Angkringan Utrecht: Work Culture & Internship di Belanda

Oleh: Moch Februarianto, PPI Utrecht

Hoi allemaal,

Pada tanggal 4 Maret 2017 yang lalu, PPI Utrecht (PPIU) mengadakan diskusi dan bincang santai mengenai internship dan work culture di Belanda. Diskusi ini diadakan di bawah payung kegiatan AngkUt (Angkringan Utrecht). AngkUt kali ini diisi oleh pembicara dari berbagai kalangan, baik dari akademia maupun profesional. Dari sudut pandang profesional, ada Mbak Meisyi (pengajar di Babel Institute) dan Mas Ahmy (Software Engineer di Maarktplaats), sedangkan dari sisi akademia ada Widya yang merupakan alumni dari program Drugs Innovation, Utrecht University. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Belanda, Bapak Bambang Hari Wibisono (Pak Hari).

Setelah dibuka dengan sambutan dari Pak Hari yang menceritakan mengenai kultur kerja di Belanda, kegiatan pun dilanjutkan dengan cerita dari Mbak Meisyi tentang hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat mencari kerja/intern di Belanda, khususnya harus teliti sewaktu membaca kontrak kerja. Karena setelah tanda tangan kontrak, berarti kita sudah terikat dengan hukum dan harus patuh terhadap poin-poin yang ditulis dalam kontrak. Jangan sampai kita mendaftar untuk intern tapi malah mendapatkan workload sama dengan pegawai. Oh ya, beberapa tempat internship memungkinkan kita untuk digaji, tetapi hal ini tidak bersifat wajib. Jadi kalau terima gaji ya syukur, tapi kalau tidak juga tetap harus disyukuri.

Kembali ke soal kontrak kerja, untuk magang-ers ada beberapa poin yang wajib diperhatikan pada waktu kita mau menandatangani kontrak: 1) Jangka waktu harus jelas, jangan sampai ada kata open einde (bisa berkelanjutan tanpa durasi jelas). 2) Fasilitas apa saja yang didapat.

Bagaimana untuk professional workers? Perlu dipastikan apa jenis kontrak kerja yang didapat, apakah on call workers, kontrak sementara, atau malah kontrak tetap. Khusus untuk kontrak sementara, kalau diperpanjang sampai 2x dalam kurun waktu 2 tahun tanpa putus nyambung, maka kalau diperpanjang untuk ketiga kalinya harus sudah dalam bentuk kontrak tetap. Selain jenis kontrak, pekerja juga harus memastikan fasilitas apa yang didapat dan bagaimana sistem jatah cuti di perusahaan.

Terus gimana kalau sudah tandatangan kontrak, kita sudah kerja sebaik mungkin, tetapi perusahaan melanggar kontrak? Jangan takut. Kita dapat menghubungi SZW dan melaporkan soal pelanggaran kerja ini.

Sesi diskusi kemudian diselingi dengan jeda makan siang. Pada sesi ramah tamah ini, panitia AngKut dibantu oleh tim katering Utrecht sudah menyiapkan bakwan, emping, kopi, teh, dan soto betawi sebagai pasokan pemadaman kelaparan.

Setelah sesi ramah tamah, acara pun dilanjutkan dengan cerita dari Widya tentang pengalaman internship di Belanda, tepatnya di Medicine Evaluation Board (MEB). Intern di MEB ini adalah bagian dari program master by research, dimana Widya ikut menyelesaikan kasus yang dihadapi oleh MEB sebagai bagian dari risetnya. Widya memilih untuk intern di Belanda selama kuliah karena lebih mudah untuk mengurus administrasinya. Oh iya, alasan Widya memilih MEB karena ingin memahami regulasi obat di European Union dengan lebih baik.

Widya memberikan beberapa tips dalam interview perusahaan sebelum internship. Tips-tips tersebut adalah: 1) Persiapkan dan pelajari CV sebaik mungkin, baca dan ingat kembali pengalaman bekerja sebelumnya, 2) Pelajari sebaik mungkin mengenai perusahaan tujuan, dan 3) Email perusahaan tujuan dari jauh-jauh hari.

Acara kemudian ditutup dengan cerita Mas Ahmy mengenai pengalamannya sejak masa interview sampai bekerja lebih dari 3 tahun di Belanda. Mas Ahmy mengambil program master di Institut Teknologi Bandung dan awalnya bekerja di startup yang banyak bekerja dengan klien di bidang pemerintahan. Kemudian pada suatu hari, Mas Ahmy mendapat info mengenai perusahaan (Sense) yang sedang mencari engineer dari salah seorang teman dan memutuskan untuk mencoba mendaftar ke perusahaan tersebut.

Sebelum interview, Mas Ahmy belajar tentang produk perusahaan tersebut, kemudian mencoba membuat aplikasi sendiri berdasarkan software mereka dan memperlihatkannya ke perusahaan tersebut. Ternyata pada saat wawancara via Skype, perusahaan tersebut cocok merasa ‘cocok’ dengan Mas Ahmy dan memberi kontrak probation (uji coba) selama 6 bulan sebelum akhirnya diperpanjang.

Setelah sesi cerita pengalaman, Mas Ahmy memberi bocoran cerita tentang kultur kerja di Belanda. Rupanya tidak sedikit perusahaan di Belanda yang kesusahan untuk mencari intern, sampai biasanya diadakan bursa internship. Selain itu, ternyata tidak semua perusahaan membuka lowongan intern di website mereka. Jadi, kita perlu mencoba mengontak langsung ke perusahaan apabila berminat. Hal lain yang menarik adalah, selama di Belanda ternyata Mas Ahmy tidak pernah ditanya soal IPK. Jadi, teman-teman bisa mencoba apply apabila menemukan perusahaan yang menarik.

Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan internship, Mas Ahmy memberikan saran bahwa perusahaan di Belanda biasanya turut melihat apakah calon magang enak untuk diajak berdiskusi atau tidak. Jadi, berusaha lah untuk menjadi orang yang lebih outspoken.

Demikian AngkUt kali ini diakhiri dengan sesi foto bersama. Sampai jumpa di AngkUt berikutnya ya!

Sumber asli: Website PPI Utrecht http://ppiutrecht.nl/?p=416

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: