Pada hari Sabtu, 16 Desember 2017, PPI Belanda bersama dengan PPI Wageningen menyelenggarakan acara diskusi dengan tema “Pembangunan dan Konflik Agraria di Indonesia. Acara yang bertempat di Forum Building, Wageningen University & Research ini dimulai dari pukul 3.30 hingga 6 sore waktu setempat. Tak hanya dari Wageningen, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pelajar Indonesia dari berbagai kota di Belanda. Selain dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) internasional 2017, tujuan dilaksanakannya diskusi ini adalah untuk membahas keterkaitan antara HAM dan agraria dan membangun kesadaran terkait isu dan/atau konflik agraria di Indonesia. Acara diskusi ini juga cukup menarik karena peserta yang hadir berasal dari disiplin ilmu yang berbeda-beda, sehingga dapat mendiskusikan topik ini dari segi keilmuannya.

Acara diskusi ini terdiri dari dua sesi dengan dua pemantik yang memberikan materi sebelum diskusi dilaksanakan secara interaktif. Acara dimulai dengan sesi pembukaan oleh M. Ulil Ahsan selaku moderator dan dilanjutkan dengan sesi pertama oleh Lubabun Ni’am (MSc International Development Studies, Wageningen University & Research) selaku pemantik pertama. Di awal sesi ini, seluruh peserta diminta untuk menuliskan satu kata yang menggambarkan agraria di papan tulis.

Sesi Pembukaan dari M. Ulil Ahsan
Pemaparan Materi dari Pemantik Pertama
Beberapa Kata Kunci Dari Peserta Mengenai Agraria

Beberapa kata yang terasosiasi dengan agraria yaitu tanah, air, lawan, perampasan lahan, kedaulatan, konflik, pembangunan, petani, rakyat, hak kepemilikan tanah, air, kependudukan, raw material, pertanian, alat produksi, dan konflik tenurial. Setelah itu, Lubabun memberikan beberapa paparan mengenai agraria yang merupakan isu sentral di Indonesia. Beliau menilai, isu agraria merupakan akar dari seluruh persoalan sosial dan kemanusiaan. Beliau juga membahas teori Marxis mengenai hubungan kapitalisme dengan isu agraria, dimana menurutnya kapitalisme merupakan sebab dan agraria merupakan akibat. Beliau juga memaparkan beberapa karakter utama kapitalisme, yakni produksi komoditas yang diperluas, keharusan akumulasi, komoditas tenaga kerja, serta akumulasi primitif. Dengan adanya kapitalisme, posisi negara menjadi kurang penting dalam pengaturan kehidupan di masyarakat. Setelah pemaparan materi, acara di sesi pertama dilanjutkan dengan diskusi yang berjalan dengan hangat.

Sesi Diskusi Bersama Peserta

Acara dilanjutkan dengan sesi kedua oleh Haydar M. Bachtiar (MA Development Studies, International Institute of Social Studies). Pada sesi ini, beliau mengajak peserta untuk mengupas pengaruh perkembangan ekonomi dan modernitas terhadap isu agraria. Dari segi ekonomi, saat ini sumbangsih pertanian dalam hal pembangunan ekonomi Indonesia masih dirasa kurang (undetermined). Beliau memaparkan mengenai modern economy development, dimana beliau menilai bahwa pembangunan ekonomi negara penuh dengan wacana modernitas. Sejak 2008, kasus perampasan lahan meningkat terutama oleh investor asing dan hal ini menimbulkan banyak konflik agraria. Beliau pun memberikan beberapa contoh kasus yang terkait dengan hal tersebut. Beberapa solusi yang dapat dilakukan terkait dengan setting agenda, yang terdiri dari visible power yang merupakan agenda yang dapat dirundingkan, invisible power yaitu agenda yang diatur tanpa terlihat oleh publik, dan hidden power yaitu agenda yang ada di kepala. Seperti di sesi pertama, setelah pemantik selesai memberikan materinya acara dilanjutkan dengan sesi diskusi.

Sesi Materi dari Pemantik Kedua

Setelah dilanjutkan dengan pembacaan kesimpulan yang diberikan oleh Ulil, acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir.

Foto Bersama Seluruh Peserta

 Narasi: Rivandi Pranandita Putra, M. Ulil Ahsan

Editor: Apriana Vinasyiam

Related posts

Leave a Comment