Hardwork… is a must!

oleh : Agnez Fitria

Hardwork… is a must!

‘Perjalanan ini tidak mudah, berliku dan berdebu.. maka bersiaplah’’

aagnes

Ok, seriously…menggapai mimpi itu memang dibutuhkan kerja keras. Maka dari itu motto saya : “Berhasil yang muncul sebelum kerja keras hanya ada dalam kamus!”

Tahun 2010, saya membaca opening double-degree scholarship di salah satu milis beasiswa. Master program double-degree ini adalah kerjasama antara Universitas Padjajaran Bandung dan Universitas Twente di Belanda. Kebetulan jurusan di program ini adalah salah satu jurusan yang saya minati. So I said to myself, I’d like to give it a try and let’s do it!

Persyaratan beasiswanya bisa dikatakan standar.  Tahap pertama kita harus menyiapkan motivation letter, Curriculum Vitae (CV), nilai TOEFL (min.500) / IELTS (min.6.5) dan foto-copy ijazah dan transkrip nilai S1. Lalu tahap kedua, setelah screening kelengkapan dokumen, saya diminta mengirim tema rencana. That’s all! akhirnya setelah menunggu satu minggu dari tahapan kedua, saya mendapat pengumuman bahwa saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa double-degree kemendik, sound wonderful isn’t it?

But that was only the beginning. Ada beberapa prosedur yang saya harus jalani setelah pengumuman penerima beasiswa.

Pada saat penandatanganan kontrak beasiswa, saya baru mengetahui bahwa tidak semua penerima beasiswa double-degree ini akan diberangkatkan ke Belanda, dari 17 orang penerima beasiswa hanya akan diberangkatkan 2(dua) orang terpilih saja. I was slightly disappointed. But I keep on believing as this opportunity was so rarely come to my life. I needed to keep on going!

Di tahap ini, diberitahukan pula bahwa dua mahasiswa yang akan dipilih harus memiliki IPK yang cukup baik (IPK >3.0 dari 4.0), IELTS (min.6.5), dan mengikuti seleksi psikotes. Beasiswa kemendiknas juga memberikan kursus persiapan IELTS gratis selama 3 (tiga) bulan, dan penggantian uang tes IELTS (jika hasilnya min 6.5).

Certainly, this scholarship offered a great opportunity. You could open another door to expand your network even in a case you are not chosen to go the Netherlands. Your IELTS score is your capital; it would be beneficial for you to apply for another scholarship. Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan, kalau nanti saya tidak terpilih setidaknya saya punya bekal tambahan untuk mendaftar beasiswa lain ke luar negeri J

However, kesimpulan itu tentu menjadi suatu konsekuensi akhir setelah nanti saya bekerja keras. Singkat cerita, setelah melalui 2 semester masa perkuliahan, fase kedua adalah seleksi dengan tes psikologi. Setelah melalui serangkaian tes psikologi, satu minggu kemudian kami harus melaksanakan tes IELTS.

Waktu pengumuman pun akhirnya tiba dam di luar dugaan, ada sedikit kejutan yang diberikan. Keberangkatan tahun ini ternyata tidak hanya 2 (dua) orang melainkan 3 (tiga) orang. Namun sang pemegang peringkat ke-3, hanya akan mendapat support living cost dari kemendiknas, sedangkan untuk tuition fee, dia harus melamar langsung beasiswa dari Universitas Twente. And guess what? I was the number 3! So, one more time, I had to fight in order to pass Twente Scholarship requirement. Kerja Keras!

Ada beberapa persyaratan dalam mengajukan beasiswa ke Universitas of Twente yakni motivation letter, CV, hasil tes IELTS, 2 (dua) referensi dari dosen, serta proposal penelitian. Kebetulan proposal penelitian saya sudah cukup mantap karena dua semester sebelumnya sudah mendapatkan bimbingan dari para professor.

Setelah itu, ada beberapa komunikasi yang harus dijalankan dengan committee pemberi beasiswa yang antara lain wawancara teleconference dengan Ketua Jurusan Master Energy adn Enviromental Management Twente. Senangnya pada saat beliau memberikan feedback yang positif dan tertarik terhadap riset yang ingin saya lakukan.

Setelah satu bulan menuggu, saya dengan bangga mengumumkan bahwa saya adalah penerima beasiswa University of Twente.

Akhir Agustus 2011, saya beserta dua teman saya akhirnya menginjakan kaki di Negara kincir angin ini. Kesan saya ketika pertama kali merasakan udara Belanda hampir sama dengan para tropisian lainnya. So cold!!!! The wind blows so hard, people are so tall, they walk and bike, they said “hoi” even to the stranger when we are passing each other on the street.

Perjuangan saya belum selesai karena sebagai penerima beasiswa saya diharuskan memiliki nilai perkuliahan minimal 7 (skala 0-10), jika kurang dari itu, ada sanksi yang diberikan. Karena hal itu menjadi salah satu external motivation saya untuk lagi lagi bekerja keras. One more challenge for me! I loved it!!

Tentang University of Twente

University of Twente berada di kota Enschede. Khusus jurusan saya, lokasi kampus berada di Leeuwarden, ibukota provinsi Friesland. Walau terkesan “kota”, Leeuwarden ini jauh dari kesan ramai, tidak banyak pelajar atau pendatang jika dibandingkan dengan kota-kota di Belanda lainnya. Selain itu, disebabkan lokasinya yang berada di utara Belanda, Leeuwarden memiliki cuaca yang lebih dingin dari kota-kota lainnya.

My Graduation

Sepuluh bulan berlalu, perkuliahan pun berakhir. Nilai-nilai akhir setiap mata perkuliahan mulai diumumkan, dapat dikatakan hasilnya cukup memuaska. The internal and external motivation works on me! Kerja keras saya terbayar, plus bonus jalan-jalan ke beberapa negara eropa lainnya.

Mei 2012, saya kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan penelitian tesis saya di UNPAD. November 2012, saya dinyatakan lulus dari Universitas Padjajaran, dengan nilai rata-rata dan tesis yang memuaskan. Pada bulan yang sama, berbekal sisa tabungan beasiswa, saya kembali ke Belanda untuk beberapa kali melakukan bimbingan thesis kedua saya untuk MEEM.

Finally, awal December 2012 saya dinyatakan lulus dengan nilai thesis kedua, yang juga sangat memuaskan. YES!! Akhirnya Kerja keras selama ini terbayar tepat waktu dan hasil yang bagi saya cukup memuaskan.

 

Untuk menutup cerita saya di laskar beasiswa ada beberapa tips yang bisa saya bagikan ke Anda semua:

  1. Join some scholarship mailing-list to gather information as much as possible
  2. Buat rencana penelitian atau minimal usulan tema penelitian. It can be your strong benefit as an applicant of any scholarships.
  3. Be well prepared for your IELTS test. Remember! language proficiency always be key requirement if you want to study aboard!
  4.  Prepare your research proposal in advance.

Remember, “Success is never final, failure is never fatal. It’s courage that counts.”(John Wooden).

And if there’s a time your head said “I am tired” remember also this “Berhasil muncul sebelum Kerja keras, hanya ada dalam kamus” (Agnes.FN).

So..keep trying and don’t stop believing!!!

Oleh Agnes Fitria penerima University of Twente scholarship dan beasiswa Kemendiknas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: