Foto 1. Foto bersama seluruh peserta diskusi

Pada hari Sabtu, tanggal 23 September 2018, PPI Belanda bekerjasama dengen Angkringan Lingkar Diskusi (ALDI) PPI Wageningen menggelar diskusi pangan dan agraria, membahas film dokumenter terbaru dan Watchdog documentary berjudul “Made in Siberut”. Acara ini mengupas mengenai politik pangan di Indonesia, bagaimana proses perubahan pola konsumsi dan produksi pangan di masyarakat lokal, serta gradasi pengetahuan lokal dalam pengelolaan pangan.

Foto 2. Diskusi berjalan interaktif

 Bertempat di Forum building Wageningen University, acara ini dimulai sejak pukul 2 siang dan selesai sekitar pukul 4:30 sore. Acara ini diawali dengan diputarnya film dokumenter berjudul “Made in Siberut” yang berdurasi kurang lebih 45 menit. Setelah diputarnya film, acara langsung dilanjutkan dengan sesi presentasi oleh pemantik diskusi, yaitu Nofalia Nurfitriani (mahasiswa program MA Agrarian, Food, and Environmental Studies, ISS The Hague, Belanda). Dalam presentasinya, Nofalia mengupas tentang potensi pangan lokal dan jeratan beras di Indonesia. Menurutnya, sampai saat ini, beras masih menjadi bahan pangan utama masyarakat Indonesia. Hal ini tentu cukup dilematis karena Indonesia sebenarnya kaya akan tanaman pangan yang memiliki sumber karbohidrat, seperti singkong, ubi, kentang, dan lain sebagainya. Selain itu, Nofalia juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan ketika melakukan penelitian tentang perubahan pola konsumsi dan produksi pangan di masyarakat lokal di Nusa Tenggara Barat.

Setelah sesi presentasi oleh pemantik, acara langsung dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dan diskusi. Moderator diskusi kali ini adalah Muhammad Ulil Ahsan (mahasiswa program MSc Development and Rural Innovation, Wageningen University, Belanda). Diskusi berjalan cukup seru dan interaktif oleh peserta diskusi. Dalam diskusi tersebut, ada beberapa poin menarik yang menjadi pembahasan. Meskipun sebenarnya ketergantungan terhadap beras ini bisa disiasati dengan diversifikasi melalui pangan lokal, namun di beberapa daerah di Indonesia terutama di Jawa, hal ini tidak mudah diwujudkan karena masih banyak masyarakat yang menganggap “belum makan nasi berarti belum makan”. Selain itu, adanya stigma di masyarakat juga menjadi pendorong masyarakat untuk mengonsumsi beras. Di beberapa daerah, masih ada asumsi bahwa masyarakat yang mampu secara ekonomi berarti “harus” mengonsumsi beras dan apabila tidak mengonsumsi beras berarti dianggap dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk mempromosikan diversifikasi pangan di kalangan masyarakat Indonesia, namun persepsi-persepsi inilah yang sebenarnya membuat hal ini tidak mudah diwujudkan. 

Selain itu, dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai sisi positif yang mungkin didapatkan dari mengonsumsi makanan non-beras seperti dari sisi kesehatan dan keamanan pangan. Beberapa makanan pokok non-beras seperti ubi jalar dan singkong mengandung lebih sedikit zat gula yang bisa mengurangi resiko seseorang untuk terkena diabetes. Mendiversifikasi bahan pangan pokok juga dapat terkait dengan keamanan pangan, karena masyarakat menjadi tidak tergantung kepada satu hasil pertanian saja.

Setelah berlangsung selama kurang lebih satu jam, acara diskusi pun harus ditutup oleh moderator. Acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan untuk pemantik diskusi.

 

Foto 3. Penyerahan kenang-kenangan untuk pemantik diskusi

 

Acara ini dapat disaksikan di link youtube PPI Belanda berikut ini:

 Narasi: Rivandi Pranandita Putra

Dokumentasi: Muhammad Agni Saha, Rivandi Pranandita Putra

Related posts

Leave a Comment