejumlah wilayah Belanda merupakan bagian dari kekuasaan Spanyol). Dari babadnya, dulu pun kota ini adalah pusat pemerintahan awal kerajaan Belanda. Bangunan-bangunan historis, dua gedung gereja megah, benteng-benteng kuno, serta sejumlah museum banyak menghiasi pusat kota. Jangan lupakan sejarah tokoh setempat seperti Hugo de Groot, sang Bapak ilmu hukum internasional, atau Antonie van Leewenhoek, si perintis ilmu mikrobiologi dan pengembang mikroskop awal-awal. Kota ini ialah kota kelahiran mereka, dan beberapa monumen mereka dapat diamati juga di pusat kota.  Kalau sudah begitu, tidaklah heran kalau hampir setiap hari, sejumlah turis dari luar kota datang untuk menjawab rasa penasaran mereka tentang kota ini.

Laiknya seorang penyaji di restoran pada umumnya, tak banyak yang berbeda dengan tugas kami, para ober di sini. Menyambut pengunjung, memberikan menu, mencatat pesanan, mempersiapkan minuman, memberikan hidangan, hingga menangani transaksi pembayaran. Cukup sederhana kelihatannya. Tapi hei, enggak semudah itu loh !  Beberapa di antara kami adalah mahasiswa dan alumni TU Delft. Meskipun bekerja di bawah ‘langkah yang cepat’ adalah hal yang lazim di bangku kuliah, tingkat koordinasi yang ekstra tinggi sangat dibutuhkan untuk pekerjaan semacam ini.  Langkah yang cepat di sini harus benar-benar sinkron antara tangan, kaki, pikiran dan komunikasi, baik dengan pelanggan maupun dengan rekan yang lain. Salah sedikit, bisa-bisa pelanggan tidak  puas karena menu yang dipesan salah dari yang diminta, atau malah gelas berisi wine di meja pelanggan tersenggol, jatuh dan pecah, lalu hanya mesem-mesem tersenyum sendiri.

Kendati hampir semua staff di sini adalah orang Indonesia, beberapa ober justru adalah warganegara Belanda yang memiliki darah luar Belanda. Sebut saja Abishek dari Nepal, Samier dari Pakistan, atau Romina dari Iran. Mereka menunjukkan ketertarikan yang sangat tinggi terhadap makanan Indonesia. Kalau sudah ngobrol masakan indonesia dengan mereka, bawaannya pasti jadi seru dan kepingin bikin mereka jadi penasaran. Misalnya kalau cerita jajanan jalanan kontemporer seperti rujak, dan martabak Bangka yang bikin lidah menari. Mungkin di bayangan mereka adalah salad dengan bumbu saus lokal dan  kue spekkoek[i]  versi sangat murah yang bisa ditemui di jalanan ramai sepanjang pelosok kota.

Belum tahu mereka….

Kalau sang Raja duduk di singgasana

Ada sebuah frasa pertanyaan dalam bahasa Belanda yang selalu kami, para ober lontarkan pada pengunjung saat teramati sudah berhenti memegang sendok garpu ketika makan.

“Klaar met het eten? Heeft het gesmaakt?” ,

yang bila diterjemahkan secara harfiah, artinya adalah “sudah selesai makannya ? bagaimana rasanya ?”. Kedengarannya hanya sedikit basa-basi supaya pengunjung merasa diperhatikan. Restoran mana juga kan yang tidak menawarkan makanan yang lezat ?  Tapi memang seperti itulah salah satu hafalan mati yang umum diucapkan para ober di restoran-restoran Belanda. Terlepas apakah ini menjadi layanan lebih untuk pengunjung dari segi etiket, frasa ini juga jadi  awalan dalam menawarkan menu penutup seperti kopi atau makanan pencuci mulut, tanda sesi makan sudah siap diakhiri.

Kalau boleh bercerita, dari setiap respons yang disampaikan pelanggan untuk pertanyaan tersebut, ekspresi yang paling umum keluar adalah ungkapan puas yang ditumpahkan lewat mimik dan intonasi penuh kegembiraan . Tanggapan-tanggapan dalam bentuk ucapan yang kalau diartikan ke bahasa Indonesia, harfiahnya adalah “luar biasa”,”menakjubkan”, setara dengan “uenak tenan” atau “mantep rek” , dan kadang diikuti gerakan menggeleng-gelengkan kepala kecil-kecil, jempol diacungkan, atau alis diangkat tinggi-tinggi. Orang Belanda sendiri lumrahnya dikenal memiliki sifat lugas dan terang-terangan kalau menyampaikan pendapat. Jadinya, kami bisa pastikan bahwa apa yang didengar memang merupakan curahan sejati dari emosi mereka. Kalau memang enak, berarti memang rasanya enak. Kalau memang biasa saja, berati memang tidak ada yang spesial. Perihal kokinya memiliki kemampuan bagus atau enggak, bukan itu pokok bahasannya.

Ungkapan-ungkapan di atas memang selalu bikin kami jadi berbesar hati. Walaupun sebenarnya bukan kami juga yang masak, melainkan para koki di lantai atas.  Toh yang kami tawarkan kepada pelanggan adalah satu kesatuan antara makanan dan jasa pelayanan.  Kendatipun begitu, ada semacam respons yang sebetulnya saya pribadi selalu nantikan setelah mendengar ungkapan-ungkapan di atas. Apakah itu ?

Lalu sang Raja mulai bercerita

Para pelanggan restoran memang kebanyakan orang yang sudah cukup berumur, entah itu pelanggan tetap ataupun yang sekedar mampir penasaran untuk mencicipi khazanah kuliner Nusantara. Malahan karena sudah berumur, respek yang diberikan buat kami biasanya lebih besar dibanding anak muda. Sekalipun banyak  yang belum pernah ke Indonesia, sensasi melahap satu porsi kuliner yang sangat langka untuk ditemukan sehari-hari dan memberikan kesan mengagumkan sekali dimakan,  membuat para pelanggan memberikan penghargaan sangat besar untuk pelayanan kami.

Kalau mau terbayang seperti apa sensasi itu, saya beri petunjuk jawabannya menggunakan antitesis yang bisa direfleksikan pada salah satu lagu jadul populer. Lagu berbahasa Belanda dengan judul “Geef Mij Maar Nasi Goreng” yang dulu dipopulerkan oleh Tante Lien (Wieteke van Dort),  penyanyi berdarah Belanda di era tahun 1979 yang sebelumnya tinggal di Indonesia.

Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd

Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht

Maar ‘t ergste was ‘t eten. Nog erger dan op reis

Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Terjemahan :

(Ketika kita dipulangkan dari Indonesia

Kita tidak pernah berpikir Bahwa Belanda itu begitu dingin

Tetapi yang paling buruk adalah makanannya. Lebih buruk dari yang didapat selama perjalanan

Kentang, daging dan sayuran dan gula beras

Beri aku nasi goreng dengan telur dadar

Dengan sambal dan beberapa kerupuk dan segelas bir)

Terbayang seperti apa kebalikannya ? Jangan dianggap lagu ini dibuat untuk menunjukkan kalau masakan Belanda rasanya buruk, karena  baik atau buruk nyatanya sungguh sangat relatif.  Pasalnya, Tante Liem pindah ke Belanda pada tahun 1957 saat berumur 14 tahun,  dan sebelumnya dia lahir serta menghabiskan seluruh masa hidupnya di Indonesia. Wajar kalau lagunya digubah seperti demikian. Memori kenangan pada saat dia pindah, sudah barang tentu menggambarkan bagaimana reaksi lidah Indonesia-nya yang belum bisa diajak kompromi cepat saat mulai hidup di Belanda. Seperti kita, para mahasiswa Indonesia yang mulai veteran dalam hal ini. Seumpama saja, setiap tahun Tante Liem menyambut para mahasiswa Indonesia yang baru datang sebulan setelah mereka mulai berdiam. Kalau dia ajak mereka bernyanyi lagu ini bersama-sama  di pusat kota, sepertinya suasananya dijamin bakalan riuh-rendah. Semua melantun  dari hati, sembari berharap benar-benar ada yang memberikan sepiring nasi goreng di akhir nyanyian.

Nah Kawan, coba dibayangkan kebalikan dari dari situasi di atas.  Seperti itulah apa yang para pengunjung restoran kami rasakan. Masakan Indonesia seperti nasi goreng atau rendang memang sudah naik daun di mata dunia. Pengakuan dari badan seperti UNESCO atau jajak pendapat dari CNN, nampaknya sudah cukup membuktikan eksistensi masakan Indonesia di khalayak internasional. Dan lagi dibanding negara-negara lain di seluruh pelosok dunia, makanan Indonesia di Belanda memang sangat populer. Apalagi di sini, banyak nama makanan yang disebut dengan nama orisinalnya. Coba lihat deh beberapa di antaranya: sambal, gado-gado, nasi goreng, bami, sate, kroepoek, sajoer lodeh, tahoe dan tempe.

Nuansa Indonesia sendiri tidak dapat disangkal memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Belanda. Satu hal yang faktanya pun cukup mengagetkan buat saya sendiri. Terlepas dari memori kedua bangsa ini akan masa lalu, bukan hal yang aneh kalau umpamanya terkadang kita berbicara dengan orang Belanda yang baru ketemu, sering sekali mereka menunjukkan simpati lebih saat kami berdua membicarakan Indonesia.  Rasanya seolah-olah ada rasa teramat sayang yang ingin disampaikan. Rasa simpati ini biasanya dicerminkan dengan beragam topik pembicaraan terkait berdiam dan tinggal di Indonesia. Contohnya : perihal merasakan wisata alam dan budayanya,  bekerja atau magang, dan lawatan dalam rangka kegiatan organisasi, apakah itu sudah dialami atau justru baru direncanakan . Bisa jadi juga perihal yang paling mendasar :  karena punya garis keturunan Indo-Belanda dari keluarganya. Buktinya pun nyata : sekitar 1 % penduduk Belanda mengunjungi Indonesia setiap tahunnya[ii]. Angka yang paling besar dari semua negara di luar kawasan Asia Pasifik.

Lantas, jadinya seperti apa respons yang selalu saya nantikan setelah pelanggan bilang puas menyantap  hidangan ? Sederhananya, ketertarikan terhadap Indonesia yang mengikuti rasa puas tadi adalah tanggapan yang sejatinya menunjukkan seberapa besar simpati mereka. Itulah respons yang sering saya nanti-nanti. Cerita saat sekalinya mereka liburan ke Indonesia, dan bagaimana Indonesia akhirnya menjadi sebuah surga wisata kuliner untuk dikunjungi. Dan akhirnya mereka bercerita apa yang mereka lihat dan kunjungi di Indonesia, dan pengalaman apa yang membekas di benak mereka. Bisa juga tanggapan seperti rasa penasaran bagaimana cara memasak dendeng balado kalau di kampung halaman aslinya, atau mungkin saat saudara jauh mereka yang berdarah Indonesia pernah membuatnya di Belanda. Bahkan gurauan kecil seperti keinginan makan gratis di sini setiap hari menjadi isyarat kalau simpati dan rasa ketertarikan itu sangat besar.  Respons-respons tadi mengisyaratkan bahwa mereka memberikan penghargaan yang sangat tinggi, dan sudah selayaknya kita memberikan apresiasi balik. Implikasinya, muncul sedikit rasa berutang bagi kita untuk memberikan atensi yang setara.

“Oh, dulu mereka pernah singgah ke Bandung”

“Oh, dulu mereka pernah singgah ke Bandung”

Refleksi lewat sang Raja

Sungguh, setelah setahun berkuliah di sini saya menjadi paham interaksi resiprokal kedua negara ini ternyata sangat mengagumkan. Kalau membayangkan proyek-proyek kerjasama maritim seperti Tanggul Laut Raksasa Jakarta dan pembangunan Sumber Daya Wilayah Pantai Terpadu Nasional, ada saja mahasiswa Belanda di sini yang mengetahui dan ingin mendalami subjek ini. Bahkan para dosen pun sempat menjadikan beberapa subjek di Indonesia sebagai studi kasus dalam materi kuliahnya.  Padahal boleh dibilang, sebelum berangkat ke Belanda, sepertinya terbatas sekali wawasan saya terhadap negeri ini.  Tidak jauh-jauh dari kincir angin, bunga tulip, kehidupan sekular yang tertib, dan yang paling mentok, Port of Rotterdam . Sedikit mengecewakan memang. Akhirnya, saya jadi sungguh berharap kalau lebih banyak kawan-kawan yang mengenal dan paham Belanda sebagai negeri dengan berbagai elemennya pada masa ini, bukan sepenuhnya dari cerita sejarah saat duduk di bangku sekolah, atau pemberitaan di media massa yang berupa potongan-potongan dari potret utuhnya.

Kalau memang sedang tenggelam dalam kesibukan dan mulai terasa penat mengerjakan tesis di hari-hari ini, ada baiknya saya mengambil sedikit langkah mundur untuk meluangkan waktu mencoba mempelajari beberapa hal tentang Belanda.  Misalnya sejarah, kebiasaan orang-orangnya dan kota wisatanya. Atau dari hal yang paling sederhana namun menantang : bahasa . Sudah hampir sebulan saya sering menonton video pertunjukan Ernie dan Bert atau memutar film populer dengan versi Dutch, berlatih dengan menggunakan perangkat CD de Delftse Methode[iii] di komputer,  ataupun mencoba ngobrol sedikit-sedikit dengan Bahasa Belanda dengan nyonya rumah. Banyak sekali hal-hal baru yang bisa menambah sedikit percikan ketertarikan kita untuk lebih memahami negara ini. Seperti layaknya peribahasa dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.  Ngobrol dengan Raja ‘kan nanti bakal lebih enak kalau menggunakan bahasa ibunya, ketimbang memakai bahasa Inggris.

[i] Kue Lapis legit, namun di Belanda biasa dihidangkan sebagai kue tart dalam acara-acara tertentu

[ii] BPS, dari statistik kunjungan wisatawan mancanegara, dan Wikipedia, jumlah penduduk per negara.  Dihitung secara kasar dari jumlah kunjungan wisatawan setiap Negara dibagi dengan jumlah penduduk. Urutan persentase untuk negara benua Eropa atau Amerika lainnya setelah Belanda adalah Inggris (0,38%), Perancis (0,31%), dan Jerman (0,22%). Amerika Serikat  sendiri hanya mencapai 0,08%.

[iii] Salah satu perangkat metode pembelajaran bahasa Belanda yang sangat populer di TU Delft. Di kampus TU Delft sendiri, metode pembelajaran ini dapat diambil menjadi beberapa mata kuliah terpisah tergantung tingkatannya.

2 comments

  1. mantab nih ceritanya.. bolehkah saya share??

  2. wah serba daging ini pasti disukai semua negara.. makanan terenak .. apalagi rendang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: