Dialog bersama Tri Rismaharini, Walikota Surabaya

ibu-risma_sumber-kbri-den-haag

Den Haag – Kota Surabaya selama enam tahun terakhir telah menunjukkan banyak perubahan dalam berbagai bidang, di antaranya: infrastruktur, sosial, pendidikan, lingkungan, dan birokrasi pelayanan. Demikian ungkap Tri Rismaharini (Risma), Walikota Surabaya, pada hari Senin, 14 November 2016, waktu setempat. Kala itu, Risma diundang menjadi pembicara dalam dialog bersama PPI Belanda, diaspora Indonesia, dan masyarakat Indonesia di Belanda. Kegiatan ini bertempat di Aula Nusantara, gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, Belanda.

Perbaikan infrastruktur dapat ditinjau dari pelebaran saluran drainase dan memaksimalkan fungsi rumah-rumah pompa demi menangani permasalahan banjir saat curah hujan tinggi di Surabaya. Dari segi sosial dan pendidikan, Risma menjelaskan adanya dampak positif setelah dilakukan penutupan lima lokalisasi di Surabaya, termasuk satu yang terbesar yakni Gang Dolly. Dampak positif ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah anak-anak Gang Dolly yang kemudian dapat mengenyam pendidikan formal.

“Saya hanya ingin membuktikan bahwa masa depan itu ada. Dan masa depan yang baik itu juga hak mereka.”, tutur Risma.

Pembenahan birokrasi pelayanan dinilai merupakan bidang yang menonjol dari Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, pelayanan administrasi seperti pengurusan akta kelahiran dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) telah beroperasi menggunakan sistem online. Sistem ini mampu memangkas biaya belanja kertas dari 27 triliun menjadi 9 triliun sehingga kelebihan biaya tersebut dapat dialokasikan untuk hal lain. Risma menuturkan bahwa sistem online yang sudah diberlakukan di Surabaya kemudian oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadikan rekomendasi percontohan untuk kota-kota lain.

Bidang lingkungan pun menjadi salah satu yang dapat disorot, ditilik dari segi kebersihan serta kemampuan mengolah sampah menjadi sumber bioenergi dan kompos. Tak pelak, Kota Surabaya kerap memperoleh penghargaan di bidang lingkungan. Namun, Risma menyadari bahwa penghargaan tersebut harus dilihat sebagai upaya menyadarkan masyarakat akan kepemilikan terhadap kota tempat tinggalnya.

Risma mengakui bahwa mengajarkan masyarakat Surabaya agar mengerti maksud dari program-program kerja yang dicanangkan oleh pemerintah daerah merupakan bagian paling berat. Namun, hal ini tentunya diperlukan.

“Kalau masyarakat sadar bahwa suatu hal itu penting bagi mereka, maka siapapun kepala daerahnya, mereka akan tetap melakukan itu.”, cetus Risma. [SA]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: