Een Meisje Die Ik Ken (Gadis yang Saya Kenal)

il_fullxfull.774459971_2oui

Ditulis oleh: Angel Tania

Ada seorang gadis yang saya kenal, dan tulisan ini berkisah tentangnya.

Pada tahun 2012, dengan berbekalkan kamus Indonesia – Belanda (yang ujung – ujungnya tidak terpakai olehnya karena kebanyakan orang Belanda bisa dan mau bicara Bahasa Inggris) , sebuah rice cooker (yang lagi – lagi hanya memberatkan kopernya saja karena ternyata rice cooker itu banyak adanya di Belanda), guling yang sudah di-vacuum (yang ini bisa dibilang berguna dan terpakai berhubung di Ikea maupun di toko manapun di Belanda tidak ada yang menjual guling), boneka kesayangan (katanya ia mempertimbangkan nilai sentimental dari boneka ini yang berperan sebagai pengganti kehadiran orang tuanya), dan beberapa helai pakaian yang dimasukkan kedalam dua koper besar berwarna cerah, gadis yang saya kenal itu menempuh jarak kurang-lebih 11,300 kilometer meninggalkan Ibu Pertiwi menuju ke negeri kincir angin untuk menempuh pendidikan strata satu. Gezellig[1]!

Gadis yang saya kenal ini adalah putri semata wayang ayah ibunya. Berhubung banyak pelajar Indonesia di Belanda yang punya kerabat/oma-opa yang bermukim di Belanda, sahabat orang tua gadis ini bertanya kepada ayahnya, “lho pak, putrinya dikuliahin di Belanda karena ada keluarga di sana ya?”.

Ayahnya yang gemar bercanda pun menyahut, “iya punya, dong! Nama lengkapnya Beatrix Wilhelmina Armgard[2]. Tapi… Herannya saya akui beliau jadi famili saya, tapi kok beliau enggak ya?” Guraunya santai.

Ketika ditanyai tentang kekhawatirannya menghadapi orang – orang asing dan berdikari sendiri di negeri orang, gadis itu menjawab santai, “apa yang periu dikhawatirkan? Karena ada satu idiom yang pas banget kalau dipakai untuk mendeskripsikan orang Belanda: met de deur in huis vallen. Arti harafiah dari kalimat barusan itu lucu, sebenarnya: to fall with the door into the house. Namun arti sebenarnya dari idiom itu adalah: langsung kepada intinya tanpa basa – basi.”

Setelah mendengar penuturan gadis itu, banyak mahasiswa Indonesia yang manggut – manggut menyetujui. Ya, orang Belanda memang terkenal akan keterus-terangan mereka. Terkadang memang bisa menyakiti hati, tapi hey! Lebih baik blak – blakan, toh? Daripada ribet menerka – nerka apa maksud sebenarnya yang ingin disampaikan.

Ketika menelusuri supermarket di Belanda, sepasang mata gadis yang saya kenal ini berbinar – binar. Alasannya? Karena ada emping, sambal, dan kerupuk yang dijual di supermarket Belanda. Setelah memenuhi keranjang belanjaannya, ia berkata dengan penuh semangat, “survive hidup di Belanda gampang lah kalau begini ceritanya! Kata – kata di Bahasa Belanda banyak banget yang dipakai di Indonesia… Gratis lah, handdoek lah, verboden lah… Makanan Indonesia juga gampang banget didapetin disini, kalo gini mah enggak akan homesick!”

Namun, prediksi gadis yang saya kenal ini salah. Alasannya? Tenang, akan saya jabarkan berikut ini.

Kalervo Oberg (1901 – 1973), seorang antropolog dari Kanada yang telah berkelana mengelilingi dunia, memformulasikan sebuah teori tentang culture shock. Menurutnya, ada empat fase yang akan dihadapi seseorang ketika tiba dan menetap di tempat tertentu. Fase pertama ia sebut honeymoon phase, alias fase bulan madu. Dimana semua masih baru dan indah, yang biasanya berlangung selama tiga bulan. Setelah semua euforia berangsur surut, dimulailah fase krisis. Di fase ini, satu per satu potongan puzzle dari negatifitas negara asing ini mulai tergabung menjadi satu. Segalanya menjadi tidak nyaman, tidak lagi indah, kampung halaman mulai dirindukan, dan rasa risau mulai menghantui. Tahap ini rata – rata berlangsung selama tiga/empat bulan. Mau tahu apa yang memperparah situasi ini? Cuaca Belanda yang 75% selalu mendung dan kelabu.

Recovery phase adalah tahap selanjutnya. Dimana setelah bergulung – gulung tisu yang dihabiskan karena tangisan kegalauan, berbungkus – bungkus Indomie yang disantap karena rindu rasa masakan rumah, berbatang – batang coklat yang disikat dalam waktu sehari, dan jarum timbangan yang semakin naik, tahap pemulihan biasanya berangsur dimulai. Budaya baru mulai diterima dan menjadi bagian dari hidup sehari – hari. Bahasa yang tadinya didengar seperti bahasa alien pun semakin lama semakin merdu di telinga. Untuk bisa mencapai fase ini biasanya tergantung dari masing – masing pribadi dan banyaknya bantuan yang diterima. Tahapan terakhir adalah adjustment phase, dimana akhirnya tempat baru ini terasa seperti rumah kedua…

Empat tahap yang baru saya jelaskan secara teoritis itu memang terdengar mudah bukan? Sayangnya, dalam kasus gadis yang saya kenal ini agak sedikit berbeda dari kondisi pada umumnya… Mau tahu mengapa? Berikut alasannya…

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, gadis yang saya kenal ini adalah putri semata wayang di keluarganya. Gadis yang saya kenal ini sangat dekat dengan orangtuanya, terutama ibunya. Peran sang ibu dalam kehidupan gadis ini bisa dianalogikan sebagai mercusuar yang menerangi kapal kecil yang berlayar menuju horizon dan sedang mencari – cari arah. Satu idiom yang selalu dipakainya ketika mendeskripsikan ibunya: haar op de tanden hebben. Yang makna literalnya adalah: to have hair on one’s teeth. Bukan, jangan salah kaprah dulu, bukan berarti ada rambut di gigi ibu gadis itu. Idiom itu sebenarnya bermakna seseorang yang sangat kuat menghadapi apapun. Dari bahasa tubuh gadis itu setiap menceritakan ibunya, senyuman lebarnya, dan binaran kasih sayang di matanya, dunia gadis itu berputar pada satu poros: sang ibu.

Restu orang tuanya diberikan penuh untuk gadis yang saya kenal itu ketika ia berlabuh ke Belanda. Termasuk restu dari ibunya yang saat itu sedang menderita gagal ginjal kronis. Memang betul, teknologi zaman sekarang sudah sangat canggih dengan adanya fasilitas Skype, Whatsapp call, Line call, dan masih banyak lagi aplikasi – aplikasi yang bisa digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Namun, segala macam teknologi tidak bisa menggantikan sentuhan tangan ibu yang mengoleskan minyak kayu putih ketika anaknya sakit perut di negeri orang, kecanggihan teknologi tidak bisa menggantikan aroma masakan ibu yang mengguggah selera sehabis lelah pulang kuliah, semuanya itu juga tidak bisa menggantikan hangatnya pelukan orang tua yang dapat merestorasi hati yang berduka atau kesusahan.

Segala wujud kemajuan zaman juga tidak bisa mengkompensasikan kehadiran gadis itu ketika ibunya harus berbaring di ranjang rumah sakit selama lima jam dalam sehari untuk menjalani proses dialisis (cuci darah). Sambungan video call yang kadang tersendat – sendat juga tak bisa menggantikan dukungan gadis itu untuk ayahnya ketika dua plat besi dari alat pacu jantung mengalirkan listrik ke dada ibunya demi mengembalikan grafik denyut jantung yang sempat berbentuk garis lurus di layar. Semua itu tidak bisa menggantikan ketidakberdayaan yang gadis itu hadapi ketika hanya air mata yang bergulir turun dan isakan doa yang dipanjatkan agak ibunya tidak meninggalkannya dulu ke surga sebelum gelar sarjana diperoleh dalam genggaman.

Kasih orangtua kepada anak itu wujudnya sungguh paradoks. Ayah dan ibu rela memberikan nyawanya untuk sang buah hati agar dapat aman dan terlindungi dari mara bahaya. Sang orangtua rela berbalut kain compang – camping hanya agar anaknya dapat memakai pakaian yang layak. Begitulah kira – kira besarnya kasih sayang orangtua untuk anak. Namun, kasih sayang yang sedemikian rupa itu jugalah yang juga membentuk sang anak agar dapat tumbuh independen dan berangsur – angsur menjauh dari ayah ibunya hingga akhirnya membentuk keluarganya sendiri. Tragis.

Lewat kisah gadis yang saya kenal ini, saya dapat menarik kesimpulan. Perjuangan sekolah di luar negeri memang tidak mudah. Susahnya mulai mandiri, mengatur keuangan dan hidup sendiri, belajar dalam bahasa dan sistem pendidikan yang tak lazim. Terkadang, dalam perantauan, pikiran kita sibuk mengurusi hal – hal tersebut. Atau kalaupun sedang mau mencari hiburan disela kepenatan, terkadang mungkin lupa dengan kondisi orangtua yang ada di rumah.

Tahukah kamu berapa banyak kalimat doa yang dipanjatkan orangtuamu demi keselamatanmu? Tahukan kamu kekhawatiran orangtuamu ketika mereka melihat berita buruk tentang negara tempatmu berada di televisi atau koran? Tahukah kamu berapa kali rahang orangtuamu menegang kaku karena menahan rindu mereka padamu? Tahukah kamu air mata yang meluap karena rasa bangga mereka ketika melihatmu mencapai sesuatu dan berprestasi di negeri orang?

Kisah gadis yang saya kenal ini membuat saya bersyukur. Bersyukur atas kesempatan berkuliah di Belanda. Bersyukur karena bisa membagikan kisah ini untuk kalian juga. Ingatlah akan doa orang tuamu yang menggiringmu menuju kesuksesan. Lebih seringlah mencurahkan perhatian dan kasih sayangmu untuk mereka. Saya berefleksi, bersyukur, atas segala rahmat dan berkat yang dianugerahkan untuk saya selama saya berkuliah di Belanda. Dan ketika saya melihat jauh kedalam sepasang mata yang menatap saya lekat – lekat di cermin, gadis yang saya kenal itu menatap balik dan menyunggingkan sebuah senyuman hangat lalu bergumam pelan:

Ibu,

Sosokmu bak seorang malaikat tanpa sayap

Yang mengajariku tuk berdiri tegap.

Ibu,

Kepada mercusuar itu aku menatap

Meski sudah renta dan pudar

Sinar penunjuk jalan tetap berpendar

Membawa arah, petunjuk, dan ketenangan

Ibu,

Surga terletak dibawah tapak kakimu

Tak dapat kubalas kasih sayangmu

Berikan aku waktu sedikit lagi, bu…

Untuk bisa mengukirkan senyum bangga di bibirmu

[1] Salah satu dari banyak kata dalam Bahasa Belanda yang sangat sering digunakan. Kata sifat ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan ‘menyenangkan’, ‘familiar’, ‘nyaman’, dsb.

[2] Ratu Beatrix adalah Ratu Belanda periode 1980 – 2013. Ya, betul sekali, Belanda adalah negara monarki. Jadi kamu bisa merayakan Koningsdag (King’s Day), dikunjungi oleh sepupu pangeran ke universitasmu (jika beruntung), pokoknya segala hal berbau kerajaan!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: