6 Scholarship 10 Universities

oleh Hanifatur Rosyidah, (Beasiswa DIKTI)
– Master of Public Health, VU University of Amsterdam (Royal Tropical Institute)
– Indonesian Directorate General of Higher Education (DIKTI) Scholarship

Penerima beasiswa perguruan tinggi di luar negeri tidak harus bermodalkan segudang prestasi atau berasal dari sekolah negeri.

Dengan kata lain, tidak ada kata terlambat bagi siapapun di dunia ini untuk bermimpi kuliah di luar negeri sekaligus mewujudkannya.

Kemudian, kenapa harus luar negeri? Tentu salah satunya adalah bisa keliling dunia atau setidaknya ke terbang ke luar negeri itu sebagai hal yang sesuatu banget.

Alasan lainnya, kita bisa berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara sekaligus menikmati empat musim dengan berbagai keunikan di dalamnya.

Merasakan atmosfer kuliah di negeri orang adalah impian saya sejak di bangku kuliah bahkan juga harapan orang tua saya.

Nah, untuk mewujudkannya tentu membutuhkan semangat kerja keras dan pantang menyerah. Terutama bagi yang tidak punya cukup dana, kita perlu sedikit ”menguras keringat” untuk masuk ke zona pemburu beasiswa.

Tepat pada 2010 atau setelah lulus studi Diploma 4 Kebidanan sekolah kesehatan swasta di kota Semarang, saya memulai petualangan berburu beasiwa.

Perburuan itu dimulai dengan hunting informasi universitas yang membuka program master kebidanan—bidang studi yang linier dengan pendidikan saya sebelumnya.

Walhasil, dengan googling dan bertanya kepada para senior, saya pilih Australia sebagai target awal.

Melalui laman http://cricos.deewr.gov.au/ perburuan beasiswa memasuki babak baru. Saya menemukan beberapa kampus yang mempunyai program kebidanan di Australia. Wah semangat baru bagi saya melihat secercah harapan kuliah di luar negeri seperti baru saja terbuka lebar.

Selanjutnya, pencarian itu semakin serius dengan mencari info yang lebih detil. Keluar masuk web universitas asing dan melihat kurikulum beserta persyaratannya.

Kendala bahasa

Ternyata, mungkin kisah saya yang sekarang studi di Belanda tidak akan terjadi jika saya menyerah saat mengetahui ada kendala.

Kendala utama yang muncul saat itu ialah bahasa dan kualifikasi pendidikan. Maklum, kemampuan Bahasa Inggris terbatas dan pendidikan terakhir saya adalah D-4, bukan Sarjana (S-1).

Tetapi waktu itu, saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Segera saya mendaftar di tiga universitas Australia yaitu RMIT, Wollonggong dan Flinders.

Tiga minggu kemudian, dari ketiga universitas tersebut hanya satu—RMIT University—yang memberikan Letter of Acceptance (LoA).

LoA adalah surat yang menyatakan bahwa saya diterima di universitas tersebut.

Tetapi LoA itu sifatnya masih conditional atau dapat berubah sewaktu-waktu layaknya valuta asing. Dengan kata lain, saya benar-benar diterima jika memenuhi persyaratan skor IELTS overall minimal 6.5 dan tentu saja kepastian sumber dana studi di sana. Inilah tantangan pertama yang harus saya taklukan.

Saya mulai mengejar skor IELTS dengan berbagai cara. Mulai dari membaca buku grammar, menonton film dan mencoba cari tempat kursus representatif.

Kemudian saya membidik kampung Bahasa Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur demi pendalaman salah satu bahasa resmi PBB tersebut.

Sebelum bertandang ke Pare, saya mencoba tes TOEFL PBT–ITP di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah.

Hasilnya memang kurang fantastis karena skornya hanya 400 lebih sedikit.

Bulan Agustus 2011, untuk pertama kalinya saya mencoba mendaftar beasiswa, yaitu Australian Development Scholarships (ADS).

Untuk beasiswa ini, tidak dibutuhkan LoA lantaran prosedurnya kita mendapatkan beasiswanya dulu baru bisa daftar ke universitas di Negeri Kangguru tersebut.

Akhir Oktober 2011, bersiap-siaplah saya untuk hijrah ke perkampungan Inggris Pare.

Alhamdulillah saat itu jadwal mengajar di tempat saya bekerja sudah terpenuhi dan ijin dari atasan sudah di tangan.

Dengan waktu yang cukup singkat hanya 1 bulan, saya ambil kursus IELTS, speaking, pronounciation dangrammar tiap harinya.

Seiring waktu berjalan, sembari belajar Bahasa Inggris dan bermodal LoA conditional dari RMIT saya tetap mencoba untuk mendaftar beasiswa DIKTI.

Pertengahan November, saya kembali ke kampus untuk menunaikan kewajiban bekerja dan sambil harap-harap cemas menanti pengumuman dua beasiswa.

Di akhir tahun 2011 datanglah dua kabar dari DIKTI.

Kabar pertama yaitu pengumuman beasiswa yang menyatakan saya belum lolos tes seleksi dan yang kedua adalah kabar program IELTS preparation selama 6 bulan di beberapa universitas dan lembaga Bahasa Inggris, dengan syarat sudah mempunyai skor IELTS 5,0 overall atau lolos seleksi.

Berhubung saya belum pernah tes IELTS, tidak ada salahnya mencoba tes seleksi ini dengan bekal kursus IELTS satu bulan di Pare, mumpung gratis juga.

Bulan Januari 2012, pengumuman ADS pun keluar dengan hasil saya belum lolos (lagi).

Di awal tahun itu, saya tes seleksi program IELTS-DIKTI diselenggarakan di Pusat Bahasa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Februari 2012, alhamdulillah pengumuman hasil tes sudah keluar dan saya diterima untuk mengikuti kursus IELTS di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia, Selemba, Jakarta mulai akhir Februari 2012 sampai dengan Agustus 2012.

Selama mengikuti kursus tersebut, upaya pencarian beasiswa tetap berlangsung, mulai dari beasiswa dari New Zaeland-ASEAN Scholars Awards pada bulan April 2012. Dan ADS untuk kedua kalinya pada akhir kursus (Agustus 2012).

Setelah kursus IELTS dari DIKTI, saya kembali lagi ke kampus untuk mengajar. Di akhir tahun 2012, hasil seleksi dari beasiswa New Zaeland keluar dan hasilnya belum rejeki lagi.

Di awal tahun 2013 hasil seleksi dari ADS diumumkan dan hasilnya masih harus berjuang.

Sempat Putus Asa

Rasa putus asa muncul, sudah daftar empat beasiswa dan hasilnya belum lolos semua.

Namun demikian, alhamdulillah support dari keluarga dan teman-teman terus mengalir yang membuat saya tetap semangat. Rutinitas saat itu adalah bekerja dan mengasah kemampuan berbahasa Inggris.

Pada Februari 2013, dengan bermodal skor IELTS 6 saya mencoba untuk mendaftar di beberapa universitas di Eropa dan Asia. Banting setir setelah gagal di Australia dan Selandia Baru.

Selain itu juga karena muncul isu yang menyatakan bahwa beasiswa DIKTI meminimalisir jumlah karyasiswa untuk belajar di Aussie, karena mahal.

Beberapa universitas di United Kingdom-pun saya jelajahi, mulai dari Nottingham, Hertfordshire, Dundee, Bournemouth, The University of Hull dan King’s College London.

Hasil dari penjelajahan tersebut adalah belum lolos semua, ada yang karena persyaratan bahasa atau English requirement. Ada juga yang karena status akreditasi sekolah pendidikan terakhir.

Perjuangan masih berlanjut, pada awal tahun 2013 saya menemukan kicauan dari akun twitter@BeasiswaGratis tentang beasiswa Netherlands Fellowship Programmes (NFP) di Belanda.

Sebelumnya tidak ada ketertarikan sama sekali untuk studi di negara ini, karena terbayang-bayang sebuah catatan sejarah dan karena saya belum pernah menemukan master program kebidanan di sini.

Tetapi, setelah membaca berbagai informasi di http://www.nesoindonesia.or.id/ dan menonton video aktifitas mahasiswa Indonesia di sana, ternyata banyak sekali pelajar Indonesia yang kuliah disana dan tersedia berbagaiexcellent universities di Belanda.

Dengan bantuan dari http://www.studyfinder.nl/ saya menemukan master program di bidang Public Health yang merupakan kerjasama antara VU University Amsterdam dan Royal Tropical Institute.

Meskipun ini bukan master di bidang kebidanan, tetapi modul yang ditawarkan sangat menarik dan sesuai kebutuhan saya.

Selain itu, course ini mempunyai keterkaitan yang kuat dengan kebidanan, terutama modul Sexual and Reproductive Health and Right.

Pada awal Maret 2013 saya bulatkan tekad untuk mendaftar program ini, namun karena tenggat waktu NFP sudah usai, maka saya berencana untuk mendaftar beasiswa DIKTI sebagai sumber pendanaan.

Sambil menunggu kabar dari Belanda, saya mencoba mendaftar beasiswa AMINEF-FULBRIGHT untuk study di Amerika Serikat.

Alhamdulillah,tepat 10 April 2013 untuk pertama kalinya saya mendapatkan LoA unconditional dari Negeri Orange. Maka bergegaslah saya mendaftar beasiswa DIKTI secara online karena persyaratan sudah lengkap.

Tetapi beberapa minggu kemudian kendala mulai muncul, pihak kampus tempat saya bekerja menyarankan untuk mengambil master di bidang kebidanan.

Oleh karena itu, saya mencoba opsi lain untuk mendaftar International Nurse-Midwifery Master of Science Program di National Taipei University of Nursing and Health Sciences (NTUNHS) Taiwan.

Pada awal Mei 2013, pengumuman panggilan interview dari DIKTI menghampiri. Tiga hari kemudian LoA dari Taiwan sudah di tangan.

Hingga akhirnya, 11 Mei 2013 menjadi hari bersejarah bagi saya.

Ini adalah untuk pertama kalinya saya ikut dalam seleksi interview beasiswa.

Kedua LoA tersebut saya tunjukkan pada interviewer. Satu bulan kemudian pengumuman dari DIKTI menghampiri dengan kabar gembira.

Alhamdulillah… Akhirnya saya mendapatkan beasiswa ini.

Persiapan berkas keberangkatanpun segera dilengkapi.

Pada 9 Juli 2013, tak disangka-sangka, AMINEF pun memberikan undangan untuk interview. Masya Allah! Ketika kita masih bersyukur di saat kegagalan datang berkali-berkali, Allah menggantinya dengan kenikmatan yang berlipat ganda.

Saat itu saya tidak ambil pusing, karena pengumuman DIKTI lebih dulu datang, jadi tetap luruskan niat ke Belanda.

Belanda! Aku Datang

Pada 11 September 2013, hari bersejarah kembali menghapiri saya. Untuk pertama kalinya, kaki saya mendarat di sebuah kota yg jaraknya ribuan kilometer dari tanah air dan membuka lembaran baru sebagai master studentdi Amsterdam. I felt that I was so cool… 

Tak pernah kusangka pada hari itu bisa touchdown di Negeri Kincir Angin.

Sebelum menutup kisah ini, perkenalkan saya Hani, saya lahir di kota kecil pesisir Laut Jawa (Rembang) tahun 1988.

Ibarat laskar pelangi, meskipun tidak mirip sekali, SD tempat saya belajar adalah di sebuah koridor masjid yang sangat kecil dan terbuat dari kayu yang sudah rapuh.

Pendidikan SMP dan SMA saya di salah satu Pondok Pesantren di Jogja, sedangkan di jenjang perguruan tinggi, saya belajar di Universitas swasta di kota Semarang.

Dari biografi mini ini, dengan berbekal pendidikan di sekolah yang sangat sederhana, serta belajar pondok pesantren dan kuliah di kampus swasta, tidak membatasi kita bisa studi di luar negeri.

Salam semangat!

30 comments

  1. Shafira Sharafina

    assalamualaikum..
    kakak.. kisahnya sangat menginspirasi. sampai saya menitikan air mata.
    Allah memang sayang pada umatnya yang berusaha keras.
    saya ingin sekali seperti kakak. inginnn sekali.
    sekarang saya sedang menempuh pendidikan D3 kebidanan di salah satu politeknik negeri di jawa timur. semester akhir.
    dan sangat ingin melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi.
    namun, harapan saya untuk kuliah lagi pupus ketika orang tua saya lebih memilih membiayai kuliah adik saya yang akan lulus SMA tahun ini (karena memang keuangan orang tua saya sangat terbatas)
    saya akan sangat senang jika kakak bisa membagai informasi lebih dengan saya tentang proses kuliah kakak di luar negeri.
    saya harap kita bisa saling berkirim email, kak.
    walaupun hanya sekedar memberi semangat kepada saya untuk pantang menyerah kuliah di luar negeri.
    wassalamualaikum.

  2. Sangat Menginspirasi saya, TQ

  3. Novi Heldiawati

    Saya mahasiswi jurusan pendidikan. Setelah lulus saya ingin melanjutkan ke jurusan yang bereda yaitu jurusan kebidanan. Apakah itu bisa?? Dan sekarang saya sedang mencari beasiswa, setelah saya mmbaca cerita anda itu sangat menakjubkan. Mohon ifo dan bantuannya. Thanks before.

  4. saya sampai menangis membacanya, astaghfirullah. saya belum mulai mengikuti seleksi beasiswa dan sedang mengumpulkan persyaratnnya, bismillah, saya tidak boleh menyerah.
    sangat terinspirasi dengan perjuangannya belajar bahasa inggris sampai berkali2 dan tetap semangat walau beberapa kali belum berhasil. 🙂 terimakasih

    NB:
    Ingin bertanya, kak
    1. Bagaimana teknis untuk Mendapatkan LOA? kebetulan saya ingin melanjutkan S2 di UK
    2. Bagaimana sebaiknya untuk memperoleh pengalaman organisasi atau komunitas? apakah ada usulan dari kakak komunitas/organisasi apa yang mudah untuk dimasuki?
    beberapa kali saya mendaftar dan ditolak. hehe. terimakasih.

  5. Wow, hebat perjuangan ka Hany
    Ka, aku juga punya cita2 yg sama kaya kk pengen lanjut kuliah d’luar negeri cita2 dari awal aku masuk akbid. Sekarang aku semester 3 ka.
    Kk aku boleh mnta alamat email kk gak? Buat minta saran2’y sebagai senior yg sudah berpengalaman.
    terimaksih ka sebelum’y

  6. Weh.. mbak iki rek, suangar ancen, ajarin dong kakak :3

  7. fitria rismadhani

    cerita kakak menginspirasi banget :'( , semoga aku bisa seperti kakak

  8. assalammu’alaikum kakak,,
    perkenalkan saya juga mahasiswi kebidanan kak tap D3..
    kisah kakak sangat menginspirasi saya kak,,
    saya kira beasiswa kebidanan luar negeri itu hanya isu2 saja ternyata memang sudah ada buktinya..
    saya harap kita bisa berkiriman email kak,sebagai penyemangat saya dan juga sekalian mau tanya2..
    makasih ya kak.. 🙂
    wassalammu’alaikum

  9. kak kisahnya sangat menginspirasi, bolehkan saya sharing dengan kakak melalui email? terimakasih kak

  10. lailatul mathoriyah

    Subhanallah, allah memang memberikan segalanya yg tak pernah kita duga. Membaca cuplikan kisah dosenku bu hani sampai meneteskan air mata. Air mata senang, bahagia dan kagum, menjadi inspirasi buat sya bu. Dg tekan dan semangat yg mengalir, study diluar negri bisa tergapai. Harapan besar buat sya untuk bisa mengikuti jejak bu hani melangkah mencari ilmu ke smpai ke negri orang.

  11. antonny fayen budiman

    Keren…i love this inspiring story..thanks a lot

  12. Hallo. Assalamualaikum wr.wb
    Cerita yang sangat inspiratif.. Mbak Hanif salam kenal.
    Saya juga salah satu alumni universitas di Semarang mbak, cukup tertarik untuk melanjutkan studi di UvA.
    Boleh saya minta alamat emailnya mbak? Terima kasih. Salam.

  13. Assalamualaikum. Ka Hani, kisahnya sungguh menginspirasi. Ka mau nanya, jd pada akhirnya kaka daftar di belanda dg ielts brp? Terima kasih banyak ka.

  14. kak, itu harus ielts ya? kalo toefl itp gak bisa?

  15. ka.. ak g bs tdr drtd brwsg2 tntg progrm magister kebidann dluar negeri.. smp akhrnya ktmu kisah kakak ini.. mgharukan bgt kisahnya :’) .. smoga Allah sll mmbrkahi yah.. dan doakan qt yg mmpnyai niat blajar dluar jg bs mwujdkan impian it.. amin..

  16. Kaka boleh ga , aku hub kaka lewat email atau socmed lainnya , buat nanya2 tentang beasiswa kebidanan luar negeri 🙂

  17. Annisa Istiani H

    Dear Mbak Hani,

    Ceritanya sangat menginspirasi saya yang juga sedang akan apply beasiswa ke luar.

    Tadinya saya merasa sedikit pesimis dengan latar belakang universitas swasta dan juga IELTS yang masih belum tercapai.

    Saya merasa ada kemiripan kendala, setelah membaca cerita mbak jadi sy semangat lagi. hehhe ^^

    Semangat terus dan berjuang!

    Terima Kasih.

  18. sri yuliani frisilia dewi

    Ajarin dong dapati beasiswa kebidanan luar negeri

  19. thanks Mba untuk ceritanya, boleh kontak2 ya, saya kebetulan pengen kuliah UVA, tolong infonya y

  20. Nicky T. Pitaloka

    Sangat inspiratif sekali mbak! Kebetulan saya lulus kebidanan tahun ini, dan punya keinginan sekolah di luar negeri dengan beasiswa. Dan cerita mbak ini membuat saya semakin tertarik mencari beasiswa. Terimakasih, salam. 🙂

  21. Dicky Hantaturi

    Sangat menginspirasi walaupun berkali kali gagal kita harus tetap mencoba. Makasih ya mbak tulisannya dahsyat sekali #respect

  22. Salut saya sangat menginginkannya,
    namun asli saya meraa sangat terbatas ruang gerak saya untuk seperti itu.
    saya sangat tertarik untuk bis amelkaukan pendidiakn di luar negeri.

  23. Menginspirasi sekali ukhti

  24. you are so inspiring me… ^_^
    dari kemarin waktu saya habis di depan laptop dan hand phon, ya.. looking for information about study in europ, australia and etc…
    saya sekrang terdaptar sebagai mahasiswa baru baru annvulen d4 kebidanan (lanjutan dari d3) di salah satu universitas swasta di yogyakarta. belum lagi memulai perkuliahan, saya sudah di ganggu dengan rasa ingin tahu dan mimpi saya sejak dari lama yaitu menempuh pendidikan di luar negeri…..
    dengan cerita yang 99 % sama dengan kakak (tentang kemampuan bahasa inggris, organisasi, dan prestasi yang tidak begitu WOW), tulisan kakak benar benar menginspirasi saya…
    harapan saya semoga bisa mengikuti jejak kakak… mewujudkan mimpi saya sejak dari kecil…. Aamiin ^_^

  25. she is my friend at mualimat jogja..
    so proud of you hunz..
    jatuh bangun ternyata.. kita yg lihat tau nya lgsg suksesnya aja..
    so inspiring me,hunz..

    and u..always humble..

  26. Assalamualaikum. Kisahnya sangat inspiratif sekali ?
    Sebelumnya boleh minta kontaknya ga kak ? Email untuk bertanya-tanya. Soalnya saya juga punya interst buat lanjut S2 di Belanda di bidang Public Health. Mungkin ada mahasiswa lain yg sedang ambil study master Public Health di Belanda selain kak Hani, bolehkah saya minta kontaknya (email)? ?
    Sebelumnya terima kasih banyak ?

  27. Assalamu’alaikum kak, waaa sangat inspiratif bangeet. Terimaksih kak sudah memberikan kecerahan kepada saya kalau ternyata bisa melanjutkan s2 di luar negeri dengan status lulusan diploma bukan sarjana dan dengan beasiswa pulaaaa 🙂
    Kak, boleh minta alamt email atau sosmed? Soalnya aku sangat berharap banget bisa ngelanjutin ke luar negeri dengan beasiswa.
    Terimaksih sebelumnya 🙂

  28. Adzkia Afifaa

    assalamu’alaikum kak… kisah kakak sangat memotivasi saya, sekarang saya memasuki semester 5 D3 kebidanan kak, saya mau bertanya beberapa hal, apakah bisa salig kirim email?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »
%d bloggers like this: