Forum Kagama Belanda: Vaksinasi dari Sisi Medis, Ekonomi, dan Psikososial

Pada hari Sabtu, 25 November 2017, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Belanda menyelenggarakan acara Forum Kagama Belanda dengan tema “Vaksinasi: Tinjauan Medis, Ekonomi, dan Psikososial”. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Boothzaal, Utrecht University Library dan dimulai sekitar pukul 11:00 pagi hingga pukul 04:30 sore waktu setempat. Forum ini terbuka untuk umum, sehingga tidak hanya diikuti oleh anggota Kagama saja, namun juga oleh pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai kota di Belanda.

Forum ini terdiri dari dua sesi, dimana masing-masing sesi diisi oleh dua pembicara. Setelah dibuka dengan sambutan dari pembawa acara, forum dimulai dengan sesi pertama oleh dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc. (kandidat PhD di bidang Virologi-Imunologi, Erasmus University Medical Center, Rotterdam) dan Metta Rahmadiana, M.Sc. (kandidat PhD di bidang Psikologi Klinis, Vrije Universiteit Amsterdam), serta dimoderatori oleh Hero Marhaento, M.Sc. (kandidat PhD dalam bidang Teknik dan Manajemen Air, University of Twente). Masing-masing pembicara mempresentasikan materinya dan setelah itu diteruskan dengan sesi tanya-jawab.

Sambutan oleh pembawa acara

Suasana saat forum berlangsung

Suasana saat forum berlangsung (2)

Materi pertama yang dibawakan oleh dr. Hakim membahas mengenai sejarah, perkembangan, dan kontroversi vaksinasi di masyarakat.  Dalam penjelasannya, beliau mengungkapkan bahwa vaksin merupakan salah satu penemuan penting dalam ilmu kedokteran modern dan terbukti efektif dalam menurunkan kejadian vaccine-preventable diseases (VPD). Meskipun bermanfaat, namun sayangnya masih banyak pihak yang menolak keberadaan vaksin. Hal ini terkait erat dengan gerakan anti-vaksin oleh beberapa pihak dan pengaruh media massa yang menyebarkan informasi yang tidak benar. Pada beberapa kasus, gerakan anti-vaksin cukup berbahaya karena menurunkan angka bayi yang divaksin dan meningkatkan kasus kemunculan penyakit VPD. Salah satu contohnya adalah 94% orang yang tidak divaksin memunculkan wabah campak pada tahun 1999-2000 di daerah Bible Belt, Belanda dengan jumlah 3292 kasus. Lebih lanjut, beliau juga memaparkan beberapa teori konspirasi yang salah dan beredar di masyarakat, antara lain: vaksin merupakan program pengendalian penduduk secara selektif; vaksin adalah konspirasi zionis Yahudi untuk menguasai dunia; vaksin disusupi dengan virus hidup aktif dan agen penyebab kemandulan; serta vaksin hepatitis dan vaksin cacar digunakan untuk menyebarkan virus HIV/AIDS. Teori ini menyebabkan boikot vaksinasi di beberapa negara, misalnya di Nigeria pada tahun 2002-2004 sehingga meningkatkan kasus penyakit VPD di negara tersebut. Sebagai kesimpulan, beliau mengatakan bahwa peningkatnya penolakan vaksinasi di beberapa negara tersebut dapat menghambat program eradikasi VPD secara global.

Sesi pertama kemudian dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh Metta Rahmadiana, yang menjelaskan vaksin dari tinjauan psikososial dan mass-histeria. Sebelum memberikan materi,  peserta diberikan kesempatan untuk melakukan permainan alfabet terlebih dahulu, dengan mengisi 26 kotak yang berisi huruf alfabet yang berbeda. Semua peserta diminta untuk mengisi kotak-kotak tersebut dengan barang yang dimiliki oleh orang lain yang diawali dengan alfabet di masing-masing kotak. Permainan menjadi cukup menantang karena hanya dilaksanakan selama 15 menit. Kemudian setelah permainan, beliau mengaitkan permainan tersebut dengan kebingungan yang dialami oleh masyarakat tentang vaksin, sama seperti kebingungan para peserta saat memainkan permainan tersebut. Dengan banyaknya informasi negatif yang beredar di masyarakat, muncul perasaan panik sebagai reaksi kecemasan dan ragu untuk mengikutsertakan anak mereka dalam program vaksinasi. Untuk mengatasinya, beliau menyebutkan beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu memahami situasi yang ada, mengeksplorasi informasi, dan mengambil keputusan. Setelah presentasi dari kedua pembicara tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pembagian kenang-kenangan kepada kedua pembicara dan moderator.

Pembagian kenang-kenangan untuk kedua pembicara dan moderator di sesi pertama

Suasana Permainan Alfabet

Setelah sesi pertama ditutup, acara ini kemudian dijeda dengan istirahat sholat dan makan siang selama kurang lebih satu jam. Sekitar pukul 2 siang, forum dilanjutkan kembali ke sesi kedua oleh dr. Aryanti Radyowijati MPH, MA (Direktur ResultsinHealth dan dosen senior di Windesheim Honours College, the Netherlands) dan Novat Pugo Sambodo MIDEC (kandidat PhD di bidang Ekonomi Kesehatan, Erasmus School of Health Policy and Management, Erasmus University Rotterdam), serta dimoderatori oleh dr. Dita Prasetyanti, M.Sc. (kandidat PhD dalam bidang Onkologi, Academic Medical Center, University of Amsterdam).

Materi ketiga oleh dr. Aryanti membahas tentang potret dan pro kontra vaksinasi di Belanda. Setelah menjelaskan beberapa hal teknis tentang vaksinasi di Belanda, beliau menjelaskan beberapa alasan pro dan kontra vaksinasi bagi masyarakat Belanda. Masyarakat pro menyadari bahwa vaksin dapat mencegah anak-anak dan populasi mereka dari penyakit terkait vaksin, terutama setelah merebaknya wabah campak di Eropa. Selain itu, tersedia pula lebih banyak jenis vaksin, seperti vaksin varicella, influenza, dan rotavirus. Masyarakat pro juga yakin dengan keamanan vaksin, karena sudah melalui uji coba yang ketat sebelum digunakan dan penggunaannya pun diawasi. Di sisi lain, masyarakat kontra meyakini bahwa vaksinasi tidak diperlukan karena penyakit-penyakit tersebut akan hilang dengan higienitas dan asupan nutrisi yang baik, serta tindakan preventif lainnya. Kaum kontra juga beralasan bahwa anak-anak di Belanda sudah mendapatkan lebih banyak vaksin daripada anak-anak di negara Eropa lainnya. Masyarakat kontra vaksin juga masih meragukan keamanan vaksin, terutama dari sisi efek samping jangka panjang. Secara keseluruhan, tidak seperti di Prancis dan Italia yang mewajibkan vaksinasi anak, orang tua di Belanda masih memiliki pilihan untuk tidak memvaksinasi anaknya. Sebagai penutup materi, dr. Aryanti menyebutkan pentingnya kemampuan dokter umum untuk meyakinkan para orang tua untuk memvaksinasi anak mereka, tidak hanya berdasarkan fakta namun melalui pendekatan psikososial dan transparansi informasi.

Materi terakhir yang disampaikan oleh Novat Pugo mengulas tentang skenario Indonesia tanpa vaksin dan konsekuensi biaya ekonominya. Beliau menegaskan pentingnya melakukan penghitungan biaya ekonomi akibat rendahnya tingkat vaksinasi. Dengan rendahnya tingkat vaksinasi di Indonesia, akan muncul lebih banyak penyakit yang penanganannya membutuhkan lebih banyak biaya. Beliau juga menyoroti tentang ketimpangan vaksin di negara maju dan berkembang. Apabila di Belanda dan negara maju lainnya vaksin dapat diperoleh dengan mudah dan bahkan gratis, di Indonesia dan negara berkembang lain vaksin harus dibeli dengan harga yang tidak murah. Hal inilah yang mendorong PBB untuk memberikan subsidi vaksin ke negara-negara berkembang. Setelah sesi kedua selesai, sama seperti di sesi pertama, acara dilanjutkan dengan tanya-jawab dan penyerahan kenang-kenangan untuk kedua narasumber yang telah membagikan ilmu dan pengalamannya dan moderator yang telah memandu kelancaran diskusi.

Penyerahan kenang-kenangan untuk pembicara dan moderator di sesi kedua

Penyerahan jabatan kepengurusan Kagama Belanda

Pidato dari Ketua Kagama Belanda yang Baru

Setelah itu, acara diisi dengan kata penutup dari Bapak Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja. Dalam pemaparannya, Bapak Dubes mengucapkan selamat atas kepengurusan Kagama Belanda yang baru. Beliau juga mengungkapkan pentingnya vaksinasi dan beberapa isu mengenai vaksin, seperti mindset beberapa masyarakat Indonesia yang masih dirasa kurang tepat dan ketidakadilan ketersediaan vaksin antara negara maju dan berkembang. Di penghujung acara, dilakukan sesi foto bersama seluruh panitia dan peserta.

Kata Penutup dari Bapak Dubes Indonesia untuk Kerajaan Belanda

Narasi: Rivandi Pranandita Putra

Foto: Rivandi Pranandita Putra, Agung Budiono (Kagama Belanda)

Editor: Apriana Vinasyiam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: