Dialog bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

fb_img_1482571834834

Den Haag – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Belanda dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda menyelenggarakan dialog bertajuk Pemberdayaan Perempuan di Papua bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP&PA), Yohana Susana Yembise, dan jajarannya. Dialog ini dilaksanakan pada hari Jumat, 16 Desember 2016, bertempat di Aula Nusantara, KBRI Den Haag.

Menteri PP&PA membuka pemaparan dengan penjelasan mengenai kondisi terkini perempuan di Indonesia. Isu yang kemudian ditekankan adalah tingkat perdagangan manusia (human trafficking) yang masih tergolong tinggi sehingga hal ini menjadi salah satu perhatian utama kementerian. Umumnya, sebagian besar korban human trafficking di Indonesia adalah perempuan dan anak. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut ialah kurangnya keterampilan khusus perempuan di Indonesia yang menjadikan mereka tertarik untuk bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja melalui agen yang kredibilitasnya belum teruji. Kesadaran terhadap kesetaraan gender di Indonesia pun dinilai masih rendah. Kedua hal tersebut melandasi program kementerian untuk mengembangkan dan melaksanakan program pelatihan dan kemampuan membuka usaha bagi kaum perempuan di Indonesia.
Di Papua sendiri, program ini diharapkan dapat menjembatani semangat dan keinginan kaum perempuan untuk mendapatkan kerja bahkan membuka usaha mandiri. Program pelatihan yang telah diadakan oleh Kementerian PP&PA di Papua antara lain pelatihan pembuatan ubi jalar dan industri rumahan.
Diskusi yang dihadiri tak kurang dari 30 pelajar Indonesia di Belanda serta sejumlah perwakilan diaspora ini juga membahas mengenai topik yang tak kalah menarik, yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Papua. Virus ini telah menjangkit sekitar 2.3% populasi di Papua. Masyarakat Papua asli dalam rentang usia 15-24 tahun merupakan golongan yang paling banyak terjangkit. Kesadaran masyarakat Papua terhadap virus HIV ini sendiri masih sangat rendah sehingga diperlukan adanya perhatian khusus dari pemerintah Indonesia. Pembahasan mengenai topik ini turut mengundang Petrus K. Farneubun, PhD Candidate di Rijkuniversiteit Groningen (RUG) yang juga merupakan dosen Universitas Cendrawasih, sebagai pembicara. Petrus saat ini tengah melakukan riset disertasi mengenai perilaku dan kesehatan seks di Papua. Acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab. [ER]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: