Cerita dari Ujung Utara Belanda

 

Ditulis oleh Monika Pury Oktora

“Groningen? Ah jauh banget!”

“Kamu sih milih kuliah kok ya di Groningen, susah nih mau kita kunjungi.”

“Groningen ya.. Emm.. sebentar saya pikir-pikir dulu kalau mau ke sana.”

Daaaaan.. sederet kalimat-kalimat lainnya yang biasa saya dengar dari rekan-rekan saya yang tinggal di sekitaran Belanda ketika tahu saya menetap di Groningen. Letaknya yang cukup jauh dari pusat Belanda, memang membuat banyak orang jadi enggan berkunjung ke Groningen. Sudah biasa saya sih jadi bahan ejekan teman-teman saya yang tinggal di “kota” (Groningen dianggap “desa”) walaupun maksudnya ya bercanda juga.

Yap, Provinsi Groningen dengan Kota Groningen sebagai ibukotanya memang berada di paling ujung utara Belanda, sampai ada slogan tersendiri untuk Groningen: Er gaat niets boven Groningen yang artinya dalam Bahasa Inggris nothing tops Groningen. Secara harfiah memang benar tidak ada lagi provinsi yang berada di atas Gronigen dan secara konotasi maksudnya Groningen adalah yang terbaik, hehe..(ternyata Orang Belanda bisa narsis juga ya).

Sejauh-jauhnya tinggal di Groningen, tetapi saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya. Groningen adalah salah satu kota terbaik untuk dijadikan tempat menetap bagi saya dan keluarga, terlepas dengan segala kekurangannya, saya sangat nyaman berada di sini. Banyak cerita menarik yang kami tuai di sini, kami belajar, bekerja, bersosialisasi, beradaptasi, bertahan hidup, semuanya membentuk saya dan keluarga menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Best student city of the Netherlands1

Inilah yang membuat Groningen berbeda dengan kota-kota lain di Belanda. Bayangkan dengan populasi Kota Groningen hanya mencapai 200,000 jiwa, 25% nya adalah students!1,2 Tidak heran kalau kehidupan di Groningen penuh dengan aura jiwa muda pelajar, aktivitas mahasiswa, dan terasa atomosfir akademiknya. Rasakan perbedaan aura tersebut dibandingkan ketika mengunjungi kota-kota besar lainnya di Belanda, yang masih terasa kebisingannya atau aktivitas industrinya. Hal ini yang membuat saya merasa sangat kondusif dalam menempuh pendidikan di University of Groningen. Tidak cuma soal kehidupan akademik, kehidupan sehari-hari secara ekonomis juga sangat terjangkau di Groningen. Biaya hidup cukup murah, seperti belanja kebutuhan sehari-hari, biaya akomodasi, apalagi transportasi, ke mana-mana masih bisa dijangkau dengan sepeda! Buat mahasiswa yang ingin hidup ngirit, Groningen adalah pilihan yang tepat. Rasanya setiap sudut kota ini telah berkomplot untuk menyediakan semua yang dibutuhkan mahasiswa untuk menikmati kehidupannya. Kalau disandingkan dengan kota di Indonesia, Groningen seperti layaknya Yogyakarta, Kota Pelajar.

 

Student life in Groningen. Academic Gebouw University of Groningen. Sumber: Foto pribadi

Student life in Groningen. Academic Gebouw University of Groningen. Sumber: Foto pribadi

Tentang Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen

Jumlah pelajar di Groningen yang besar ternyata angkanya banyak disumbangkan dari jumlah pelajar dari Indonesia lho! Betul, jumlah pelajar Indonesia di Belanda ya paling banyak tinggal di Groningen. Dalam setahun mahasiswa baru yang datang bisa mencapai 100 orang. Jumlah pelajar Indonesianya sendiri (beserta keluarganya) saat ini sekitar lebih dari 300 orang! Serasa berada di kampung halaman sendiri. Memang sih bergaul dengan bule atau international students lain itu seru, tapi yang namanya orang Indonesia tetap senang berkumpul, tidak afdhol rasanya kalau tidak berhimpun dengan sesama pribumi. Selama di sini saya tidak pernah merasa kekurangan teman atau kesepian. Aktivitas PPIG pun selalu ramai setiap pekannya, selalu ada latihan futsal, badminton, tadarus keliling, pengajian anak, sampai acara silaturahmi. Belum lagi dengan acara-acara besar PPIG, seperti Indonesian Day dan Groens Cup. Groens Cup ini adalah pertandingan olahraga antar PPI Belanda (bahkan beberapa beberapa PPI Eropa juga berpartisipasi) yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2001 sampai sekarang. Kalau dulu saya pikir saya akan kesulitan menemukan komunitas yang menyenangkan di sini, tapi ternyata tidak. Lingkungan tempat saya tinggal di sini ada tiga rumah lainnya yang dihuni oleh orang Indonesia juga. Kami jadi merasa dekat, seperti layaknya saudara sendiri. Kami saling membantu, saling berbagi, sampai saling berkirim makanan, hehe..

PPIG saat Groens Cup 20153

PPIG saat Groens Cup 2015

Tentang Bersepeda di Groningen

Berbicara tentang Belanda tentu tidak akan lepas sama yang namanya bersepeda. Bagaimana tidak, jumlah sepeda yang ada di Belanda saja hampir menyamai jumlah penduduknya4,5. Tanah Belanda yang datar memang menjadi surga untuk bersepeda. Oleh karena itu pemerintah juga menyediakan fasilitas yang lengkap untuk bersepeda ini, seperti jalur sepeda yang aman, tempat parkir sepeda di yang bisa ditemukan di manapun, dan aturan khusus dalam bersepeda. Sepeda sudah seperti memiliki kedudukan yang hampir sama dengan mobil!

Groningen termasuk kota yang menyandang gelar Best Bike Cities. Sekitar 57% dari transportasi di kota menggunakan sepeda6. Tua, muda, pelajar, pegawai kantoran, ibu-ibu rumah tangga, semuanya menggunakan sepeda. Jumlah mahasiswa di Groningen yang banyak juga turut menyokong angka pengguna sepeda di Groningen. Newbie dalam bersepeda? Tidak perlu takut untuk memulai bersepeda di Groningen, aman dan nyaman deh pokoknya. City centre Groningen bahkan sebagian ditutup untuk mobil, hanya sepeda dan pejalan kaki saja yang boleh lewat, kurang terhormat apa nih para penyepeda? Yang kurang aman malah berhubungan dengan pencurian sepeda. Harus berbekal kunci ban, rantai besar, sekalian dengan gembok ganda kalau perlu supaya sepeda tidak mau raib digondol maling.

Tempat parkir sepeda di Stasiun Groningen[7]

Tempat parkir sepeda di Stasiun Groningen[7]

Tempat Parkir sepeda di Academic Gebouw Groningen. Sumber: Foto pribadi

Tempat Parkir sepeda di Academic Gebouw Groningen. Sumber: Foto pribadi

 Keramahan Groningers

Katanya orang bule apatis? Mungkin sekilas iya, tidak seperti orang Indonesia yang dikenal ramah dan senang basa-basi. Kalau saya merasa selama 1.5 tahun tinggal di sini dan bergaul dengan orang-orang Belanda terasa kalau mereka itu orangnya cuek dan ceplas-ceplos. Tapi cuek tidak selalu artinya jutek. Saya sering merasakan keramahtamahan Nederlanders, terutama di Groningen. Ketika sedang naik bus, supir bus akan menyapa “Morgen” (pagi) atau “Middag” (siang), atau hanya sekedar “Hoy” (Hi). Atau keramahan dari strangers ketika saya sedang berbelanja di supermarket dengan Runa, anak saya yang berusia 3 tahun. Kami sedang mengantri di kasir dan berdekatan dengan pembeli yang lain. Mereka melihat Runa, biasanya Runa sering bertingkah mengambil ini itu atau berceloteh macam-macam. Mereka dengan ramah dan antusiasnya menyapa Runa, “Wat en mooi schoen en mooi jasje..” (Sepatu dan jaketmu bagus). Atau pernah juga mereka ngajak Runa ngobrol basa-basi, “Wat heb je dat dan?” (kamu bawa apa itu?) sambil menunjuk cokelat yang Runa bawa. Sayapun merespon dengan bahasa Belanda seadanya sambil senyum. Senang deh rasanya disapa oleh orang ramah. Lebih seringnya yang menyapa seperti itu opa-opa, oma-oma, atau ibu/bapak setengah baya.

Entah juga apa karena tempat tinggal saya yang berada di lingkungan perumahan yang tidak terlalu di pusat kota (sekitar 20 menit dengan sepeda ke city center). Saya sering sekali menerima perlakuan ramah dari sekitaran sini. Ketika saya sedang di jalan-jalan dengan Runa atau sedang bersepeda, lalu berpapasan dengan orang sini, mereka pasti akan menyapa, “Hoi!”, atau “Halo!” sambil mengangguk atau senyum, kadang sambil mengangkat sebelah tangannya (seperti mengacung). Padahal saya tidak kenal mereka. Katanya sih kalau kita sedang berjalan lalu berpapasan dengan orang dan terlanjur bertatapan mata, sopannya adalah menyapa. Saya juga jadi ketularan hobi menyapa seperti itu.

Suasana di dekat tempat tinggal saya, Lewenborg, G roningen. Sumber: foto pribadi

Suasana di dekat tempat tinggal saya, Lewenborg, G roningen. Sumber: foto pribadi

Suasana di dekat tempat tinggal saya, Lewenborg, G roningen. Sumber: foto pribadi

Suasana di dekat tempat tinggal saya, Lewenborg, G roningen. Sumber: foto pribadi

Tentang Berbahasa di Groningen

Some 87 percent of Dutch people speak English: The Netherlands was rated third in the world in 2013 for English proficiency as a second language, as rated by the English Proficiency Index (EPI) published by Education First8.

Selama di Groningen, saya mengambil kursus bahasa Belanda yang disediakan oleh languange centre universitas. Untuk international students ada fasilitas untuk mengambil kursus bahasa Belanda sampai tahap tertentu, gratis! Sayapun memanfaatkan fasilitas tersebut. Jadilah saya sudah mengantongi 3 sertifikat Nederlands cursus untuk level A0-A1, A1-A2, dan A2-B1. Tapi apakah itu membuat saya fasih berbicara Bahasa Belanda?

Ternyata tidak. Sebabnya saya tidak “terpaksa” untuk berbicara bahasa Belanda. Hampir semua orang Belanda bisa berbahasa Inggris. Di swalayan, di pasar, di bus, di kereta, di tempat-tempat umum, di universitas apalagi. Beragamnya mahasiswa internasional dari berbagai negara di Groningen membuat setiap komunikasi dijalankan dengan Bahasa Inggris. Setiap saya mencoba ngomong dalam bahasa Belanda dan terbata-bata, mereka pasti langsung mengganti percakapan dengan bahasa Inggris. Kami di sini dimanjakan sekali dengan bahasa Inggris. Jadi tinggal di sini tidak akan merasa kesulitan dalam berkomunikasi. Bahkan anak saya saja lebih fasih berbahasa Belanda daripada saya karena dia berkomunikasi di sekolah dengan bahasa tersebut.

Tentang Berkereta di Groningen

“Kata siapa Groningen jauh? Naik kereta ke Amsterdam atau ke Schiphol Cuma 2.5 jam, ke Utrecht cuma 2 jam kok, ke Den Haag dan Rotterdam yaa 3 jam-an lah

Itu denial dari kami penduduk Groningen, haha. Lebih tepatnya untuk menghibur diri. Groningen memang tidak seperti Utrecht yang berada di tengah-tengah Belanda, atau Amsterdam dan Den Haag yang akses ke kota lainnya seperti Delft, Rotterdam, dan Leiden sangat mudah. Kami di Groningen harus cukup bijak jika ingin memutuskan pergi ke kota-kota tersebut. Lebih baik dipikir dulu jadwal kereta dan waktu yang dihabiskan di jalan apakah sebanding dengan kegiatan/acara yang akan didatangi di kota tersebut.

Teman-teman kami di “kota” yang pernah berkunjung ke Groningen pun baru merasakan perjuangannya Groningers ketika harus pulang pergi dengan kereta menghabiskan waktu 4-6 jam, kadang ditambah harus pindah kereta pula. Akan semakin jengkel lagi jika ada storringen (gangguan jalur kereta), bisa tambah ngaret perjalanan kita.

Storringen bisa disebabkan adanya perbaikan jalur kereta (yang biasanya dilakukan saat weekend), terjadinya cuaca buruk, seperti penumpukan salju atau es, atau bisa juga karena ada kejadian bunuh diri di rel kereta! Seperti suatu kali yang dialami teman saya saat dia pulang dari Amsterdam ke Groningen. Seharusnya kereta dijadwalkan sampai jam 9 malam di Groningen, tapi kereta baru tiba stasiun Groningen hampir jam 1 dini hari. Keretanya terhenti di Amersfoort dan stuck selama 4 jam! Olala.. usut punya usut ternyata ada yang bunuh diri di jalur rel kereta tersebut. Beberapa petugas medis pun sampai melakukan kunjungan ke gerbong-gerbong kereta memastikan penumpang tetap berada dalam keadaan sehat dan tidak syok. Teman saya inipun sampai kapok kalau pulang malam-malam dengan kereta (ke Groningen). Katanya: Baru sadar saya Groningen itu jauh setelah ada kasus storringen. Begitulah kami, sangat menikmati kehidupan di Groningen sampai kadang tidak sadar kalau tempat kami itu jauh dari mana-mana. Sedikit tips dari saya untuk non-Groningers, jangan lupa siapkan perbekalan yang cukup untuk di jalan jika bertandang ke Groningen

Tentang Kuliah di Groningen

Mungkin bagian mengenai perkuliahan ini tidak cuma berlaku di Groningen. Gaya belajar dan pembelajaran di universitas Belanda lainnya saya rasa hampir sama, hanya ini yang saya alami selama studi di Unversity of Groningen, dengan program Medical Pharmaceutical Sciences. Menurut saya selama belajar dan berinteraksi dengan orang Belanda di kampus, baik dosen maupun student, terasa etos kerja mereka itu efektif dan efisien. Mereka suka berdiskusi dan open mind. Ketika menyampaikan sesuatu mereka akan sangat to the point dan padat. Ya, jangan tersinggung kalau mereka jujur apa adanya. Mereka juga fair kok, misalkan di satu department kita ada baru gontok-gontokan diskusi, ketika jam istirahat ya biasa lagi mrngobrol seperti tidak kejadian apa-apa. Etos kerja seperti yang suka berdiskusi macam ini membuat saya jadi lebih eksploratif dan banyak membaca ketika studi.

Dosen-dosen di kampus tidak pernah merendahkan mahasiswanya walaupun mahasiswa bertanya mengenai hal-hal mendasar. Kata teman saya yang orang Belanda, “Just ask, there is no stupid question.” Bahkan kalo kita masih tidak paham, dosen bersedia menjelaskan di luar jam belajar, tentunya dengan appointment terlebih dahulu. Selain itu saya selalu bertemu dosen-dosen yang sangat menghargai hasil kerja mahasiswanya. Ketika kita telah selesai mengerjakan tugas, melaksanakan presentasi, atau merampungkan report, komentar mereka pertama kali adalahYou did a good job!” yang terdengar tulus. Kemudian mereka baru memaparkan apa positif dan negatifnya dari pekerjaan yang sudah kita buat. Tapi intinya mereka sangat menghargai hasil jerih payah kita. Mereka tidak pelit memuji. Hal seperti ini yang bikin saya jadi termotivasi dan merasa dihargai.

Yang menariknya lagi untuk saya dan terasa berbeda di Indonesia adalah hubungan dosen-asisten dosen-mahasiswa S2-mahasiswa S3-pegawai-dsb yang egaliter. Antara dosen dan mahasiswa tidak berasa ada jarak. Memanggil profesor hanya dengan nama depannya saja ya biasa, tidak perlu pakai Sir atau Mister. Padahal dulu saya setengah mati mempertahankan untuk tetap memanggil dosen saya dengan sapaan nama belakangnya, Prof. Van Persie (misalnya) biar terasa sopan. Tapi saya malah jadi tampak kikuk ketika mendengar semua orang di sini hanya memanggil seorang profesor dengan nama depannya saja, Robin, instead of Van Persie. Kalau di Indonesia, sering kan mendengar orang mengobrol dengan profesor senior: “Iya prof..” “Oke, prof..”, “Baik prof..” dan prof-prof lain di belakang kalimat. Rasanya geli juga lama-lama. Di sini tidak ada titel-titel yang disangkutkan dalam percakapan atau dalam email. Tapi tentu bukan berarti kita jadi kurang ajar juga, hanya tidak ada jarak formal saja.

Tentang Menjadi Mahasiswa Mandiri

Terkait dengan kegiatan perkuliahan, sejak saya menjadi mahasiswa di Groningen, saya merasa harus proaktif dan mandiri. Tidak pernah ada yang namanya selalu diingatkan oleh dosen tentang kapan ujian, kapan harus mengumpulin tugas, atau dikejar-kejar untuk menyelesain thesis. Itu hak dan kewajiban mahasiswa untuk dapat menentukan “jalan hidup”-nya sendiri, dosen hanya mengarahkan. Semua informasi tentang perkuliahan biasanya sudah terintegrasi lewat portal kampus dan email. Jadi harus rajin cek email dan portal kampus secara berkala untuk lihat apakah ada jadwal yang berubah, kapan deadline pengumpulan tugas, kapan meeting dengan departemen, dan lainnya. Termasuk dalam pengerjaan tugas, dosen akan membebaskan kita mengeksplorasi bahan. Mereka tidak akan menuntun satu-satu dan mengontrol detail semua hasil kerja kita. Mereka percaya kita mampu mengerjakannya. Otomatis saya merasa lebih bertanggungjawab akan pekerjaan tersebut. Sebagai tambahan, sewaktu kuliah di Indonesia, walaupun punya dosen cuek, tapi setidaknya masih punya teman yang perhatian untuk mengingatkan kita kalau kita bolos kuliah atau kalau kita lupa bikin tugas. Di Belanda? Ya lu-lu, gue-gue dong, masa sudah besar masih harus diingatkan.

Tentang Pulang

Senyaman-nyamannya Groningen dan sebetah-betahnya saya dan teman-teman Indonesia lainnya tinggal di sini, tentu lebih nyaman dan betah tinggal di kampung halaman sendiri. Saya tahu teman-teman Indonesia yang menetap di sinipun bahkan berharap bisa segera pulang ke Indonesia, baik hanya untuk berlibur sejenak atau back for good. Tapi teringat masih ada kewajiban di sini, thesis yang belum beres, penelitian yang menggantung, sks yang belum terbayar, ditambah juga biaya PP Indonesia-Belanda yang tidak murah, kalau hanya ingin sekedar libur sebentar. Beruntung Groningen cukup padat arus bolak-balik pelajarnya, jadi kadang rasa kangen kami pada Indonesia paling banter masih bisa diobati dengan menitip sekedar tolak angin, terasi, atau minyak kayu putih yang bisa dibeli dengan harga murah di Indonesia, tapi mahal atau mungkin tidak ada di sini.

Sekian cerita saya dari desa Groningen. Salam pelajar dan tunggu kami Indonesia!

Referensi:

  1. http://www.rug.nl/feb/education/exchange/aboutgroningen?lang=en, akses 14 April 2016
  2. http://www.iamexpat.nl/expat-page/dutch-cities/groningen-netherlands, akses 14 April 2016
  3. http://ppigroningen.nl/2015/06/groens-cup-xiv-tahun-2015/, akses 14 April 2016
  4. https://netherlandsbynumbers.com/2013/08/31/10-questions-about-the-dutch-and-their-bikes/, akses 14 April 2016
  5. https://www.studyinholland.nl/about-holland/typically-dutch/how-many-bikes-are-there-in-holland, akses 14 April 2016
  6. http://www.cityoftalent.nl/en/content/city/25-facts, akses 13 April 2016
  7. http://www.aviewfromthecyclepath.com/2010/05/groningen-railway-station-cycle-parking.html gbr sepeda, akses 15 April 2016
  8. http://www.expatica.com/nl/about/30-facts-about-the-Netherlands_108857.html, akses 13 April 2016 à yg bs ing

 

 

 

 

4 comments

  1. Baca cerita ini jadi inget novel Negeri Van Orange, Mak. Aku penasaran sama festival Keukeunhoff (eh bener ga nulisnya?) dan festival lainnya. Selain banyak teman satu kampung halaman (Indonesia maksudnya), bule-bule Belanda yang ramah dan ga susah diajak komunikasi bisa-bisa bikin kita betah di sana ya, Mak? hehehe.. Salam kenal dari Bandung.

    • Halo mbak Efi, salam kenal di Keukenhof banyak bunga2nya cantik2, khususnya tulip, padahal tulip aslinya bukan dari Belanda lho, tapi dari Turki. Iya alhamdulillah banyak ketemu org2 ramah kok di sini 🙂

      • Fathiyah Zahra

        halo kak monika salam kenal 🙂
        aku mau tanya tanya tentang groningen nih kak, kalo mau kontak kakak kemana ya yang lebih mudah? makasih kak sebelumnya 🙂

  2. Menarik sekali tulisannya sdra Monika. Ayo saya wawancara untuk siaran bahasa Indonesia di Radio SKS, satu-satunya radio berbahasa Indonesia di negeri kincir angin. eee di luar Radio PPI Belanda maksud saya. Mari berteman dulu di facebook ya. Cari nama saya: Bari Muchtar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: