Dialog bersama Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI

dialog-bersama-s-m

Den Haag – Pada hari Minggu, 13 November 2016, bertempat di Aula Nusantara, gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, telah dilaksanakan kegiatan Dialog antara PPI Belanda, diaspora Indonesia, dan masyarakat Indonesia di Belanda bersama Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan Republik Indonesia. Kegiatan ini berlangsung sekitar pukul 15.00-17.00 CET.

Menkeu memulai dialog dengan memberikan pemaparan mengenai melemahnya perekonomian berbagai negara di belahan dunia akibat kondisi perekonomian global yang sedang tidak menentu. Kondisi ini meliputi adanya Brexit, hasil pemilihan umum Amerika Serikat, serta restrukturisasi ekonomi yang dilakukan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Perekonomian Indonesia, tak terkecuali, terpengaruh oleh kondisi perekonomian global tersebut.

Indonesia saat ini digadang-gadang sebagai negara yang memiliki GDP growth rate yang tinggi, yakni 5.02% pada kuarter ketiga 2016 serta diprediksi dapat meningkat menjadi 5.1% hingga akhir tahun. Namun, Menkeu menekankan bahwa sesungguhnya angka yang tinggi saja tidak cukup. Kenaikan GDP growth rate sudah sepatutnya diimbangi dengan peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi yang dapat dinilai dari: 1. peningkatan ketersediaan lapangan kerja (job creation), 2. pengurangan tingkat kemiskinan (poverty reduction), dan 3. persamaan (equality).

Dalam rangka menghadapi lemahnya perekonomian global yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir serta meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi, pemerintah RI sedang mengupayakan tiga strategi guna memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia. Strategi ini meliputi: 1. Pembangunan infrastruktur yang memadai, 2. Investasi terhadap Sumber Daya Manusia, dan 3. Reformasi birokrasi. Ketiga hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perekonomian dalam negeri.

Di samping membahas pertumbuhan ekonomi, Menkeu turut memaparkan rendahnya perolehan pajak selaku salah satu sumber keuangan negara, yakni berkisar di angka 11% saja. Hal ini dikarenakan ketidakpatuhan wajib pajak serta tidak maksimalnya kemampuan pemerintah RI dalam mengumpulkan pajak. Padahal, sekitar 30 juta penduduk telah terdaftar sebagai wajib pajak. Namun, hanya 50% yang membayar pajak serta hanya sekitar 5 sampai 6 juta penduduk saja yang benar-benar mengkalkulasikan jumlah pajak yang harus diserahkan kepada negara. Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan tax amnesty. Kebijakan ini diharapkan menjadi kesempatan untuk membangun kontrak sosial baru antara wajib pajak dengan pengumpul pajak. Menkeu pun menekankan agar WNI mau membayar pajak sesuai dengan nominal yang seharusnya karena pajak inilah yang nantinya akan digunakan kembali untuk kepentingan masyarakat.

Dialog dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang ditanggapi dengan antusias oleh para peserta. Salah satu pertanyaan yang dikemukakan adalah bagaimana peran diaspora Indonesia di Belanda terhadap kemajuan perekonomian Indonesia. Menkeu mengatakan bahwa Indonesia dan Belanda telah terlebih dulu memiliki hubungan sejarah yang akan memudahkan dalam membangun kerja sama. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin diaspora Indonesia di Belanda dapat membantu mendorong lembaga atau perusahaan Belanda untuk berinvestasi di Indonesia. “Gunakanlah political network-mu, social network-mu, dan business network-mu agar mereka mau berinvestasi di Indonesia.”, demikian imbuh Menkeu.

Secara garis besar, Menkeu mengatakan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah RI guna meningkatkan perekonomian Indonesia saat ini berada pada jalur yang benar, meskipun dirasa perjalanan masih panjang. Partisipasi dari masing-masing individu pun tak pelak lagi diperlukan. Menkeu mengingatkan bahwa dahulu beberapa pahlawan, di antaranya Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir, yang sedang bersekolah di Belanda mampu membuat suatu pergerakan politik yang berujung pada perubahan di Indonesia. Maka, bukan tidak mungkin 1.7 juta Diaspora Indonesia di Belanda dapat membuat suatu perubahan demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Mengutip perkataan SMI dengan penyesuaian,

“You are allowed for being critical, but don’t be cynical. And do not give up on your country.”

(Anda diperbolehkan bersikap kritis, namun janganlah bersikap sinis. Dan jangan pernah menyerah terhadap negerimu). [SA]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: