Benarkah beasiswa DIKTI ngga banget?

Oleh Fikri Zul Fahmi
Penerima Beasiswa Unggulan Luar Negeri Ditjen DIKTI
Research Master in Regional Studies, University of Groningen, The Netherlands

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa beasiswa yang berasal dari Pemerintah Indonesia untuk studi di luar negeri kurang preferable, banyak masalah, sering telat, tidak jelas, atau uangnya kurang. Tunggu dulu! Saya bisa bilang tidak juga tuh. Teman saya penerima Beasiswa Unggulan Luar Negeri (BU LN) DIKTI, kebetulan satu universitas, dia jalan-jalan ke luar Belanda tiap bulan. Masih sempat pula dia kontrak abonemen untuk Iphone 4. Teman-teman BULN di negara lain, saya perhatikan juga, kerjaannya jalan-jalan juga; saya sendiri malah sempat pulang pas lebaran kemarin (summer) ke Indonesia. Alhamdulillah, got more than enough..BULN Dikti, beda dengan Beasiswa Unggulan Kemdikbud
Pertama-tama, saya ingin menekankan dulu, kalo BU LN yang saya ceritakan ini berbeda dengan BU Kemdikbud (dulu Kemdiknas). Walaupun bagian dari Kemdikbud, DIKTI memiliki program beasiswa sendiri untuk skema “unggulan”; dengan fungsinya sebagai pengayom perguruan tinggi, DIKTI menyekolahkan orang-orang yang akan terkait dengan universitas. DIKTI sendiri punya 2 peruntukan beasiswa, yaitu untuk dosen yang sudah lebih dahulu ada (termasuk Beasiswa Dalam Negeri, BLN, program sandwich, dll khusus untuk PNS Dosen) dan sudah 2 tahun ini ada skema baru untuk “calon dosen” dan tenaga kependidikan. Calon dosen adalah orang-orang yang di-endorse oleh salah satu universitas, sehingga setelah selesai studinya akan kembali ke universitas asal dengan kontrak 2n+1. Ada juga mekanisme yang mengizinkan, jika kita tidak punya universitas yang mengusulkan; kontrak akan diberikan oleh DIKTI dengan syarat bersedia ditempatkan di universitas mana saja di Indonesia selama 2n+1.

Khusus untuk tujuan Belanda sendiri, BU LN DIKTI meng-cover seluruh biaya dan besarannya:

  • Flight ticket, return (pada saat berangkat dan pada saat selesai studi) (at cost)
  • Registration fee, if any (at cost)
  • Settling-in allowance,1000 euro (1 kali di awal)
  • Monthly allowance, 1000 euro (naik jadi 1100 euro sejak angkatan 2012)
  • Book allowance, 250 euro per semester
  • Health insurance, 500 euro per tahun
  • Special program allowance ± Rp 6 juta
  • Thesis writing allowance ± Rp 6 juta
Beasiswa DIKTI tidak menanggung biaya visa dan residence permit. Syukur kalau universitas membayarkan, tetapi jika tidak bisa disisihkan dari settling-in allowance.Plus dan minus
Saya berani bilang BULN Dikti punya kelebihan. Monthly allowance, kalo saya bandingkan ternyata lebih besar daripada beasiswa dari Nuffic yang umumnya 970 euro bersih (1000 dipotong 30 euro untuk asuransi); juga book allowance sama lebih besarnya. Uang beasiswa dihitung dengan rupiah (hingga sekarang kurs 1 euro ditetapkan DIKTI Rp13.000), sehingga ketika kurs euro sedang lemah dan dapet transferan, lumayan sekali “kelebihannya”. Cuma memang, perlu dicatat baik-baik, bahwa kita akan berangkat dengan tangan kosong dari DIKTI. Uang beasiswa baru akan pertama kali cair setelah kita disini; kalo berangkat September, uang baru turun sekitar November. Jadi, betul sekali kita harus punya cadangan uang pribadi, ya kira-kira besarannya setara 2-3 bulan allowance.

Jangan khawatir, karena pada saat uang turun itu, kita akan dapat langsung beasiswanya hingga akhir tahun (Desember). Tapi, sedikit kesulitan terjadi lagi di awal tahun, sekitar Januari-Maret karena proses pencairan anggaran di Indonesia, alias birokrasi, baru memungkinkan beasiswa cair sekitar bulan Maret tersebut. Tips: ketika bulan November dapet transferan, tahanlah sedikit dan berhemat sampai bulan Maret. Ga perlu terlalu mengencangkan ikat pinggang kok, cuma jangan terlalu berlebihan winter vacation dan sale-nya, hehe. Setelah Maret, kehidupan akan cukup lancar. Anda akan merasa kaya ketika menerima transfer, karena beasiswa selama 3 atau 6 bulan sekaligus ditransfer. Sekali lagi, ini tantangan untuk mengatur cashflow dengan baik. Jangan lupa dahulukan dan selesaikan semua fee yang harus dibayar segera. Pengalaman saya, dan banyak teman-teman yang lain, alhamdulillah tidak pernah merasa kekurangan.

Masalah lain dan paling mendasar, soal keuangan, adalah tuition fee. DIKTI memberikan tuition fee per semester, sedangkan kebanyakan universitas di Belanda meminta pertahun. Alternatifnya, bisa dekati fakultas masing-masing, seperti kasus saya, dimana fakultas membayarkan tuition untuk 1 tahun ke universitas, dan saya bayar ke fakultas tiap semester. Semuanya bisa dikompromikan kok. Cek juga di universitas masing-masing, karena banyak yang memungkinkan untuk bayar tuition fee by installments, alias dicicil 5 kali. Tentu ini menjadi jalan keluar yang baik sekali.

Kesempatan!
Kuliah di luar negeri menjadi mimpi bagi sebagian orang. Banyak yang gagal berkali-kali, saya pikir sedikit sekali yang sekali apply langsung berhasil. Cerita sedikit, tahun 2011 saya apply beasiswa Huygens Scholarship, tapi tidak berhasil. Pada saat itu juga dijelaskan bahwa beasiswa Huygens itu tidak akan dibuka lagi pada tahun-tahun berikutnya. Saya sempat putus asa karena tidak jadi berangkat tahun 2011 lalu, tetapi di kampus tempat saya jadi asisten, tepatnya KK Perencanaan Wilayah dan Perdesaan ITB, saya mendapat informasi dari dosen bahwa DIKTI untuk pertama kalinya membuka beasiswa luar negeri untuk calon dosen. Betul saja, ketika saya cek di website DIKTI pendaftaran sedang dibuka.

Proses pendaftaran beasiswa DIKTI rupanya tidak se-strict beasiswa yang lain, misalnya dari Nuffic. Karena pada dasarnya DIKTI ingin menyekolahkan sebanyak-banyaknya dosen dan calon dosen ke luar negeri, sedangkan banyak kandidat yang tidak memenuhi syarat dan kualifikasi, akhirnya DIKTI sempat memperpanjang waktu pendaftaran. Sayangnya, pada jaman saya ini yang mengakibatkan pengumuman sedikit terlambat, terlalu mepet dengan waktu studi saya. Saya waktu itu seharusnya confirm ke university bahwa akan jadi sekolah atau tidak sekitar bulan Mei, tapi saat itu masih proses pendaftaran di DIKTI. Saya akhirnya jelaskan kepada pihak admission office, bahwa saya masih dalam proses seleksi di DIKTI dan baru akan diumumkan Juli pada waktu itu. Untungnya, admission office mengerti dan menangguhkan proses pembuatan visa.

Selama itu pula saya menunggu dan mengikuti proses seleksi dari DIKTI. Seleksinya ada 2 tahap: administrasi dan wawancara. Pada seleksi administrasi, sebenarnya yang dilihat benar-benar administrasi: (a) acceptance harus UN-conditional (tidak boleh ada syarat apa-apa lagi tertulis secara jelas di suratnya; (b) syarat lainnya harus memenuhi batas minimal, seperti TOEFL/IELTS dan surat-surat lengkap yaitu kontrak dengan universitas masing-masing. Jika tidak ada masalah, bisa dipastikan insha Allah Anda bisa lulus seleksi administrasi.

Seleksi wawancara, juga pada dasarnya “pemeriksaan” dan konfirmasi administratif. Pada wawancara ini, kita diperiksa berkas-berkas pendaftaran lagi, kebenarannya, dan dipastikan apakah admission benar-benar sudah unconditional dan tidak ada masalah. Kemudian, pada wawancara ini juga dipastikan beberapa hal:

  • Kemampuan dan kelancaran berbahasa Inggris
  • Pemahaman sejauh mana kita mengenal universitas tempat kita belajar nanti
  • Apa yang menjadi motivasi kita sekolah ke luar, khususnya dikaitkan dengan pembangunan di Indonesia
  • Dipastikan bahwa kita akan pulang ke Indonesia, dan ke universitas yang mengutus kita; karena disinyalir banyak yang mangkir
  • Ditanya komitmen, apakah bersedia ditempatkan di mana saja di Indonesia
Saya ingat betul pada saat wawancara, pertanyaan interviewer waktu itu begitu menohok saya: “How many girlfriends do you have?” yang berhasil membuat saya speechless dan buyar. Untungnya saya bisa handlepertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Dan alhamdulillah, beberapa hari kemudian saya melihat nama saya sebagai salah satu penerima beasiswa.Proses selanjutnya setelah pengumuman ini adalah konfirmasi ke universitas bahwa saya sudah dapat beasiswanya. Setelah mendapat Guarantee letter dari DIKTI, saya mengirimkannya ke admission office beserta syarat lain untuk visa. Waktu itu masih libur summer di Belanda, untung sekretarisnya mau membantu di sela liburannya. Waktu itu memang saya dapat visa sudah lewat 1 September (waktu mulai semester), begitu visa keluar saya minta tiket ke DIKTI untuk berangkat 3 hari berikutnya. Fantastis. Untungnya saya ga perlu bayar tiketnya sendiri dulu, karena agen DIKTI membantu menyediakan. Walaupun sedikit terlambat, sistem pendidikan di Belanda tidak ada daftar hadir, jadi tidak masalah buat saya tertinggal beberapa minggu.

Saya lihat tahun berikutnya, pendaftaran beasiswa DIKTI sudah lebih awal, begitu juga pengumumannya sudah tidak terlambat seperti jaman saya, sehingga bagi mereka yang mulai studi Agustus atau September tidak menjadi masalah lagi.

Epilog
Okay, demikian tulisan singkat saya tentang BULN DIKTI. Yang ingin saya sampaikan disini adalah beasiswa ini bisa menjadi alternatif, terutama buat teman-teman yang aktif “membantu” di dunia perkampusan; asalkan punyaadmission letter di negara manapun yang diizinkan DIKTI, kita bisa apply. Intinya, untuk beasiswa DIKTI kita harus aktif mengelola segala kemungkinan sendiri sehingga jika ada persoalan bisa kita antisipasi dari awal; dan tentunya harus rajin menginformasikan dan lobi dengan universitas tentang kondisi beasiswa kita. Insha Allah kalo dikomunikasikan dengan baik, mereka juga mengerti karena sesungguhnya international students di Belanda adalah aset yang besar, karena kita bayar tuition fee hampir 7-10 kali lebih besar daripada orang EU.

Selain itu, sedikit pesan dari saya, tidak perlu berkecil hati ketika Anda gagal mendapatkan beasiswa. Hampir semua scholarship hunters tidak sekali tembak langsung dapet, tapi banyak di antaranya yang berkali-kali hingga akhirnya berjodoh juga. Begitu banyak jalan menuju Roma, kawan.. eh menuju Belanda, maksudnya, hehe. Tetap semangat dan berdoa!

6 comments

  1. Perkanalkan nama saya Reza Ramadhan, saya kuliah di universitas tidak ternama di universitas jember fakultas sastra jurusan Sejarah .
    Ada hal yang ingin saya tanyakan, apakah suatu universitas yang tidak ternama akan menghambat atau tersisihkan dari universitas ternama bila ingin mendaftar beasiswa dikti diluar negri seperti yang anda ceritakan diatas. Saya ini masih mahasiwa s1 semester 2, akan tetapi saya sangat sungguh sungguh ingin bisa melanjutkan study s2 saya di Belanda tepatnyadi universirty Leiden . Saya lemah di bahasa inggris tapi dengan seiring berjalannya waktu saya akan berusaha semampu saya untuk bisa menguasainya. Saya hanya seorang bocah kecil yang bermimpi bisa study diluar negri dan bisa mengilili Eropa . tapi mimpi itu saya yakin bisa terwujud dengan tekad saya yang sangat besar. jadi saya mohon bimbingan dan saran dari saudara/bapa . Terimakasih

  2. sharing pengalaman yang sangat berharga. semoga saya bisa menyusul ke eropa kelak.

  3. terima kasih banyak atas sharing infonya

  4. Dari kisah menarik diatas, satu-satunya yang bikin kesan beasiswa Dikti BULN jadi kurang nilainya adalah pertanyaan interviewer; “how many girlfriend…” Apa ya kegentingannya dalam urusan studi? Syaksyes ya Fikri!

  5. Hastuti Pakpahan

    setujuuu…
    aku salah satu yang merasakan manfaat beasiswa dari DIKTI, tp saya merasakannya di tanah air aja tdk di LN mudah2an nanti bisa menyusul ke belanda.. 😉
    beasiswa DIKTI sangat membantu dan top 😀

  6. Aamin ya robbb

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: