Good things come to those who wait, but the best things come to those who never give up!!

Oleh Bening Mayanti
Penerima beasiswa Anne van den Ban Foundation
Master in Climate Studies-Environmental System Analysis, Wageningen University, The Netherlands

Flashback kembali ke tahun 2004 di mana saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Benua Eropa untuk pertama kalinya. Pada saat itu, saya dan kawan-kawan dari keluarga paduan angklung SMUN 3 Bandung sedang mengadakan misi kebudayaan untuk mempromosikan angklung ke beberapa negara yaitu Jerman, Belgia, Prancis, Skotlandia, Ceko, dan Polandia. Sepulang dari perjalanan tersebut, Saya sempat berujar pada Ibu, ‘Bu, Aku nanti mau sekolah ke luar negeri yah. Aku mau ke Jerman.’ Ucapan anak 17 tahun yang belum tahu susahnya mengejar mimpi.Waktu berlalu sampai saya lulus dari Teknik Lingkungan di tahun 2009. Galau terbesar ketika lulus S1 adalah ‘Kerja atau lanjut sekolah?’, karena tidak yakin dengan apa yang saya inginkan, saya pun melamar pekerjaan dan beasiswa. Tahun itu dua beasiswa saya lamar, beasiswa di Hokkaido University dan Erasmus Mundus di JEMES program. Apa yang terjadi? Kedua aplikasi Saya diterima, saya hanya perlu konfirmasi ‘Mau’ atau ‘Tidak’ dengan (salah satu) tawaran tersebut. Dilema sungguh. Detainya tidak bisa Saya ceritakan, karena personal sekali :). Pada akhirnya, seorang perempuan muda nan labil dan sangat gampang merasa ‘nggak enak’ terhadap orang lain mengambil suatu keputusan. Keputusan yang diambil berujung pada saya tidak jadi menjalani kedua program tersebut. Hati saya patah. Benar-benar patah. Tidak mendapatakan beasiswa karena kualifikasi yang tidak memenuhi, jauh lebih bisa diterima daripada tidak jadi mendapat beasiswa hanya karena keputusan yang salah. Apalagi JEMES itu program yang menarik buat saya, karena tentang lingkungan dan salah satu konsorsium universitasnya di Hamburg. Jerman.Saya sempat down, sangat. Saya jadi pemurung dan tidak mau beraktivitas keluar rumah. Malas melamar pekerjaan dan panggilan untuk tes kerja jadi sesuatu yang tidak menarik. Sampai suatu hari Ibu saya memaksa Saya untuk ‘keluar’ dari rumah. Ada tawaran pekerjaan dan Ibu berpikir bahwa saya tidak bisa begitu terus. Mungkin istilah kerennya saya harus ‘move on’. Kalau memang masih ingin sekolah, saya tetap bisa mengirim aplikasi sambil bekerja, yang pasti saya harus beraktivitas dan harus belajar menerima apa yang sudah terjadi.

Akhirnya saya bekerja sambil terus mencari informasi tentang beasiswa. Tidak mudah memang, tapi selalu ada jalan. Google adalah teman terbaik saya saat itu. Saya paling anti bertanya kalau belum benar-benar mencari. Hal ini pula yang membuat saya mendapat jawaban yang menyenangkan ketika saya bertanya pada aplikan yang sudah sukses mendapat beasiswa. Karena mereka yang sudah sukses mendapat beasiswa sangat bisa membedakan pertanyaan yang datang dari orang yang malas berusaha dan dari mereka yang bertanya karena sedang berusaha 🙂

Di tahun kedua saya berkutat dengan aplikasi beasiswa,  jaring ditebar seluas-luasnya. Program yang saya lamar adalah tiga program di Erasmus Mundus, yaitu JEMES (keukeuh), IMETE, dan Flood Risk Management. Program di luar itu adalah Water Resource Engineering di KU-Leuven dan Climate Studies di Wageningen University. Beasiswa yang saya apply lebih brutal lagi. Tiga beasiswa dari Erasmus Mundus (otomatis menyertai aplikasi program Erasmus Mundus), VLIR-UOS untuk KU-Leuven, Anne van den Ban Foundation (http://www.wageningenur.nl/en/Benefactors/Contribute-to-the-talent-of-students/Anne-van-den-Ban-Fonds.htm) untuk Wageningen, beasiswa unggulan Dikti, beasiswa Kemendiknas, e8, OFID scholarship, Ancora Foundation, sampai aplikasi Fullbright.

Bermodalkan buku Longman yang dipinjam dengan semena-mena dari seorang kawan dan persiapan selama dua minggu, tes IBT sampai ke Jogja pun dilakoni karena Bandung dan Jakarta sudah penuh. Untung hasilnya cukup. Luar biasa sih tidak, tapi sudah cukuplah untuk melamar beasiswa di sana-sini.

Masa-masa memenuhi kelengkapan beasiswa adalah masa yang merepotkan. Pada saat itu saya bekerja di Jakarta dan banyak surat yang harus di urus di universitas saya di Bandung. Tebak siapa yang mau berpayah-payah mengurus semua printilaan di Bandung? Ibu saya (I have the best mother ever!!Everybody does :)). Masa-masa mengirim aplikasi adalah masa yang membuat kantong terkuras. Sedangkan masa-masa menunggu hasil aplikasi adalah masa yang menegangkan.

Singkat kata, kelima master program yang saya lamar menerima saya. Oke, itu bagus meskipun saya tetap tidak bisa berangkat kalau tidak dengan beasiswa. Lalu bagaimana beasiswanya? Tiga aplikasi di Erasmus Mundus tidak lolos, VLIR-UOS gagal, pun e8 dan OFID menolak saya (OFID itu kualifikasinya luar biasa!!), Fullbright belum jodoh, Ancora dan Kemendiknas tidak berkabar. Sampai pada suatu masa, saya mendapat kabar kalau saya lolos tahap pertama beasiswa ABF. Mereka menyaring 29 orang dari aplikan di seluruh dunia dan pada akhirnya hanya lima orang yang akan mendapat beasiswa. Setelah itu, saya kembali mendapat kabar kalau saya masuk saringan tahap kedua sebagai 12 besar. Oke, semakin tegang. Sampai pada akhirnya Saya menerima surat cinta yang menyatakan saya menjadi salah satu penerima beasiswa ABF. Hamdalah, tidak sia-sia saya mengidolakan Edwin van der Sar sejak 1998 (Oke, ini ngelantur!!).

Beasiswa ABF ini mengcover biaya hidup selama dua tahun menjalani master di Wageningen University. Tuition fee berasal dari Wageningen University Fellowship. Lalu haruskah apply dua beasiswa itu secara terpisah? Tidak perlu. Setelah mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari universitas, LoA tersebut digunakan untuk melamar beasiswa ABF. Jika kualifikasi pelamar memenuhi syarat, Program Director dari Master yang kita lamar akan merekomendasikan kita secara otomatis kepada board member Wageningen University Fellowship untuk mendapat beasiswa bagi tuition fee.

Apa kabar beasiswa Dikti??Saya lolos untuk masuk ke tahap wawancara, tapi pengumuman dari mereka benar-benar terlambat dari waktu pengumuman yang dijanjikan. Ibu menyarankan saya tetap terima beasiswa ABF, ‘Kamu kan suka bingung sendiri kalau disodori banyak pilihan. Udah fokus aja sama yang udah kamu dapet.’ Oke, sebagai anak soleha, Saya nurut saja.

Apakah setelah itu semua berjalan mulus? Tentu saja….tidak!!! Kendala bahasa, perbedaan kultur, musim yang menyebalkan, sendiri dan jauh dari keluarga, puasa 20 jam, bule ngehek yang kadang memandang sebelah mata mahasiswa dari negara berkembang adalah sekelumit permasalah yang ditemui. Belum lagi saya ini kan hanya manusia biasa, yang meskipun sudah diberi kepercayaan mendapat beasiswa ABF ke Belanda, nun jauh di lubuk hati terdalam masih sempat terbersit pertanyaan kenapa bukan beasiswa JEMES yang lolos. JEMES itu yang paling saya inginkan. Tapi memang cuma Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Berkat mengambil program Climate Studies di Wageningen University, Saya berkesampatan untuk menjalankansummer course gratis di Belanda, Swiss, dan Prancis. Dilanjutkan dengan konferensi di Bologna *nyengir*.

Intinya, tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan untuk mendapatkan sesuatu yang gratis (baca: beasiswa), tetap ada harga yang harus dibayar. Tapi kerja keras saja tidak cukup untuk mereka yang bercita-cita bisa sekolah di luar negeri. Kepercayaan dan penerimaan adalah hal mutlak yang harus dimiliki para laskar beasiswa. Kepercayaan bahwa kalian punya kemampuan, kepercayaan bahwa Tuhan itu pasti membantu, dan kepercayaan bahwa apapun hasil yang didapat, itulah yang terbaik. Pun penerimaan tak kalah penting. Penerimaan bahwa kenyataan kadang tak seindah bayangan.

Ini memang tidak mudah, ada masa di mana kalian akan merasa lelah mengejar apa yang diimpikan. Ambil rehat sejenak. Bukan karena kalian menyerah, tapi rehat untuk kemudian berlari lebih kencang.

If you want something, go get it. Period! (The Pursuit of Happyness)
P.S. Ini pertama kalinya saya terbuka atas apa yang terjadi sebelum saya menerima beasiswa ABF. Sebelumnya, yang tahu mengenai ini hanya keluarga dan lingkaran teman-teman. Tapi detailnya kenapa sampai tidak jadi berangkat ke Hokkaido atau JEMES tetap tidak saya tulis :). Buat yang sedang memperjuangkan beasiswa, jangan patah semangat. Fokus pada apa yang kalian inginkan, bukan pada apa yang kalian tidak inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: