Gajimu Bahagiamu, sebuah survei tentang kebahagiaan di kalangan profesional muda di Indonesia

“Whoever said money can’t buy love clearly didn’t have enough.”

Robert De Niro dalam film Heist (2015)

money-cant-buy-happiness

Apakah uang bisa menciptakan kebahagiaan masih menjadi perdebatan hangat di kalangan ekonom maupun psikolog.  Yang cukup menarik untuk disimak adalah istilah “Paradoks Easterlin” yang digagas oleh Easterlin (1974). Dalam Paradoks Easterlin diperkenalkan konsep titik jenuh. Mulanya, memang besarnya pendapatan berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan. Logikanya, pendapatan yang mencukupi bisa mendukung keterjaminan kebutuhan dasar seseorang sehingga membuatnya cukup mampu meraih kebahagiaan. Pada fase ini pendapatan berbanding lurus dengan  tingkat kebahagiaan.

Namun, di suatu titik, relasi tersebut mencapai titik jenuh. Hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan menurun dan bahkan bisa hilang sama sekali. Sebagai bukti empiris, Easterlin menemukan bahwa lonjakan ekonomi di negara-negara maju seperti US, Jepang, dan Eropa selama tiga puluh tahun terakhir ini tidak diiringi dengan peningkatan kebahagiaan masyarakatnya.

Senada dengan hipotesis Easterlin, secara makro, Layard (2003) berpendapat bahwa titik jenuh relasi pendapatan-kebahagiaan untuk sebuah negara ada di angka GNP per kapita sebesar US $15.000 per tahun sementara Frey dan Stutzer (2002) mengklaim titik jenuh tersebut ada di angka GNP per kapita sebesar $10.000 per tahun. Artinya, setelah pendapatan rata-rata suatu negara mencapai angka tersebut, tingkat kebahagiaan masyarakatnya tidak lagi ditentukan oleh uang. Jika melihat Indonesia (GNP per kapita sekita $3.500), apakah menurut Anda tingkat kebahagiaan masyarakat kita masih ditentukan oleh besarnya pendapatan mereka?

Secara mikro, yang paling menarik adalah temuan dari Deaton dan Kahneman, peraih Nobel Ekonomi tahun 2015 dan tahun 2002. Mereka melakukan survei kepada 450 ribu orang responden di US pada tahun 2008 dan 2009 dan menemukan bahwa titik jenuh relasi pendapatan-kebahagiaan seorang individu adalah $75.000 per tahun. Sebelum gaji seseorang mecapai $75.000, kebahagiaan mereka ditentukan oleh besarnya gaji. Namun, penduduk US dengan pendapatan di atas nilai tersebut tidak lagi memandang uang sebagai isu penting bagi kebahagiaan. Deaton dan Kahneman berargumen bahwa  kebutuhan dasar dan kebutuhan untuk bersosialisasi sudah terpenuhi oleh mereka dengan pendapatan tersebut sehingga kebahagiaan lebih ditentukan oleh faktor lain.

Lebih lanjut, ekonom klasik berpandangan bahwa individu justru termotivasi oleh posisi relatif mereka terhadap orang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Stuart Mill: “men do not desire to be rich, but richer than the other men”. Berangkat dari sana kita mengenal istilah pendapatan relatif. Beberapa peneliti berargumen bahwa pendapatan relatif seseorang dibandingkan dengan koneksinya (kolega, saudara, tetangga, dan lain-lain) lebih mempengaruhi kebahagiaan dirinya daripada besarnya pendapatan absolut yang ia peroleh. Sebagai ilustrasi, seseorang yang gajinya empat juta per bulan dan memiliki teman-teman dekat dengan besar gaji yang relatif sama akan cenderung lebih bahagia daripada seseorang bergaji tujuh juta tetapi teman-teman dekatnya rata-rata memiliki gaji lima belas juta.

Sebuah argumen lain muncul dari Clark dan Senik (2010) yang berpendapat bahwa faktor yang lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan bukanlah pendapatan relatif maupun absolut, tetapi kecenderungan seseorang untuk membanding-bandingkan pendapatannya dengan orang lain. Maka kita bisa melihat, misalnya, seorang ibu tukang gosip tampak kurang bahagia dibandingkan seorang ibu rumah tangga bersahaja yang tidak pernah membanding-bandingkan harta keluarganya dibandingkan yang dimiliki oleh tetangga sekitar.

Perdebatan tentang relasi pendapatan dan kebahagiaan belum mencapai titik temu. Belum lagi kita berbicara tentang segmen demografis yang berbeda-beda. Lain kelompok usia, lain asal negara (negara maju vs berkembang misalnya), tentu memiliki lain cerita. Maka dari itu kami melakukan sebuah studi dengan memilih segmen demografis yang lebih spesifik.

 

Sebuah studi kecil kalangan profesional muda di Indonesia

Pada bulan Juni lalu, kami menyelenggarakan riset kecil untuk menemukan relasi antara pendapatan dan kebahagiaan di kalangan profesional muda di Indonesia. Kalangan profesional muda harus diakui merupakan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tidak seperti tren demografi di sebagian besar negara maju yang stagnan bahkan menurun, populasi orang muda Indonesia justru terus tumbuh dan dalam dua puluh tahun ke depan Indonesia akan menikmati bonus demografi tersebut. Sebanyak 60 persen penduduk Indonesia berusia kurang dari 30 tahun dan angka tersebut terus tumbuh dengan rata-rata 2.5 juta per tahun (Mckinsey, 2012). Untuk itu, bagi kami cukup menarik untuk mencari tahu apa faktor penentu kebahagiaan mereka.

Riset dilakukan dengan cara survei. Kuesioner disebarkan kepada kalangan muda profesional dengan rentang usia antara 18 sampai 30 tahun yang tengah bekerja dan telah memperoleh paling tidak gelar sarjana. Kuesioner disebar melalui media sosial dan didapatkanlah sampel sebanyak 285 orang yang bekerja di 24 sektor yang berbeda, mulai dari sektor manufaktur, energi, pendidikan, non-profit, dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang diajukan antara lain tingkat kebahagiaan responden, pekerjaan dan lamanya bekerja, besaran pendapatan pribadi, dan perbandingan pendapatan relatif terhadap kolega kantor, keluarga, teman satu jurusan di kampus, dan sahabat dekat. Sebagai variabel kontrol, ditanyakan pula status pernikahan, kesempatan mengembangkan diri, kepuasan akan gaji yang didapat, serta tuntuntan kerja ekstra di kantor. Pengukuran tingkat kebahagiaan dilakukan dengan Satisfaction for life scale, yaitu skala kebahagiaan yang diperkenalkan oleh Diener (1985) dengan cara mencari nilai rata-rata dari lima pertanyaan tentang kebahagiaan pribadi responden.

Regresi multi-linier dilakukan untuk menemukan kekuatan relasi antara tingkat kebahagiaan dengan dua variabel independen: (1) besarnya pendapatan absolut dan (2) pendapatan relatif dibandingkan dengan orang di sekitar responden. Pendapatan relatif didapatkan melalui dua cara, pertama melalui pertanyaan langsung kepada responden, bagaimana mereka melihat pendapatan mereka dibandingkan orang sekitar (pilihan jawaban: jauh lebih kecil, lebih kecil kecil, sama, lebih besar, jauh lebih besar). Kedua, dengan cara membandingkan antara pendapatan absolut responden dengan rata-rata pendapatan profesi di sektor tersebut dengan durasi pengalaman kerja yang sama dengan responden.

Nilai pendapatan responden tersebar dengan distribusi normal dari pendapatan kurang dari 2 juta per bulan sampai dengan pendapatan lebih dari 20 juta per bulan. Rata-rata pendapatan sampel adalah sebesar 7,7 juta rupiah per bulan, dimana rata-rata pendapatan tertinggi ada di sektor energi dan rata-rata pendapatan terendah di sektor farmasi dan kesehatan.

Terkait tingkat kebahagiaan, berdasarkan nilai rata-rata dari kelima pertanyaan tentang tingkat kebahagiaan yang diajukan, hanya 3,5 persen responden yang merasa sangat berbahagia dengan kondisi hidup dirinya. Yang mengejutkan, sebanyak 61 persen responden menyatakan bahwa dirinya tidak atau kurang bahagia. Artinya, secara umum kalangan profesional muda Indonesia masih dalam perjalanan mencari kebahagiaan.

 

Pendapatan absolut atau relatif?

Hasil riset menunjukan bahwa pendapatan absolut berkorelasi positif dengan tingkat kebahagiaan kalangan profesional muda di Indonesia. Artinya semakin tinggi pendapatan seseorang berarti semakin bahagia dirinya. Sementara itu, hubungan antara pendapatan relatif dan tingkat kebahagiaan, meskipun menunjukan korelasi negatif, hasilnya tidak signifikan, baik itu pendapatan relatif hasil kalkulasi (perbandingan antara pendapatan absolut dengan rata-rata gaji profesi yang sama) maupun pendapatan relatif berdasarkan persepsi responden.

Hasil ini menunjukan bahwa bagi kalangan profesional muda, besaran pendapatan sangat mempengaruhi  tingkat kebahagiaan mereka. Kami berargumen, bahwa fase bekerja pasca lulus kuliah merupakan fase transisi kritis bagi orang kebanyakan: perubahan kondisi dari tidak punya pendapatan di fase kuliah yang hanya mengandalkan uang beasiswa atau uang kiriman orang tua, kepada fase bekeja di dunia profesional dimana di fase tersebut kebanyakan orang pertama kalinya menerima gaji pribadi.

Semakin tinggi pendapatan/gaji berarti semakin besar kesempatan mereka untuk memenuhi standard kebahagiaan versi mereka sendiri, entah itu membeli gadget baru, berlibur ke luar negeri, membeli kendaraan pribadi, atau bahkan sesuatu yang lebih visioner seperti mulai mencicil rumah, menghajikan orang tua, atau mempersiapkan pernikahan. Pendapatan yang cukup memuaskan (atau besar) juga menunjukan bahwa mereka berada memiliki karir yang baik pasca lulus kuliah sebagai kompensasi bagi kerja keras mereka di kampus.

Namun, yang cukup menarik, hipotesis awal kami menyatakan bahwa pendapatan relatif berkorelasi negatif dengan tingkat bahagia ternyata tertolak. Hasil riset menunjukan hubungan yang tidak signifikan di antara dua variabel tersebut. Artinya, bagi kalangan profesional muda di Indonesia, besaran gaji kakak, sahabat dekat, teman satu jurusan, maupun kolega kerja tidak berpengaruh bagi kebahagiaan pribadi mereka. Hal ini menunjukan bahwa kalangan profesional muda memiliki standard masing-masing untuk menentukan definisi kebahagiaan. Kebiasaan membanding-bandingkan tidak lagi jadi pertimbangan yang mempengaruhi kebahagiaan mereka.

 

Refleksi

Temuan ini menjadi satu hal yang menarik bagi kami untuk berefleksi. Berikut refleksi kami:

Pertama, terkait relasi antara uang dan kebahagiaan di kalangan profesional muda. Memang di satu sisi benar, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, uang bisa juga berarti kesempatan untuk meraih kebahagiaan. Apalagi bagi anak muda di fase transisi. Fase pasca lulus kuliah merupakah fase transisi kritis bagi seseorang untuk memilih jalan kehidupan baru. Kemapanan jadi hal yang dikejar sebagai pijakan memperoleh kebahagiaan. Pendapatan yang lebih besar artinya kesempatan untuk dapat memperoleh kemapanan.

Materialisme benar bekerja di kalangan anak muda. Budaya instan itu memang terasa: belajar dengan sistem kebut semalam, ikut kursus IELTS selama satu bulan intensif, tidak tertarik dengan proyek yang nominal uangnya minim. Kita harus mengakuinya. Pun tidak heran kita banyak menemukan (atau mungkin kita sendiri menjadi bagian) fenomena kutu loncat di kalangan anak muda. Pindah pekerjaan karena tawaran gaji yang lebih menarik jadi hal yang biasa. Saya tidak bicara benar atau salah. Berkontribusi bagi bangsa dengan idealisme itu perlu, mencari nilai kehidupan dan pengalaman itu juga perlu. Namun, mencari kemapanan juga penting bagi anak muda. Semuanya kembali kepada pilihan.

Mungkin bagi segmen demografi lain, di kalangan yang lebih tua misalnya, hasilnya bisa berbeda. Siapa yang tahu. Mungkin bagi mereka besarnya pendapatan tidak penting bagi kebahagiaan. Penghargaan diri dan aktualisasi bisa jadi lebih dominan. Atau bisa juga keharmonisan keluarga dan jumlah anak jadi faktor penentu kebahagiaan. Perlu ada studi lebih lanjut tentang itu.

Kedua, cukup penting bagi perusahaan untuk menggaji pekerjanya dengan layak. Memang uang bukan segala-galanya. Namun, pendapatan yang besar memuaskan berarti apresiasi perusahaan atas suatu profesi. Saya percaya penghargaan dalam bentuk pendapatan yang layak bisa membuat kinerja karyawan lebih baik. Logikanya seperti ini: pendapatan yang layak akan menghasilkan kebahagiaan, dan kemudian kebahagiaan membuat seseorang berkerja lebih produktif dan lebih fokus.

Ketiga, terkait keterbatasan penelitian. Ada beberapa keterbatasan yang membuat kami belum merasa puas dengan penelitian ini.

  • Pertama, terkait definisi kebahagiaan itu sendiri. Apakah benar kebahagiaan bisa diukur secara subjektif? Mbah Einstein pernah bilang, “Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted”. Jangan-jangan memang konsep mengukur kebahagiaan sendiri adalah konsep yang abstrak.
  • Kedua, terkait perbedaan istilah antara gaji dan pendapatan. Di Indonesia kedua hal itu berbeda. Seorang dosen dengan gaji 1,5 juta per bulan bisa saja pendapatannya lebih dari 20 juta hasil dari proyekan.
  • Ketiga, terkait demografi tempat tinggal yang kami abaikan dalam penelitian. Besarnya pendapatan yang sama di Jakarta dan di Bandung tentu harus dimaknai lain, kedua Kota memiliki purchasing power yang berbeda. Sangat mungkin orang Bandung dengan pendapatan 7 juta per bulan akan lebih berbahagia daripada orang Jakarta dengan pendapatan sama.
  • Keempat terkait sampel yang merupakan jaringan sosial terdekat kami, kebanyakan alumni kampus negeri di Pulau Jawa, bekerja terpusat di Kota-kota besar. Tidak heran apabila rata-rata pendapatan sampel menjadi cukup besar dibandingkan realita yang ada. Maka ‘kalangan muda profesional’ kami definisikan secara sangat sempit: mereka orang muda, sarjana, dan bekerja di kota-kota besar.

Terakhir, refleksi saya adalah tentang variabel kontrol. Korelasi terkuat di antara variabel kontrol dengan tingkat kebahagiaan ada pada status pernikahan seseorang. Mereka yang sudah menikah lebih berbahagia daripada mereka yang hidup menjomblo. Benarlah apa kata Mario Teguh bahwa kunci kebahagiaan adalah menikah. Artinya, satu pesan saya bagi mereka yang merasa hari ini kurang bahagia: minta naik gaji kepada bos atau segeralah menikah!

 

Muhammad Yorga Permana

Kepala Bidang Kajian Gerakan PPI Belanda 2015/2016

 

Tulisan ini adalah hasil penelitian bersama Meutia Kusprameswari. Keduanya mengambil studi di Innovation Sciences Master Program TU Eindhoven. Tulisan asli bisa juga dibuka di blog pribadi https://yorga.wordpress.com/2015/11/15/gajimu-bahagiamu-sebuah-survei-terhadap-kalangan-profesional-muda-di-indonesia/

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: